Senin, 10 Maret 2008

70 Tahun Bambang Ismawan


Kesetiaanlah Satu-satunya yang Saya Miliki dan Pertahankan
Senin, 10 Maret 2008 | 00:47 WIB

Kalimat di atas terucap dari bibir Bambang Ismawan ketika memberi sambutan pada perayaan ulang tahunnya yang ke-70 di hadapan ratusan undangan, Jumat (7/3) malam.

Di antara yang hadir, mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, budayawan dan rohaniwan Romo Franz Magnis Suseno, mantan Dirut Bank Rakyat Indonesia Rudjito, sosiolog Melly G Tan, dan Imam Prasodjo. Bambang Ismawan memang bukan selebriti yang dicitrakan oleh kekuatan media.

Malam itu, 41 tahun lamanya Bambang Ismawan memimpin Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bina Swadaya, LSM tertua yang mendampingi para petani dengan keterampilan teknis dan bantuan keuangan mikro. Kalau Anda tak cukup mengenal kiprahnya, lembaga itu pula yang melahirkan majalah pertanian, Trubus.

Kini, selain penerbitan, Bina Swadaya memiliki beberapa perseroan terbatas yang bergerak di bidang konsultasi, keuangan mikro, agrobisnis, percetakan, wisata alternatif, penyediaan fasilitas lokakarya, serta akomodasi pelatihan. Tepatnya, Bina Swadaya adalah lembaga kewirausahaan sosial.

Selama 40 tahun berkarya, LSM itu memiliki sekitar 1.000 karyawan, jumlah pekerja yang jauh melampaui LSM-LSM dalam negeri. Bambang, atas masukan guru besar Sosiologi Pedesaan IPB, Sajogyo, kemudian memopulerkan istilah lembaga swadaya masyarakat (LSM) ketika publik masih menyebutnya organisasi nonpemerintah.

Selama kiprahnya, puluhan ribu petani di seluruh Indonesia sudah didampingi pelatihan teknis pertanian dan pengembangan usaha. Di tengah pusaran aktivitas, Bambang merupakan pengendali seluruh gerakan itu.

Berbagai peran, komitmen, dan hasil yang ditunjukkan Bina Swadaya, Bambang pun dianugerahi Social Entrepeneur of The Year 2006 dari Ernst & Young.

Kesetiaan pada organisasi dan komitmen pemberdayaan wong cilik pulalah yang membuat suami Sylvia Maria Kwee ini bertahan di tengah ”godaan” aktif di partai politik seperti pilihan teman-temannya. ”Menapaki jalan ini akan terus saya jalani sampai hayat di kandung badan,” kata Bambang.

Awal mula

Komitmen dan kesetiaan Bambang pada aktivitas kewirausahaan sosial tak lepas dari inspirasi seorang pastor Belanda, John Dijkstra SJ. Mereka berdua mendirikan Bina Swadaya. Ia pun bertekad membela orang miskin dan mengajarkan hidup sebagai petani yang sejahtera.

Selama puluhan tahun, komitmen itu pula yang ia ajarkan kepada para petani. Tak terhitung berapa kali air matanya menetes mendengar kisah perubahan nasib petani di berbagai daerah.

Pada satu penggalan tulisan dalam buku 70 Tahun Bambang Ismawan Bersama Wong Cilik (berisi kesan dari sekitar 200-an orang) dituliskan, Bambang adalah sosok sukses tanpa karier. Ia bukan selebriti, melainkan dikenal di kalangan akar rumput dan pengambil kebijakan.

Ia dilahirkan tanpa kursi yang dapat membuatnya bertakhta dalam kekuasaan. Ia orang lapangan yang selalu rapi, tetapi berkarya nyata. Bukan bagian dari mereka yang bertakhta, tetapi tak jelas karyanya. (GSA)

Tidak ada komentar: