Senin, 23 Juli 2007

India
Patil Jadi Presiden Perempuan Pertama

New Delhi, Sabtu - India untuk pertama kalinya selama 60 tahun merdeka (15 Agustus) memiliki seorang presiden perempuan. Pratibha Patil (72) yang dicalonkan Partai Kongres yang berkuasa, Sabtu (21/7), memenangi pemilihan presiden India yang berlangsung hari Kamis lalu. Meski hanya jabatan seremonial, Patil menjadi simbol kemenangan bagi ratusan juta perempuan India yang acap mengalami tindak diskriminasi.

Komisi Pemilu India menegaskan, Patil meraih dua pertiga suara yang masuk. Pemilihan presiden dilakukan anggota parlemen federal dan negara bagian serta badan pemilih (electoral college). Ada sekitar 4.896 badan pemilih, 776 anggota parlemen federal, dan 4.120 anggota parlemen di 29 negara bagian dan satu wilayah teritorial.

Ratusan pendukung Partai Kongres langsung berpesta di jalan-jalan di New Delhi dan di kota kelahiran Patil di Nadgaon, negara bagian Maharashtra, menyambut hangat kemenangan ini. Dentuman suara gendang dan riuh suara mercon terdengar di jalan- jalan, terutama di seputar rumah keluarga besar Patil di Nadgaon.

Ibu dua anak ini menyingkirkan saingan beratnya, Wakil Presiden India saat ini, Bhairon Singh Shekhawat (84), yang dicalonkan Partai Bharatiya Janata, partai Hindu nasionalis yang beroposisi. Namun, terpilihnya Patil merupakan sebuah kemenangan yang sangat besar bagi kaum perempuan India.

"Saya berterima kasih kepada para pemilih, kepada rakyat India, laki-laki maupun perempuan," ujar Patil di luar kediamannya di New Delhi seusai meraih kemenangan. "Ini kemenangan prinsipiil yang dipegang teguh setiap warga India," ujarnya.

Sonia Gandhi, Ketua Partai Kongres yang berkuasa, tersenyum puas setelah mengetahui kemenangan Patil. "Selama 60 tahun kemerdekaan kita, pertama kalinya seorang perempuan menjadi presiden. Saya berterima kasih kepada para mitra aliansi kami dan kepada siapa saja yang memberikan suara kepadanya (Patil)," ujarnya. Kemenangan ini jadi momen sejarah, terutama bagi kaum perempuan yang masih mengalami diskriminasi seksual.

Sonia Gandhi dan Perdana Menteri (PM) Manmohan Singh sengaja mencalonkan Patil guna memberikan sebuah pesan tegas dan jelas bagi kampanye antidiskriminasi. Sekalipun sejumlah perempuan di India pernah menjabat sebagai perdana menteri, seperti Indira Gandhi yang menjadi PM India tahun 1966 dan menantunya, Sonia, yang kini ketua Partai Kongres, ratusan juta perempuan di India menjadi warga nomor dua.

Banyak keluarga di India melihat anak perempuan sebagai sebuah beban karena secara tradisi mereka harus membayar mahar kawin yang mahal kepada keluarga pihak pria. Anak perempuan di India acap kali pendidikannya diabaikan. Mereka juga sering tidak mendapat perawatan medis yang memadai saat sakit.

Kelompok internasional melaporkan, sekitar 10 juta perempuan di India pernah melakukan aborsi dalam dua dekade ini. Populasi perempuan di India sekitar 50 persen dari sekitar 1,12 miliar penduduk India saat ini.

Patil yang mantan Gubernur (November 2004-Juni 2007) Negara Bagian Rajasthan, India barat, selama ini merupakan pendukung setia Partai Kongres. Dia juga merupakan sahabat dekat Sonia Gandhi. Meskipun banyak pihak yang meragukan kesehatannya untuk bisa menjalankan tugas sebagai presiden, Sonia Gandhi ngotot mencalonkan Patil. Tujuannya, demi mengangkat martabat perempuan di India.

Menggantikan Abdul Kalam

Pratibha Patil akan menggantikan presiden sebelumnya, APJ Abdul Kalam, yang akan berakhir masa jabatan lima tahunnya pada 24 Juli ini. Patil menjadi Presiden India ke-13 sejak merdeka dari Inggris tahun 1947.

Kalam yang populis di kalangan warga India, sekalipun berasal dari kelompok Muslim yang minoritas di tengah 80 persen penduduk India yang penganut Hindu, tadinya diharapkan bersedia menjadi presiden untuk periode lima tahun kedua. Namun, Partai Kongres tak bersedia mendukung Kalam karena sebelumnya dicalonkan pihak oposisi.

Patil yang berprofesi sebagai pengacara sebelum terjun ke politik tahun 1962 sejauh ini tak luput dari berbagai tuduhan. Dia disebut-sebut melindungi saudaranya yang terlibat pembunuhan. Dia juga dituding melindungi suaminya yang terlibat skandal bunuh diri. Patil membantah semua tudingan itu. (AFP/AP/Reuters/ppg)

Tidak ada komentar: