Sabtu, 02 Februari 2008

Vikram Pandit, Juru Selamat nan Kontroversial


Senin, 31 Desember 2007 - 17:41 wib


WASHINGTON - Banyak kalangan yang meragukan kemampuannya sebagai CEO baru Citigroup. Lebih dari itu, proses pemilihannya sebagai orang nomor satu di kelompok usaha ini pun dianggap kontroversi.

Ibarat hantu, begitulah krisis subprime mortgage yang belum lama ini menerjang Amerika. Terutama dampaknya bagi perusahaan yang bergerak di sektor jasa keuangan, mereka dibuatnya oleng karena merugi sangat besar. Setelah itu, giliran para top eksekutifnya yang ketar-ketir. Karena kinerjanya makin memburuk, bahkan beberapa di antaranya terpaksa dilengserkan.

Contohnya seperti dialami oleh Charles Prince, Chief Executive Officer (CEO) Citigroup. Akibat peristiwa itu, kelompok usaha yang dipimpinnya, sampai November lalu, dilaporkan harus menanggung rugi hingga mencapai USD11 miliar.

Buntutnya, Prince pun terpaksa mengundurkan diri dari kursi pimpinan. Karena sulit mencari penggantinya, untuk sementara, posisinya digantikan oleh Robert Rubin, mantan Menteri Keuangan di era pemerintahan Bill Clinton.

Hal tersebut makin membuktikan betapa banyak kalangan yang gentar karena dampak yang ditimbulkan oleh si "hantu mortgage." Baru, setelah melewati proses yang cukup panjang, kalangan paling berpengaruh di Citigroup berhasil menunjuk seseorang yang dinilai layak menggantikan Prince. Dia adalah Vikram Pandit. Pria berdarah India ini, pada Selasa pekan lalu, resmi diangkat menjadi CEO baru.

Pandit boleh saja bangga atas kepercayaan yang diterimanya. Tapi, bukan berarti ia bisa berlama-lama tersenyum lepas. Malah sebaliknya, seperti diramalkan banyak kalangan, jabatan barunya itu akan membuatnya pontang-panting. Maklum, tugas tergolong berat sudah menyongsongnya.

Bahkan teramat berat, itu bila menyimak perkiraan kalangan analis. Kata mereka, melihat kondisi perekonomian Amerika yang cenderung makin memburuk, hal itu berpotensi menambah kerugian Citigroup.

Indikasi ke arah sana memang sudah terlihat. Dari laporan kuartal ketiga tahun ini, pendapatan perusahaan beraset USD2,35 triliun itu "hanya" mencapai USD22,4 miliar, dengan keuntungan bersih USD2,21 miliar. Skala ini menurun 60 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Hal lain yang tak kalah runyamnya adalah berkait dengan keputusan manajemen yang akan mengurangi karyawan sebanyak 45 ribu orang hingga akhir 2008.

Tak hanya itu. Di lantai bursa, perusahaan yang telah beroperasi sejak 1812 ini juga menghadapi persoalan, yakni merosotnya kepercayaan pasar. Hal itu, tak pelak, berakibat terhadap harga saham Citigroup yang terus menurun. Nyatanya, sejak awal tahun hingga minggu lalu, harganya melorot lebih dari 41 persen. Seiring dengan itu, nilai kapitalisasinya pun anjlok lebih dari USD50 miliar.

Boleh jadi karena kinerjanya cenderung melemah, tak kurang dari para analis di Standard & Poor's Rating Service terpaksa menerbitkan woro-woro agar kalangan investor mulai mewaspadai gergasi perbankan kedua terbesar di Amerika ini.

Tak hanya itu, dalam beberapa bulan terakhir, hampir seluruh perusahaan pemeringkat internasional juga ramai-ramai menurunkan peringkatnya. Tampaknya, Pandit harus menerima kenyataan bahwa perusahaan yang dipimpinnya tengah mengalami kondisi paling buruk selama 16 tahun terakhir.

Walau begitu, dengan penuh rasa optimisme, sang CEO baru tetap berjanji akan memberikan kontribusi terbaik bagi perusahaan. Untuk memulihkan kondisi Citigroup dari keterpurukan, dari markasnya di Manhattan, New York, ia sudah menyiapkan segepok kebijakan. Di antaranya strategi yang bisa menyelamatkan keuangan perusahaan dari situasi yang lebih buruk.

Didukung Mantan Menteri Keuangan

Konkretnya, ia mulai mengkaji biaya operasional agar bisa dilakukan efisiensi secara besar-besaran. Salah satu peluangnya untuk itu, dengan mempercepat pelaksanaan program pengurangan karyawan. Selain itu, Pandit juga mulai gencar melakukan pendekatan terhadap banyak analis.

Tujuannya, agar mereka tak serta-merta menurunkan lagi peringkat Citigroup. Sungguh kebijakan tergolong taktis. Pasalnya, jika keinginannya itu tercapai, niscaya akan meningkatkan citra Citigroup, terutama di kalangan para investor.

Nah, persoalannya sekarang, seberapa mampu Pandit melakukan semua itu hingga berhasil memenuhi targetnya? Pasalnya pula, banyak pihak yang meragukan kemampuannya. Maklum, track record-nya sebagai eksekutif belum teruji. Apa lagi, tiba-tiba ia dipercaya menangani perusahaan besar dengan permasalahan kompleks seperti Citigroup. Karena itu, rupanya, proses sampai ia terpilih menjadi CEO sempat menimbulkan kontroversi.

Kabarnya, setelah mundurnya Prince, para penentu di Citigroup segera mencari calon penggantinya. Yang diliriknya adalah kalangan eksekutif top dunia. Dari sekian puluh kandidat, tersaringlah sejumlah nama. Selain Pandit, ada Robert Willumstad, Chairman AIG (salah satu perusahaan asuransi terkemuka dunia), Josef Ackermann (Kepala Deutsche Bank), dan Lawrence Fink, CEO BlackRock (perusahaan yang bergerak di sektor investasi).

Dalam proses seleksi, para kandidat itu bersaing amat ketat. Akhirnya nasib baik menghampiri Pandit. Ia berhasil keluar menjadi pemenang, kabarnya pula, karena didukung dari Robert Rubin. Nama besar Rubin, rupanya, mampu memengaruhi keputusan para pemegang saham Citigroup.

Tapi, para pemegang saham itu punya dalil yang agak berbeda. Seperti diungkapkan oleh salah seorang dari mereka bahwa pihaknya mendapat tekanan begitu kuat agar segera memilih CEO baru, setelah lengsernya Prince.

Pasalnya, hampir sebulan lebih perusahaan ini beroperasi tanpa komando yang jelas. Bila kondisi ini terus berlangsung, dikhawatirkan akan makin memperburuk citra Citigroup di mata pasar. Oleh karena itu, ketika mendapat "arahan" dari Rubin, mereka segera melaksanakannya.

Menurut Rubin, alasannya merekomendasikan Pandit karena sosok eksekutif ini paling tepat untuk menempati posisi CEO Citigroup saat ini. Pandit dinilainya memiliki pengalaman yang cukup di bisnis keuangan dan investasi. Selain itu, ia juga dikenal sebagai ahli strategi yang baik.

Apa yang disampaikan Rubin mendapat dukungan dari Frank Braden, analis senior dari Standard & Poor's. Menurutnya, untuk saat ini, Pandit merupakan sosok yang tepat dibandingkan kandidat lainnya. Ia salah satu "orang luar" yang tidak terlibat dalam manajemen Citigroup (lima bulan terakhir sebelum dipercaya menjadi CEO, ia bekerja di salah satu anak perusahaan ini) yang memutuskan ikut bermain di sektor pembiayaan kredit perumahan.

Meski begitu, Pandit dinilai amat mengerti permasalahan yang tengah dihadapi perusahaan ini.
Sebelum ditunjuk sebagai CEO, pria kelahiran Nagpur, India, 50 tahun lalu ini bekerja di Old Lane Partners, perusahaan yang bergerak di bidang investasi. Di perusahaan yang sebagian besar sahamnya dimiliki Citigroup ini, sejak Juli lalu, Pandit dipercaya menjabat sebagai salah satu direktur.

Pandit mulai hijrah ke Amerika sejak umur 16 tahun. Ketika itu ia diterima kuliah di Fakultas Elektro Universitas Colombia. Setelah berhasil menyelesaikan studi S3 di bidang keuangan di perguruan tinggi yang sama (1986), Pandit segera bergabung di Morgan Stanley's. Di perusahaan yang bergerak di sektor keuangan dan investasi ini ia berkarir selama dua puluh tahun. Jabatan tertinggi di sana sebagai Chief Operating Officer.

Kini sepak terjang Pandit dipantau oleh hampir semua pelaku industri investasi dan keuangan dunia. Mampu atau tidaknya Pandit mengangkat kembali pamor Citigroup, itu hanya soal waktu.

(Trust//rhs)

Tidak ada komentar: