Rabu, 15 Agustus 2007

Sukardi Rinakit

Terjebak Rutinitas Selebriti

Ketenaran tidak selamanya membuat seseorang merasa nyaman. Ada kalanya, popularitas menimbulkan rasa jenuh.

Situasi psikologis itu kini tengah dirasakan Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) Sukardi Rinakit. Kepada Jawa Pos, Rinakit mengaku akan menyepi sejenak hingga menjelang pemilu presiden (pilpres) pada 2009. "Ini mungkin wawancara terakhir, dua hingga tiga tahun ke depan, saya ingin hening sejenak," kata pengamat politik yang dekat dengan elite militer nasional itu.

Selama ini, hari-hari Rinakit dihabiskan untuk menjadi pembicara di berbagai forum seminar, diskusi, wawancara TV, radio, mengerjakan proyek penelitian, atau sekadar menulis di media, baik media nasional maupun internasional.

Setiap tulisannya muncul di surat kabar, bisa dipastikan akan datang seratus hingga dua ratus SMS (short message service) ke hand phone-nya (umumnya berisi pujian). Pengirim itu dari berbagai kalangan, mulai para jenderal, anggota DPR-DPRD, hingga para menteri dan mantan menteri.

"Tapi, semua itu membuat saya kering, saya merasa mengalami pendangkalan intelektual karena harus terjebak dalam rutinitas seperti selebriti itu," katanya.

Pria kelahiran Madiun, 5 Juni 1963, itu mengaku yakin untuk meninggalkan kehebatan-kehebatan semu itu. "Saat ingin memantapkan spiritnya, dulu para rasul juga menyepi, seperti (Nabi Muhammad SAW, Red) di Gua Khiro’," katanya.

Selama dua hingga tiga tahun itu, Rinakit mengaku tidak akan muncul di media, tak akan mengisi seminar, dan rutinitas lainnya. "Saya hanya ingin diam, banyak membaca, merenungkan langkah selama ini, untuk kembali menyusun kekuatan diri hingga menjelang Pilpres 2009," katanya.

Rinakit mengaku telah tergagap-gagap untuk mengikuti perkembangan teori-teori besar mutakhir.

Kendati demikian, keinginan Rinakit itu ditentang Soegeng Sarjadi karena terkait kelangsungan lembaga Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) yang dipimpinnya. "Saya lagi negosiasi, yang pasti, saya butuh nepi (menyepi, Red)," kata alumnus Political Science, National University of Singapore itu.

Lalu, apa yang akan Rinakit lakukan saat kemunculannya pada 2009 nanti? Dia belum bisa menjelaskan. Banyak hal yang harus direnungkan, termasuk apakah dirinya akan terjun di dunia politik praktis atau tidak.

Rinakit mengaku, hingga saat ini sebuah partai baru yang diperhitungkan bisa menjadi partai besar pada Pemilu 2009 menunda kongresnya hanya untuk menunggu jawaban atas pinangan supaya dirinya bersedia menjadi Sekjen DPP partai itu.

Kendati demikian, ujar satu-satunya pengamat politik nasional yang bisa dekat dengan mantan Presiden Soeharto itu, dirinya saat ini memang tengah dihantui dua perkataan orang-orang terdekatnya. "Ibu saya mengatakan, arep kowe ngomong opo wae le, yo tetep gak iso ngubah opo-opo (kamu mau bicara apa saja Nak, tetap saja tidak bisa mengubah apa pun, Red)," katanya.

Nasihat kedua datang dari Soegeng Sarjadi. "Mas Soegeng juga mengatakan, sehebat apa pun yang saya lakukan tanpa kekuasaan, radiusnya hanya seratus meter untuk bisa berbuat kebaikan," katanya.

Misalnya, menyekolahkan tetangga yang tak bisa sekolah, mencarikan kerja tetangga yang pengangguran. Tapi, dengan skala terbatas.

"Tapi, kalau berkuasa, radiusnya nasional. Jadi, apakah saya harus terjun ke politik atau tidak, usaha menyepi ini akan menjadi jalan untuk mencari jawaban itu," jelasnya.

Yang pasti, ujar Rinakit, dirinya hanya ingin mewujudkan cita-cita sederhananya yang sederhana namun berat dilaksanakan. "Saya ingin rakyat Indonesia mesem (tersenyum, Red) atau syukur bisa gemuyu (tertawa, Red)," katanya. (aku)


Data Pribadi

Nama : Sukardi Rinakit
TTL : Madiun, 5 Juni 1963
Istri : Evyte Suhartin
Anak : Hana Nanyang Rinakit (5)

Pendidikan :
1. S-1 Fisip Universitas Indonesia
2. S-2 South East Asia Studies-National University of Singapore
3. S-3 Political Science, National University of Singapore

Pekerjaan :
1. Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS)
2. Peneliti, pembicara, dan penulis di berbagai lembaga dan media nasional maupun internasional.

Karya :
1. The Indonesian Military After the New Order (Copenhagen, Singapore, 2004)

1 komentar:

Jonathan Prawira mengatakan...

Halo, Saya Jonathan Prawira, public Relation dari Seminar Internasional Universitas Katholik Parahyangan Bandung. Kebetulan kami ingin mengundang Pa Sukardi Rinakit untuk menjadi pembicara dlam Semninar tentang Kerukunan Umat Beragama di Indonesia. Apabila rekan -rekan mengetahui contact person pa Sukardi. Tolong sms ke 0878 2 1020 777. Tq.