<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307</id><updated>2012-01-30T14:19:44.239+07:00</updated><title type='text'>S o s o k</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>146</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-5536796364085523302</id><published>2008-11-25T20:21:00.000+07:00</published><updated>2008-11-25T20:22:16.989+07:00</updated><title type='text'>Adnan Buyung Nasution</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-weight: bold;" id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adnan Buyung Nasution,&lt;br /&gt; Setelah Perjalanan Panjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="txtartikelcetak"&gt;       &lt;!--zoom image--&gt;  &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;            &lt;div id="boximartikelcetak1"&gt;   &lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="300" height="200"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2008/11/23/3092678p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" width="300" height="224" /&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr align="left"&gt;    &lt;td&gt;          &lt;span class="txfotocetak"&gt;    &lt;span style="font-size:78%;"&gt;KOMPAS/YUNIADHI AGUNG / &lt;a href="http://www.kompasimages.com/" target="_blank"&gt;Kompas Images&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;           &lt;/span&gt;                                   &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;          &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span class="tglct"&gt;Minggu, 23 November 2008 | 03:00 WIB&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div id="article_body"&gt;&lt;p&gt;Oleh &lt;strong&gt;Susi Ivvaty&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seperti apa rumah seorang penasihat presiden dan bekas pengacara seperti Adnan Buyung Nasution (74)? Sebuah hunian yang luas dan penuh pepohonan hijau. Rumah di atas bukit itu baru delapan tahun ia miliki, setelah pengembaraan panjangnya mencari tempat pulang. Buyung menyebutnya rumah perjuangan sekaligus rumah idaman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beberapa meter kami melangkah dari pintu gerbang rumah Buyung di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, tiga burung beo menyapa. Setelah itu, kakatua ikut memanggil. Di kejauhan, terdengar suara murai dan cucak rowo. Burung-burung memang mengerti betul cara berkenalan yang akrab.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah kami duduk sejenak di ruang tamu, lantas pindah ke ruang kaca (ini mulanya teras yang kemudian ditutup dengan dinding dan atap dari kaca), Buyung pun keluar dari ruang kerjanya. Ia tampak kurus, belum lama sembuh dari sakit kulit. Berat badannya turun dari 70 menjadi 60 kilogram.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Buyung di usia 74, tidak lagi sesibuk dulu. Meski masih terus berjuang demi bangsa, katanya, ia kini punya lebih banyak waktu senggang di rumah. Jika dulu hanya sebagai ampiran, tempat ganti koper, kini rumah benar-benar ia nikmati sebagai pencipta kehangatan keluarga. Rumah benar-benar menjadi tempat pulang. Rumah adalah simbol kehidupan berkeluarga dan tempat merefleksi diri. Rumah menjauhkan diri dari segala bentuk kesepian, menyadarkan bahwa hidup tidak pernah kosong, selalu ada orang dekat di sekeliling.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Dulu mana bisa menikmati damai di rumah. Dalam sehari Abang bisa berada di empat kota. Dari Jakarta ke Singapura, Jakarta lagi lalu Sidney. Apalagi, rumah juga bukan punya sendiri, Abang baru kali ini punya rumah,” tuturnya seraya tertawa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sejak tahun 2000&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rumah di atas tanah seluas 2.400 meter persegi itu justru Buyung tempati pada saat empat anak kandung dan seorang anak angkatnya tidak lagi tinggal bersamanya, tepatnya pada tahun 2000. Alhasil, rumah hanya ia tinggali bersama istrinya, Ria Nasution, plus tiga pembantu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terdapat tiga kamar tidur, ruang kerja, ruang tengah, ruang tamu, ruang kaca, ruang makan kecil dan besar, ruang fitness, dapur, serta tiga kamar pembantu rumah. Garasi terpisah dari rumah utama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kolam renang terletak di samping rumah bagian belakang, bersebelahan dengan kandang burung elang. Jogging track mengelilingi separuh rumah dibuat sebagai alternatif berolahraga selain berenang dan angkat beban. Heh, angkat beban juga? ”Yang ringan. Kalau sekarang Abang lebih banyak jogging saja,” sahut Buyung.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Halaman yang luas selain ditanami tetumbuhan seperti kamboja, palem, anggrek, dan rupa-rupa tanaman di dalam pot, juga ada pohon jambu, pisang, dan rambutan. Sebagian halaman dibiarkan kosong dan terbuka, bertebar rumput.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kamar tidur Buyung dan Ria di lantai dua disekat menjadi lima bagian. Ruang santai berisi televisi dan kursi pijat, ruang tempat tidur, ruang rias (sebelah kiri untuknya, sebelah kanan untuk istrinya), kamar mandi, dan ruang ganti dengan lemari pakaian di dalamnya. Oya, di samping kamar tidur terletak jacuzzi serta kolam ikan koi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lho, ada teropong di kamar? ”O, itu untuk keker-kekeran dengan Bob Sadino di seberang sana tuh,” kata Buyung sambil menunjuk sebuah rumah yang sangat besar di atas bukit di seberang lembah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Perjalanan panjang&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Buyung mengisahkan perjalanan panjang mendapatkan rumah idaman. Rumah pertamanya terletak di Jalan HOS Cokroaminoto, yang ia huni bersama keluarga selama 30 tahun (sekarang ditempati Fuji Film). ”Itu rumah milik negara, sitaan dari orang Belanda pada tahun 1957. Kami hanya punya hak menghuni,” ujarnya. Setelah 30 tahun, rumah dibeli oleh seorang laksamana, namun ia masih mempunyai hak tinggal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tiba saatnya Buyung harus kuliah ke Belanda selama tujuh tahun, 1985-1993. Ia mengajak serta dua anak terkecilnya, Aan dan Pia, yang sudah SMA, sedangkan anggota keluarga yang lain tinggal di rumah saudara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pulang ke Indonesia tahun 1993, Buyung bingung mau tinggal di mana. Almarhum Sjahrir menawarkan rumahnya, namun Buyung dan keluarga hanya betah selama setahun. Setelah itu, giliran almarhum Ali Sadikin menawari mereka rumah di Cipete. Dua tahun mereka tinggal di sana. ”Rasanya kok hidup kayak Gypsy,” kenang Buyung.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Buyung dan keluarga lantas mengontrak rumah di Jalan Panglima Polim, sementara ia juga membuka kantor pengacara di Kemayoran. ”Kantor Abang kecil banget, sampai Bang Ali Sadikin menangis melihatnya,” imbuhnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat itu, ibarat bom waktu yang hendak meledak, Buyung merasa sangat capai dengan terus berpindah rumah. ”Abang ingin punya rumah yang luas. Di Belanda Abang pindah sembilan kali, semuanya sempit. Di sini, kantor juga sempit. Abang ingin bisa lihat langit di rumah dan memandang ke kejauhan,” paparnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hingga pada tahun 1997, Buyung mendapat satu perkara dan memenangkannya. Klien tidak bisa membayar, sebaliknya menawarkan rumahnya. ”Ia punya dua rumah, di Pondok Indah dan Lebak Bulus. Kakak (begitu Buyung memanggil istri) tidak suka yang di Pondok Indah karena norak. Kakak tertarik di sini meski rumahnya kecil,” ungkapnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada tahun 1999, Buyung merenovasi rumah. ”Bob Sadino waktu itu datang. Katanya, siapa yang berani membangun rumah di sini tanpa izin saya, ha-ha-ha. Sekarang kami malah intai-intaian,” ujar Buyung.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-5536796364085523302?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/5536796364085523302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=5536796364085523302' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5536796364085523302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5536796364085523302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/11/adnan-buyung-nasution.html' title='Adnan Buyung Nasution'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-7811099764012535061</id><published>2008-11-25T19:58:00.000+07:00</published><updated>2008-11-25T19:59:41.783+07:00</updated><title type='text'>Najib Razak, Sang Akuntan Politik</title><content type='html'>&lt;div id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="txtartikelcetak"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;       &lt;!--zoom image--&gt;  &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;            &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;" id="boximartikelcetak1"&gt;   &lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: auto;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="300" height="200"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2008/11/24/3098452p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" width="300" height="224" /&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr align="left"&gt;    &lt;td&gt;          &lt;span class="txfotocetak"&gt;    &lt;span style="font-size:78%;"&gt;EPA/AHMAD YUSNI / &lt;a href="http://www.kompasimages.com/" target="_blank"&gt;Kompas Images&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;   Mohd Najib bin Tun Abdul Razak   &lt;/span&gt;    &lt;/span&gt;                                   &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;          &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span class="tglct"&gt;Senin, 24 November 2008 | 03:00 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div id="article_body"&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;TRIAS KUNCAHYONO&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya bukanlah perokok berat. Ini saya lakukan saat menerima tamu saja. Itu pun di rumah,” kata Najib Razak mengawali cerita perjalanan hidupnya, sambil sesekali mengisap cerutu. Malam itu, orang kedua Malaysia ini tampil dengan baju merah marun lengan panjang, celana warna krem, tanpa sepatu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Umur saya baru 22 tahun lebih sembilan bulan, ketika pertama terjun ke dunia politik,” kata Najib Razak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Inilah jalur kehidupan yang tak dikehendaki keluarganya. Padahal, sang ayah, Tunku Abdul Razak, adalah perdana menteri kedua Malaysia. Namun, ia juga tak menginginkan anak lelaki pertama dari lima bersaudara itu menerjuni dunia politik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya berkeyakinan, politik adalah aktivitas sosial yang bersentuhan langsung dengan rakyat. Lewat politik kita memperjuangkan nasib rakyat,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Orangtua mengharapkan Najib menjadi akuntan. Oleh karena itu, ia sekolah di Universitas Nottingham, Inggris, pada jurusan ekonomi. Sekembalinya ke Malaysia tahun 1974, ia bekerja di Central Bank, lalu bergabung dengan Petronas (Petroliam Nasional Berhad), perusahaan minyak dan gas Malaysia yang didirikan pada 1974. Saat Najib bergabung dengan Petronas, perusahaan milik negara itu dipimpin Tengku Razaleigh Hamzah, yang kemudian menjadi salah satu mentor politiknya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Walaupun Razaleigh Hamzah mentor politiknya, saat Razaleigh terlibat pertarungan politik dengan Mahathir Mohammad, Najib mengambil sikap tegas yang menunjukkan kematangan berpolitiknya. ”Saya tetap setia pada pemimpin saat itu, Dr M,” kata Najib dalam buku Najib Razak, In His Own Right, 2006, karya Chamil Wariya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kesetiaan adalah unsur penting dalam berpolitik. Kesetiaan menjadi dasar lahirnya kepercayaan. Sekali aktor politik menunjukkan isyarat bisa dipercaya, kepercayaan rakyat pada politik menguat. Hal itu akan terungkap dalam partisipasi rakyat pada pemilu. ”Kepercayaan rakyat, itulah yang terus saya bangun,” kata kakek satu cucu ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Karisma ayah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jalan hidup Najib berubah setelah ayahnya meninggal tahun 1976 di London. Ia diangkat menjadi anggota Dewan Rakyat sebagai kandidat dari UMNO (Organisasi Nasional Melayu Bersatu) mewakili daerah pemilihan Pekan, yang kosong sepeninggal ayahnya. Ia anggota parlemen termuda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mulailah tangga ke panggung politik tersedia baginya. ”Saya tak memungkiri, berkat perjuangan dan karisma almarhum Ayah, karier politik saya maju. Tapi, itu saja tak cukup. Saya juga berjuang sendiri sehingga sampai seperti sekarang,” kata pria yang rajin bermain golf ini. Dulu Najib senang bermain sepak bola, tetapi setelah lututnya cedera ia tak lagi main sepak bola.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kendati pamannya saat itu menjadi perdana menteri (Hussein Onn), ia tak serta-merta ditarik masuk kabinet. Ia mengawali karier politik dari bawah. ”Melayani rakyat adalah jalan paling baik untuk mengubah perikehidupan rakyat menjadi lebih baik,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia kemudian dipilih menjadi Ketua Pemuda UMNO Cabang Pekan, juga menjadi anggota Dewan Eksekutif Pemuda UMNO (1976). Pada 1981, Najib dipilih menjadi anggota Dewan Tertinggi UMNO, sebelum memenangi pertarungan memperebutkan jabatan Wakil Presiden Pemuda UMNO (1982). Lima tahun kemudian (1987) ia diangkat menjadi Pemangku Ketua Pergerakan Pemuda UMNO menggantikan Anwar Ibrahim yang bertarung memperebutkan jabatan Wakil Presiden UMNO. Jabatan Presiden Pemuda UMNO jatuh kepadanya tahun 1988.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika menjadi Pemangku Ketua Pergerakan Pemuda UMNO itu, ia hampir ditangkap dan dipenjara berdasarkan Undang-Undang Keamanan Nasional (Internal Security Act/ISA) karena menggalang demonstrasi yang diikuti tak kurang dari 2.000 orang. Demonstrasi digelar menjawab gerakan elemen-elemen yang meragukan dominasi Melayu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia mengakui, hingga kini masalah Melayu dan non-Melayu masih belum tuntas sepenuhnya. Orang Melayu ingin mempertahankan dominasi, sebaliknya yang non-Melayu menginginkan persamaan hak dan meritokrasi. Kata Najib, pemerintah terus berupaya menyelesaikan masalah ini. Bahkan di bidang ekonomi, pemerintah berencana mengurangi aturan tentang kepemilikan yang melandasi kebijakan ekonomi proetnis Melayu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pilihan rakyat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahun 1993, saat Anwar Ibrahim memutuskan untuk bertarung memperebutkan jabatan Deputi Presiden UMNO, Najib dipilih untuk menduduki jabatan yang ditinggalkan Anwar: Wakil Presiden UMNO. Jabatan itu dipertahankan dalam tiga pemilu (1993, 1996, dan 2000).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perjalanan kariernya memperlihatkan Najib tak sekadar menjalani hidup seperti disebut sang pujangga, vita umbratilis, ”hidup dalam bayang-bayang” ayahnya yang mewariskan sikap tanggung jawab, dedikasi, dan rasa memiliki.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada usia 25 tahun, Najib masuk kabinet. Inilah jabatan pertama di kabinet yang dipercayakan kepadanya, sebagai Deputi Menteri Energi, Telekomunikasi, dan Pos (1978). Sekali lagi, ia menjadi orang termuda dalam jabatan politik. Lalu, ia menjadi Deputi Menteri Pendidikan, Deputi Menteri Keuangan, serta Menteri Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga. Kemudian, ia menjadi Menteri Pendidikan, Menteri Pertahanan, dan sejak September lalu menjadi Menteri Keuangan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Ketika diangkat menjadi menteri pendidikan, saya merasa dipercaya menyiapkan generasi muda untuk masa depan Malaysia,” kata Najib yang senang membaca buku biografi para tokoh dunia dan tentang kemiliteran ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini, ia disiapkan oleh PM Abdullah Badawi sebagai penerusnya. ”Saya senantiasa mengingatkan pada diri sendiri, saya adalah nomor dua, nomor satunya Datuk Seri Abdullah,” katanya, sambil mengingatkan bahwa tak semua deputi perdana menteri pada akhirnya menjadi perdana menteri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Seorang pemimpin harus menyiapkan kader, pengganti. Seorang pemimpin juga harus mampu menyejahterakan rakyat karena ia dipilih rakyat dan dapat memberikan keuntungan politik bagi pemerintahnya. Bila hal itu tak terlaksana, dapat dikatakan gagallah pemimpin itu,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Seorang pemimpin baru dapat dikatakan berhasil bila dipilih lagi oleh rakyat dalam pemilu,” tambahnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, Najib mengingatkan, jabatan politik jangan diraih lewat politik uang. ”Politik uang adalah kanker, karena itu harus diberantas. Seorang politisi yang menggunakan politik uang itu hanya menunjukkan dia tidak memiliki kompetensi, kapabilitas, dan tidak percaya diri,” tegasnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut dia, seorang pemimpin tak perlu terlalu lama menjabat, tetapi juga jangan terlalu pendek agar programnya bisa berjalan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Ia dapat terus menjabat selama masih efektif dan diterima rakyat. Terlalu lama ia menjabat akan menghambat perubahan. Kekuasaan harus selalu dibagi, dilingkupi dengan batas, dan diperbarui dengan pemilu,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain itu, pertanggungjawaban kepada rakyat juga penting karena ia bukan diktator. Namun, menjadi pemimpin karena dipilih rakyat.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-7811099764012535061?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/7811099764012535061/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=7811099764012535061' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/7811099764012535061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/7811099764012535061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/11/najib-razak-sang-akuntan-politik.html' title='Najib Razak, Sang Akuntan Politik'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-498676300048342635</id><published>2008-11-15T06:52:00.000+07:00</published><updated>2008-11-15T06:53:32.315+07:00</updated><title type='text'>Susan Blackburn dan Perubahan Indonesia</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Ninuk M Pambudy&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;dan Maria Hartiningsih&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Banyak akademisi meneliti mengenai politik Indonesia, tetapi tidak banyak yang melihat dari sisi peran perempuan. Dari yang sedikit itu adalah Susan Blackburn, PhD.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Susan banyak meneliti gerakan perempuan Indonesia, meskipun ketika menyusun disertasi doktor dalam ilmu politik di Monash University dia tidak mengambil topik tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;”Sayang sebenarnya. Tetapi, waktu itu tidak ada yang memberi tahu. Juga pembimbing disertasi saya tidak mencetuskan ide ke arah sana,” kenang Susan. Disertasinya tentang gerakan nasionalisme di Indonesia tahun 1930-an, selesai pada 1972.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;”Padahal, banyak perempuan Indonesia terlibat aktif dalam gerakan politik nasional pada tahun 1930-an,” tambah Susan dalam bahasa Indonesia yang fasih.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ia menjadi salah satu narasumber dalam Konferensi Kedua Kartini Asia Network, di Bali, 2-5 November. Dia merefleksikan peran organisasi nonpemerintah (ornop), dalam hal ini Oxfam Australia, di mana ia menjadi anggota dan penentu kebijakan dalam membantu pemulihan kondisi perempuan korban konflik bersenjata di Sri Lanka, Kamboja, dan Timor Leste.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Meskipun ornop berhasil memenuhi kebutuhan praktis, seperti air bersih dan layanan kesehatan, serta kebutuhan strategis, seperti membantu mengatasi trauma dan mengorganisasi perempuan yang kehilangan anggota keluarga, tetapi juga ada kelemahan. Di antaranya, tak menangani semua kelompok perempuan, seperti perempuan bekas prajurit, perempuan usia muda, dan perempuan masyarakat asli, serta peran perempuan dalam perdamaian.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;”Dengan mengetahui keberhasilan dan kekurangan tersebut, orang lain bisa belajar,” kata Susan dalam panel diskusi konferensi internasional itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Isu perempuan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perhatian Susan terhadap isu perempuan dan jender muncul awal tahun 1980-an, sejalan dengan semaraknya gerakan feminisme di berbagai belahan dunia. Suatu ketika, ada laki-laki calon doktor mempresentasikan hasil penelitiannya tentang kesadaran berpolitik di tiga desa di Jawa. Peneliti itu tidak dapat menjawab pertanyaan Susan tentang peran perempuan dalam politik.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;”Dia bilang, dia tidak bertanya kepada perempuan. Saya kecewa sekali. Saat itu, banyak perempuan terlibat dalam politik karena gerakan PKI sangat kuat di daerah yang dia teliti,” cetus Susan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mulai tahun 1988 Susan serius meneliti gerakan perempuan di Indonesia, sejalan dengan kariernya sebagai pengajar. ”Buku pertama saya, History of Jakarta, tahun 1988, mengenai perempuan,” kata Susan, associate professor di Monash University.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setelah itu dia melahirkan sejumlah buku dan banyak tulisan mengenai perempuan Indonesia, terutama yang berhubungan dengan gerakan dan politik. Beberapa di antaranya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Meskipun kini lensa penelitiannya mengarah ke Sri Lanka, Kamboja, dan Timor Leste, tetapi ia tetap mengikuti perkembangan politik Indonesia, termasuk pengesahan UU Pornografi oleh DPR, akhir Oktober lalu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Isu pornografi, demikian Susan, dapat memecah gerakan perempuan yang, meskipun menguat setelah 1998, tetapi sebetulnya belum cukup kuat. ”Ada isu lebih penting untuk perempuan, seperti kesehatan, kemiskinan, dan pendidikan. Perempuan kembali digunakan, walau tak disengaja, oleh laki-laki dan parpol untuk memenangi simpati masyarakat, juga karena Pemilu 2009,” tambah mantan Presiden International Women&amp;apos;s Development Agency itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di Australia, demikian Susan, pornografi dan prostitusi adalah isu yang amat memecah gerakan perempuan selama lebih 100 tahun. Di satu sisi ada yang melihat pornografi dan prostitusi sebagai pemaksaan, isu moral, dan perempuan sebagai korban, di sisi lain ada yang menganggap dua hal itu pilihan dan tak melakukan penilaian atas dasar moral.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;”Yang menarik dalam isu ini, seolah-olah yang terlibat hanya perempuan, sementara laki-laki sebagai pengguna, lolos dari perhatian. Ini karena perempuan selalu dilekatkan dengan isu moral. Ada standar ganda,” tambahnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Bekerja bersama&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, Susan mengatakan, perempuan harus bekerja bersama laki-laki.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Contohnya, dalam mengisi kuota 30 persen kursi Dewan Perwakilan Rakyat untuk perempuan. ”Saya menaruh harapan karena, di Indonesia, laki-laki feminis lebih kuat dukungannya daripada di negara lain,” kata Susan yang bersuamikan warga Amerika itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Australia, kata Susan, sudah memberi kursi kepada perempuan sejak 1901, tetapi baru pada 1928 ada perempuan pertama di parlemen federal. Peningkatan cukup tajam terhadap jumlah perempuan di parlemen baru terjadi tahun 1980-an, setelah partai politik memberlakukan kuota untuk perempuan dan melakukan pendidikan politik.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagai peneliti dan akademisi dengan fokus politik Asia, politik pembangunan, dan perempuan dalam pembangunan dengan perhatian khusus pada Indonesia, Susan banyak membimbing mahasiswa asal Indonesia. Ia juga telah berkeliling Indonesia, kecuali Kalimantan dan Papua.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;”Indonesia begitu besar. Setiap kali, saya menemukan hal baru, termasuk situasi perempuan,” kata Susan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Otonomi daerah, misalnya, seharusnya meningkatkan kualitas demokrasi yang juga menguntungkan perempuan. ”Tetapi, lelaki masih dominan sehingga peraturan yang lahir mendiskriminasi perempuan. Di sini, aktivisme perempuan menjadi penting,” tambah dia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ia optimistis pada gerakan perempuan di Indonesia. Batalnya rancangan peraturan daerah Sumatera Barat, yang melarang perempuan keluar malam tanpa muhrim karena penolakan oleh gerakan perempuan dan perempuan anggota DPRD, adalah contohnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dinamika politik Indonesia seperti itu amat menarik bagi peneliti seperti Susan. Dia mengaku beruntung dapat melihat perubahan politik Indonesia dari dekat.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;”Saat pemerintahan Orde Baru (Orba), saya berpikir, kapan Orba akan berakhir, dan Indonesia akan jadi seperti apa? Masa depan akan berubah, nama-nama jalan (yang memakai nama pahlawan) akan berubah, dan orang-orang akan mengagumi orang-orang berbeda yang bukan militer.”&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Tentang Dia&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt; Nama:&lt;/strong&gt; Susan Blackburn&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt; Lahir:&lt;/strong&gt; Adelaide, Australia, 26 Februari 1947&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;- BA (Honours) dari Adelaide University&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;- PhD dan Diploma of Education dari Monash University&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt; Karier:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;- Mengajar di Victoria University of Technology (Melbourne), Griffith University (Brisbane), dan sejak 1991 di Monash University&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;- Meneliti sejarah, politik, gerakan perempuan Indonesia, dan bantuan luar negeri&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;- Mengajar politik pembangunan, jender dalam politik Asia, politik Asia Tenggara, bantuan luar negeri, dan organisasi nonpemerintah untuk mahasiswa S-1, S-2&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Buku di antaranya:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;- ”Women and the State in Modern Indonesia” (Cambridge University Press, 2004)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;- ”Practical Visionaries: A Study of Community Aid Abroad” (Melbourne University Press, 1993)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;- Mengedit dan memberi pengantar buku ”Indonesian Islam in a New Era: How Women Negotiate Their Muslim Identities” (Clayton, Monash Asia Institute, 2007, bersama Bianca Smith dan Siti Syamsiyatun)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;- ”The First Indonesian Women’s Congress of 1928” (Clayton, Monash Asia Institute, 2007)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;- ”Love, Sex and Power” (Clayton, Monash Asia Institute, 2001)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-498676300048342635?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/498676300048342635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=498676300048342635' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/498676300048342635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/498676300048342635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/11/susan-blackburn-dan-perubahan-indonesia.html' title='Susan Blackburn dan Perubahan Indonesia'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-3594490391583125071</id><published>2008-11-15T06:51:00.000+07:00</published><updated>2008-11-15T06:52:20.544+07:00</updated><title type='text'>Adonis, Meretas Sekat dan Batas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="txtartikelcetak"&gt;       &lt;!--zoom image--&gt;  &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;            &lt;div id="boximartikelcetak1"&gt;   &lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="300" height="200"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2008/11/14/3079429p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" width="300" height="224" /&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr align="left"&gt;    &lt;td&gt;          &lt;span class="txfotocetak"&gt;    &lt;span style="font-size:78%;"&gt;KOMPAS/MARIA HARTININGSIH / &lt;a href="http://www.kompasimages.com/" target="_blank"&gt;Kompas Images&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;           &lt;/span&gt;        &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;          &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span class="tglct"&gt;Jumat, 14 November 2008 | 03:00 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div id="article_body"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;MARIA HARTININGSIH&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”… thus I no longer hesitate to say: / ’the I and the other / are me…” Satu frasa dalam karya Adonis, ”A Desire Moving Through the Maps of the Material” (1986-1987), sudah cukup mengungkapkan pendirian penyair dan esais terkemuka dunia asal Suriah itu tentang ”liyan” (the other) dan ”yang diliyankan”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi Adonis (78), nama pena Ali Ahmad Sa&amp;apos;id, sejak usia 19 tahun, sang liyan dan sang diri menyatu dalam kesatuan diri; terasing dan diasingkan. Pengasingan tidak berarti secara fisik. Bahasa itu sendiri lahir dalam keterasingan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seperti banyak intelektual Arab yang tinggal di negara lain, Adonis hidup di antara dua keterasingan; di dalam dan di luar diri. ”I live between the plague and the fire, with my language, with this speechless worlds…,” begitu tulisnya dalam ”The Fall” (dari Songs of Mihyar).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beberapa negara Arab menutup pintu baginya karena kritiknya yang tajam mengenai kemandekan sastra dan budaya Arab. Ia pun mengalami bentuk-bentuk pengasingan lain: sensor, larangan, pengusiran, pemenjaraan, dan (ancaman) kekerasan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pandangan Adonis tentang kebenaran sebagai sesuatu yang harus terus diuji senantiasa berhadapan dengan pandangan arus utama tentang kebenaran sebagai yang sudah pasti. Itulah jantung perbedaan puisi dan teks agama. Puisi berproses dalam situasi yang terus berubah dan menjadi. Puisi adalah tindakan awal tanpa akhir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tujuan puisi adalah pertanyaan, pengamatan, penelitian, dan terobosan. Puisi memberi ruang bagi ”sang liyan” dalam berbagai bentuknya, bahkan menjadi identitas puisi yang terus-menerus melakukan hijrah dalam bahasa. Puisi menembus batas agama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adonis, yang banyak disebut sebagai sosok paling berpengaruh dalam kritik sastra, puisi, dan sastra Arab, ditemui pada suatu pagi pekan lalu di Jakarta, beberapa hari setelah memberikan kuliah umum mengenai kebenaran puisi dan kebenaran agama di Salihara, Senin (3/11).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mohamad Guntur Romli, yang belajar akidah filsafat di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, membantu menerjemahkan wawancara dalam bahasa Arab.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pembebasan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi Adonis, teks agama sering kali ditafsirkan sebagai alat kekuasaan untuk mencapai tujuan politik tertentu. Aliran politik yang despotik dan penafsiran sempit ideologi keagamaan senantiasa melahirkan pemaksaan dan kekerasan. Kemanusiaan yang tanpa sekat tak mendapat tempat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Sejarah memperlihatkan, yang kuat yang menafsirkan. Mereka menciptakan kebenaran tunggal,” kata Adonis menambahkan ”mereka” adalah kolaborasi penguasa, intelektual, dan uang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemikiran di luar lingkaran itu dibenamkan. Orang-orangnya dikafirkan, diliyankan. Itu terjadi pada para sufi, filsuf, dan penyair yang pemikirannya tak pernah tunduk pada klaim tertentu. Mereka adalah ”liyan”, si ikan paus biru dalam karyanya, Musiqa al-Hut-al-Azraq (Musik Paus Biru).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Toleransi sejati tak mungkin dibangun kalau satu pihak mengklaim kebenaran tertinggi,” tegasnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di dalam kebenaran tunggal, kebudayaan tak bisa berkembang karena kreativitas yang melahirkan pembaruan hanya dimungkinkan jika akal dan imajinasi manusia tidak dipenjara oleh sesuatu yang dianggap tak pernah bisa berubah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Stagnasi, kata Adonis, ”Karena teks menguasai realitas.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal itu pula yang membuat orang malas berpikir untuk mencari solusi atas persoalan- persoalan riil sosial kemasyarakatan. ”Berpikir adalah pekerjaan berat, tetapi merupakan langkah maju. Kemalasan berpikir membuat orang berjalan mundur, mencari solusi persoalan masa kini dari masa lalu,” tegas Adonis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemikiran-pemikiran Adonis dapat dibaca dalam karya monumental Adonis berjudul al-Tsâwabit wal Mutahawwil (Yang Tetap dan Yang Berubah). Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Yogyakarta menerbitkan empat jilid edisi bahasa Indonesia. Dalam dua jilid pertama, berjudul Arkeologi Sejarah-Pemikiran Arab-Islam, terpapar pembacaan yang sangat luas tentang pertarungan dua kubu di ranah sastra, teologi, politik, dan budaya Arab- Islam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kubu yang ingin menguatkan kemapanan berlindung di balik kekuasaan teks untuk memaksakan satu versi tafsir yang sahih. Kubu lainnya menjadikan teks sebagai khazanah tafsir yang terus mengalami pembaruan dan penyesuaian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Dipuja dan dikecam&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meskipun kritis terhadap persoalan Islam di Timur Tengah, sebagai penyair, Adonis tampaknya lebih tertarik pada eksperimentasi, bahasa, dan pembebasan puisi dari formalisme tradisi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia dipuja sekaligus dikecam karena mendobrak pakem-pakem puisi Arab yang telah mapan berkurun waktu. Barangkali, di sinilah letak pentingnya karya Adonis, seperti dibaca dalam uraiannya di Salihara; menggedor yang dianggap mapan, dan menguatkan pembaruan dalam dua ranah sekaligus, sastra dan agama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adonis lahir di Desa Al-Qassabin, dekat Kota Lakasia, Suriah, tahun 1930. Meski tak duduk di sekolah formal sampai usia 12 tahun, anak pertama dari enam bersaudara ini sudah belajar membaca dan menulis pada seorang guru desa dan mendapat pendidikan Islam tradisional dari ayahnya, seorang petani dan imam masjid.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika membacakan puisi- puisi heroik karyanya di depan Presiden Suriah Shukri al-Quwatli, tahun 1944, Sang Presiden terpesona, lalu mengirim Adonis ke sekolah Perancis di Kota Tartus. Adonis yang cerdas melompati tingkat-tingkat kelas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia menyelesaikan studi di bidang hukum dan filsafat di Universitas Damaskus, dan sempat belajar di Perancis. Tahun 1973, ia memperoleh PhD dalam Sastra Arab dari Universitas St Joseph di Beirut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semangat pembaharu terkandung dalam pilihan nama pena yang diambilnya dari mitologi Yunani. Ia sempat merasakan dinginnya lantai penjara pada tahun 1955.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bersama istrinya, kritikus sastra, Khalida Said (kini 76 tahun), mereka pindah ke Lebanon tahun 1956. Ia mendirikan jurnal Shi&amp;apos;ir yang memperkenalkan gagasan modernitas ke dalam puisi Arab, dan langsung dilarang di beberapa negara Arab. Ia juga mendirikan jurnal kebudayaan, Mawaqif.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adonis mengajar Sastra Arab di Universitas Lebanon sebelum menetap di Paris awal tahun 1980-an karena perang saudara di Lebanon. Ia mengajar di Sorbonne Paris III, dan menjadi dosen tamu beberapa universitas di AS dan Swiss.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meski berpindah-pindah tempat tinggal, ia tak pernah dirisaukan soal identitas. Bagi dia, identitas adalah proses ”menjadi” yang terus-menerus.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ayah dua anak perempuan, Arwad (50) dan Ninar (35), ini dikenal sebagai intelektual Muslim dan penulis dunia yang membangun jembatan-jembatan pemikiran. Ia menerima berbagai penghargaan dari berbagai negara. Namanya berada dalam daftar pendek nominasi Nobel untuk Kesusasteraan sejak tahun 2003.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Karya Adonis lainnya&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beberapa karya Adonis antara lain lebih dari 20 buku puisi. Puisi pertamanya terbit tahun 1957, ”Leaves in the Wind” (1958). Adikaryanya, ”Aghani Mihyar al-Dimashqi” atau ”Songs of Mihyar the Damascene” (1961), baru diluncurkan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karya Adonis lainnya antara lain ”A Time Between Ashes and Roses” (2004), ”If Only the Sea Could Sleep” (2003), ”The Pages of Day and Night” (2001), dan ”The Blood of Adonis” (1971).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adonis juga editor dari buku-buku antologi, ahli teoretisi puisi, dan penerjemah buku-buku berbahasa asing ke bahasa Arab.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-3594490391583125071?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/3594490391583125071/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=3594490391583125071' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/3594490391583125071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/3594490391583125071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/11/adonis-meretas-sekat-dan-batas.html' title='Adonis, Meretas Sekat dan Batas'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-5613946797135593987</id><published>2008-11-12T16:26:00.000+07:00</published><updated>2008-11-12T16:27:26.637+07:00</updated><title type='text'>Natsir, Negarawan Santun Bertutur Kata</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="txtartikelcetak"&gt;       &lt;span class="tglct"&gt;Rabu, 12 November 2008 | 00:43 WIB&lt;/span&gt;  &lt;div id="article_body"&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Agus Basri&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tokoh-tokoh seratusan, demikian sejarawan Taufik Abdullah—mungkin bercanda—mengistilahkan, menjadi amat bermakna tahun ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada seratus tahun Sutan Takdir Alisjahbana, Sutan Syahrir, Mohamad Roem, Hamka, dan seratus tahun Kebangkitan Nasional. Namun, yang penuh makna adalah seabad Mohd Natsir. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, melalui Keputusan Presiden Nomor 041/TK/Tahun 2008, menetapkan Bung Tomo, KH A Halim, dan M Natsir sebagai pahlawan nasional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sosok M Natsir (1908-1993), Perdana Menteri Pertama NKRI tahun 1950 dan tokoh PRRI, sebenarnya sudah diajukan sebagai pahlawan nasional sejak 40 tahun lalu, semasa Mintardjo menjabat Menteri Sosial pada awal 1970-an. Dan, Keppres Presiden yang menetapkan Natsir sebagai pahlawan nasional saat genap 100 tahun merupakan kado istimewa. Ini sekaligus menepis pendapat yang menuduh pergolakan PRRI dan RPI sebagai pemberontakan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Muara semuanya, tak lepas dari kerja keras Panitia Refleksi Seabad M Natsir (1908-2008), yang dipimpin Prof Dr Laode M Kamaluddin dan Lukman Hakim, Wakil Ketua Fraksi PPP DPR, dengan menempatkan Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai Ketua Dewan Penasihat Panitia. Beratus ilmuwan menyumbangkan pikiran M Natsir dalam seminar di berbagai kota selama setahun dan mengudari bukti-bukti karakter dan kepribadiannya yang luar biasa toleran dan kesederhanaannya yang memukau, bahkan oleh lawan politiknya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Santun&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;George McKahin dari Cornell University, misalnya, terkagum-kagum melihat Natsir, satu-satunya Menteri (Penerangan) yang mengenakan baju tambalan; selalu berbicara dengan tutur kata yang santun dan tertata; Ketua Partai Masyumi yang amat akrab—bahkan sampai ke hal-hal pribadi—dengan Ketua Partai Katolik IJ Kasimo. Natsir, seorang Perdana Menteri yang (dengan halus) menolak hadiah mobil Chevy Impala dari cukong; dan satu-satunya pejabat di pemerintahan yang pulang ke rumah dari istana membonceng sepeda onthel sopirnya selepas menyerahkan jabatan perdana menteri kepada Presiden Soekarno.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para sejarawan mencatat, tonggak- tonggak telah dipancangkan, pahatan dipatrikan, tanpa sesiapa pun bisa melupakan. Adalah kabinet M Natsir yang memperjuangkan Indonesia menjadi anggota PBB. Dia pula yang memahatkan politik luar negeri ”’bebas aktif’ ’sejak awal. Ini berbeda dari mengayuh di antara dua karangnya M Hatta yang lebih dekat pada politik luar negeri yang netral. Natsir pula yang menuktahkan kata kalimatun sawa, titik temu yang harus diraih oleh dan di tengah kemajemukan (umat, etnik, aliran, ras) atau kebinekaan Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kabinet Datuk Sinaro Panjang ini pula yang mematok kebijakan ekonomi dengan ”Program Benteng” yang menghasilkan konglomerat pribumi Hasjim Ning, Dasaat, Rahman Tamin, Ayub Rais, dan Achmad Bakri—yang terakhir adalah ayah Menko Kesra Aburizal Bakrie. Juga konsepsinya tentang negara berkesejahteraan dalam rangka pembangunan berkeadilan sosial. Kebijakan ekonomi yang diperuntukkan kepada mereka ”yang tidak diuntungkan” (rakyat kecil).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, ”pergelaran” kekuatan Natsir—dan partai terbesarnya di parlemen, Masyumi—kukut alias ”turun layar (tancep)” setelah tak lagi harmonis dengan Presiden Soekarno terkait masalah Irian Barat (kini Papua), hanya lantaran sang Perdana Menteri mengajak para menteri ke istana berdebat dan membuat Bung Karno merah, Natsir mengistilahkan. Sejak itu, mudah diterka, kabinet Datuk Sinaro Panjang tak (lagi) berumur panjang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada sebuah petang, dalam wawancara dengan saya, M Natsir—yang tampak seperti masih teriris-iris pada masa tuanya—mengingat-ingat saat dipermainkan dalam sidang-sidang parlemen yang tidak kuorum. ”Permainan di Parlemen yang menyebabkan (kabinet) saya jatuh…. Tidak fair itu. Maka, kabinet saya mengundurkan diri. Saya tak mau dipermainkan begitu,’’ katanya (Buku 100 tahun M. Natsir, Berdamai dengan Sejarah).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tak berniat memberontak&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, Natsir terus melaju. Dengan kendaraan Masyumi, melalui parlemen, pejuang demokrat ini mengajukan konsep dasar negara Islam, seusai Pemilu 1955. Dan, kekuatan di belakangnya bergerak terayun seperti bandul, yang lantas seperti sengaja ”dibikin untuk dipatahkan” dengan kata vonis: deadlock. Serentet perjuangannya menjadi tersedak saat Presiden Soekarno membubarkan kabinet dan lengket dengan kekuatan komunis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Inilah yang mengantarnya memberi perlawanan bahkan sampai pada bentuk pergolakan—ada yang menyebut pemberontakan—PRRI dan RPI. Sebuah perlawanan, yang menurut RZ Leirissa, dalam buku PRRI Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis, ”… merupakan usaha untuk menggalang kesatuan di antara berbagai kelompok dalam bangsa Indonesia yang menolak konsepsi Presiden Soekarno dan pengaruh komunisme.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Leirissa menyatakan, ”Dan PRRI sejak semula tidak ada niat untuk memberontak.” Namun, perlawanan itu kandas setelah Presiden Soekarno mengeluarkan amnesti. Sebuah langkah, yang tidak saja membuat Natsir turun gunung, tetapi juga menjelomprongkan dan menjebloskannya ke penjara tanpa ada pengadilan hingga dilepas oleh rezim Soeharto dengan syarat tak lagi boleh berpolitik praktis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Senjata kala pada akhir hayatnya pada 7 Februari 1993 telah mengantar M Natsir menjadi lebih dikenal sebagai ulama, yang teduh, sebagai Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, dan Wakil Presiden Mu’tamar Alam Islami. Ini mengingatkan pada seorang Natsir yang menancapkan kata: ”Bagi saya, politik dan dakwah tidak bisa dipisahkan. Seperti dua sisi dari keping mata uang yang sama. Kalau kita berdakwah dengan membaca Qur’an dan Hadits, itu berpolitik. Jadi, dulu berdakwah lewat politik, sekarang berpolitik melalui jalur dakwah…. Politik tanpa dakwah, hancur,” kata-kata yang dikutip banyak pejabat dan akademisi, tertatahkan pada buku hijau: Politik Melalui Jalur Dakwah, yang diterbitkan Panitia Seabad M Natsir, setengah tahun sebelum Presiden SBY menandatangani Keppres pahlawan nasional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan, inilah sebuah gelar, yang tidak saja menuktahkan kenegarawanan seorang ulama intelektual, yang selalu memegang teguh amanah dengan tingkat toleransi tinggi, memahatkan kalimatun sawa’, sekaligus—dengan gelar itu—membuktikan dan membantah sementara orang yang menyebut PRRI sebagai pemberontakan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lebih dari itu. Pelajaran di sekolah, yang selama ini menyebut PRRI sebagai ”pemberontakan” seharusnya segera dihapus dan digantikan dengan kata ”perjuangan”, plus tambahan kata ”pahlawan nasional” pada nama Mohd Natsir. Ini barangkali makna paling dalam dari seratusan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Agus Basri&lt;/strong&gt; Panitia Refleksi Seabad M Natsir; Penulis Buku M. Natsir; Pemimpin Redaksi The Fatwa Magazine&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-5613946797135593987?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/5613946797135593987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=5613946797135593987' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5613946797135593987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5613946797135593987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/11/natsir-negarawan-santun-bertutur-kata.html' title='Natsir, Negarawan Santun Bertutur Kata'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-6256733161630311566</id><published>2008-11-01T17:23:00.000+07:00</published><updated>2008-11-01T17:24:55.100+07:00</updated><title type='text'>Eric E. Schmidt, Satu dari Tiga Aktor Google</title><content type='html'>&lt;div class="judulisiberita" style="margin: 5px 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;           &lt;/div&gt;&lt;div style="width: 300px; float: left; margin-right: 10px; text-align: justify;"&gt;         &lt;div style="padding: 0px 0px 5px; width: 298px;"&gt;        &lt;div id="loadarea" style="margin-bottom: 5px; width: 298px;"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2008/10/20/011121p.jpg" border="0" width="298" /&gt;     &lt;/div&gt;                    &lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/20/07065598/eric.e..schmidt.satu.dari.tiga.aktor.google#" style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none;"&gt;GETTY IMAGES/DANIEL BEREHULAK&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;        &lt;div id="boxtitle" style="margin-bottom: 0px; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 11px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;CEO Google Eric E. Schmidt&lt;/div&gt;       &lt;/div&gt;                                            &lt;!--- video --&gt;             &lt;script type="text/javascript" src="http://tv.kompas.com/video/swfobject.js"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div id="player"&gt;&lt;embed type="application/x-shockwave-flash" src="http://tv.kompas.com/video/mediaplayer.swf" style="" id="mpl" name="mpl" quality="high" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" flashvars="height=225&amp;amp;width=298&amp;amp;file=rtmp://202.146.4.16:443/default/&amp;amp;image=http://tv.kompas.com/images/stories/080411_o.jpg&amp;amp;id=080411_o" width="298" height="225"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/div&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;var so = new SWFObject('http://tv.kompas.com/video/mediaplayer.swf','mpl','298','225','8');so.addParam('allowscriptaccess','always');so.addParam('allowfullscreen','true');so.addVariable('height','225');so.addVariable('width','298');so.addVariable('file','rtmp://202.146.4.16:443/default/');so.addVariable('image','http://tv.kompas.com/images/stories/080411_o.jpg');so.addVariable('id','080411_o');so.write('player');&lt;/script&gt;&lt;div style="padding: 0pt;"&gt;        &lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="tanggal"&gt;Senin, 20 Oktober 2008 | 07:06 WIB&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA, JUMAT - &lt;/strong&gt;Dunia bisnis mencatat pria berkacamata ini sebagai orang yang sukses dalam bisnis internet. Terkesan dengan kepiawaiannya, Larry Page dan Sergey Brin, dua pendiri Google, mendaulatnya menjadi &lt;em&gt;chief executive officer&lt;/em&gt; (CEO) raksasa mesin pencari itu sejak 2001. Mereka percaya pengalaman Eric E. Schmidt di jagad maya selama 20 tahun membuatnya mampu membesarkan Google. Eric membayar tuntas kepercayaan mereka. Orang terkaya dunia peringkat 142 versi majalah Forbes ini menjadi satu dari tiga aktor dibalik kesuksesan Google.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dialah pria yang menguasai peta dunia maya. Betapa tidak, dia orang nomor satu di situs pencari nomor satu di dunia. Sebagai &lt;em&gt;Chief Executive Officer&lt;/em&gt; Google, Eric E. Schmidt berperan penting menyulap Google, dari sekadar mesin pencari data menjadi mesin penghasil uang.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;la pun telah mengantarkan perusahaan yang bermarkas di California, Amerika Serikat itu, sebagai salah satu perusahaan kompetitor terberat Microsoft Corporation. Tak hanya itu, berkat kepiawaiannya pula, pengembangan dan inovasi bisnis internet termasuk bisnis iklan online Google terus bergulir.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kini, Eric kompak memerintah Google bersama dua pendiri Google, Lary Page dan Sergey Brin. Kekompakan ketiga orang ini kerap kali mendapat julukan Triumvirat Google.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kesuksesan Eric bersama Google menambah pundi-pundi kekayaanrnya. Ia adalah salah satu dari sedikit orang yang menjadi miliuner dari opsi saham (&lt;em&gt;stock option&lt;/em&gt;) bagi karyawan di perusahaan, biarpun ia bukan pendiri maupun sanak keluarga pendiri perusahaan itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Majalah Forbes mendudukkannya pada ranking 142 daftar orang terkaya di dunia pada 2008 ini. Majalah itu menghitung total kekayaan Eric mencapai 6,6 miliar dollar AS. Pada tahun ini pula, Forbes memasukkan Eric ke dalam daftar orang terkaya di bidang teknologi informasi di urutan ke-59. Sedangkan tahun lalu, is berada di peringkat pertama 50 orang terpenting di jagad web versi majalah PC World.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saat ini, Schmidt tinggal di Atherton, California, Amerika Serikat bersama istrinya, Wendy. la juga meluangkan waktu mengajar kuliah bisnis paruh waktu di Standford Business School.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Schmidt lahir pada 27 April 1955 di Washington D.C. Ayahnya seorang ekonom dan ibunya adalah ibu rumah tangga biasa. la mengenyam pendidikan menengah di Yorktown High School, Virginia. Selepas itu, Schmidt melarutkan pendidikan ke Princeton University. Di sana, ia memperoleh gelar Bachelor of Science pada bidang studi teknik elektro. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada 1979, Schmidt mendapatkan gelar master ilmu komputer. Lalu pada 1982, is memperoleh gelar Ph. D. dalam ilmu komputer dari University of California, Berkeley. Kala itu, disertasinya mengenai masalah manajemen distribusi pengembangan software dan peralatan untuk menyelesaikan masalah tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada awal perjalanan kariernya, Schmidt memilih serius di bidang tehnik pada perusahaan TI. la tercatat pernah bekerja pada Bell Laboratories dan Zilog. la pun pernah bekerja sebagai staf penelitian pada - laboratorium ilmu komputer di Xerox Palo Alto Research Center (PARC).&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada 1983 adalah tahun yang menentukan bagi kelanjutan karier Schmidt. Pada tahun inilah ia bergabung dengan Sun Microsystems untuk memimpin proyek pembuatan program Java. Tak lama kemudian kariernya melejit menjadi Chief Technology Officer (CTO) Sun Microsystems.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selama kurun waktu 14 tahun di Sun, Schmidt berhasil menduduki berbagai posisi eksekutif. la mendapat pengakuan dunia internasional atas sumbangannya pada perkembangan internet. Dia juga megjadi tokoh penting dalam mengembangkan dan memasarkan Java, platform bahasa program milik Sun.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kemudian tahun 1997, Schmidt bergabung dengan dengan Novell Inc sebagai CEO. Waktu ia bergabung, perusahaan software ini sedang kesulitan. Schmidt mencoba memperbaikinya. Namun ketika-itu gelembung dotcom pecah dan ekonomi AS melambat. Akhirnya Schmidt meninggalkan Novell.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada Maret 2001, Schmidt melamar ke Google. la harus bersaing dengan 50 orang lainnya yang berambisi mendampingi pendiri Google, Lary Page dan Sergey Brin, yang waktu itu sedang mencari wakil direksi. Hasilnya, kedua pendiri Google tersebut begitu terkesan dengan Schmidt ketika mewawancarainya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Eric Schmidt punya pekerjaan yang tak mudah sebagai Chief Executive Officer (CEO) Google dan orang nomor tiga di perusahaan itu. Namun, is membuktikan kepada semua orang bahwa ia berhasil membawa Google menjadi perusahaan internet yang menguntungkan. Eric juga menggagas budaya kerja unik di Google. la menciptakan formula 70/20/10. la pun membangun Googleplex, markas besar Google, sebagai tempat kerja yang nyaman. Namun, Eric terkenal sebagai orang yang sangat  tertutup.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan 20 tahun lebih pengalaman dalam perusahaar Eric bisa menjaga keseimbang an di antara Larry Page dan Sergey Brin, dua orang pendiri Google. Jika kedua anak muda itu terlibat perdebatan atau perbedaan pendapat yang panas, Eric-lah yang akan berdiri di antara mereka. la akan menyatukan pendapat mereka sehingga perusahaan itu tetap solid di depan para hadapan Wall Street.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bisa dibilang, pekerjaan Chief Executive Officer (CEO) Eric adalah yang tersulit di seluruh negeri itu. Dia harus berbagi kewenangan dengan dua pendiri Google yang sangal besar pengaruhnya. Dia pula yang harus menyampaikan keputusan mereka kepada investor dan karyawan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;la harus mengelola perusahaan internet yang sedang berkembang pesat dan merijaganya dari masalah, agar kreativitas tetap terpacu. Dan, is harus melakukan semua itu sambil berkompetisi dalam meraup pangsa pasar.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Eric membuat Google mendapat keuntungan dari penjualan iklan teks yang tertera di samping hasil pencarian, penjualan lisensi tehnologi pencari, dan bisnis periklanan. Kini, kapitalisasi pasar Google Inc., mencapai 168 miliar dollar AS. Sekitar 19.604 karyawan turut menopang roda bisnis Google.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Langkah fenomenal Eric dalam memperluas bisnis Google adalah mengakuisisi situs bisnis periklanan online yang menggunakan video. Awalnya, banyak yang pesimistis bahwa akuisisi ini akan berhasil. Namun, Eric tetap berkeras hati. Pada 10 Oktober 2006, is mewujudkan mimpinya tersebut. Walhasil, Google mengakuisisi situs Youtube senilai 1,65 miliar dollar AS.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ternyata keputusannya mengakuisisi situs tersebut adalah pilihan yang tepat. Pada 2007, Google melaporkan telah mengantongi keuntungan dari pendapatan iklan sebesar 5,7 miliar dollar AS. Hal ini berarti, hanya dalam setahun, mereka mengembalikan modal pembelian Youtube.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selain itu, Eric juga menggagas sebuah model sumber daya bisnis, yaitu formula 70/20/10. Metode ini menjadi terobosan bagi Google untuk mengelola inovasi para karyawannya. Berdasarkan rasio ini, karyawan idealnya harus memanfaatkan 70 persen waktu untuk mengerjakan bisnis inti perusahaan, 20 persen waktu untuk melakukan proyek yang berhubungan dengan bisnis inti, dan 10 persen waktu untuk proyek di luar bisnis inti.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Selain jago dalam dunia bisnis, Eric juga telah menciptakan budaya perusahaan yang unik. Eric berusaha menciptakan kondisi bekerja yang nyaman dalam perusahaan. Markas Google di Mountain View, California, Amerika Serikat lebih mirip kampus daripada kantor. Di sana, Eric menyediakan teknologi yang hebat, fasilitas lengkap, serta cemilan gratis.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kenyamanan ini telah membuat banyak karyawan betah bekerja di Google. Menurut catatan majalah Fortune, saat ini tingkat &lt;em&gt;turn over&lt;/em&gt; karyawan Google hanya 1 persen. Fortune pun menjuluki Googleplex sebagai kantor ternyaman di dunia.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada 2006, Eric memperoleh penghargaan dari National Academy of Engineering lantaran sukses mengembangkan strategi bagi mesin pencari paling sukses sedunia. Pada tahun ini pula, Apple Inc. memasukkan Eric ke dalam jajaran direkturnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Eric terlibat pula di sejumlah yayasan. la adalah Chairman New America Foundation. Ia dan isterinya pun menjalankan The Schmidt Family Foundation yang menangani isu keberlangsungan dan penggunaan sumber daya alarm secara bertanggung jawab.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di luar itu, Eric juga seorang kolektor seni. Ia berada dalam daftar kolektor seni kelas atas pada ARTnews 200. Selebihnya, tak banyak orang tahu siapa Eric sebenarnya dan bagaimana kehidupan pribadinya. Sebab, ia sangat berhasti-hati menjaga masalah-masalah personalnya. Satu contoh yang paling terkenal adalah ketika ia mencekal wartawan CNet setelah situs berita teknologi itu menuhs cerita pribadiaya dengan menggunakan data-data dari hasil pencarian di internet. &lt;strong&gt;(Roy Franedya, Rika Theo)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-6256733161630311566?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/6256733161630311566/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=6256733161630311566' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/6256733161630311566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/6256733161630311566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/11/eric-e-schmidt-satu-dari-tiga-aktor.html' title='Eric E. Schmidt, Satu dari Tiga Aktor Google'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-4382188035694816978</id><published>2008-10-29T16:37:00.000+07:00</published><updated>2008-10-29T16:39:01.156+07:00</updated><title type='text'>Tak Henti Melawan Korupsi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="txtartikelcetak"&gt;       &lt;!--zoom image--&gt;  &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;            &lt;div id="boximartikelcetak1"&gt;   &lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="300" height="200"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2008/10/29/040845p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" width="300" height="224" /&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr align="left"&gt;    &lt;td&gt;          &lt;span class="txfotocetak"&gt;    &lt;span style="font-size:85%;"&gt;KOMPAS / &lt;a href="http://www.kompasimages.com/" target="_blank"&gt;Kompas Images&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;           &lt;/span&gt;        &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;          &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span class="tglct"&gt;Rabu, 29 Oktober 2008 | 03:00 WIB&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div id="article_body"&gt;&lt;p&gt;Bung Hatta Anti-Corruption Award atau BHACA tahun 2008. Inilah perhelatan untuk penobatan tokoh antikorupsi. Memanfaatkan momentum Hari Sumpah Pemuda, mereka yang mendapat penghargaan diharapkan konsisten sepanjang hidupnya melawan setiap bentuk penyimpangan kekuasaan, seperti figur Bung Hatta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mereka yang terpilih adalah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Ketua Komisi Yudisial Busyro Muqoddas, dan mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Amien Sunaryadi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sri Mulyani Indrawati&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mereformasi birokrasi di lingkungan Departemen Keuangan (Depkeu) adalah langkah awal yang dilakukannya sejak menjadi Menteri Keuangan pada 2005. Apakah reformasi itu berhasil? Belum.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Perlu proses lama dan tak mudah mencapai birokrasi yang saya cita-citakan. Penuh onak dan duri, serta pengorbanan,” ujar istri dari Tonny Sumartono dan ibu tiga anak, Dewinta Illinia Sumartono, Adwin Haryo Indrawan Sumartono, serta Luqman Indra Pambudi Sumartono ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meski sudah tiga tahun, reformasi birokrasi masih menyisakan sederet daftar birokrat yang ideal. Birokrasi yang kapabel, kompeten, berintegritas, dan berdedikasi tinggi. Birokrasi juga harus menjadi pengayom, tak mengkhianati sumpah jabatan, tak mencederai kepercayaan publik, dan menjaga martabat jabatan. Untuk mencapainya, birokrat harus dibekali pendidikan yang baik, intelektualitas cukup tinggi, serta kepercayaan diri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan bekal itu, aparat berani menentukan kebijakan terbaik bagi rakyat dan negara, meski diiringi risiko, konsekuensi berat, dan tak populer. Di sinilah letak pengorbanan. Sebab, bagi Ani, panggilannya, Indonesia harus dijaga dengan serius.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Langkah untuk membersihkan birokrasi di Depkeu dipraktikkan perempuan pertama di Indonesia yang menjadi Menkeu ini. Pada 30 Mei 2008, ia mempersilakan KPK membongkar praktik suap dalam layanan kepabeanan di Kantor Pelayanan Utama (KPU) Ditjen Bea dan Cukai Tanjung Priok. Hasilnya, ditemukan uang suap Rp 500 juta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Temuan ini dianggapnya keterlaluan karena sebelum pemeriksaan KPK ia telah mengupayakan perbaikan penghasilan pegawai Depkeu. Khusus untuk pegawai Ditjen Bea dan Cukai KPU Tanjung Priok, mereka diberi tunjangan khusus.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi perempuan kelahiran Bandar Lampung, 26 Agustus 1962, ini, kondisi itu menunjukkan banyak tantangan yang belum terselesaikan. Tantangan paling sulit adalah hambatan kultural dan nilai-nilai yang menghambat tercapainya cita-cita birokrasi ideal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Malas dan skeptis terhadap perubahan dan perbaikan yang menjadi prinsip dasar reformasi birokrasi merupakan penghambat utama. Ada lagi kebiasaan buruk di lingkungan birokrasi, pertemanan dan ketidakpahaman untuk membedakan antara kepentingan pribadi dan kepentingan publik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Pejabat yang belum paham asas konflik kepentingan dan pentingnya etika jabatan publik sering menimbulkan suasana tak nyaman dalam menjalankan prinsip jabatan publik. Bahkan, sering menimbulkan benturan di tingkat operasional. Jangan sampai kondisi ini menurunkan semangat perbaikan,” harap wanita paling berpengaruh ke-23 di dunia versi Forbes dan penerima penghargaan sebagai Finance Minister of the Year tahun 2008 untuk kawasan Asia dari harian Emerging Markets ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Busyro Muqoddas&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Busyro teringat surat dari Perkumpulan Bung Hatta beberapa waktu lalu. Perkumpulan ini memintanya mengusulkan nama untuk calon penerima Bung Hatta Award bidang pemberantasan korupsi. Surat itu ia kembalikan, tanpa mengusulkan siapa pun. ”Takut salah informasi. Saya juga mempertimbangkan lembaga pemberi award-nya.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selang beberapa bulan, lelaki kelahiran Yogyakarta 56 tahun lalu ini didatangi seorang ibu berusia lanjut. Ibu ”sepuh” itu berkata, Busyro dinominasikan sebagai penerima penghargaan. Ternyata, Perkumpulan Bung Hatta mengumpulkan berbagai informasi mengenai Ketua Komisi Yudisial ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya memahami penghargaan ini sebagai award untuk institusi Komisi Yudisial (KY). Saya ini bagian tak terpisahkan dari KY,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejak Agustus 2005, Busyro aktif di KY dan memimpin lembaga penjaga kehormatan dan keluhuran hakim ini hingga kini. Di awal usianya, KY melakukan sejumlah tindakan progresif yang memunculkan reaksi para hakim, termasuk hakim agung. Perselisihan itu berakhir di Mahkamah Konstitusi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Busyro sudah lama berkecimpung di dunia peradilan. Sebelum menjadi anggota KY, ia adalah pengacara di Yogyakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut dia, pemberantasan korupsi belum maksimal dan masih mengalami berbagai hambatan dari segi suprastruktur maupun infrastruktur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari suprastruktur, ia melihat pemberantasan korupsi belum dilakukan secara sistemik dan sungguh-sungguh. Ia tak melihat komitmen, sinergi, keterbukaan, dan transparansi dari semua lembaga. Korupsi belum dibuktikan sebagai common enemy secara sungguh-sungguh.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Pemberantasan korupsi belum menjadi mesin, belum menjadi gerakan penegakan hukum terhadap korupsi secara sistemik,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari segi infrastruktur, gerakan pemberantasan korupsi belum matang. Pendidikan antikorupsi masih rendah sehingga sedikit yang menyadari korupsi adalah musuh bersama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terkait permasalahan korupsi, ia menilai, lembaga tempatnya berkiprah empat tahun terakhir punya peran strategis. Mengikis korupsi di peradilan adalah upaya strategis, mengingat hakim berada di garda terdepan gerakan ini. Maka, perlawanan terhadap mafia peradilan tetap dia lakukan. Ia berjanji meningkatkan dosisnya. ”Harus dilipatgandakan,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bapak tiga anak ini juga mau meningkatkan gerakan edukatif dan kultural untuk para hakim karena dia yakin masih banyak hakim yang jujur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Amien Sunaryadi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gundah melihat korupsi merajalela di hampir semua institusi, pada 2003 Amien meninggalkan pekerjaan di PricewaterhouseCoopers. Ia mendaftar sebagai pimpinan KPK.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 23 Januari 1960, ini bercerita, 1996-1999 ia bermimpi upaya pemberantasan korupsi bisa efektif, sebagaimana teori yang ada dalam strategi Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Ia pernah menjadi pegawai BPKP pada 1982-2000.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Melihat KPK, saya merasa sebagian mimpi sudah terealisasi. Periode lalu saya membangun capacity building KPK dengan fokus korupsi yang dihantam suap-menyuap. Saya senang, meski pimpinan KPK berganti, jalannya smooth, tak ada gejolak. KPK sebagai organisasi bisa berdiri, sistem organisasi, bisnis proses, dan standard operation procedure sudah berjalan,” ungkapnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selepas dari KPK, ia pernah menjadi staf ahli Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), pernah melakukan riset soal korupsi, dan sekarang bekerja di Bank Dunia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, Amien tetap gundah. Ia menilai pemberantasan korupsi masih tahap permulaan. ”Political will dari Presiden, Ketua MPR, Ketua DPR, dan lain-lain sudah ada, tapi kita belum masuk dalam pemberantasan korupsi sesungguhnya.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut dia, ada lima hal yang harus dilakukan, yaitu DPR diperkuat, MA diperkuat, strategi pemberantasan korupsi disepakati, dibentuk KPK, dan menangkap ”big fish”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Sekarang baru dibentuk KPK, menangkap big fish, dan MA berusaha diperkuat. Sedangkan DPR dan strategi pemberantasan korupsi belum disepakati. Ibarat orkestra, pemberantasan korupsi tak ada patitur dan konduktornya,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seharusnya konduktor itu menurut UU adalah KPK. ”Pemberantasan korupsi tak punya efek jera karena kalah cepat dengan aksi koruptor. Kalau seminggu bisa dua kali ada orang yang ditangkap, pasti orang takut. Namun, yang tertangkap tiga bulan baru sekali, jadinya orang berpikir yang tertangkap itu apes saja.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia membayangkan KPK menjadi organisasi besar dengan sumber daya manusia 5.000 hingga 10.000 orang profesional. ”Tapi terbentur perdebatan lama, penyidik KPK hanya dari polisi dan jaksa. Padahal, polisi dan jaksa saja kekurangan orang.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia menaruh perhatian pada penguatan DPR, sebab perannya besar, sebagai pembuat legislasi, kewenangan menentukan anggaran, dan pengawasan kinerja eksekutif.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meski tak lagi di KPK, mimpi Amien tak berhenti: Indonesia yang bebas korupsi. (ORIN BASUKI/ SUSANA RITA/ VINCENTIA HANNI)&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;!--s:insert_counter--&gt;  &lt;!--ttpend artikel --&gt;       &lt;!--START KOLOM PRINT--&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-4382188035694816978?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/4382188035694816978/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=4382188035694816978' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/4382188035694816978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/4382188035694816978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/10/tak-henti-melawan-korupsi.html' title='Tak Henti Melawan Korupsi'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-5135832104941733265</id><published>2008-10-29T05:58:00.000+07:00</published><updated>2008-10-29T05:59:06.912+07:00</updated><title type='text'>KH Muslich, Ulama Legislator Pertama</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;         &lt;!-- reporter start--&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="reporter"&gt;         &lt;div class="byreporter"&gt;      By Republika Contributor&lt;br /&gt;     Rabu, 15 Oktober 2008 pukul 12:37:00     &lt;!-- &lt;div class="iklan"&gt;       &lt;img src="images/ads468x60.jpg" alt="Iklan 468x60" /&gt;      &lt;/div&gt; --&gt;     &lt;/div&gt;          &lt;div class="box_share"&gt;       &lt;!--      &lt;table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;                    &lt;tr&gt;        &lt;td&gt;         &lt;div align="center"&gt;                  &lt;/div&gt;        &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top"&gt;&lt;a href="#"&gt;SHARE&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;              &lt;tr&gt;        &lt;td&gt;         &lt;div align="center"&gt;                  &lt;/div&gt;        &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top"&gt;&lt;a href="#"&gt;RSS&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;             &lt;/table&gt;  --&gt;                                    &lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;!-- reporter end--&gt;      &lt;!-- contents lainnya start--&gt;                     &lt;!-- lainnya dalem start--&gt;           &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="image_detail"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" id="detail_news_text" class=""&gt;     &lt;div class="content"&gt; &lt;p&gt;Di kalangan ulama dan warga Nahdlatul Ulama (NU), nama KH Muslich tidak asing lagi. Ia dikenal sebagai seorang pejuang dan pergerakan kemerdekaan yang gigih. Atas kegigihannya dalam berjuang itu memperoleh penghargaan Bintang Maha Putera Utama, karena jasa-jasanya yang besar terhadap negara dan bangsa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;KH Muslich juga dikenal sebagai sosok ulama yang pertama kali yang duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mewakili golongan karya ulama (1960). Sejak itu selama satu generasi, kiai kelahiran Purwokerto (1910) itu tidak pernah berhenti berkhidmat melalui berbagai amanah yang dipercayakan padanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berturut-turut, ia pernah menjadi anggota Dewan Perancang Nasional (Depernas), penasihat Menteri Urusan Transmigrasi, penasihat Menteri Urusan Pengerahan Tenaga Rakyat, anggota Badan Otorita Jalan Lintas Sumatera, anggota Badan Penyalur Sandang Pangan, anggota Badan Usaha Perbaikan Pondok Pesantren, hingga menjadi staf ahli bidang Keamanan/Pertahanan pada masa Perdana Menteri Djuanda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebelumnya ia menjadi anggota Badan Penampungan Bekas Tawanan SOB, dan menjadi anggota DPRGR/MPRS, yang diangkat Presiden Soekarno sebagai pengganti Konstituante yang dibubarkannya. Namun sebagai pemilik ilmu agama (ulama), akhirnya KH Muslich kembali menekuni dunia pendidikan melalui Yayasan Perguruan Diponegoro yang didirikannya di Purwokerto dan Jakarta, hingga akhir hayatnya 28 Desember 1998.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;KH Muslich yang dilahirkan di desa Tambaknegara Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas, tahun 1910. Ayahnya bernama Hasan Basari dan ibunya bernama Sri Inten. Lingkungan pedesaan yang 'santri' mendorongnya untuk giat belajar Islam. Selesai Sekolah Rakyat, Muslich melanjutkan belajar ke Madrasah Mambaul Ulum Solo hingga kelas sembilan. Siang harinya belajar di pesantren Sunniyah Keprabon Tengah dan malam harinya belajar mengaji Alquran di Pesantren KH Cholil Kauman. Dia juga belajar kitab fikih di pesantren Keprabon dan Jamsaren.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selama berada di Solo, Muslich banyak mengikuti kursus-kursus agama Islam dan pengetahuan umum dari berbagai kalangan. Secara temporer dia juga belajar mengaji dan mondok di pesantren Bogangin Sampyuh, Leler Kebasen, Tebuireng-Jombang, Tremas Pacitan, dan Krapyak Yogyakarta. Pengetahuan umum ia tempuh secara otodidak dengan banyak membaca dan diskusi dengan para tokoh yang ditemui.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada zaman pergerakan kemerdekaan, Muslich menjadi anggota kepanduan SIAP (Syariat Islam Afdeling Pandu). Waktu itu usianya baru 16 tahun. Setelah itu menjadi anggota Pemuda Muslimin Indonesia dan menjadi anggota Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII). Setelah HOS Tjokroaminoto meninggal dunia, ia bersama AM Sangaji, Mr Muhammad Roem, dan H Agus Salim dipecat dari PSII oleh Abikusno Tjokrosujoso.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka kemudian mendirikan Gerakan Penyadar PSII. H Agus Salin menjadi pimpinannya. Muslich kemudian juga bergabung ke dalam pengurus cabang NU Cilacap, kemudian dipromosikan sebagai pengurus NU wilayah Jawa Tengah, dan akhirnya dipromosikan lagi menjadi pengurus besar NU di Jakarta.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Menata Departemen Agama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Karirnya dalam birokrasi dimulai Muslich tahun 1946, saat ia diangkat sebagai penghulu Kabupaten Cilacap, merangkap sebagai anggota tentara dengan pangkat kapten. Atas restu Komandannya Letkol Gatot Subroto, setahun kemudian Muslich diangkat sebagai Kepala Jawatan Agama Karesidenan Madiun Jawa Timur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tahun 1951, Muslich mulai hijrah ke Jakarta dan turut menyusun Jawatan Urusan Agama Pusat dan kemudian dia diangkat menjadi kepala Kantor Agama Sumatera Tengah, berkedudukan di Bukittingi. Tidak lama kemudian diangkat menjadi kepala Jawatan Agama Sumatera Utara di Medan hingga tiga tahun kemudian diangkat sebagai kepala jawatan agama Jawa Tengah di Semarang. Sesuai hasil pemilu 1955 KH Muslich terpilih sebagai anggota DPR namun masih merangkap sebagai pegawai tinggi di Kementerian Agama Jakarta.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pensiun sebagai anggota DPR kembali ke Departemen Agama dan mendapat tugas untuk menata kembali kantor Departemen Agama Sumatera Tengah akibat meletusnya PRRI (1958). Saat Komando Mandala pada masa Trikora (1961-1963), Kiai Muslich mendapat tugas menyusun Kantor Departemen Agama Provinsi Irian Barat yang sudah resmi menjadi wilayah Republik Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pejuang yang tangguh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pejuang pergerakan, Muslich mengawali karier militernya dengan masuk lasykar Hizbullah di Purwokerto tahun 1944. Kemudian ia diangkat menjadi komandan pasukan lasykar Islam untuk Divisi Hizbullah Banyumas dengan anggota tidak kurang dari seribu orang. Setelah kemerdekaan ia juga ikut mebentuk Barisan Keamanan Rakyat (BKR) daerah Banyumas dan Cilacap.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada tahun 1947, Kapten Muslich diperbantukan di Markas Besar Pertempuran (MBP), Jawa Timur yang dipimpin oleh Mayjen Dr Moestopo. sebagai perwira penghubung untuk daerah Madiun dan Blitar, saat itu Muslich sudah menyandang pangkat mayor. Ketika MBP Jawa Timur dilikuidasi dan dilebur ke dalam Divisi Brawidjaja dibawah pimpinan Kolonel Sungkono, dia ditempatkan di Kediri. Tugas Muslich menjadi penghubung tentara dengan alim ulama dan umat Islam Jawa Timur. Atas jasa-jasanya pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Kolonel dan kemudian ditempatkan di Divisi Diponegoro di Semarang. Pada tahun 1951 Jenderal Soedirman wafat, dan Letnan Kolonel Muslich mengajukan permohonan berhenti dari dinas ketentaraan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada suatu kesempatan, Kiai Muslich pernah menyatakan bahwa ia berkawan sangat baik dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman.Karena itu ia termasuk salah seorang penggagas dibangunnya monumen Jenderal Sudirman di Banyumas beberapa tahun silam. Monumen tersebut dimaksudkan s ebagai tanda untuk mengenang jasa tokoh tersebut dalam perjuangan kemerdekaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hidup bersahaja&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kiai Muslich menghidupi keluarganya dari bisnis-bisnisnya, bukan dari gajinya sebagai birokrat. Ia berdagang mulai dari hasil bumi hingga jual beli tanah. Kendati secara ekonomi dia mapan, tapi Kiai Muslich memilih untuk tinggal di rumah kecil sederhana di dalam komplek Yayasan Diponegoro, Rawamangun, Jakarta Timur, hingga akhir hayatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Amal jariahnya yang amat berguna adalah tiga tempat pendidikan yang dibangunnya di Purwokerto dan Jakarta. Perguruan Diponengoro yang ditinggalkannya, kini pengelolaannya diserahkan pada putera puterinya. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Pemerintah Indonesia pada masa Presiden KH Abdurrahman Wahid menganugerahkan Bintang Mahaputera Utama kepada KH Muslich. Dengan mendapatkan bintang itu, KH Muslich sesungguhnya dapat dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Namun hal itu tidak dilakukan. Jasad almarhum tetap dimakamkan di pemakaman umum Purwokerto, atas permintaan atau wasiat almarhum. disarikan dari NU online&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-5135832104941733265?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/5135832104941733265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=5135832104941733265' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5135832104941733265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5135832104941733265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/10/kh-muslich-ulama-legislator-pertama.html' title='KH Muslich, Ulama Legislator Pertama'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-5625268924727224601</id><published>2008-10-29T05:56:00.000+07:00</published><updated>2008-10-29T05:57:27.929+07:00</updated><title type='text'>Tantawi Jauhari, Motivator Umat Dalam Penguasaan Ilmu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;         &lt;!-- reporter start--&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="reporter"&gt;         &lt;div class="byreporter"&gt;      By Republika Contributor&lt;br /&gt;     Rabu, 15 Oktober 2008 pukul 12:51:00     &lt;!-- &lt;div class="iklan"&gt;       &lt;img src="images/ads468x60.jpg" alt="Iklan 468x60" /&gt;      &lt;/div&gt; --&gt;     &lt;/div&gt;          &lt;div class="box_share"&gt;       &lt;!--      &lt;table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;                    &lt;tr&gt;        &lt;td&gt;         &lt;div align="center"&gt;                  &lt;/div&gt;        &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top"&gt;&lt;a href="#"&gt;SHARE&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;              &lt;tr&gt;        &lt;td&gt;         &lt;div align="center"&gt;                  &lt;/div&gt;        &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top"&gt;&lt;a href="#"&gt;RSS&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;             &lt;/table&gt;  --&gt;                                    &lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;!-- reporter end--&gt;      &lt;!-- contents lainnya start--&gt;                     &lt;!-- lainnya dalem start--&gt;           &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="image_detail"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" id="detail_news_text" class=""&gt;     &lt;div class="content"&gt; &lt;p&gt;Dikenal sebagai seorang cendekiawan Muslim asal Mesir, dia kesohor terutama karena kegigihannya dalam gerakan pembaruan untuk menumbuhkan motivasi umat Islam terhadap penguasaan ilmu pengetahuan. Tantawi Jauhari mendapat julukan 'musafir ilmu' lantaran keluasan ilmu yang dimiliki.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berasal dari keluarga petani sederhana di wilayah al-Ghar, Tantawi yang lahir tahun 1870 mengawali pendidikannya di kota kelahirannya tersebut. Kepada anak-anaknya, orangtua Tantawi menginginkan mereka dapat tumbuh menjadi orang terpelajar. Oleh karenanya setelah menyelesaikan pendidikan menengah atasnya, dia dikirim untuk melanjutkan belajar ke universitas al-Azhar di ibukota Kairo.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika menimba ilmu di universitas terkemuka tersebut, dia berkesempatan bertemu dengan tokoh pembaharu, Muhammad Abduh. Tokoh ini kemudian memang mampu memberikan pengaruh besar bagi pemikiran dan keilmuan Tantawi, khususnya pada bidang ilmu tafsir. Setelah itu dia melanjutkan belajarnya ke Darul Ulum dan mampu menyelesaikan pendidikan di sana tahun 1893. Akan tetapi Tantawi merasa kurang puas dengan program belajar yang diberikan, utamanya ilmu tafsir, yang antara lain dikarenakan bimbingan dari Muhammad Abduh sebelumnya hingga membuat dia memiliki cakrawala pemikiran yang luas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meski begitu Tantawi tetap bertekad menyelesaikan studinya tersebut. Setelah beberapa tahun kemudian, dia pun berhasil tamat pendidikan di Darul Ulum untuk selanjutnya berkiprah sebagai tenaga pengajar. Dia tercatat pernah menjadi guru di madrasah ibtidaiyah dan tsanawiyah dan kemudian sebagai dosen pada almamaternya, yakni Universitas Darul Ulum. Dan lantas tahun 1912 diangkat menjadi dosen di Al-Jamiah Al-Misyriyah pada mata kuliah falsafah Islam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di samping mengajar, layaknya seorang cendekiawan dia pun terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Hal itu dilakukan dengan membaca buku-buku serta dari artikel di majalah dan surat kabar. Selain itu pula berbagai seminar maupun pertemuan ilmu pengetahuan tidak ketinggalan dihadiri. Bidang ilmu yang menjadi fokus perhatiannya adalah ilmu tafsir. Namun dia pun mengikuti pula ilmu fisika, ilmu yang menurut pandangannya dapat menangkal kesalahpahaman yang kerap menuding Islam sebagai agama yang menentang ilmu dan teknologi modern.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bertahun-tahun lamanya segala perhatian dicurahkan untuk meningkatkan kepedulian umat terhadap pentingnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguasaan ilmu pengetahuan. Gagasan serta pemikirannya lambat laun mulai diperhitungkan dan menjadikannya masuk dalam jajaran pemikir Islam terkemuka. Setidaknya ada tiga hal yang patut dicatat dari Tantawi Jauhari. Pertama, obsesinya untuk memajukan daya pikir umat; kedua, pentingnya ilmu bahasa dalam menguasai idiom-idiom modern, dan ketiga; pengkajiannya terhadap Alquran sebagai satu-satunya kitab suci yang memotivasi pengembangan ilmu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan begitu dapat dipahami mengapa Tantawi semasa hidupnya begitu menentang bidah dan taklid. Sebab menurutnya, kedua hal tersebut akan dapat menyeret umat ke jurang kebodohan dan keterbelakangan. Sebaliknya tokoh ini begitu bersemangat untuk memajukan daya pikir umat, menjauhkan dari kebekuan berpikir sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya menguasai ilmu pengetahuan modern. Sehingga untuk memajukan ilmu pengetahuan di kalangan umat, maka didesaklah pemerintah agar lebih banyak membangun sekolah-sekolah, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam banyak kesempatan, hal yang kerap dikemukakan terkait harapannya tadi adalah perlunya penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Karena dia berpendapat, secara garis besar, ilmu pengetahuan terbagi dua yakni ilmu bahasa dan selain bahasa. Tantawi menyatakan bahwa ilmu bahasa memegang peranan signifikan dalam sebuah studi, sebab ia merupakan alat untuk menguasai beragam bidang ilmu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada bagian lain, Tantawi pun membina studi Alquran, yakni guna membuktikan bahwa kitab suci umat Islam itu adalah satu-satunya kitab suci yang memotivasi pengembangan ilmu. Karena dalam pandangannya, Alquran senantiasa menganjurkan kepada umat Muslim untuk menuntut ilmu dalam arti seluas-luasnya. Pernyataan tersebut dikemukakan sambil menunjukkan bukti-bukti bahwasanya dalam Alquran terdapat banyak ayat yang memotivasi umat agar menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, tidak kurang dari 750 ayat yang menegaskan pentingnya penguasaan ilmu untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akherat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari penelitian itu Tantawi kemudian menulis kitabnya yang kondang, yaitu Al-Jawahir fi Tafsir Alquran (Permata-permata Dalam Tafsir Alquran). Kitab tafsir ini terdiri dari 25 juz dan ditulis saat dia sudah berusia 60 tahun. Dalam pendahuluannya jelas disebutkan alasannya menulis kitab tadi yakni agar umat menyadari betapa pentingnya penguasaan ilmu bagi umat Islam seperti fisika, matematika, pertanian, ilmu falak, ilmu kedokteran, dan lain-lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tantawi juga dikenal sebagai penulis yang produktif. Tidak kurang dari 30 buku hasil buah pemikirannya sudah dihasilkan dan mewarnai khazanah ilmu pengetahuan dunia. Di antara beberapa karya yang fenomenal adalah Alquran wa Ulum al-Asyriyyat (Alquran dan Ilmu-ilmu Modern), Mizan al-Jawahir fi Aja'ibi al Kawn al-Bahir (Timbangan Mutiara Keajaiban Alam Raya), Jamal al-Alam (Keindahan Alam), dan masih banyak lagi. yus/ensiklopedi islam&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-5625268924727224601?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/5625268924727224601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=5625268924727224601' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5625268924727224601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5625268924727224601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/10/tantawi-jauhari-motivator-umat-dalam.html' title='Tantawi Jauhari, Motivator Umat Dalam Penguasaan Ilmu'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-6275863382450164661</id><published>2008-10-29T05:55:00.001+07:00</published><updated>2008-10-29T05:55:57.973+07:00</updated><title type='text'>Muhammad Husayn Thabathaba'i, Syekh Bidang Ilmu Syariat dan Tafsir</title><content type='html'>&lt;!-- reporter start--&gt;    &lt;div class="reporter"&gt;         &lt;div class="byreporter"&gt;      By Republika Contributor&lt;br /&gt;     Rabu, 15 Oktober 2008 pukul 12:56:00     &lt;!-- &lt;div class="iklan"&gt;       &lt;img src="images/ads468x60.jpg" alt="Iklan 468x60" /&gt;      &lt;/div&gt; --&gt;     &lt;/div&gt;          &lt;div class="box_share"&gt;       &lt;!--      &lt;table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;                    &lt;tr&gt;        &lt;td&gt;         &lt;div align="center"&gt;                  &lt;/div&gt;        &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top"&gt;&lt;a href="#"&gt;SHARE&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;              &lt;tr&gt;        &lt;td&gt;         &lt;div align="center"&gt;                  &lt;/div&gt;        &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top"&gt;&lt;a href="#"&gt;RSS&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;             &lt;/table&gt;  --&gt;                                    &lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;    &lt;!-- reporter end--&gt;      &lt;!-- contents lainnya start--&gt;                     &lt;!-- lainnya dalem start--&gt;           &lt;div class="image_detail"&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;div id="detail_news_text" class=""&gt;     &lt;div class="content"&gt; &lt;p&gt;Sayyid Muhammad Husain Thabathaba'i adalah seorang ulama, pemikir, faqih, filosof, dan ahli matematika. Dia banyak menelurkan karya-karya penting di bidang keislaman, antara lain Dasar-dasar Filsafat dan Metode Realisme serta karya monumentalnya yakni Al-Mizan, yang sering disebut tafsir Alquran dengan Alquran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di dalam dirinya telah terdapat sifat rendah hati dan ditambah pula dengan kemampuan analisis intelektualnya. Dalam kelompok ulama tradisional Thabathaba'i memiliki kelebihan sebagai seorang syaikh dalam bidang syariat dan ilmu-ilmu esoteris, sekaligus seorang hakim (filosof atau, tepatnya, teosof Islam tradisional) yang terkemuka. Sejarah mencatat Thabathaba'i telah membaktikan segenap hidupnya untuk mengkaji agama. Sebuah dedikasi tinggi terhadap perkembangan ilmu-ilmu Islam dan ilmu pengetahuan pada umumnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sayyid Muhammad Husain Thabathaba'i dilahirkan di Tabriz pada tahun 1321 H /1903 M, dari suatu keluarga keturunan Nabi Muhammad SAW yang selama 14 generasi telah menghasilkan ulama-ulama Islam terkemuka. Pendidikan awalnya dia peroleh di kota kediamannya dan dalam usia muda telah berhasil menguasai unsur-unsur bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika usianya menginjak 20 tahun, Thabathaba'i berangkat ke Universitas Najaf untuk melanjutkan pelajarannya. Disana dia mempelajari ilmu syariat dan ushul al-fiqh dari dua di antara syekh-syekh terkemuka pada masa itu yaitu Mirza Muhammad Husain Na'ini dan Muhammad Husain Isfahani.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akan tetapi, bukanlah menjadi mujtahid tujuannya. Thabathaba'i lebih tertarik pada ilmu-ilmu aqliah, dan mempelajari dengan tekun seluruh dasar matematika tradisional dari Sayyid Abul Qasim Khwansari. Di samping itu dia pun mempelajari sejumlah ilmu lain yakni filsafat Islam tradisional, termasuk naskah baku Asy-Syifa karya Ibnu Sina dan Al-Asfar karya Sadr al-Din Syirazi, serta Tamhid al-Qawa'id karya Ibnu Turkah dari Sayyid Husain Badkuba'i.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Thabathaba'i juga mempelajari ilm Hudhuri (ilmu-ilmu yang dipelajari langsung dari Alquran), atau makrifat, yang melaluinya pengetahuan menjelma menjadi penampakan hakekat-hakekat supranatural. Gurunya, Mirza Ali Qadhi, yang mulai membimbingnya ke arah rahasia-rahasia Ilahi dan menuntunnya dalam perjalananan menuju kesempurnaan spritual.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebelum berjumpa dengan syekh ini, Thabathaba'i mengira telah benar-benar mengerti buku Fushulli al-Hikam karya Ibn Arabi. Namun ketika bertemu dengan syekh besar ini, dia baru menyadari bahwa sebenarnya ia belum mengetahui apa-apa. Berkat sang syekh ini, tahun-tahun di Najaf tak hanya menjadi kurun pencapaian intelektual, melainkan juga kezuhudan dan praktek-praktek spritual yang memampukannya untuk mencapai keadaan realisasi spritual.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada 1934 Allamah Thabathaba'i kembali ke Tabriz dan menghabiskan beberapa tahun yang sunyi di kota itu, mengajar sejumlah kecil murid. Kejadian-kejadian pada Perang Dunia II dan pendudukan Rusia atas Persia-lah yang membawa Thabathaba'i dari Tabriz ke Qum (1945). Pada waktu itu, dan seterusnya sampai sekarang, Qum merupakan pusat pengkajian keagamaan di Persia. Ia mengajar tafsir Alquran serta filsafat dan teosofi tradisional, yang selama bertahun-tahun sebelumnya tidak diajarkan di Qum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh karenanya Thabathaba'i telah memberikan pengaruh yang amat besar dalam bidang ilmu pengetahuan, baik di dalam basis tradisional maupun modern. Dia telah mencoba untuk menciptakan suatu elite intelektual baru di kalangan kelompok masyarakat berpendidikan modern yang ingin menjadi akrab dengan intelektualitas Islam di samping dengan dunia modern.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Banyak murid tradisionalnya yang termasuk kelompok ulama telah mencoba untuk mengikuti teladannya dalam upayanya yang amat penting ini. Beberapa muridnya seperti Sayyid Jalal al-Din Asytiyani dari Universitas Masyhad dan Murtadha Muthahhari dari universitas Teheran juga dikenal sebagai sarjana yang mempunyai reputasi istimewa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain di kota Qum, ulama ini kerap mengunjugi Darakah, sebuah desa kecil di sisi pegunungan dekat Teheran. Di tempat inilah Thabathaba'i menghabiskan bulan-bulan musim panas, menyingkir dari panas Kota Qum, kediamannya. Di desa tersebut pula, pada satu hari, Profesor Kenneth Morgan, seorang orientalis terkemuka berkunjung untuk memintanya menulis mengenai pandangan-pandangan Islam Syiah untuk masyarakat intelektual Barat. Dengan kemampuannya yang mumpuni dan penguasaan pada ilmu-ilmu Islam tradisional serta pengenalan terhadap pemikiran Barat menjadikan Thabathaba'i memang orang yang tepat untuk menulis hal tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kecintaannya pada ilmu telah mengejawantah dalam pribadinya. Dia menjadi lambang dari suatu tradisi panjang kesarjanaan dan ilmu-ilmu tradisional Islam. Kehadirannya meniupkan suatu aroma dari pribadi yang telah mendapatkan buah pengetahuan Ketuhanan. ( yus/berbagai sumber )&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-6275863382450164661?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/6275863382450164661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=6275863382450164661' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/6275863382450164661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/6275863382450164661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/10/muhammad-husayn-thabathabai-syekh.html' title='Muhammad Husayn Thabathaba&apos;i, Syekh Bidang Ilmu Syariat dan Tafsir'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-3481925398978893095</id><published>2008-10-29T05:50:00.000+07:00</published><updated>2008-10-29T05:51:59.881+07:00</updated><title type='text'>Zainab Al-Ghazali, Gigih Melawan Sekularisme</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;         &lt;!-- reporter start--&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="reporter"&gt;         &lt;div class="byreporter"&gt;      By Republika Contributor&lt;br /&gt;     Rabu, 15 Oktober 2008 pukul 13:22:00     &lt;!-- &lt;div class="iklan"&gt;       &lt;img src="images/ads468x60.jpg" alt="Iklan 468x60" /&gt;      &lt;/div&gt; --&gt;     &lt;/div&gt;          &lt;div class="box_share"&gt;       &lt;!--      &lt;table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;                    &lt;tr&gt;        &lt;td&gt;         &lt;div align="center"&gt;                  &lt;/div&gt;        &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top"&gt;&lt;a href="#"&gt;SHARE&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;              &lt;tr&gt;        &lt;td&gt;         &lt;div align="center"&gt;                  &lt;/div&gt;        &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top"&gt;&lt;a href="#"&gt;RSS&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;             &lt;/table&gt;  --&gt;                                    &lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;!-- reporter end--&gt;      &lt;!-- contents lainnya start--&gt;                     &lt;!-- lainnya dalem start--&gt;           &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="image_detail"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" id="detail_news_text" class=""&gt;     &lt;div class="content"&gt; &lt;p&gt;Umat Islam berduka. Pada hari Rabu (3/8), dai dan aktivis terkemuka Zainab Al-Ghazali, wafat dalam usia 88 tahun. Dia meninggalkan kenangan tak terlupakan sepanjang aktivitasnya menjalankan dakwah Islam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Zainab al-Ghazali adalah wanita luar biasa. Seperti Aisha Abd al-Rahman, tokoh asal Mesir ini begitu gigih memperjuangkan persamaan hak kaum perempuan berdasarkan keyakinannya, sesuai doktrin ajaran Islam yang benar. Oleh karenanya, sejarah mencatat Zainab lebih dikenal sebagai aktivis Islam ketimbang cendekiawan Islam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dia terlahir di wilayah Al-Bihira, Mesir pada 1917, dan merupakan keturunan dari kalifah kedua Islam, Umar bin Khattab dan Hasan bin Ali bin Abi Thalib.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika masih berusia sangat muda, 10 tahun, Zainab Al-Ghazali telah memperlihatkan kepandaian dan kelancarannya dalam berbicara di depan umum. Dan sepanjang hidupnya, dia lantas membentuk dirinya sebagai orang yang berhasil belajar secara otodidak. Ambisinya yang kuat dan tekadnya yang membara, membuatnya maju untuk mencapai jenjang pendidikan tinggi, pada saat kaum wanita pada saat itu jarang yang mengenyam pendidikan karena dianggap tabu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat menginjak usia remaja, Zainab aktif di organisasi Persatuan Kelompok Feminis Mesir yang dibentuk oleh Huda Al-Sharawi tahun 1923. Namun tak lama dia mengundurkan diri dari organisasi itu karena bersebarangan pendapat mengenai perjuangan menuntut kesetaraan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dia tidak setuju dengan ide-ide sekular tentang gerakan pembebasan perempuan. Meski demikian, Al-Ghazali tetap menghormati Sharawi dan menyebutnya sebagai seorang wanita yang memiliki komitmen dan keimanan yang baik. Saat usianya 18 tahun (1936), dia mendirikan Asosiasi Wanita Muslim untuk mengorganisasi kegiatan-kegiatan kaum perempuan yang sesuai norma-norma Islam dan ditujukan untuk kepentingan-kepentingan Islam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Zainab Al-Ghazali selalu berusaha mengedepankan masalah keseimbangan antara hal-hal yang bersifat religius dan modern. Ia mendapat pendidikan agama pertama kali dari cendikiawan muslim terkemuka di Al-Azhar, Syeikh Ali Mahfuz dan Mhammad al-Naggar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tidak lama setelah ia mendirikan Asosiasi Wanita Muslim, Al-Ghazali langsung melakukan sejumlah aksi dan mendapatkan dukungan dari Menteri Wakaf untuk mendirikan 15 mesjid dan belasan mesjid lainnya yang dibiayai oleh masyarakat umum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Asosiasi yang didirikannya melahirkan generasi dai-dai wanita yang mempertahankan status perempuan dalam Islam serta meyakini bahwa agama mereka memberikan peluang sebesar-besarnya bagi kaum perempuan untuk memainkan peranan penting di tengah masyarakat, memiliki pekerjaan, masuk ke dunia politik dan bebas mengeluarkan pendapatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam sebuah wawancara tahun 1981, dia mengemukakan bahwa Islam telah memberikan segalanya bagi kaum pria dan wanita. Islam memberikan kebebasan, hak ekonomi, hak politik, hak sosial, maupun hak pribadi kepada kaum Muslimah. Islam memberikan kaum wanita hak-hak tertentu di dalam keluarga yang tidak dimiliki oleh komunitas lain. Para Muslimah harus mempelajari Islam sehingga mereka mengetahui bahwa Islam telah memberikan segalanya kepadanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Zainab juga meyakini bahwa Islam tidak pernah melarang kaum wanita untuk beraktivitas di masyarakat, bekerja mencari nafkah, masuk ke dunia politik dan mengungkapkan gagasan-gagasannya. Dia percaya Islam mengizinkan mereka untuk memiliki harta benda, berusaha pada bidang perekonomian atau apapun kegiatan demi menunjang perkembangan masyarakat Muslim. Meski begitu, dia berpendapat bahwa tugas utama seorang wanita adalah menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya dan menjadi istri setiap bagi suaminya. Jangan ada apapun yang menghalangi kaum wanita untuk tidak menjalankan tugas yang satu ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al-Ghazali banyak dipengaruhi oleh pendiri Ihkwanul Muslimin, Syekh Hasan al-Banna. Ia memegang teguh pandangannya bahwa tidak ada konflik antara agama dan politik. Al-Ghazali adalah orang yang lantang mempertahankan syariah dan kerap menghadapi masalah dengan rezim Mesir pada saat itu, Presiden Gamal Abdul Naser. Dia mengalami hidup yang penuh siksaan dalam tahanan rezim itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penjara dan siksaan, tidak pernah mematahkan tekadnya bahkan membuatnya lebih kuat. Zainab Al-Ghazali meninggalkan warisan berupa perjuangan membela Islam dan reputasinya sebagai aktivis perempuan yang tanpa ragu melawan sekularisme dan liberalisme dan menggantikannya dengan nilai-nilai Islam. ( yus/berbagai sumber )&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-3481925398978893095?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/3481925398978893095/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=3481925398978893095' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/3481925398978893095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/3481925398978893095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/10/zainab-al-ghazali-gigih-melawan.html' title='Zainab Al-Ghazali, Gigih Melawan Sekularisme'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-8158148921540955059</id><published>2008-10-28T21:38:00.000+07:00</published><updated>2008-10-28T21:39:32.691+07:00</updated><title type='text'>Syekh Taqiyyuddin an Nabhani, Pendiri Hizbut Tahrir</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;         &lt;!-- reporter start--&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="reporter"&gt;         &lt;div class="byreporter"&gt;      By Republika Contributor&lt;br /&gt;     Rabu, 15 Oktober 2008 pukul 13:24:00     &lt;!-- &lt;div class="iklan"&gt;       &lt;img src="images/ads468x60.jpg" alt="Iklan 468x60" /&gt;      &lt;/div&gt; --&gt;     &lt;/div&gt;          &lt;div class="box_share"&gt;       &lt;!--      &lt;table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;                    &lt;tr&gt;        &lt;td&gt;         &lt;div align="center"&gt;                  &lt;/div&gt;        &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top"&gt;&lt;a href="#"&gt;SHARE&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;              &lt;tr&gt;        &lt;td&gt;         &lt;div align="center"&gt;                  &lt;/div&gt;        &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top"&gt;&lt;a href="#"&gt;RSS&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;             &lt;/table&gt;  --&gt;                                    &lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;!-- reporter end--&gt;      &lt;!-- contents lainnya start--&gt;                     &lt;!-- lainnya dalem start--&gt;           &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="image_detail"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" id="detail_news_text" class=""&gt;     &lt;div class="content"&gt; &lt;p&gt;Tokoh yang bernama lengkap Syekh Muhammad Taqiyyuddin bin Ibrahim bin Musthafa bin Ismail bin Yusuf An Nabhani ini, dilahirkan di daerah Ijzim tahun 1909. Ayahnya adalah seorang pengajar ilmu-ilmu syariah di Kementerian Pendidikan Palestina. Ibunya juga menguasai beberapa cabang ilmu syariah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam suasana keagamaan yang kental seperti itu, tentu berpengaruh besar dalam pembentukan kepribadian dan pandangan hidupnya. Terbukti, Syekh Taqiyyuddin telah hafal Alquran dalam usia amat muda, yaitu 13 tahun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pengaruh dari sang kakek, Syekh Yusuf An Nabhani, seorang hakim terkemuka, juga tak kalah besar. Syekh Taqiyyuddin makin mengerti masalah politik, di mana kakeknya pernah punya hubungan erat dengan para penguasa Daulah Utsmaniyah saat itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dia pun banyak belajar dari majelis-majelis dan diskusi-diskusi fikih yang diselenggarakan oleh sang kakek. Kecerdasan dan kecerdikan Syekh Taqiyyuddin yang nampak saat mengikuti majelis-majelis ilmu tersebut telah menarik perhatian kakeknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh karenanya, kakeknya itu memandang perlu mengirim Syekh Taqiyyuddin ke Al Azhar untuk melanjutkan pendidikan ilmu syariah. Hingga kemudian sebelum menamatkan sekolah menengahnya di Akka, dia berangkat ke Kairo meneruskan pendidikan di Al Azhar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syekh Taqiyyuddin masuk kelas Tsanawiyah Al Azhar pada tahun 1928 dan tak lama meraih ijazah dengan predikat sangat memuaskan. Lalu dia melanjutkan studi di Kulliyah Darul Ulum yang saat itu merupakan cabang Al Azhar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kuliahnya di Darul Ulum tuntas tahun 1932. Pada tahun yang sama dia menamatkan kuliahnya di Al Azhar Asy Syarif, di mana para mahasiswanya dapat memilih beberapa syaikh Al Azhar dan menghadiri halaqah-halaqah mereka mengenai bahasa Arab, dan ilmu-ilmu syari'ah seperti fiqih, ushul fiqih, hadits, tafsir, tauhid (ilmu kalam), dan sejenisnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah menyelesaikan pendidikannya, Syekh Taqiyyuddin An Nabhani kembali ke Palestina dan bekerja di Kementerian Pendidikan Palestina sebagai guru di sebuah sekolah menengah atas di Haifa. Di samping itu juga mengajar di Madrasah Islamiyah di Haifa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di sinilah lambat laun dia menyaksikan kuatnya pengaruh imperialis Barat dalam bidang pendidikan, yang ternyata lebih besar daripada bidang peradilan, terutama peradilan syariah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh sebab itu dia memutuskan untuk menjauhi bidang pengajaran dan mulai mencari pekerjaan lain yang pengaruh peradaban Barat-nya relatif lebih sedikit. Dia lantas mendapat pekerjaan di Mahkamah Syariah yang dipandangnya merupakan lembaga yang menerapkan hukum-hukum syara'.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ternyata banyak kawannya yang pernah sama-sama belajar di Al Azhar bekerja di sana. Dengan bantuan mereka, Syekh Taqiyyuddin diangkat sebagai sekretaris di Mahkamah Syariah Beisan, lalu dipindah ke Thabriya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada 1940, dia diangkat sebagai musyawir (asisten kadi) hingga 1945, yakni saat dia dipindah ke Ramallah menjadi qadly di Mahkamah Ramallah sampai tahun 1948. Namun setelah itu, dia keluar dari Ramallah menuju Syam sebagai akibat jatuhnya Palestina ke tangan Yahudi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada tahun 1948 itu pula, sahabatnya Al Ustadz Anwar Al Khatib mengirim surat yang isinya memintanya kembali ke Palestina untuk diangkat sebagai kadi di Mahkamah Syariah Al Quds. Syekh Taqiyyuddin mengabulkan permintaan itu dan kemudian diangkatlah dia sebagai kadi di Mahkamah Syariah Al Quds tahun 1948.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian, oleh Kepala Mahkamah Syariah dan Kepala Mahkamah Isti'naf saat itu, Al Ustadz Abdul Hamid As Sa'ih, ia diangkat sebagai anggota Mahkamah Isti'naf, sampai tahun 1950.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada tahun 1951, Syekh Taqiyyuddin mendatangi kota Amman untuk menyampaikan ceramah-ceramahnya kepada para pelajar Madrasah Tsanawiyah di Kulliyah Ilmiyah Islamiyah. Hal ini terus berlangsung sampai awal tahun 1953, ketika dia mulai sibuk dalam Hizbut Tahrir, yang telah dirintisnya antara tahun 1949 hingga 1953.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sejak remaja dia memang sudah memulai aktivitas politiknya karena pengaruh kakeknya, yang pernah terlibat diskusi-diskusi dengan orang-orang yang terpengaruh peradaban Barat, seperti Muhammad Abduh, para pengikut ide pembaharuan, tokoh-tokoh Freemasonry, dan pihak-pihak lain yang merongrong dan membangkang terhadap Daulah Utsmaniyah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di samping itu, dia juga melakukan berbagai perdebatan dengan para ulama Al Azhar mengenai apa yang harus dilakukan dengan serius untuk membangkitkan umat Islam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika Syekh An Nabhani menjalankan tugasnya di Kementerian Pendidikan Palestina, dia sudah memberikan kesadaran kepada para muridnya dan orang-orang yang ditemui, mengenai situasi yang ada saat itu. Dia membangkitkan perasaan geram dan benci terhadap penjajah Barat dalam jiwa mereka, di samping memperbaharui semangat mereka untuk berpegang teguh terhadap Islam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika pindah pekerjaan ke bidang peradilan, dia pun mengadakan kontak dengan para ulama yang dia kenal dan ditemui di Mesir. Kepada mereka Syaikh an Nabhani mengajukan ide untuk membentuk sebuah partai politik yang berasaskan Islam untuk membangkitkan kaum muslimin dan mengembalikan kemuliaan dan kejayaan mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dia lalu menyodorkan kerangka organisasi partai dan pemikiran-pemikiran yang dapat digunakan sebagai bekal tsaqafah bagi partai tersebut. Pemikiran-pemikiran ini dapat diterima dan disetujui. Maka aktivitasnya pun menjadi semakin padat dengan terbentuknya Hizbut Tahrir.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pembentukan partai ini secara resmi tahun 1953, pada saat Syekh Taqiyyuddin An Nabhani mengajukan permohonan kepada Departemen Dalam Negeri Yordania sesuai Undang-Undang Organisasi yang diterapkan saat itu. Dalam surat itu terdapat permohonan izin agar Hizbut Tahrir dibolehkan melakukan aktivitas politiknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun pemerintah justru melarang kegiatan organisasi ini. Syekh Taqiyyuddin An Nabhani tidak gentar dan tetap melanjutkan misinya menyebarkan risalah Hizb. Dia sangat menaruh harapan untuk membangkitkan umat Islam pada Hizbut Tahrir, gerakan yang telah dia dirikan dan tetapkan falsafahnya dengan karakter tertentu yang digali dari nash-nash syarak dan sirah Nabi SAW.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syekh Taqiyyuddin menjalankan aktivitas secara rahasia dan segera membentuk Dewan Pimpinan (Qiyadah) yang baru bagi Hizb, di mana dia sendiri yang menjadi pimpinannya. Dewan Pimpinan ini dikenal dengan sebutan Lajnah Qiyadah. Dia terus memegang kepemimpinan Dewan Pimpinan Hizb ini sampai wafatnya beliau pada tanggal 25 Rajab 1398 H, bertepatan dengan tanggal 20 Juni 1977 M.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Upaya ini telah menjadikan Hizbut Tahrir sebagai partai dengan kekuatan Islam yang luar biasa, sehingga Hizb sangatlah diperhitungkan dan disegani oleh seluruh pemikir dan politikus, baik yang bertaraf regional maupun internasional, kendatipun Hizb tetap tergolong partai terlarang di seluruh negeri di dunia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di samping itu, Syekh Taqiyyuddin telah meninggalkan kitab-kitab penting yang dapat dianggap sebagai kekayaan pemikiran yang tak ternilai harganya. Beliaulah yang menulis seluruh pemikiran dan pemahaman Hizb, baik yang berkenaan dengan hukum-hukum syara', maupun yang lainnya seperti masalah ideologi, politik, ekonomi, dan sosial.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kebanyakan karyanya berupa kitab-kitab tanzhiriyah (penetapan pemahaman/pandangan) dan tanzhimiyah (penetapan peraturan), atau kitab-kitab yang dimaksudkan untuk mengajak kaum Muslimin untuk melanjutkan kehidupan Islam dengan mendirikan Daulah Islamiyah. Oleh karena itu, kitab-kitab Syaikh Taqiyyuddin terlihat istimewa karena mencakup dan meliputi berbagai aspek kehidupan dan problematika manusia.&lt;br /&gt;( yus/berbagai sumber )&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-8158148921540955059?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/8158148921540955059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=8158148921540955059' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/8158148921540955059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/8158148921540955059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/10/syekh-taqiyyuddin-nabhani-pendiri.html' title='Syekh Taqiyyuddin an Nabhani, Pendiri Hizbut Tahrir'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-2290890999678435327</id><published>2008-10-28T21:36:00.000+07:00</published><updated>2008-10-28T21:37:50.088+07:00</updated><title type='text'>Sultan Muhammad Al-Fatih, Sang Pembuka Istanbul</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;         &lt;!-- reporter start--&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="reporter"&gt;         &lt;div class="byreporter"&gt;      &lt;br /&gt;By Republika Contributor&lt;br /&gt;     Rabu, 15 Oktober 2008 pukul 13:27:00     &lt;!-- &lt;div class="iklan"&gt;       &lt;img src="images/ads468x60.jpg" alt="Iklan 468x60" /&gt;      &lt;/div&gt; --&gt;     &lt;/div&gt;          &lt;div class="box_share"&gt;       &lt;!--      &lt;table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;                    &lt;tr&gt;        &lt;td&gt;         &lt;div align="center"&gt;                  &lt;/div&gt;        &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top"&gt;&lt;a href="#"&gt;SHARE&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;              &lt;tr&gt;        &lt;td&gt;         &lt;div align="center"&gt;                  &lt;/div&gt;        &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top"&gt;&lt;a href="#"&gt;RSS&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;             &lt;/table&gt;  --&gt;                                    &lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;!-- reporter end--&gt;      &lt;!-- contents lainnya start--&gt;                     &lt;!-- lainnya dalem start--&gt;           &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="image_detail"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" id="detail_news_text" class=""&gt;     &lt;div class="content"&gt; &lt;p&gt;Istanbul atau yang dulu dikenal sebagai Konstantinopel, adalah salah satu bandar termasyhur dunia. Bandar ini tercatat dalam tinta emas sejarah Islam khususnya pada masa Kesultanan Usmaniyah, ketika meluaskan wilayah sekaligus melebarkan pengaruh Islam di banyak negara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bandar ini didirikan tahun 330M oleh Maharaja Bizantium yakni Costantine I. Kedudukannya yang strategis, membuatnya punya tempat istimewa ketika umat Islam memulai pertumbuhan di masa Kekaisaran Bizantium. Rasulullah SAW juga telah beberapa kali memberikan kabar gembira tentang penguasaan kota ini ke tangan umat Islam seperti dinyatakan oleh Rasulullah pada perang Khandak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para khalifah dan pemimpin Islam pun selalu berusaha menaklukkan Kostantinopel. Usaha pertama dilancarkan tahun 44 H di zaman Muawiyah bin Abi Sufian RA. Akan tetapi, usaha itu gagal. Upaya yang sama juga dilakukan pada zaman Khilafah Umayah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di zaman pemerintahan Abbasiyyah, beberapa usaha diteruskan tetapi masih menemui kegagalan termasuk di zaman Khalifah Harun al-Rasyid tahun 190H. Setelah kejatuhan Baghdad tahun 656H, usaha menawan Kostantinopel diteruskan oleh kerajaan-kerajaan kecil di Asia Timur (Anatolia) terutama Kerajaan Seljuk. Pemimpinnya, Alp Arslan (455-465 H/1063-1072 M) berhasil mengalahkan Kaisar Roma, Dimonos, tahun 463 H/1070 M. Akibatnya sebagian besar wilayah Kekaisaran Roma takluk di bawah pengaruh Islam Seljuk.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Awal kurun ke-8 hijrah, Daulah Usmaniyah mengadakan kesepakatan bersama Seljuk. Kerjasama ini memberi nafas baru kepada usaha umat Islam untuk menguasai Konstantinopel. Usaha pertama dibuat di zaman Sultan Yildrim Beyazid saat dia mengepung bandar itu tahun 796 H/1393 M. Peluang yang ada telah digunakan oleh Sultan Beyazid untuk memaksa Kaisar Bizantium menyerahkan Konstantinople secara aman kepada umat Islam. Akan tetapi, usahanya menemui kegagalan karena datangnya bantuan dari Eropa dan serbuan bangsa Mongol di bawah pimpinan Timur Leng.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selepas Daulah Usmaniyyah mencapai perkembangan yang lebih maju dan terarah, semangat jihad hidup kembali dengan nafas baru. Hasrat dan kesungguhan itu telah mendorong Sultan Murad II (824-863 H/1421-1451 M) untuk meneruskan usaha menaklukkan Kostantinopel. Beberapa usaha berhasil dibuat untuk mengepung kota itu tetapi dalam masa yang sama terjadi pengkhianatan di pihak umat Islam. Kaisar Bizantium menabur benih fitnah dan mengucar-kacirkan barisan tentara Islam. Usaha Sultan Murad II tidak berhasil sampai pada zaman anak beliau, Sultan Muhammad Al-Fatih, sultan ke-7 Daulah Usmaniyah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semenjak kecil, Sultan Muhammad Al-Fatih telah mencermati usaha ayahnya menaklukkan Kostantinopel. Bahkan beliau mengkaji usaha-usaha yang pernah dibuat sepanjang sejarah Islam ke arah itu, sehingga menimbulkan keinginan yang kuat baginya meneruskan cita-cita umat Islam. Ketika naik tahta pada tahun 855 H/1451 M, dia telah mulai berpikir dan menyusun strategi untuk menawan kota bandar tadi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kekuatan Sultan Muhammad Al-Fatih terletak pada ketinggian pribadinya. Sejak kecil, dia dididik secara intensif oleh para ulama terulung di zamannya. Di zaman ayahnya, yaitu Sultan Murad II, Asy-Syeikh Muhammad bin Ismail Al-Kurani telah menjadi murabbi Amir Muhammad (Al-Fatih). Sultan Murad II telah menghantar beberapa orang ulama untuk mengajar anaknya sebelum itu, tetapi tidak diterima oleh Amir Muhammad. Lalu, dia menghantar Asy-Syeikh Al-Kurani dan memberikan kuasa kepadanya untuk memukul Amir Muhammad jika membantah perintah gurunya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Waktu bertemu Amir Muhammad dan menjelaskan tentang hak yang diberikan oleh Sultan, Amir Muhammad tertawa. Dia lalu dipukul oleh Asy-Syeikh Al-Kurani. Peristiwa ini amat berkesan pada diri Amir Muhammad lantas setelah itu dia terus menghafal Alquran dalam waktu yang singkat. Di samping itu, Asy-Syeikh Ak Samsettin (Syamsuddin) merupakan murabbi Sultan Muhammad Al-Fatih yang hakiki. Dia mengajar Amir Muhammad ilmu-ilmu agama seperti Alquran, hadis, fikih, bahasa (Arab, Parsi dan Turki), matematika, falak, sejarah, ilmu peperangan dan sebagainya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syeikh Semsettin lantas meyakinkan Amir Muhammad bahwa dia adalah orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW di dalam hadis pembukaan Kostantinopel. Ketika naik takhta, Sultan Muhammad segera menemui Syeikh Semsettin untuk menyiapkan bala tentara untuk penaklukan Konstantinopel. Peperangan itu memakan waktu selama 54 hari. Persiapan pun dilakukan. Sultan berhasil menghimpun sebanyak 250 ribu tentara. Para mujahid lantas diberikan latihan intensif dan selalu diingatkan akan pesan Rasulullah SAW terkait pentingnya Konstantinopel bagi kejayaan Islam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah proses persiapan yang teliti, akhirnya pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih tiba di kota Konstantinopel pada hari Kamis 26 Rabiul Awal 857 H atau 6 April 1453 M. Di hadapan tentaranya, Sultan Al-Fatih lebih dahulu berkhutbah mengingatkan tentang kelebihan jihad, kepentingan memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah SWT. Dia juga membacakan ayat-ayat Alquran mengenainya serta hadis Nabi SAW tentang pembukaan kota Konstantinopel. Ini semua memberikan semangat yang tinggi pada bala tentera dan lantas mereka menyambutnya dengan zikir, pujian dan doa kepada Allah SWT.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sultan Muhammad Al-Fatih pun melancarkan serangan besar-besaran ke benteng Bizantium di sana. Takbir "Allahu Akbar, Allahu Akbar!" terus membahana di angkasa Konstantinopel. Pada 27 Mei 1453, Sultan Muhammad Al-Fatih bersama tentaranya berusaha keras membersihkan diri di hadapan Allah SWT. Mereka memperbanyak shalat, doa, dan zikir.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hingga tepat jam 1 pagi hari Selasa 20 Jamadil Awal 857 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Mei 1453, serangan utama dilancarkan. Para mujahidin diperintahkan supaya meninggikan suara takbir kalimah tauhid sambil menyerang kota. Tentera Usmaniyah akhirnya berhasil menembus kota Konstantinopel melalui Pintu Edirne dan mereka mengibarkan bendera Daulah Usmaniyah di puncak kota. Kesungguhan dan semangat juang yang tinggi di kalangan tentara Al-Fatih, akhirnya berjaya mengantarkan cita-cita mereka. ( yus/berbagai sumber )&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-2290890999678435327?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/2290890999678435327/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=2290890999678435327' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/2290890999678435327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/2290890999678435327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/10/sultan-muhammad-al-fatih-sang-pembuka.html' title='Sultan Muhammad Al-Fatih, Sang Pembuka Istanbul'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-5252212620033204430</id><published>2008-10-28T21:35:00.000+07:00</published><updated>2008-10-28T21:36:17.226+07:00</updated><title type='text'>Muhammad Khalil Al Maduri, Guru Ulama dari Madura</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;         &lt;!-- reporter start--&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="reporter"&gt;         &lt;div class="byreporter"&gt;      By Republika Contributor&lt;br /&gt;     Rabu, 15 Oktober 2008 pukul 13:37:00     &lt;!-- &lt;div class="iklan"&gt;       &lt;img src="images/ads468x60.jpg" alt="Iklan 468x60" /&gt;      &lt;/div&gt; --&gt;     &lt;/div&gt;          &lt;div class="box_share"&gt;       &lt;!--      &lt;table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;                    &lt;tr&gt;        &lt;td&gt;         &lt;div align="center"&gt;                  &lt;/div&gt;        &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top"&gt;&lt;a href="#"&gt;SHARE&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;              &lt;tr&gt;        &lt;td&gt;         &lt;div align="center"&gt;                  &lt;/div&gt;        &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top"&gt;&lt;a href="#"&gt;RSS&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;             &lt;/table&gt;  --&gt;                                    &lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;!-- reporter end--&gt;      &lt;!-- contents lainnya start--&gt;                     &lt;!-- lainnya dalem start--&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="lainnya_dalem"&gt;        &lt;div class="image_detail"&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;div id="detail_news_text" class=""&gt;     &lt;div class="content"&gt; &lt;p&gt;Tak pernah malu belajar, kendati gurunya sangat jauh lebih muda darinya. Dari Syekh Ahmad al-Fathani yang seusia anaknya, ia belajar ilmu nahwu dan mengembangkannya di Tanah Air.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nama lengkapnya adalah Kiai Haji Muhammad Khalil bin Kiyai Haji Abdul Lathif bin Kiai Hamim bin Kiai Abdul Karim bin Kiai Muharram bin Kiyai Asrar Karamah bin Kiai Abdullah bin Sayid Sulaiman. Nama terakhir dalam silsilahnya, Sayid Sulaiman, adalah cucu Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, satu dari sembilan Wali Songo.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kiai Muhammad Khalil dilahirkan pada 11 Jamadilakhir 1235 Hijrah atau 27 Januari 1820 di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur. Dia berasal dari keluarga ulama. Pendidikan dasar agama diperolehnya langsung daripada keluarga. Menjelang usia dewasa, ia dikirim ke berbagai pondok pesantren untuk menimba ilmu agama.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekitar 1850-an, ketika usianya menjelang tiga puluh, Kiai Muhammad Khalil belajar kepada Kiai Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Dari Langitan, ia pindah ke Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan, dan Pondok Pesantren Keboncandi. Selama belajar di pondok-pesantren ini, ia belajar pula kepada Kiai Nur Hasan yang menetap di Sidogiri, 7 kilometer dari Keboncandi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat menjadi santri, Muhammad Khalil telah menghafal beberapa matandan yang ia kuasai dengan baik adalah matan Alfiyah Ibnu Malik yang terdiri dari 1.000 bait mengenai ilmu nahwu. Selain itu, ia adalah seorang hafidz (hafal Alquran) dengan tujuh cara menbacanya (kiraah).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada 1276 Hijrah 1859, Kiai Muhammad Khalil melanjutkan pelajarannya ke Makkah. Di sana, ia bersahabat dengan Syekh Nawawi Al-Bantani. Ulama-ulama Melayu di Makkah yang seangkatan dengannya adalah Syekh Nawawi al-Bantani (lahir 1230 Hijrah/1814 Masehi), Syekh Muhammad Zain bin Mustafa al-Fathani (lahir 1233 Hijrah/1817 Masehi), Syekh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani (lahir 1234 Hijrah/1818 Masehi), dan Kiai Umar bin Muhammad Saleh Semarang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ia adalah orang yang tak pernah lelah belajar. Kendati sang guru lebih muda, namun jika secara keilmuan dianggap mumpuni, maka ia akan hormat dan tekun mempelajari ilmu yang diberikan sang guru. Di antara gurunya di Makkah adalah Syekh Ahmad al-Fathani. Usianya hampir seumur anaknya. Namun karena tawaduknya, Kiai Muhammad Khalil menjadi santri ulama asal Patani ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kiai Muhammad Khalil Al-Maduri termasuk generasi pertama mengajar karya Syeikh Ahmad al-Fathani berjudul Tashilu Nailil Amani, yaitu kitab tentang nahwu dalam bahasa Arab, di pondok pesantrennya di Bangkalan. Karya Syekh Ahmad al-Fathani yang tersebut kemudian berpengaruh dalam pengajian ilmu nahwu di Madura dan Jawa sejak itu, bahkan hingga sekarang masih banyak pondok pesantren tradisional di Jawa dan Madura yang mengajarkan kitab itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kiai Muhammad Khalil juga belajar ilmu tarikat kepada beberapa orang ulama tarikat yang terkenal di Mekah pada zaman itu, di antaranya Syekh Ahmad Khatib Sambas. Tarikat Naqsyabandiyah diterimanya dari Sayid Muhammad Shalih az-Zawawi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sewaktu berada di Makkah, ia mencari nafkah dengan menyalin risalah-risalah yang diperlukan para pelajar di sana. Itu pula yang mengilhaminya menyususn kaidah-kaidah penulisan huruf Pegion bersama dua ulama lain, yaitu Syekh Nawawi al-Bantani dan Syekh Saleh as-Samarani. Huruf Pegon ialah tulisan Arab yang digunakan untuk tulisan dalam bahasa Jawa, Madura dan Sunda. Huruf Pegon tidak ubahnya tulisan Melayu/Jawi yang digunakan untuk penulisan bahasa Melayu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sepulang dari Makkah, ia tersohor sebagai ahli nahwu, fikih, dan tarikat di tanah Jawa. Untuk mengembangkan pengetahuan keislaman yang telah diperolehnya, Kiai Muhammad Khalil selanjutnya mendirikan pondok pesantren di Desa Cengkebuan, sekitar 1 kilometer arah barat laut dari desa kelahirannya. Pondok-pesantren tersebut kemudian diserahkan pimpinannya kepada anak saudaranya, sekaligus adalah menantunya, yaitu Kiai Muntaha. Kiyai Muntaha ini berkahwin dengan anak Kiyai Muhammad Khalil bernamIa sendiri mengasuh pondok pesantren lain di Bangkalan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kiai Muhammad Khalil juga pejuang di zamannya. memang, saat pulang ke Tanah Air ia sudah uzur. Yang dilakukannya adalah dengan pengkader para pemuda pejuang di pesantrennya untuk berjuang membela negara. Di antara para muridnya itu adalah KH Hasyim Asy'ari (pendiri Pondok-pesantren Tebuireng, Jombang, dan pengasas Nahdhatul Ulama), KH Abdul Wahhab Hasbullah (pendiri Pondok-pesantren Tambakberas, Jombang); KH Bisri Syansuri (pendiri Pondok Pesantren Denanyar), KH Ma'shum (pendiri Pondok Pesantren Lasem, Rembang), KH Bisri Mustofa (pendiri Pondok-pesantren Rembang), dan KH As'ad Syamsul `Arifin (pengasuh Pondok-pesantren Asembagus, Situbondo).&lt;br /&gt;Kiai Muhammad Khalil al-Maduri wafat dalam usia yang lanjut, 106 tahun, pada 29 Ramadan 1341 Hijrah, bertepatan dengan tanggal 14 Mei 1923 Masehi. ( tri/pelbagai sumber )&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;   &lt;/div&gt;           &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-5252212620033204430?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/5252212620033204430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=5252212620033204430' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5252212620033204430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5252212620033204430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/10/muhammad-khalil-al-maduri-guru-ulama.html' title='Muhammad Khalil Al Maduri, Guru Ulama dari Madura'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-5137603899862468918</id><published>2008-10-28T21:33:00.001+07:00</published><updated>2008-10-29T05:53:47.702+07:00</updated><title type='text'>Syekh Hasanuddin, Pendiri Pesantren Pertama di Jawa Barat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;         &lt;!-- reporter start--&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="reporter"&gt;         &lt;div class="byreporter"&gt;      By Republika Contributor&lt;br /&gt;    Rabu, 15 Oktober 2008 pukul 13:48:00     &lt;!-- &lt;div class="iklan"&gt;       &lt;img src="images/ads468x60.jpg" alt="Iklan 468x60" /&gt;      &lt;/div&gt; --&gt;     &lt;/div&gt;          &lt;div class="box_share"&gt;       &lt;!--      &lt;table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;                    &lt;tr&gt;        &lt;td&gt;         &lt;div align="center"&gt;                  &lt;/div&gt;        &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top"&gt;&lt;a href="#"&gt;SHARE&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;              &lt;tr&gt;        &lt;td&gt;         &lt;div align="center"&gt;                  &lt;/div&gt;        &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top"&gt;&lt;a href="#"&gt;RSS&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;             &lt;/table&gt;  --&gt;                                    &lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;!-- reporter end--&gt;      &lt;!-- contents lainnya start--&gt;                     &lt;!-- lainnya dalem start--&gt;           &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="image_detail"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" id="detail_news_text" class=""&gt;     &lt;div class="content"&gt; &lt;p&gt;Menurut Babad Tanah Jawa, pesantren pertama di Jawa Barat adalah pesantren Quro yang terletak di Tanjung Pura, Karawang. Pesantren ini didirikan oleh Syekh Hasanuddin, seorang ulama dari Campa atau yang kini disebut Vietnam, pada tahun 1412 saka atau 1491 Masehi. Karena pesantrennya yang bernama Quro, Syekh Hasanuddin belakangan dikenal dengan nama Syekh Quro.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syekh Quro atau Syekh Hasanuddin adalah putra Syekh Yusuf Sidik. Awalnya, Syekh Hasanuddin datang ke Pulau Jawa sebagai utusan. Ia datang bersama rombongannya dengan menumpang kapal yang dipimpin Laksamana Cheng Ho dalam perjalanannya menuju Majapahit.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam pelayarannya, suatu ketika armada Cheng Ho tiba di daerah Tanjung Pura Karawang. Sementara rombongan lain meneruskan perjalanan, Syekh Hasanuddin beserta para pengiringnya turun di Karawang dan menetap di kota ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di Karawang, Syekh Hasanuddin menikah dengan gadis setempat yang bernama Ratna Sondari yang merupakan puteri Ki Gedeng Karawang. Di tempat inilah, Syekh Hasanuddin kemudian membuka pesantren yang diberi nama Pesantren Quro yang khusus mengajarkan Alquran. Inilah awal Syekh Hasanuddin digelari Syekh Quro atau syekh yang mengajar Alquran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari sekian banyak santrinya, ada beberapa nama besar yang ikut pesantrennya. Mereka antara lain Putri Subang Larang, anak Ki Gedeng Tapa, penguasa kerajaan Singapura, sebuah kota pelabuhan di sebelah utara Muarajati Cirebon. Puteri Subang Larang inilah yang kemudian menikah dengan Prabu Siliwangi, penguasa kerajaan Sunda Pajajaran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kesuksesan Syekh Hasanuddin menyebarkan ajaran Islam adalah karena ia menyampaikan ajaran Islam dengan penuh kedamaian, tanpa paksaan dan kekerasan. Begitulah caranya mengajarkan Islam kepada masyarakat yang saat itu berada di bawah kekuasaan raja Pajajaran yang didominasi ajaran Hindu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena sifatnya yang damai inilah yang membuat Islam diminati oleh para penduduk sekitar. Tanpa waktu lama, Islam berkembang pesat sehingga pada tahun 1416, Syekh Hasanuddin kemudian mendirikan pesantren pertama di tempat ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ditentang penguasa Pajajaran&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berdirinya pesantren ini menuai reaksi keras dari para resi. Hal ini tertulis dalam kitab Sanghyang Sikshakanda Ng Kareksyan. Pesatnya perkembangan ajaran Islam membuat para resi ketakutan agama mereka akan ditinggalkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berita tentang aktivitas dakwah Syekh Quro di Tanjung Pura yang merupakan pelabuhan Karawang rupanya didengar Prabu Angga Larang. Karena kekhawatiran yang sama dengan para resi, ia pernah melarang Syekh Quro untuk berdakwah ketika sang syekh mengunjungi pelabuhan Muara Jati di Cirebon.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagai langkah antisipasi, Prabu Angga Larang kemudian mengirimkan utusan untuk menutup pesantren ini. Utusan ini dipimpin oleh putera mahkotanya yang bernama Raden Pamanah Rasa. Namun baru saja tiba ditempat tujuan, hati Raden Pamahan Rasa terpesona oleh suara merdu pembacaan ayat-ayat suci Alquran yang dilantunkan Nyi Subang Larang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Putra mahkota yang setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran bergelar Prabu Siliwangi itu dengan segera membatalkan niatnya untuk menutup pesantren tersebut. Ia justru melamar Nyi Subang Larang yang cantik. Lamaran tersebut diterima oleh Nyi Santri dengan syarat maskawinnya haruslah Bintang Saketi, yaitu simbol "tasbih" yang ada di Mekah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pernikahan antara Raden Pamanah Rasa dengan Nyi Subang Karancang pun kemudian dilakukan di Pesantren Quro atau yang saat ini menjadi Masjid Agung Karawang. Syekh Quro bertindak sebagai penghulunya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menyebar santri untuk berdakwah&lt;br /&gt;Tentangan pemerintah kerajaan Pajajaran membuat Syekh Quro mengurangi intensitas pengajiannya. Ia lebih memperbanyak aktivitas ibadah seperti shalat berjamaah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sementara para santrinya yang berpengalaman kemudian ia perintahkan untuk menyebarkan Islam ke berbagai kawasan lain. Salah satu daerah tujuan mereka adalah Karawang bagian Selatan seperti Pangkalan lalu ke Karawang Utara di daerah Pulo Kalapa dan sekitarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam penyebaran ajaran Islam ke daerah baru, Syekh Quro dan para pengikutnya menerapkan cara yang unik. Antara lain sebelum berdakwah menyampaikan ajaran Islam, mereka terlebih dahulu membangun Masjid. Hal ini dilakukan Syekh Quro mengacu pada langkah yang dicontohkan Rasulullah SAW ketika berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Saat itu beliau terlebih dahulu membangun Masjid Quba.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cara lainnya, adalah dengan menyampaikan ajaran Islam melalui pendekatan dakwah bil hikmah. Hal ini mengacu pada AlQuran surat An Nahl ayat 125, yang artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebelum memulai dakwahnya, Syekh Quro juga telah mempersiapkan kader-kadernya dengan pemahaman yang baik soal masyarakat setempat. Ini dilakukan agara penyebaran agamanya berjalan lancar dan dapat diterima oleh masyarakat. Hal inilah yang melatarbelakangi kesuksesan dakwah Syekh Quro yang sangat memperhatikan situasi kondisi masyarakat serta sangat menghormati adat istiadat penduduk yang didatanginya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selama sisa hidup hingga akhirnya meninggal dunia, Syekh Quro bermukim di Karawang. Ia dimakamkan di Desa Pulo Kalapa, Kecamatan Lemah Abang, Karawang. Tiap malam Sabtu, makam ini dihadiri ribuan peziarah yang datang khusus untuk menghadiri acara Sabtuan untuk mendoakan Syekh Quro.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Belakangan masjid yang dibangun oleh Syekh Quro di pesantrennya, kemudian direnovasi. Namun bentuk asli masjid -- berbentuk joglo beratap dua limasan, menyerupai Masjid Agung Demak dan Cirebon -- tetap dipertahankan.&lt;br /&gt;( uli/berbagai sumber )&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-5137603899862468918?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/5137603899862468918/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=5137603899862468918' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5137603899862468918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5137603899862468918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/10/by-republika-contributor-rabu-15.html' title='Syekh Hasanuddin, Pendiri Pesantren Pertama di Jawa Barat'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-1703106354748415099</id><published>2008-10-28T21:32:00.000+07:00</published><updated>2008-10-28T21:33:03.340+07:00</updated><title type='text'>Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah, Mengajak Kembali ke Alquran dan Hadis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="box_lainnya"&gt;   &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!-- reporter start--&gt;    &lt;div class="reporter"&gt;         &lt;div class="byreporter"&gt;      By Republika Contributor&lt;br /&gt;     Rabu, 15 Oktober 2008 pukul 13:30:00     &lt;!-- &lt;div class="iklan"&gt;       &lt;img src="images/ads468x60.jpg" alt="Iklan 468x60" /&gt;      &lt;/div&gt; --&gt;     &lt;/div&gt;          &lt;div class="box_share"&gt;       &lt;!--      &lt;table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;                    &lt;tr&gt;        &lt;td&gt;         &lt;div align="center"&gt;                  &lt;/div&gt;        &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top"&gt;&lt;a href="#"&gt;SHARE&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;              &lt;tr&gt;        &lt;td&gt;         &lt;div align="center"&gt;                  &lt;/div&gt;        &lt;/td&gt;        &lt;td valign="top"&gt;&lt;a href="#"&gt;RSS&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;             &lt;/table&gt;  --&gt;                                    &lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;    &lt;!-- reporter end--&gt;      &lt;!-- contents lainnya start--&gt;                     &lt;!-- lainnya dalem start--&gt;   &lt;div class="lainnya_dalem"&gt;        &lt;div class="image_detail"&gt;        &lt;/div&gt;     &lt;div id="detail_news_text" class=""&gt;     &lt;div class="content"&gt; &lt;p&gt;Tokoh ini dikenal sebagai imam, allamah, muhaqqiq, hafizh, ushuli, faqih, ahli nahwu, berotak cemerlang, dan banyak mengeluarkan karya. Nama lengkapnya Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub bin Sa'ad bin Huraiz az-Zar'i, namun lebih dikenal dengan nama Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnul Qayyim dilahirkan di tengah keluarga berilmu dan terhormat pada tanggal 7 Shaffar 691 H. Kampung kelahirannya adalah Zara' dari perkampungan Hauran, sebelah tenggara Damsyq (Damaskus), Suriah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berkat pendidikan intensif yang diberikan orangtuanya, Ibnul Qayyim pun tumbuh menjadi seorang yang dalam dan luas pengetahuan serta wawasannya. Terlebih ketika itu, bidang keilmuan sedang mengalami masa jaya dan para ulama pun masih hidup.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari ayahnya, Ibnu Qayyim belajar ilmu faraidl karena sang ayah memang sangat menonjol dalam ilmu itu. Selain itu, dia belajar bahasa Arab dari Ibnu Abi al-Fath al-Baththiy dengan membaca kitab-kitab Al-Mulakhkhas li Abil Balqa', kitab Al-Jurjaniyah, juga sebagian besar kitab Al-kafiyah was Syafiyah. Kepada Syaikh Majduddin at-Tunisi dia belajar satu bagian dari kitab Al-Muqarrib li Ibni Ushfur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cakupan bidang keilmuannya demikian luas. Misalnya saja dia pernah belajar ilmu Ushul dari Syaikh Shafiyuddin al-Hindi, ilmu fikih dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Ismail bin Muhammad al-Harraniy. Dia pun terkenal dalam pengetahuannya tentang mazhab-mazhab Salaf.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hingga akhirnya dia bermulazamah secara total (berguru secara intensif) kepada Ibnu Taimiyah sesudah kembalinya Ibnu Taimiyah dari Mesir tahun 712 H hingga wafatnya tahun 728 H. Ketika itu, Ibnu Qayyim sedang pada awal masa mudanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh karenanya dia berkesempatan mereguk sumber ilmunya dari mata air yang luas. Pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah yang penuh kematangan dia cerna benar-benar. Ibnul Qayyim pun amat mencintainya, sampai-sampai dia mengambil kebanyakan ijtihad-ijtihadnya dan memberikan pembelaan atasnya. Ibnul Qayyim juga menyebarluaskan ilmu Ibnu Taimiyah dengan cara menyusun karya-karyanya yang bagus dan dapat diterima.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka berdua seakan tak terpisahkan. Keduanya pernah dipenjara, dihina dan diarak berkeliling bersama sambil didera dengan cambuk di atas seekor onta. Setelah Ibnu Taimiyah wafat, Ibnul Qayyim pun dilepaskan dari penjara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Banyak faedah besar yang dia petik selama berguru kepada tokoh kharismatik itu, diantaranya yang penting ialah berdakwah mengajak orang supaya kembali kepada kitab Alquran dan sunnah Rasulullah, berpegang kepada keduanya, memahami keduanya sesuai dengan apa yang telah difahami oleh as-Salafus Shalih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnul Qayyim telah berjuang untuk mencari ilmu serta bermulazamah bersama para ulama besar supaya dapat menyerap ilmu mereka dan supaya bisa menguasai berbagai bidang ilmu Islam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penguasaannya terhadap ilmu tafsir tiada bandingnya. Pemahamannya terhadap ushuluddin mencapai puncaknya serta pengetahuannya mengenai hadis, makna hadis, pemahaman serta istinbath-istinbath rumitnya, sulit ditandingi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Begitu pula, pengetahuannya di bidang ilmu suluk dan ilmu kalam-nya Ahli tasawuf, isyarat-isyarat mereka serta detail-detail mereka. Ibnu Qayyim memang amat menguasai terhadap berbagai bidang ilmu ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semua itu menunjukkan bahwa tokoh ini amat teguh pada prinsip, yakni bahwa "Baiknya perkara kaum Muslimin tidak akan pernah terwujud jika tidak kembali kepada madzhab as-Salafus Shalih yang telah mereguk ushuluddin dan syariah dari sumbernya yang jernih yaitu Kitabullah Al-Aziz serta sunah Rasulullah."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dia pun senantiasa berpegang pada ijtihad serta menjauhi taqlid. Diambilnya istinbath hukum berdasarkan petunjuk Alquran, sunnah nabawiyah syarifah, fatwa-fatwa shahih para sahabat serta apa-apa yang disepakati oleh ahlu ats tsiqah (ulama terpercaya) dan para imam fikih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Waktu yang ada benar-benar telah dicurahkannya untuk mengajar, memberi fatwa, berdakwah dan berdialog. Karenanya, banyak tokoh-tokoh ternama adalah para muridnya. Mereka merupakan ulama terbaik yang telah terbukti keutamaannya, di antaranya: anak beliau sendiri bernama Syarafuddin Abdullah, anaknya yang lain bernama Ibrahim, kemudian Ibnu Katsir ad-Dimasyqiy penyusun kitab Al-Bidayah wan Nihayah, Al-Imam Al-Hafizh Abdurrahman bin Rajab Al-Hambali Al-Baghdadi penyusun kitab Thabaqat al-Hanabilah, dan masih banyak lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnul Qayyim juga merupakan seorang peneliti ulung. Dia mengambil semua ilmu dan segala tsaqafah yang sedang jaya-jayanya pada masa itu di negeri Syam dan Mesir.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemudian disusunnya kitab-kitab fikih, kitab ushul, serta kitab-kitab sirah dan tarikh. Jumlah tulisannya sangat banyaknya, dan keseluruhan kitab-kitabnya itu memiliki bobot ilmiah yang tinggi. Oleh karenanya Ibnul Qayyim pantas disebut kamus segala pengetahuan ilmiah yang agung.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beberapa karya besarnya antara lain; Tahdzib Sunan Abi Daud, I'lam al-Muwaqqi'in an Rabbil Alamin, Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil Ghadlban, Ighatsatul Lahfan fi Masha`id asy-Syaithan, Bada I'ul Fawa'id, Amtsalul Quran, dan Buthlanul Kimiya' min Arba'ina Wajhan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Qayyim al-Jauziyah, wafat pada malam Kamis, tanggal 13 Rajab tahun 751 Hijriyah. Setelah dishalatkan keesokan harinya usai shalat Dzuhur di Masjid Jami Besar Dimasyq (Al-Jami Al-Umawi), ulama ini dikuburkan di tanah pekuburan Al-Babus Shaghir. ( yus/berbagai sumber )&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;   &lt;/div&gt;           &lt;/div&gt;   &lt;!-- lainnya dalem end--&gt;                 &lt;!-- contents lainnya end--&gt;             &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;!-- box_lainnya end--&gt;    &lt;!-- box_top end--&gt;    &lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!-- google_ad_client = "pub-2602506593048104"; /* 468x60, dibuat 08/10/10 */ google_ad_slot = "4695789617"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 60; //--&gt; &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt; &lt;/script&gt;&lt;script&gt; window.google_render_ad(); &lt;/script&gt;&lt;iframe name="google_ads_frame" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/ads?client=ca-pub-2602506593048104&amp;amp;dt=1225204253578&amp;amp;lmt=1225204251&amp;amp;output=html&amp;amp;slotname=4695789617&amp;amp;correlator=1225204253576&amp;amp;url=http%3A%2F%2Frepublika.co.id%2Fberita%2F8053.html&amp;amp;ea=0&amp;amp;ref=http%3A%2F%2Frepublika.co.id%2Fhalaman%2F116%2F84%2F13.html&amp;amp;frm=0&amp;amp;ga_vid=1287112037.1219993040&amp;amp;ga_sid=1225204159&amp;amp;ga_hid=516443840&amp;amp;ga_fc=true&amp;amp;flash=9.0.124&amp;amp;u_h=768&amp;amp;u_w=1024&amp;amp;u_ah=738&amp;amp;u_aw=1024&amp;amp;u_cd=32&amp;amp;u_tz=420&amp;amp;u_his=4&amp;amp;u_nplug=7&amp;amp;u_nmime=20" marginwidth="0" marginheight="0" vspace="0" hspace="0" allowtransparency="true" scrolling="no" width="468" frameborder="0" height="60"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-1703106354748415099?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/1703106354748415099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=1703106354748415099' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/1703106354748415099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/1703106354748415099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/10/imam-ibnu-al-qayyim-al-jauziyyah.html' title='Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah, Mengajak Kembali ke Alquran dan Hadis'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-6413379046248318355</id><published>2008-10-14T18:58:00.000+07:00</published><updated>2008-10-14T18:59:05.993+07:00</updated><title type='text'>Krugman dan Sisi Gelap Globalisasi</title><content type='html'>&lt;div id="judulartikelcetak"&gt;Krugman dan Sisi Gelap Globalisasi&lt;/div&gt;   &lt;div class="txtartikelcetak"&gt;       &lt;span class="tglct"&gt;Selasa, 14 Oktober 2008 | 01:04 WIB&lt;/span&gt;  &lt;div id="article_body"&gt;&lt;p&gt;Keberhasilan ekonom Amerika Serikat, Paul Krugman (55), menyabet Nobel Ekonomi tidak mengejutkan banyak orang. Sejak lama ia dijagokan oleh para koleganya sebagai calon favorit penerima penghargaan paling bergengsi itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ekonom Princeton University yang juga kolumnis tetap di New York Times itu dinilai para juri berhasil memformulasikan teori baru mengenai dampak dari perdagangan bebas dan globalisasi, serta faktor-faktor yang menjadi penentu terjadinya urbanisasi global.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Teori ini menelanjangi sisi gelap lain globalisasi yang cenderung meningkatkan tekanan baru pada beban kehidupan di perkotaan, karena spesialisasi membuat manusia tersedot ke pusat-pusat perkotaan sebagai konsentrasinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Teori Krugman dianggap bisa menjelaskan bagaimana globalisasi cenderung menghasilkan konsentrasi, baik dalam hal barang apa yang diproduksi maupun lokasi barang tersebut dibuat. Hasil dari proses-proses ini mengakibatkan wilayah-wilayah menjadi terbagi ke dalam dua kontras, yakni wilayah inti di perkotaan sebagai konsentrasi teknologi tinggi dan wilayah peri-peri yang lebih terbelakang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Isu semakin terkonsentrasinya pertumbuhan di wilayah perkotaan menjadi isu utama di mana-mana, terutama di negara berkembang. Teori Krugman menyimpang dari teori tradisional yang mengasumsikan perbedaan antarnegara sebagai dasar terjadinya spesialisasi dalam perdagangan. Perbedaan ini, menurut teori tradisional, memungkinkan suatu negara memperbaiki posisinya melalui komplementaritas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, teori Krugman membeberkan bagaimana dalam faktanya, perdagangan dunia didominasi hanya oleh segelintir negara, yang bukan saja memiliki kondisi serupa, tetapi juga memperdagangkan produk yang sama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Teori Krugman dianggap mampu menggabungkan perdagangan internasional dan geografi ekonomi yang selama ini dianggap sebagai dua sub-disiplin ilmu yang terpisah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Isu perdagangan bukan hal baru buat Krugman. Sebagai ekonom dan kolumnis, Krugman sudah menulis lusinan buku dan ratusan artikel mengenai perdagangan internasional dan juga keuangan global. Ia dianggap sebagai pencipta apa yang disebut ”ekonomi geografi baru”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lahir di Long Island, New York, Krugman meraih gelar PhD-nya dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) tahun 1977 dan mengajar di Yale, MIT, UC Berkeley, The London School of Economics, dan Stanford University, sebelum akhirnya ”hinggap” di Princeton University sejak tahun 2000.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahun 1991, ia menerima John Bates Clark Medal, sebuah penghargaan yang setiap dua tahun sekali diberikan oleh American Economic Association kepada ekonom berusia di bawah 40 tahun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepada televisi Swedia sesaat setelah pengumuman kemenangannya, Krugman mengatakan, ”Sungguh kejutan. Saya berharap dua minggu dari sekarang saya bisa kembali menjadi orang yang sama seperti sebelumnya. Saya jenis orang yang sangat percaya pada kerja berkelanjutan. Saya harap (Nobel) ini tak banyak mengubah saya,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan memenangkan Nobel secara solo, Krugman kini bisa disejajarkan dengan ekonom sekelas Phelps, Mundell, Amartya Sen, Lucus, Becker, Coase, Allais, Solow, Buchanan, Modigliani, Debreu, Stigler, Tobin, Simon, Friedman, Leontief, Kuznets, dan Samuelson.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kontroversial&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai ekonom, Krugman selama ini dikenal sangat vokal mengkritik kebijakan penanganan krisis global pemerintahan George W Bush. Dia menentang keras paket bailout senilai 700 miliar dollar AS yang dirancang Menkeu Henry Paulson yang dinilainya tak lebih sebagai ”(judi) roulet finansial Rusia”, kendati ia mengakui penyelamatan diperlukan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Krugman sendiri meyakini perekonomian global akan mengalami resesi berkepanjangan, namun kemungkinan akan bisa menghindarkan diri dari keambrukan. ”Ini mengerikan. Saya tak pernah berpikir akan menyaksikan kejadian seperti 1931 sepanjang hidup saya, tetapi dalam banyak hal krisis sekarang ini seperti itu,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kendati demikian, Krugman memuji langkah para pemimpin dunia untuk meredam krisis, terutama langkah penyelamatan keuangan yang diluncurkan Pemerintah Inggris melalui pembelian saham bank-bank bermasalah dan perluasan jaminan. Ia menganggap PM Gordon Brown telah menyelamatkan sistem finansial global.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelumnya, dia menuduh pemerintahan Bush terlibat dalam permainan tipuan di Irak dan dalam ekonomi. Krugman juga skeptis terhadap kandidat Partai Republik, John McCain yang bersama Sarah Palin, jika berkuasa, menurut dia tak lebih hanya akan jadi kepanjangan tangan Bush-Cheney.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di kalangan pengkritiknya, Krugman dikenal sebagai salah satu ekonom paling kontroversial AS yang berlidah tajam. Para pengkritik Krugman, seperti James Fallows, wartawan yang sering menjadi sasaran kecaman Krugman karena tulisannya banyak memengaruhi Pat Buchanan, melihatnya sebagai seorang pendendam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Dia bersikap seperti orang yang paling tahu semua,” kata mantan Menteri Perdagangan Jeffrey Garten. Majalah Newsweek tahun 1996 pernah menuliskan, kevokalan Krugman menjadi salah satu alasan mengapa Clinton tidak menawarinya posisi tertentu dalam pemerintahan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia bahkan tak sungkan- sungkan menyebut nama. Seperti mantan Menteri Perburuhan Reich yang disebutnya sebagai ”tokoh ofensif, brilian, tetapi bukan pemikir serius”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pakar perdagangan Clyde Prestowitz digambarkannya tak lebih sebagai salesman minyak ular intelektual. Ekonom MIT dan pengarang buku best seller Head to Head: The Coming Battle Among America, Japan and Europe itu disebutnya sebagai penulis tolol yang tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejumlah kalangan menduga sikap nyinyirnya lahir dari kekesalannya karena dia dikalahkan oleh Laura D’Andrea Tyson sebagai pimpinan Dewan Penasihat Ekonomi Clinton. Namun, Krugman membantahnya. ”Secara temperamen, saya sama sekali tak cocok untuk posisi tersebut. Anda harus memiliki keterampilan untuk baik pada orang, menggigit lidahmu sendiri saat orang mengatakan hal-hal yang konyol,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Krugman sendiri mengaku sudah terbiasa dituding arogan. Sebagai kolumnis, ia sering menerima surat yang berbunyi seperti, ”artikelmu membuatku ingin muntah”, ”Stanford seharusnya memecatmu”. Atau ”Anda menghina elitis”. Kata-kata kasar bernada ancaman yang menyebutnya sebagai ”anak Yahudi” dan menyuruhnya jauh-jauh dari Washington juga sering diterimanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tetapi, Krugman tidak semata menjual kebobrokan Amerika. Ia juga menjadi salah satu ekonom penting yang selalu mengingatkan AS akan ketersesatan kebijakan yang ditempuhnya, termasuk bahaya melebarnya kesenjangan pendapatan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya sangat cemas dengan apa yang terjadi dengan masyarakat kita,” ujarnya. Menurut dia, obat yang paling mujarab untuk ekonomi AS adalah memperbaiki dan memperkuat apa yang dihancurkan sendiri oleh Amerika selama ini, termasuk pelayanan kesehatan untuk anak-anak, pendidikan layak untuk anak-anak miskin. (TAT)&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-6413379046248318355?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://pasarbatik.com' title='Krugman dan Sisi Gelap Globalisasi'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/6413379046248318355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=6413379046248318355' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/6413379046248318355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/6413379046248318355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/10/krugman-dan-sisi-gelap-globalisasi.html' title='Krugman dan Sisi Gelap Globalisasi'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-5284332579195084655</id><published>2008-10-12T16:10:00.000+07:00</published><updated>2008-10-12T16:11:19.780+07:00</updated><title type='text'>Marrti Peraih Nobel</title><content type='html'>&lt;div id="judulartikelcetak"&gt;Martti, Juru Damai yang Sederhana&lt;/div&gt;   &lt;div class="txtartikelcetak"&gt;       &lt;!--zoom image--&gt;  &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;            &lt;div id="boximartikelcetak1"&gt;   &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="300" height="200"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2008/10/11/3025830p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" width="300" height="224" /&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;    &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;          &lt;span class="tglct"&gt;Sabtu, 11 Oktober 2008 | 03:00 WIB&lt;/span&gt;  &lt;div id="article_body"&gt;&lt;p align="center"&gt;Oleh &lt;strong&gt;Budi Suwarna&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ruang kerja Martti Ahtisaari (71) di kantornya, Crisis Management Initiative atau CMI, sederhana saja. Di sana hanya ada seperangkat sofa dan meja kerja yang dipenuhi tumpukan buku dan kertas. Dari kantor yang sederhana di Helsinki, Finlandia, itu Martti bekerja untuk mendamaikan dunia. Hasilnya sungguh manis. Banyak konflik di dunia, termasuk konflik Aceh, bisa diakhirinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mantan Presiden Finlandia yang pada hari Jumat (10/10) dianugerahi Nobel Perdamaian 2008 itu memang dikenal sebagai pribadi sederhana. Kompas dan TVRI sempat menyaksikan sendiri kesederhanaan Martti ketika menunggunya untuk sebuah wawancara khusus, di awal musim semi, September tahun lalu.&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;Pagi itu, sekitar pukul 10.00, waktu Helsinki, Martti keluar dari mobil sedannya yang dikemudikan sopir pribadi. Dia berjalan beberapa meter seorang diri sambil menenteng tas kulitnya yang tampak berat sebelum masuk ke kantornya, CMI. Sebagai seorang mantan presiden, tidak ada seorang ajudan atau sekretaris pribadi yang menyertainya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pemandangan ini berbeda dengan di Indonesia. Di sini, kita biasa melihat pejabat setingkat bupati pun dikawal ajudan atau sekretaris selama berkegiatan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kantor CMI juga sedikit banyak mencerminkan pribadi Martti. Kantor itu bertempat di sebuah gedung kuno dengan lift tua berpintu jeruji besi yang bunyinya berderit-derit jika dioperasikan. Lift itulah yang digunakan Martti untuk mencapai ruang kerjanya di lantai dua atau tiga. Di lantai itu hanya ada dua karyawan perempuan yang sedang bekerja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Martti tidak membuat kami menunggu terlalu lama untuk wawancara. Sekitar 15 menit setelah dia masuk ke kantornya, Martti menerima kami dengan ramah. Gaya berbicara dan mimiknya datar ketika menjelaskan sesuatu, jauh dari stereotipe politisi yang seringkali berbicara dengan gaya meledak-ledak. Namun, mata Martti selalu tertuju pada lawan bicaranya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seperti penampilannya, pandangan-pandangan Martti tentang upaya perdamaian pun sederhana saja dan mudah dipahami semua orang. Dia berkeyakinan bahwa kemiskinan adalah sumber konflik sehingga untuk mengatasi konflik, warga dunia harus dibuat sejahtera dan terdidik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dia berkeyakinan semua konflik bisa diatasi. Dia juga yakin seorang mediator hanya perlu menyederhanakan masalah agar sebuah perundingan damai yang ditanganinya berjalan dengan sukses. ”Jangan membuat masalah menjadi lebih rumit. Anda harus bisa menyampaikan masalah mana yang penting untuk diselesaikan,” katanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesederhana itukah? ”Ya,” katanya. ”Meski proses perundingan tetap saja akan berliku-liku. Namun, setidaknya kami telah berusaha untuk membuat masalah tidak tambah rumit.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dia menambahkan bahwa seorang mediator juga harus pandai memilih pintu masuk untuk memulai sebuah negosiasi damai. Untuk kasus Aceh, Martti mengaku masuk dari isu otonomi khusus yang ditawarkan Pemerintah Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;”Kami kemudian meminta penjelasan apa makna otonomi itu untuk rakyat Aceh? Penjelasan itu kami sampaikan kepada pihak GAM,” ujarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan memilih pintu masuk yang tepat, lanjut Martti, dia bisa menghemat waktu perundingan. Hasilnya memang manis. Konflik Aceh yang telah berlangsung sekitar tiga dekade itu bisa diakhiri secara damai dalam tempo yang tidak terlalu lama.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun, dengan rendah hati Martti mengatakan, perdamaian di Aceh bukan semata karena perannya sebagai mediator, melainkan karena pihak-pihak yang bertikai memang ingin damai setelah terjadi bencana tsunami.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain di Aceh, Martti berhasil mengakhiri konflik di Namibia dan Kosovo. Dia juga ikut dalam upaya mengakhiri konflik di Irlandia dan Irak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena perannya sebagai juru damai di berbagai lokasi konflik dunia, Martti dianugerahi Nobel Perdamaian 2008. Sebelumnya, awal bulan ini, dia juga mendapat penghargaan dari UNESCO karena telah membaktikan hidupnya untuk perdamaian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Martti mengaku bekerja untuk proyek perdamaian dunia bersama PBB setidaknya selama 30 tahun. ”Saya telah bekerja bersama lima Sekjen PBB yang berbeda-beda sejak tahun 1977.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Menjadi pengungsi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Martti lahir di Viipuri (wilayah tersebut kini bernama Vyborg dan masuk ke wilayah Rusia) pada 23 Juni 1937, tiga tahun sebelum Viipuri dianeksasi Uni Soviet. Sejak kecil, Martti telah merasakan susahnya hidup di tengah konflik dan perang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika itu Perang Dunia II merembet hingga tempat tinggalnya di Viipuri, Martti bersama ibunya, Tyyne, mengungsi ke Kuopio, wilayah timur di Finlandia. Sementara itu, ayahnya yang berprofesi sebagai pegawai negeri terlibat di garis depan pertempuran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Martti dan ibunya kemudian ditampung sebagai pengungsi di sebuah komunitas petani selama beberapa bulan. Di Kuopio, dia menghabiskan hampir seluruh masa kecilnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut Martti, pengalaman pahit masa kecilnya mungkin ada hubungannya dengan motivasinya yang besar untuk terlibat sebagai juru runding di wilayah konflik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Meski demikian, Martti yang menguasai bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Swedia, dan Finlandia ini mengatakan bahwa dia sebenarnya tidak bercita-cita sebagai juru runding. Semua seakan mengalir begitu saja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Martti memulai kariernya sebagai guru sekolah dasar. Martti bisa mengajar setelah mengambil pendidikan guru di sebuah universitas di Oulu pada tahun 1959. Dia juga sempat mengajar di Pakistan pada tahun 1960-an.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tiga tahun kemudian, dia pulang ke Finlandia. Selanjutnya, dia aktif di organisasi-organisasi yang memberikan bantuan ke negara-negara berkembang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tahun 1965, dia bergabung dengan Departemen Luar Negeri Finlandia. Selama berkarier sebagai diplomat, dia menghabiskan waktu selama 20 tahun di luar negeri. Dia pernah menjadi duta besar di Tanzania, Mozambik, dan Somalia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tahun 1994, Martti terpilih sebagai presiden pertama Finlandia yang dipilih secara langsung. Di bawah kepemimpinannya, Finlandia bergabung dengan Uni Eropa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Martti mengakhiri jabatannya sebagai presiden pada tahun 2000. Setelah lengser, Martti kembali terjun dalam kegiatan perdamaian dunia. Tahun 2005, dia ditunjuk sebagai Utusan Khusus PBB untuk masalah Kosovo.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk menunjang kerjanya sebagai juru damai, dia membentuk CMI, sebuah organisasi independen nonpemerintah yang bertujuan mendukung dan memelihara perdamaian di sejumlah lokasi konflik. CMI berbasis di Helsinki, Finlandia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di luar kariernya sebagai diplomat, kehidupan Martti tidak banyak diulas media massa. Dia hanya disebutkan menikah dengan Eeva Irmeli Hyvärinen pada tahun 1968.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari perkawinannya itu, Martti memiliki seorang anak laki-laki bernama Marko Ahtisaari, yang berprofesi sebagai musisi dan produser.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-5284332579195084655?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/5284332579195084655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=5284332579195084655' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5284332579195084655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5284332579195084655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/10/marrti-peraih-nobel.html' title='Marrti Peraih Nobel'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-922172535949307233</id><published>2008-10-12T16:08:00.001+07:00</published><updated>2008-10-12T16:08:45.798+07:00</updated><title type='text'>NOBEL</title><content type='html'>&lt;div id="judulartikelcetak"&gt;Martti Ahtisaari Raih Nobel Perdamaian&lt;/div&gt;   &lt;div class="txtartikelcetak"&gt;       &lt;span class="tglct"&gt;Sabtu, 11 Oktober 2008 | 02:17 WIB&lt;/span&gt;  &lt;div id="article_body"&gt;&lt;p&gt;Oslo, Jumat - Mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari (71) mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian 2008, Jumat (10/10). Upaya Ahtisaari yang tidak pernah lelah mewujudkan perdamaian, mulai dari Afrika, Eropa, hingga Asia, selama lebih dari tiga dekade dinilai membuatnya layak menerima penghargaan tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;”Upaya-upaya itu telah memberikan sumbangan besar bagi dunia yang lebih damai dan bagi persaudaraan di antara bangsa-bangsa, seperti semangat Alfred Nobel,” demikian pernyataan Komite Nobel Norwegia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ahtisaari menyisihkan 197 kandidat lain, termasuk aktivis hak asasi manusia (HAM) China, Hu Jia, dan pengacara HAM Chechnya, Lidiya Yusupova. Sejak tahun 2005, nama Ahtisaari telah dinominasikan sebagai penerima Hadiah Nobel Perdamaian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ahtisaari menerima hadiah 1,4 juta dollar AS. Ia berharap penghargaan yang diterimanya membuat orang tertarik mendanai upaya perdamaiannya. ”Saya sangat senang dengan keputusan ini. Selalu ada banyak kemungkinan. Saya sangat berharap hadiah ini memudahkan pendanaan bagi organisasi yang saya pimpin,” ujarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Upaya perdamaian Ahtisaari dimulai sekitar tahun 1970 saat dia membantu Namibia meraih kemerdekaan yang terwujud tahun 1990.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tahun 2005, Ahtisaari dan organisasinya, Inisiatif Manajemen Krisis (CMI), menjadi mediator Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka untuk mengakhiri konflik selama 30 tahun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di Eropa, Ahtisaari berkontribusi dalam resolusi konflik di Irlandia Utara. Sebagai utusan PBB, dia juga memainkan peran penting dalam mengakhiri kekerasan di Kosovo, salah satu provinsi di Serbia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;”Ia pantas mendapatkan penghargaan itu karena hidupnya diabdikan untuk mengupayakan perdamaian di mana-mana,” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla.(ap/afp/reuters/fro/har)&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;!--s:insert_counter--&gt;  &lt;!--ttpend artikel --&gt;       &lt;!--START KOLOM PRINT--&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-922172535949307233?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/922172535949307233/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=922172535949307233' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/922172535949307233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/922172535949307233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/10/nobel.html' title='NOBEL'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-5039841672677110503</id><published>2008-10-12T16:05:00.000+07:00</published><updated>2008-10-12T16:06:31.207+07:00</updated><title type='text'>Kebahagiaan adalah Memberi</title><content type='html'>&lt;div id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="txtartikelcetak"&gt;       &lt;span class="tglct"&gt;Minggu, 12 Oktober 2008 | 01:24 WIB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="article_body"&gt;&lt;p&gt;Bila ditanyakan kepada Haidar Bagir apa arti bahagia, dia akan menjawab memberi sebanyak-banyaknya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ayah tiga putra dan satu putri ini mengaku terobsesi pada hadis Nabi Muhammad yang menyebutkan, ibadah untuk Allah adalah menyenangkan orang-orang yang hancur hatinya dengan memberi sebanyak-banyaknya kepada yang membutuhkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Yang hancur hatinya bukan hanya orang miskin. Sudah pasti orang yang miskin hancur hatinya, tetapi zaman sekarang banyak juga orang yang depresi dan butuh ditemani. Orang kaya pun kadang-kadang bisa hancur hatinya, depresi,” kata Ketua Yayasan Manusia Indonesia (Yasmin) yang bergerak di bidang pemberdayaan pendidikan kaum duafa ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan memberi, kata Haidar, orang akan menerima jauh lebih banyak sehingga dia menyebut memberi adalah tindakan paling mementingkan diri sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sikap dan keyakinan kebahagiaan adalah memberi sebanyak-banyaknya itu dia terapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pendidikan di Lazuardi, mulai dari pra-TK hingga SMA.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena itu, tujuan Lazuardi bukan mendidik siswa mencapai nilai akademis setinggi-tingginya, tetapi anak menguasai kemampuan dasar akademis, menumbuhkan rasa cinta pada ilmu, terampil mengembangkan ilmunya, serta punya kemampuan komunikasi, rasa percaya diri, dan keprihatinan sosial tinggi. ”Itulah sumber kebahagiaan tertinggi,” kata Haidar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Kebahagiaan adalah latihan, dia ada di ambang pintu kita. Yang perlu kita lakukan adalah mengucapkan selamat datang, tetapi kita sering tidak sadar dan tidak terampil untuk menyadari. Orang harus melatih diri untuk merasa bahagia, dengan bersyukur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Kita sekarang ikut tren yang di tempat asalnya tidak dipakai lagi, yaitu kalau sukses dan punya uang banyak kita akan bahagia. Padahal, kebahagiaan terbesar adalah memberi,” tambah Haidar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan keyakinan itu, Haidar meyakini yang pertama-tama harus dibangun adalah akhlak, baik pribadi maupun sosial.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Alasan dia, akidah seseorang hanya akan kuat bila akhlaknya baik. ”Bagi saya akidah, ibadah, itu ujungnya akhlak pribadi dan sosial, hubungan sesama manusia,” kata Haidar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akhlak yang pribadi, seperti tidak dengki dan tidak pamer dalam kebaikan, menurut Haidar, seharusnya menjadi inti pendidikan. Tetapi, dia mengakui, tidak mudah menjelaskan kepada orangtua murid yang kadang-kadang masih mengukur dari nilai akademis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Pelan-pelan kami yakinkan yang penting mengajarkan anak berbahagia, yaitu kalau akhlaknya baik dan suka memberi dan menolong orang. Ini saya belajar dari diri sendiri. Kadang saya merasa kehilangan makna hidup sehingga saya secara sengaja mencoba memberi makna pada hidup saya,” papar Haidar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Itu dia lakukan dengan, misalnya, mengajak anak-anaknya pergi bersama untuk menguatkan hubungan ayah-anak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya bilang kepada istri, bukan karena saya baik, tetapi saya menggunakan anak-anak untuk memberi kebahagiaan, memberi makna, pada hidup saya,” tambah Haidar. ”Kalau tidak secara sengaja memberi makna pada hidup, repot juga zaman sekarang. Kesenangan itu betul-betul hanya singgah. Kita mengejar sesuatu, begitu dapat, lalu hilang.” (NMP/BRE)&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-5039841672677110503?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/5039841672677110503/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=5039841672677110503' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5039841672677110503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5039841672677110503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/10/kebahagiaan-adalah-memberi.html' title='Kebahagiaan adalah Memberi'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-8580019996317949722</id><published>2008-10-12T16:02:00.000+07:00</published><updated>2008-10-12T16:04:31.189+07:00</updated><title type='text'>Haidar Bagir: Diperlukan Perubahan Paradigma</title><content type='html'>&lt;div id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="txtartikelcetak"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;       &lt;!--zoom image--&gt;  &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;            &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;" id="boximartikelcetak1"&gt;   &lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: auto;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="300" height="200"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2008/10/12/3027585p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" width="300" height="224" /&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;    &lt;td&gt;          &lt;div align="right"&gt;&lt;span class="txfotocetak"&gt;     &lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;    &lt;/div&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;          &lt;span class="tglct"&gt;Minggu, 12 Oktober 2008 | 03:00 WIB&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div id="article_body"&gt;&lt;p&gt;Ninuk Mardiana Pambudy &amp;amp; Bre Redana&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sukses film ”Laskar Pelangi” dalam menarik jumlah penonton ke bioskop adalah juga kebanggaan untuk Mizan Publishing. Film yang diangkat dari buku karya Andrea Hirata itu diterbitkan September 2005 oleh Bentang, salah satu penerbit di bawah Mizan Publishing.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau boleh terus terang, kesenangan sukses investasi (dalam film Laskar Pelangi) itu tidak sebanding dengan rasa senang bahwa film ini disukai orang,” kata Haidar Bagir (51), salah satu pendiri dan Presiden Direktur Mizan Publishing.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Kami juga senang karena—istilah ’ge-er’-nya teman-teman (di Mizan)—film ini Mizan sekali. Dalam arti, ada unsur agamanya, tetapi menekankan pada akhlak, pendidikan yang tidak mengukur anak-anak dari nilai akademis seperti dikatakan Pak Harfan, kepala sekolah di film itu, concern pada kemiskinan, menghibur tetapi berkualitas,” tambah Ketua Yayasan Lazuardi Hayati yang mengelola sekolah Lazuardi di Cinere dan Sawangan (Depok), Cilandak, Jakarta Barat, Lampung, dan Solo itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Mira Lesmana yang bersama Mizan Publishing memproduksi film dengan sutradara Riri Riza ini, selama dua minggu pertama Laskar Pelangi sudah menyedot 1,5 juta penonton. Bukunya sendiri, menurut Haidar Bagir, sudah terjual 500.000-an kopi, sementara karangan Andrea Hirata yang lain, Sang Pemimpi dan Edensor, masing-masing terjual 300.000-an kopi, dan yang keempat, Maryamah Karpov, segera terbit. Keberhasilan Laskar Pelangi membuat Mizan Publishing mantap melangkahkan kaki masuk ke industri film dengan memproduksi Sang Pemimpi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Buku bagus dan keberuntungan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Menurut saya, keberhasilan buku ini adalah gabungan antara buku bagus, waktunya pas, dan juga keberuntungan,” jelas Haidar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagaimana cerita penerbitan Laskar Pelangi?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Buku ini dikirim ke Bentang di Yogya oleh teman Andrea Hirata yang karyawan Telkom. Buku itu sempat beberapa hari tidak dibaca karena pikiran karyawan Telkom tidak biasa menulis buku. Ternyata isinya sangat menarik. Ketika ke Yogya, saya ditunjukkan naskah buku itu. Saya langsung bilang, terbitkan. Sudah dengan judul Laskar Pelangi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami tahu buku ini bagus dan akan laku, tetapi tidak tahu bakal selaku ini. Lalu Andrea Hirata bertemu saya di Bandung, membicarakan kemungkinan memfilmkan cerita itu. Terus terang waktu itu saya tidak terlalu optimis. Buku sudah laku, tetapi belum meledak. Selain itu, Mizan Sinema (kemudian menjadi Mizan Production) baru berpengalaman membuat acara televisi. Mizan masuk layar lebar, apa mungkin?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemudian buku itu diangkat dalam acara Kick Andy (di Metro TV) dan meledak. Sebelumnya, buku-buku kami juga diangkat dalam acara itu, tetapi tidak meledak seperti Laskar Pelangi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagaimana menjadi film?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah buku meledak, kira-kira setahun lalu, mulai banyak sutradara menanyakan apakah akan difilmkan. Kami jadi optimis. Kami kontak Andrea dan dengan cepat memutuskan menyerahkan kepada Mira Lesmana dan Riri Riza karena mereka sukses menggarap Petualangan Sherina. Kami merasa cerita ini sedikit seperti film itu, ada menghiburnya, tetapi tidak kehilangan keindahan. Mizan tidak sendirian sebagai investor, saya mengajak Bachtiar Rachman, teman saya yang membikin sekolah Lazuardi Cordova di Jakarta Barat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keberuntungan Laskar Pelangi?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keberuntungannya karena diangkat dengan sangat baik oleh Kick Andy, besok paginya sudah ada beberapa orang dari toko buku antre di depan gudang kami. Tetapi, tetap yang paling utama memang bukunya bagus.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Agama cinta&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perbincangan dengan Haidar berlangsung di toko buku sekaligus kantor Mizan Publishing di Jalan Puri Mutiara, Jakarta Selatan. Toko buku itu, demikian Haidar, lebih dimaksudkan sebagai tempat berkumpul dan berdiskusi berbagai komunitas, seperti musik, sastra, film, dan para ibu muda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahun 1982, saat masih kuliah di Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung, bersama dua temannya Haidar mendirikan Mizan. Setahun kemudian mereka mulai menerbitkan buku. Kini, setelah seperempat abad, Mizan Publishing memiliki 12 unit usaha dan membagi saham untuk karyawan senior dan melalui koperasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bila awalnya Mizan menerbitkan buku tentang agama, sejak tahun 1990 jenis buku yang diterbitkan diperluas. Buku agama saat ini 20 persen dari sekitar 1.000 judul per tahun. ”Mau cari buku resep masakan ada, buku tentang dekorasi, self help, sampai pendidikan,” tutur penerima penghargaan Best CEO 2008 versi majalah Swa ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sikap dan pandangan hidup Haidar dalam mengembangkan pemikiran yang mengutamakan modernasi, rasionalitas, ilmu pengetahuan, serta pembangunan peradaban yang berkeadilan dan berorientasi sosial di atas landasan spiritual yang positif amat mewarnai Mizan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Kami tidak tertarik menerbitkan buku yang berhubungan dengan pendekatan syariah karena biasanya pendekatan hukum menyebabkan eksklusivisme. Bukan hanya antara orang Islam dengan orang di luar Islam, tetapi juga internal Islam sendiri. Atau buku yang memojokkan kelompok lain dari sudut pandang keagamaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Sebaliknya, kami menerbitkan buku dari semua sumber. Ekstremnya, ada bukunya orang Muslim, buku yang ditulis pastor, dan juga yang mungkin dianggap sekuler, seperti Agama Cinta yang dekat dengan advokasi tentang civil religion. Sebetulnya buku itu sangat kontroversial karena mau mengatakan, agama itu sebetulnya cinta,” papar penerima tiga beasiswa Fulbright.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini dia sedang menyelesaikan dua buku berjudul Islam Agama Cinta; satu ditulis populer dan yang lain secara akademis dengan dilengkapi riset.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Buku ini bukan hanya untuk orang luar, tetapi untuk orang Muslim sendiri. Ahli fenomenologi agama biasanya membagi agama ke dalam agama berorientasi nomos, hukum, yang dalam Islam disebut syariah; dan berorientasi eros, cinta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Biasanya fenomenologi tradisional memasukkan Islam ke dalam agama berorientasi nomos, hukum. Tetapi, melihat fenomenologi yang lebih belakangan sebetulnya kita harus melihat Islam sebagai agama yang tidak kurang-kurang berorientasi cinta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya ingin menunjukkan kepada kaum muslimin sendiri, di atas semuanya prinsip Islam adalah cinta. Hanya itu yang bisa membuat Islam terbuka karena pendekatannya kepada orang lain adalah kebaikan hati, berpikir positif, prasangka baik.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara, menurut Haidar banyak kaum muslimin yang menekankan keberagamaan pada syariah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya tidak mengatakan syariah tidak penting, tetapi harus mengacu pada prinsip Islam agama cinta. Kalau melihat agama hanya bersifat syariah, akan membuat orang menjadi eksklusif. Cinta itu merangkul semua dan membuat prasangka baik: semua orang sama baiknya, sama benarnya, sama salahnya dengan kita,” jelas Haidar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Doktor filsafat Islam dari Universitas Indonesia ini juga membahas hal yang untuk beberapa pihak masih kontroversial. Misalnya, kekerasan dan perang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Islam agak khas dalam membuka peluang penggunaan kekerasan dan perang. Dalam buku ini saya tunjukkan betul, di atas semua itu prinsipnya tetap cinta. Perang dalam Islam hanya boleh dilakukan untuk melawan penindasan dan sifatnya defensif. Pada saat penindas siap duduk di meja perundingan, perang harus dihentikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Dengan segala keterbatasan ilmu saya dalam hal ini, saya ingin menunjukkan kita harus melakukan paradigm shift, perubahan paradigma. Melihat Islam dari agama berorientasi hukum menjadi agama berorientasi cinta di mana hukum menjadi sarana kita memastikan setiap orang mendapatkan kasih sayang,” jelas Haidar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lalu juga tentang neraka. ”Prinsip kasih sayang itulah yang menjadi prinsip neraka. Neraka pada dasarnya bukan Tuhan menghukum manusia, tetapi apa yang dari Tuhan dapat dipersepsi berbeda oleh manusia,” tambah dia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Haidar mencontohkan segelas air dingin yang menyegarkan untuk orang sehat dapat menyiksa untuk orang sakit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Itu saya coba ungkapkan untuk menunjukkan Tuhan tidak membuat sesuatu yang pada dirinya sendiri menyiksa, tetapi karena manusia tidak hidup dengan cara yang menyebabkan dia mendapat kenikmatan. Ini memang kontroversial, tetapi saya secara konsisten ingin membuktikan hal-hal tersebut.”&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-8580019996317949722?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/8580019996317949722/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=8580019996317949722' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/8580019996317949722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/8580019996317949722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/10/haidar-bagir-diperlukan-perubahan.html' title='Haidar Bagir: Diperlukan Perubahan Paradigma'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-8385568469422735474</id><published>2008-09-11T12:52:00.000+07:00</published><updated>2008-09-11T12:54:41.207+07:00</updated><title type='text'>Pujian Amerika, Senyuman Musdah Mulia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="post"&gt; &lt;a name="5844157397704066180"&gt;&lt;/a&gt;   &lt;div class="post-body"&gt; &lt;style&gt;.fullpost{display:inline;}&lt;/style&gt; &lt;p&gt;Hidayatullah.com—Meronalah wajah Siti Musdah Muliah. Ia mengaku terperanjat mendengar namanya disebut-sebut Amerika. Bukan apa-apa, siapa tak kenal Amerika? Kampiun demokrasi, sang polisi dunia yang sangat ternama.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Saya hanya diberi waktu satu hari untuk mengurus visa dan berbenah sebelum terbang ke Amerika," ujarnya dikutip Antara di Washington DC, sesaat sebelum menerima penghargaan dari Menteri Luar Negeri Amerika, Condoleezza Rice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senang dan terkejut mungkin campur jadi satu. Apalagi ketika kedutaan Amerika Serikat di Jakarta menghubunginya dan mengatakan, dirinya dianggap terpilih menjadi satu-satunya wanita di Indonesia yang mendapatkan penghargaan dari Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia, katanya dianggap sukses menyuarakan, membela dan mengembalikan hak perempuan di mata agama dengan cara melakukan 'pembaruan hukum Islam' –termasuk-- undang-undang perkawinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, pada Hari Perempuan Dunia tanggal 8 Maret kemarin, Musdah menerima penghargaan International Women of Courage dari Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice di kantor kementerian luar negeri Amerika Serikat (AS), Washington.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Musdah bukan satu-satunya penerima penghargaan. Masih banyak wanita lain menerimanya. Diantaranya dari kawasan Asia Pasifik. Ada yang dari Zimbabwe, Latvia, Arab Saudi, Argentina, Maladewa, dua orang dari Afganistan, dan dua dari Iraq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan tahunan tersebut pertama kali diberikan pemerintah Amerika Serikat kepada perempuan dunia. Katanya, 'yang dianggap berani membuat perubahan demi kemajuan perempuan di negaranya'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musdah, adalah salah satua dari 100 wanita yang terpilih dari 100 nama yang diusulkan di seluruh dunia. "Saya hanya ingin mengembalikan prinsip Islam, yang humanis dan ramah terhadap perempuan," kata Musdah seolah merendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pidato sambutannya, Condoleezza Rice mengatakan, perjuangan untuk mendapatkan kesetaraan jender tidak mudah. Negara demokrasi, seperti, Amerika Serikat pun, membutuhkan waktu lebih dari 130 tahun untuk memberikan hak pilih bagi perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergerilya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siti Musdah Mulia adalah salah satu tokoh Islam Liberal yang pernah bikin heboh di Indonesia ketika mengusulkan counter legal draft Kompilasi Hukum Islam (CLD-KHI) sekitar tahun 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Counter Legal Draft (CLD) Kompilasi Hukum Islam ini dinilai banyak kaum Muslim 'melabrak' pemahaman tentang hukum perkawinan, waris, dan wakaf dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara teks-teks krusial yang diusulan Tim Musdah Mulia ketika itu antara lain; disebutkan bahwa pernikahan bukan ibadah, perempuan boleh menikahkan dirinya sendiri, poligami haram, boleh nikah beda agama, boleh kawin kontrak, ijab kabul bukan rukun nikah dan anak kecil bebas memilih agamanya sendiri. Pendekatan gender, pluralisme, HAM dan demokrasi bukanlah pendekatan hukum Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja bukan sepi masalah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut draft ini sebagai bid’ah (penyimpangan) dan taghyir (perubahan) dari hukum Islam. MUI menyebut CLD-KHI sebagai upaya memanipulasi nash-nash Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak urung, kasus ini membuat Menteri Agama saat itu, Prof. DR. H. Said Agiel Al Munawar, menyampaikan teguran keras kepada Tim Penulis Pembaruan Hukum Islam, melalui suratnya tanggal 12 Oktober 2004, No.: MA/271/2004, untuk tidak lagi mengulangi mengadakan seminar atau kegiatan serupa dengan mengatasnamakan tim Departemen Agama dan semua Draft CLD-KHI agar diserahkan kepada Menteri Agama RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Menteri Agama RI yang baru, Maftuh Basyuni langsung membatalkan CLD-KHI pada tanggal 14 Februari 2005. Dan Siti Musdah Mulia sebagai Ketua Tim Penyusun CLD-KHI dilarang pemerintah menyebarluaskan gagasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhentikah Musdah? Tentu saja tidak. Ia bersama kawan-kawannya yang se ide–tentu saja dibantu The Asia Foundation lembaga donasi dari Amerika yang sering mendukung gagasan liberalisme-- terus mengasongkan gagasannya. Ia bahkan muncul kembali bersama para penulis buku Fiqih Lintas Agama. Yang oleh sebagian kaum Muslim dianggap banyak membuang makna teks dan menggunakan aspek konteks secara amburadul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pujian Amerika yang baru saja ia sandang, nampaknya menjadi spirit baru Musdah untuk terus bergerilya. Walau, ia sesungguhnya tau, dampaknya, ia harus berhadapan dengan kaum Muslim di Negerinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pemahaman saya sering dicap terlalu kebarat-baratan dan saya tidak akan terkejut, sekembali dari Amerika Serikat, saya akan dicap sebagai antek Amerika," kata Musdah seolah telah siap dengan segala resikonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenar Setelah “Menghujat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Musdah Mulia bukanlah hal baru. Khususnya Amerika dan Barat, pujian-pujian serupa ibarat permen yang akan terus diberikan disaat dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Musdah, ada nama Salman Rusdie dengan The Satanic Verses nya. Juga Irshad Manji, seorang warga Muslim asal Kanada yang kini tinggal di Belanda. Namanya begitu tenar setelah gagasannya yang mengatakan, cendekiawan Barat seharusnya tidak takut lagi mengkritik Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irsyad Manji adalah seorang aktivis yang juga penganut lesbianisme. Manji begitu tenar dan dipuja sebagai pahlawan di dunia Barat karena kritik agresif mereka terhadap Islam. Meski Manji begitu menyakit perasaan kaumnya sendiri, di dunia Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pers asing, Manji dianggap ‘seorang provokator berjalan untuk Islam tradisional’. Tahun 2003 ia mempublikasikan bukunya "The Trouble with Islam Today". Isinya banyak menghujat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya ada nama Nasr Hamid Abu Zayd, intelektual muslim asal Mesir. Nasr Hamid Abu Zayd adalah pemikir liberal Mesir yang dihukumi 'murtad' oleh 2000 ulama Mesir atas beberapa pemikirannya yang cukup berbahaya. Ia kemudian lari di tampung di Negeri Belanda. Di sana, ia kemudian diberi puja-puji. Dan semakin liarlah pemikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu hanya permulaan, kata cendekiawan Muslim Adian Husaini. Sebab, masih akan banyak nama yang akan menerima penghargaan oleh Amerika dan Barat di masa depan. Mengutip pepatah Arab, Adian mengatakan, “Khaalif, tu’raf!.” Jika ingin terkenal, gampang saja. Berfikirlah nyleneh!. Nah, boleh jadi Amerika juga akan mengundang Inul sebagaimana Musdah Mulia. [cholis akbar/hidayatullah.com]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-8385568469422735474?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/8385568469422735474/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=8385568469422735474' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/8385568469422735474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/8385568469422735474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/09/pujian-amerika-senyuman-musdah-mulia.html' title='Pujian Amerika, Senyuman Musdah Mulia'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-8063227272107375677</id><published>2008-09-08T09:13:00.000+07:00</published><updated>2008-09-08T09:14:22.816+07:00</updated><title type='text'>Lonceng Natsir</title><content type='html'>&lt;h1 style="font-weight: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;span&gt;Zaim Uchrowi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/h1&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nama daerah itu makin terlupakan. Sama dengan sosok besar yang dilahirkan di dataran tinggi nan sejuk di Sumatra Barat ini. Lembah Gumanti kini lebih dikenal sebagai Alahan Panjang. Di situlah seratus tahun silam, tepatnya 17 Juli 1908, sang pengukir peradaban Islam itu berasal. Ia Mohammad Natsir.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tak sedikit tokoh umat yang terinspirasi (atau merasa terinspirasi) oleh Natsir. Tokoh-tokoh yang pernah melejit sebagai 'intelektual muda Islam',  hampir selalu pernah dianggap sebagai Natsir muda. Yusril Ihza Mahendra, misalnya. Juga Amien Rais. Anwar Ibrahim dari Malaysia pun tak luput dari masa dianggap sebagai Natsir muda. Tentu banyak nilai-nilai Natsir yang diserap para tokoh itu. Tapi, tak semua mampu mengikuti seluruh sisi Natsir. Ada yang gagal meneladani kesederhanaan dan kerendahatian Natsir. Ada yang kurang sesabar sosok ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Natsir juga bukan sosok yang selalu sabar. Sesekali ia juga masih tampak marah. Tetapi, dalam konteks membangun umat dan bangsa, ia seorang pendakwah sejati. Seorang yang selalu berpegang pada prinsip-prinsip kesantunan dan kesabaran dalam melangkah. Prinsip itu selalu dijaganya. Dengan kesantunan dan kesabaran ia jaga keutuhan bangsa dan umat ini. Baginya, bangsa dan umat bagai dua sisi berbeda dari keping mata uang yang sama. Langkah-langkahnya hampir selalu diperuntukkan bagi bangsa dan umat sekaligus.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Natsir sempat berpolemik panjang dengan Soekarno soal landasan bernegara. Tentu ia juga berseberangan aliran dengan Kasimo yang Katolik. Tapi, buat Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim ini, ia duduk dan berbagi pandang dengan mereka. Ketika bangsa ini terancam terbelah-belah, Natsir mengajukan 'mosi' yang mengukuhkan kesatuan Indonesia sebagai republik. Langkah yang sangat menguntungkan Soekarno dalam memimpin. Natsir pun tak risau ketika tak lama kemudian Soekarno seperti tak mengingat jasanya. Bahkan, menjebloskannya ke tahanan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hal serupa terjadi semasa Soeharto. Ia telah membantu Soeharto menata kembali negeri ini setelah carut-marut G30S/PKI. Setidaknya dialah yang menjadi kunci pembukaan hubungan kembali dengan Malaysia. Tapi, ia mendapat perlakuan yang tak semestinya ia dapatkan sebagai negarawan. Buat Natsir itu bukan soal. Ia berbuat dan berbuat semata untuk kebaikan bangsa dan negara. Bukan buat kegagahan, kekuasaan, dan harta sebagaimana kebanyakan kita. Ia, sekali lagi, seorang pendakwah sejati. Seorang yang mensyukuri setiap keadaan yang dihadapinya. Seberapa pun buruk keadaan itu. Ia akan antusias memperbaikinya. Ia seorang yang akan melihat gelas yang separuhnya berisi air sebagai 'setengah penuh'. Bukan 'setengah kosong'.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam berpolitik untuk umat, Natsir telah mengukir karya yang hingga sekarang belum ada tandingannya. Baginya, keislaman akan selalu berjalan seiring dengan intelektualitas, profesionalitas. Partai Masyumi yang dibangunnya adalah representasi cara pandang itu. Baginya, berpartai bukan buat kedudukan dan harta. Berpartai adalah buat memperjuangkan nilai-nilai kabangsaan dan keislaman yang mencakup intelektualitas-profesionalitas. Ini sisi lemah bangsa dan umat ini, hingga tertinggal dari bangsa lain. Banyak tokoh bangsa dan umat kita saat ini yang lemah dalam intelektualitas. Apalagi profesionalitas. Padahal, tak akan ada bangsa dan umat yang dapat maju tanpa itu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lima belas tahun silam sang pribadi itu meninggalkan hiruk-pikuk dunia ini untuk menghadap-Nya. Seabad kelahirannya sekarang seperti lonceng yang mengingatkan: tidakkah ini saat tepat buat merenung sejenak, belajar dari Natsir.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-8063227272107375677?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/8063227272107375677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=8063227272107375677' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/8063227272107375677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/8063227272107375677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/09/lonceng-natsir.html' title='Lonceng Natsir'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-3475527222387275841</id><published>2008-09-03T12:23:00.000+07:00</published><updated>2008-09-03T12:24:15.773+07:00</updated><title type='text'>Eto'o &amp; Huntelaar Buruan Baru City</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="d-ad floatleft"&gt;&lt;div class="d-sup floatleft"&gt;&lt;div class="d-shad floatleft"&gt;&lt;div class="d-supsum floatleft"&gt;          &lt;/div&gt;  &lt;br /&gt; &lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;!--END OTHER NEWS --&gt;      &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;!-- END RIGHT DETAIL --&gt;   &lt;!-- PHOTO CONTENT --&gt; &lt;script languange="JavaScript"&gt;   var imagesPart = new Array(1)   var titlesPart = new Array(1)   var currPos = 0   imagesPart[0] = "/images-data/content/2008/09/03/45/142349/X1b1zvqn8b.jpg"   titlesPart[0] = "Foto: iat" function ajaxpage(containerid, url)    {    var page_request = false    if (window.XMLHttpRequest) // if Mozilla, Safari etc    page_request = new XMLHttpRequest()    else if (window.ActiveXObject)    { // if IE    try    {    page_request = new ActiveXObject("Msxml2.XMLHTTP")    }    catch (e)    {    try    {     page_request = new ActiveXObject("Microsoft.XMLHTTP")    }    catch (e)    {}    }    }    else    return false         document.getElementById(containerid).innerHTML = "loading ..."         page_request.onreadystatechange=function()    {    loadpage(page_request, containerid)    }        page_request.open('GET', url, true)    page_request.send(null)    }        function loadpage(page_request, containerid)    {    if (page_request.readyState == 4 &amp;&amp; (page_request.status==200 || window.location.href.indexOf("http")==-1))    document.getElementById(containerid).innerHTML=page_request.responseText    } function goToImage(counter,titleContainer){    var firstEl = 0    var lastEl = imagesPart.length - 1     if(counter &lt; currpos =" currPos" currpos =" currPos" currpos =" 0;"&gt; lastEl){     currPos = lastEl    }else{     currPos = currPos    }        ajaxpage('imagesContainer','http://bola.okezone.com/index.php/viewImage'+imagesPart[currPos]);    document.getElementById("titlePhoto").innerHTML = currPos+1   }  &lt;/script&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" id="ContainerPhoto" class="d-photo floatright"&gt;  &lt;div id="imagesContainer" style="position: relative; display: block; width: 250px; height: 205px;"&gt;   &lt;!--&lt;div id="imageContainer_1" style="position:absolute;left:0px;top:0px; border:0px;"&gt;--&gt; &lt;img src="http://bola.okezone.com/images-data/content/2008/09/03/45/142349/X1b1zvqn8b.jpg" width="248" height="205" /&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--&lt;/div&gt;--&gt;   &lt;/div&gt;  &lt;div style="width: 250px; background-color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Foto: iat&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;!-- END PHOTO CONTENT --&gt;  &lt;/div&gt;&lt;strong&gt;MANCHESTER&lt;/strong&gt; - Pembenahan terus dilakukan Manchester City. Setelah mendatangkan Robinho dari Real Madrid, kini The Citizen membidik striker Barcelona Samuel Eto'o dan penyerang Ajax Amsterdam Klaas Jan Huntelaar. Rencana membeli pemain itu merupakan instruksi pemilik klub baru Dr Sulaiman Al Fahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;City akan mengajukan penawaran 32 juta poundsterling kepada Barcelona untuk meminang Eto'o. Kemudian, City juga menyiapkan angka sama kepada Ajax Amsterdam untuk menggaet Klaas Jan Huntelaar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, pria 31 tahun tersebut meminta kepada fans Inggris agar berhenti bermimpi dan rencana ini adalah pasti. Al Fahim terus melakukan koordinasi dengan pelatih, pemain dan tim ofisial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tahu fan City mungkin dihadapkan kondisi tersulit di masa lau. Tapi, saya ingin memberi tahu mereka semuanya ini menjadi awal baru klub," kata Al Fahim seperti dilansir AP Rabu (3/9/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini nyata, bukan mimpi. Ini jangka waktu panjang dan menjadi komitmen bagi kami. Kami berambisi bertengger di empat besar musim ini, memenangkan liga musim depan, dan tiga tahun dari sekarang kami akan meraup mahkota Liga Champions," imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Al Fahim menyimpan ambisi mengumpulkan para pemain top dunia. Nama Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Kaka, Cesc Fabregas, Fernando Torres, Ronaldinho, dan Dimitar Berbatov menjadi pemain yang memikat hati AL Fahim.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt; (fmh)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-3475527222387275841?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/3475527222387275841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=3475527222387275841' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/3475527222387275841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/3475527222387275841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/09/etoo-huntelaar-buruan-baru-city.html' title='Eto&apos;o &amp; Huntelaar Buruan Baru City'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-3977746467066063201</id><published>2008-09-03T12:04:00.000+07:00</published><updated>2008-09-03T12:06:09.791+07:00</updated><title type='text'>Al-Fahim Bangun Dinasti City</title><content type='html'>&lt;div class="d-ad floatleft"&gt;&lt;div class="d-sup floatleft"&gt;&lt;div class="d-shad floatleft"&gt;&lt;div class="d-supsum floatleft"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;!--END OTHER NEWS --&gt;      &lt;/div&gt; &lt;!-- END RIGHT DETAIL --&gt;   &lt;!-- PHOTO CONTENT --&gt; &lt;script languange="JavaScript"&gt;   var imagesPart = new Array(1)   var titlesPart = new Array(1)   var currPos = 0   imagesPart[0] = "/images-data/content/2008/09/02/45/142250/WyGjrSb5Q2.jpg"   titlesPart[0] = "Foto: AP" function ajaxpage(containerid, url)    {    var page_request = false    if (window.XMLHttpRequest) // if Mozilla, Safari etc    page_request = new XMLHttpRequest()    else if (window.ActiveXObject)    { // if IE    try    {    page_request = new ActiveXObject("Msxml2.XMLHTTP")    }    catch (e)    {    try    {     page_request = new ActiveXObject("Microsoft.XMLHTTP")    }    catch (e)    {}    }    }    else    return false         document.getElementById(containerid).innerHTML = "loading ..."         page_request.onreadystatechange=function()    {    loadpage(page_request, containerid)    }        page_request.open('GET', url, true)    page_request.send(null)    }        function loadpage(page_request, containerid)    {    if (page_request.readyState == 4 &amp;&amp; (page_request.status==200 || window.location.href.indexOf("http")==-1))    document.getElementById(containerid).innerHTML=page_request.responseText    } function goToImage(counter,titleContainer){    var firstEl = 0    var lastEl = imagesPart.length - 1     if(counter &lt; currpos =" currPos" currpos =" currPos" currpos =" 0;"&gt; lastEl){     currPos = lastEl    }else{     currPos = currPos    }        ajaxpage('imagesContainer','http://bola.okezone.com/index.php/viewImage'+imagesPart[currPos]);    document.getElementById("titlePhoto").innerHTML = currPos+1   }  &lt;/script&gt;   &lt;div id="ContainerPhoto" class="d-photo floatright"&gt;  &lt;div id="imagesContainer" style="position: relative; display: block; width: 250px; height: 205px;"&gt;   &lt;!--&lt;div id="imageContainer_1" style="position:absolute;left:0px;top:0px; border:0px;"&gt;--&gt; &lt;img src="http://bola.okezone.com/images-data/content/2008/09/02/45/142250/WyGjrSb5Q2.jpg" width="248" height="205" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--&lt;/div&gt;--&gt;   &lt;/div&gt;  &lt;div style="width: 250px; background-color: rgb(0, 0, 0); text-align: left;"&gt;Foto: AP&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;  &lt;!-- END PHOTO CONTENT --&gt;    &lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;MANCHESTER&lt;/strong&gt; - Roman Abrmovich memang telah membangun dinasti di klub Chelsea. Namun, musim ini ia akan mendapat seteru sepadan. Adalah sang pemilik Manchester City, Dr Sulaiman Al-Fahim, yang mengaku akan membangun dinasti baru guna menyaingi taipan Rusia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulaiman Al-Fahim telah memulai dengan kejutan mendatangkan Robinho pekan ini. Namun hal itu belum dianggapnya selesai. Pemilik saham Abu Dhabi United Grup (ADUG) itu langsung menargetkan Cristiano Ronaldo pada transfer kedua Januari nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ronaldo mengatakan bahwa dia ingin bermain dengan klub terbesar didunia, jadi kami akan melihat pada Januari nanti jika dia memang serius," ujar Al-Fahim kepada Arabian Business magazine, Selasa (2/9/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Real Madrid telah menganggarkan USD160 juta namun bagi seorang pemain seperti dia tentu saja membutuhkan uang lebih, saya pikir USD240 juta," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Fahim rupanya memang serius ingin menjadikan Manchester City sebagai pendobrak The Big Four. Bahkan tak hanya itu, menjadikan City sebagai klub terbaik didunia telah menjadi mimpinya yang ingin segera diwujudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami sedang berusaha menjadi klub terbesar di dunia, lebih besar dibanding Real Madrid dan Manchester United," ujar taipan Uni Emirat Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya tak sampai disitu, dalam MoU antara ADUG dan City, Al-Fahim juga memasukan nama Fernando Torres dan Cesc Fabregas dalam incarannya di bursa transfer kedua, Januari nanti. Namun ambisi Al-Fahim tentu tidak mudah. Terbukti, City baru saja gagal mendapatkan Dimitar Berbatov yang lebih memilih Manchester United musim ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat disinggung mengenai target The City musim ini, Al-Fahim mengaku sangat yakin Mark Hughes akan segera memberikan gelar tropi musim ini. Tropi terakhir yang direbut Manchester City adalah Piala Liga yang mereka dapatkan pada tahun 1976. &lt;/div&gt;&lt;b&gt; (tok)&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-3977746467066063201?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/3977746467066063201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=3977746467066063201' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/3977746467066063201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/3977746467066063201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/09/al-fahim-bangun-dinasti-city.html' title='Al-Fahim Bangun Dinasti City'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-7210214553627035038</id><published>2008-09-03T12:02:00.001+07:00</published><updated>2008-09-03T12:04:28.322+07:00</updated><title type='text'>Al-Fahim: Saya Abramovich Baru</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="d-tit"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="d-date"&gt;  Selasa, 2 September 2008 - 14:37 wib    &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="d-ad floatleft"&gt;&lt;div class="d-sup floatleft"&gt;&lt;div class="d-shad floatleft"&gt;&lt;div class="d-supsum floatleft"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;!--END OTHER NEWS --&gt;      &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;!-- END RIGHT DETAIL --&gt;   &lt;!-- PHOTO CONTENT --&gt; &lt;script languange="JavaScript"&gt;   var imagesPart = new Array(1)   var titlesPart = new Array(1)   var currPos = 0   imagesPart[0] = "/images-data/content/2008/09/02/45/142119/hF5gF6oJyW.jpg"   titlesPart[0] = "Foto: ist" function ajaxpage(containerid, url)    {    var page_request = false    if (window.XMLHttpRequest) // if Mozilla, Safari etc    page_request = new XMLHttpRequest()    else if (window.ActiveXObject)    { // if IE    try    {    page_request = new ActiveXObject("Msxml2.XMLHTTP")    }    catch (e)    {    try    {     page_request = new ActiveXObject("Microsoft.XMLHTTP")    }    catch (e)    {}    }    }    else    return false         document.getElementById(containerid).innerHTML = "loading ..."         page_request.onreadystatechange=function()    {    loadpage(page_request, containerid)    }        page_request.open('GET', url, true)    page_request.send(null)    }        function loadpage(page_request, containerid)    {    if (page_request.readyState == 4 &amp;&amp; (page_request.status==200 || window.location.href.indexOf("http")==-1))    document.getElementById(containerid).innerHTML=page_request.responseText    } function goToImage(counter,titleContainer){    var firstEl = 0    var lastEl = imagesPart.length - 1     if(counter &lt; currpos =" currPos" currpos =" currPos" currpos =" 0;"&gt; lastEl){     currPos = lastEl    }else{     currPos = currPos    }        ajaxpage('imagesContainer','http://bola.okezone.com/index.php/viewImage'+imagesPart[currPos]);    document.getElementById("titlePhoto").innerHTML = currPos+1   }  &lt;/script&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" id="ContainerPhoto" class="d-photo floatright"&gt;  &lt;div id="imagesContainer" style="position: relative; display: block; width: 250px; height: 205px;"&gt;   &lt;!--&lt;div id="imageContainer_1" style="position:absolute;left:0px;top:0px; border:0px;"&gt;--&gt; &lt;img src="http://bola.okezone.com/images-data/content/2008/09/02/45/142119/hF5gF6oJyW.jpg" width="248" height="205" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--&lt;/div&gt;--&gt;   &lt;/div&gt;  &lt;div style="width: 250px; background-color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Foto: ist&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;!-- END PHOTO CONTENT --&gt;  &lt;/div&gt;&lt;strong&gt;MANCHESTER&lt;/strong&gt; - Pemilik baru Manchester City Sulaiman Al-Fahim mengharapkan klub barunya dapat mengikuti jejak Chelsea yang langsung meroket setelah dibeli Roman Abromovich lima tahun lalu. Perusahaan Al-Fahim, Abu Dhabi United Group (ADUG) telah mengambil alih kepemilikan saham City dari Thaksin Shinawatra, Senin (1/9/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chelsea dua kali juara Premier League, satu kali Piala FA, serta melenggang ke partai final Liga Champion setelah Abromovich mengambil alih klub tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;City belum pernah memenangkan gelar apapun setelah menjadi juara Piala Liga 1976 silam. Namun Al-Fahim yakin suntikan dana baru untuk klub asuhan Mark Hughes tersebut akan membuat penantian panjang mereka akan gelar juara segera berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya bagaimana pembelian City oleh ADUG ini dapat dibandingkan dengan pembelian Chelsea oleh Abramovich, Al-Fathim memberikan jawaban lugas. "Saya pikir kejadiannya akan sama. Kami ingin melihat City berjuang memperoleh tropi di setiap turnamen," ungkapnya seperti dilansir sportinglife, Selasa (2/9/2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain suntikan dana, klub yang bermarkas di Eastland itu pun makin percaya diri dengan bergabungnya pemain Brasil, Robinho. Transfer Robinho segera memecahkan rekor transfer baru di Inggris dengan nilai 40 juta euro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ingin melihat apakah Manchester City dapat mengikuti jejak Chelsea, tunggu saja pertemuan keduanya pada Premier League di Eastland, Minggu (7/9/2008).&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt; (fmh)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-7210214553627035038?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/7210214553627035038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=7210214553627035038' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/7210214553627035038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/7210214553627035038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/09/al-fahim-saya-abramovich-baru.html' title='Al-Fahim: Saya Abramovich Baru'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-2561216721353893318</id><published>2008-09-03T09:57:00.000+07:00</published><updated>2008-09-03T09:58:39.350+07:00</updated><title type='text'>Ode untuk Ciil, Suamiku</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Rabu, 3 September 2008 | 03:00 WIB &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kartini Sjahrir&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciil itu ibarat air, mengalir tak henti. Dia tidak memandang di mana berada, dan tak mempermasalahkan dengan siapa dia berhadapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi dirinya, semua orang adalah sama. Status sosial tak terlalu dipedulikan. Ia bergaul dengan siapa saja dan dari berbagai kalangan. Seperti air, ia pun tidak terkotak-kotak dan mengotakkan diri pada satu atau beberapa aliran pemikiran dalam ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencintai dunia akademis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masih kuliah di Harvard, ia amat mengagumi Samuel Huntington dan pemikirannya. Semua buku Huntington, dia lalap dengan cepat. Saya bahkan terkena imbasnya, disuruh (jika tak hendak mengatakan di-”paksa”) membacanya saat saya mengambil mata kuliah antropologi politik di Boston University. Namun, pada saat sama, ia juga mengkritik pandangan Huntington yang disampaikan langsung kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga mengagumi Prof Stanley Hoffman, pakar politik ekonomi Rusia dan Eropa Timur. Ia belajar mengenai pembuatan policy dari Prof Jack Montgomery, ahli kebijakan publik (public policy), di mana Ciil sendiri pernah menjadi asistennya selama tiga tahun. Ciil juga berguru kepada Prof Richard Musgrave tentang public finance. Ia juga menyukai Francis Fukuyama dalam buku The Great Disruption, seperti kekagumannya terhadap tulisan dan buku Kenneth Galbraith seperti The Affluent Society. Saya rada yakin Ciil hafal titik koma isi buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal tahun 2000, ia berteman dengan Prof Paul Krugman, kolumnis ekonomi The New York Times, dan profesor ekonomi dari Princeton. Ciil bahkan mengundang Krugman dua kali datang ke Indonesia untuk berceramah bersama antara lain Marie Pangestu. Ia juga menyukai pikiran ”kiri” Richard Robinson, seperti halnya ia tertarik dengan jalan pikiran Hal Hil dan Ann Booth dari Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup banyak mazhab dalam ilmu ekonomi yang membuat Ciil menatap kagum meski ia mungkin berbeda pendapat dengan sejumlah mazhab itu. Baginya yang terpenting bukan mempelajari perbedaan yang ada, tetapi mengupayakan bagaimana mengelola perbedaan itu bagi kepentingan pembuatan kebijakan publik. Lima tahun terakhir, pemikirannya banyak dipengaruhi pemenang hadiah Nobel Ekonomi Amartya Sen. Hampir semua buku Amartya dikoleksi dan dibaca berulang-ulang, diulas, dikomentari, dan didiskusikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, Ciil amat mencintai dunia akademis. Ia menyukai peran sebagai dosen dan penulis. Setiap kali ada ide menarik, ia ingin segera melukiskannya. Ide itu dapat datang kapan saja dan di mana saja. Biasanya ia mendikte ide itu langsung dari tempat dia berada: dari mobil, restoran, atau dari Bakoel Coffee, tempat favoritnya untuk minum kopi pada sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ilustrasi saat Ciil menelepon Poppy, sekretarisnya, ”Hallo Poppeke, di mana posisi? di kantor? Ok, tolong segera di komputer, aku mau dikte–cepetan! Jangan lebih lama dari 5 menit. Siap? Sekarang aku mulai….” Mulailah ide keluar seperti air mancur. Begitu selesai: ”Ada yang terlewat Pop? Ok kan semua? Tolong print out-kan ya. Aku balik kantor satu jam lagi….” Begitu Ciil kembali ke kantor, draf tulisan sudah siap dikoreksi. Ciil sendiri tidak pandai mengetik meski amat ingin karena jari-jari tangannya lebih besar daripada tuts komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan itu indah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat air mengalir, Ciil adalah sebuah mosaik. Bermacam ide, pikiran, dan aktivitas menjadi satu dalam tubuhnya yang subur. Ia memiliki karakter yang saya sebut ”pluralistik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ciil, semua orang adalah sama dan perbedaan bukan untuk dipertentangkan, dikelola saksama. Perbedaan itu indah karena membentuk berbagai corak dan warna dalam suatu sinergi yang serasi. Ia sering mengutip istilah dari sahabatnya, Rocky Gerung, yang mengatakan, orang diukur berdasarkan ”ayat konstitusi” dalam suatu negara demokratis. Bukan dari ”ayat- ayat suci”. Bagi Ciil, agama adalah sesuatu yang teramat suci yang tidak boleh ditransaksikan secara politik. Hubungan seseorang dengan pencipta-Nya adalah sesuatu yang amat pribadi dan sakral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikapnya yang amat mendukung kemajemukan inilah yang kemudian mendorong Ciil membangun Partai Perjuangan Indonesia Baru pada tahun 2002, selain pemahaman tentang pentingnya kemakmuran ekonomi berlandaskan keadilan sosial, seperti pemikiran Amartya Sen. Dengan mesin politik ini, menurut Ciil, teman-teman yang sepaham mau dan bersedia keluar dari ”sarang nyaman” (comfort zone) untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dan berkeadilan. Pada Pemilu 2004, ia memberikan kesempatan bagi kaum perempuan dan minoritas Tionghoa untuk menduduki kursi nomor 1 dan 2. Hingga tak mengherankan, anggota-anggota DPRD 1 dan 2 Partai PIB banyak yang perempuan dan Tionghoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciil adalah anak tunggal dari keluarga yang ayah-ibunya bercerai. Pengalaman pahit masa kecil begitu membekas sehingga membuat dia bertekad untuk membangun keluarga yang bahagia. Saya dan anak-anak betul- betul dilimpahi kasih sayang dan perhatian dengan segala kelucuan dan kekonyolan khas Ciil. Baginya, keluarga adalah segala-galanya. Ciil menjadi guru dan mentor utama bagi pendidikan kedua anak kami: Pandu dan Gita. Ia melatih anak-anak berdebat dan berdiskusi sejak kecil. Setiap tahun sambil berlibur, ia melakukan swot meeting dengan anak- anak dan saya. SWOT adalah S: strength (kekuatan), W: weakness (kelemahan), O: opportunities (kesempatan) dan T: threat (ancaman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam swot meeting, ia membahas berbagai hal dengan anak- anak, mulai soal di sekolah sampai pergaulan anak muda. Ciil juga membuka diri untuk dikritik secara terbuka oleh anak-anak. Saya ingat, kritik anak-anak kepada Ciil setiap tahun adalah ”ayah terlalu gemuk”, ”ayah terlalu mau ngatur semua”, atau ”ayah kayak kepala suku, semua orang mau diurusin”, atau saat anak- anak mulai besar, mereka bilang ”ayah terlalu baik dan terlalu percaya bahwa semua orang seperti ayah....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sesudah anak-anak besar dan menempuh studi S-2, ia juga mengeluh kepada saya bahwa anak-anak, terutama Gita, amat pandai mendebat dan dia sering kewalahan menjawab. Saya menangkap ada rasa bangga di dalamnya. Berulang kali dia sampaikan, saat kami duduk berdua berbincang-bincang, bahwa sebetulnya tidak ada lagi yang dia cari dalam hidupnya. Bagi Ciil, achievement dia yang terbesar adalah keberhasilan dari pendidikan dan pembentukan karakter kedua anak kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air itu berhenti mengalir pada Senin, 28 Juni 2008, pukul 09.08 di Rumah Sakit Mt Elizabeth, Singapura. Jam Ciil berhenti berdetak. Perjuangannya melawan sakit yang tiba-tiba datang menyergap usai sudah. Wajahnya tenang dan damai dalam pelukan kami: Pandu, Abdul (calon menantu), dan saya, seolah berkata: ”… aku mengalir terus dalam jiwa dan semangat, dalam cita-cita dan pengharapanku….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat puluh hari kau telah meninggalkan kami. Selamat jalan Ciil….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kartini Sjahrir Istri (alm) Dr Sjahrir;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Antropolog lulusan Boston University, AS; Ketua Umum Partai PIB&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-2561216721353893318?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/2561216721353893318/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=2561216721353893318' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/2561216721353893318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/2561216721353893318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/09/ode-untuk-ciil-suamiku.html' title='Ode untuk Ciil, Suamiku'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-4736149094868991059</id><published>2008-08-18T19:47:00.000+07:00</published><updated>2008-08-18T19:50:23.844+07:00</updated><title type='text'>Ramadhan KH</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan Kartahadimadja atau Ramadhan KH lahir di Bandung, 16 Maret 1927. Hari Kamis, 16 Maret 2006, tepat pada ulang tahunnya yang ke-79, beliau berpulang ke pangkuan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berkarir sebagai penulis dan sastrawan, Ramadhan KH juga pernah menggeluti dunia kewartawanan. Ia pernah menjadi redaktur majalah Kisah, redaksi Mingguan Siasat dan Siasat Baru. Ia juga pernah bekerja untuk Kantor Berita Nasional Antara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Almarhum dikenal sebagai seorang penulis yang produktif. Ia mulai menulis sejak masih SMA dan sampai kini sudah sekitar 30 judul buku yang telah ia tulis, baik sendiri maupun bersama beberapa orang. Ayah musisi Gilang Ramadhan ini dikenal mempunyai banyak keahlian dalam bidang penulisan mulai dari puisi, novel, budaya, dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ia juga dipuja sebagai penulis biografi yang andal. Ia dianggap mampu menghidupkan kembali riwayat hidup orang-orang terkenal di Indonesia. Sebagai seorang penulis biografi, ia dikenal pertama kali pada tahun 1981 lewat bukunya yang berjudul Kuantar ke Gerbang, Kisah Cinta Ibu Inggit Gamasih dengan Bung Karno. Setelah itu ia menulis riwayat beberapa tokoh lain seperti Dewi Dja, Ali Sadikin, Soemitro, Hoegeng Imam Santoso, Didi Kartasasmita, Kemal Idris, Soekarno, dan Soeharto. Atas sekitar 20 karyanya tentang tokoh-tokoh di Indonesia itu, Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI), mengangkatnya sebagai angggota kehormatan pada tahun 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain buku-buku biografi, karya sastra yang terkenal dari almarhum adalah Ladang Perminus dan Royan Revolusi. Ladang Preminus bahkan menggaet hadiah SEA Write Award tahun 1993. Dalam bidang sastra ini, Ramadhan KH sering dikelompokkan dalam sastrawan Angkatan 66. Almarhum pernah aktif di Dewan Kesenian Jakarta sampai tahun 2003. Ia juga pernah terlibat dalam pertemuan sastra antargenerasi beberapa tahun lalu yang mempertemukan sastrawan-sastrawan papan atas di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2003 ia ikut isterinya, Salfrida Nasution ke Cape Town, Afrika Selatan, di mana sang isterinya bertugas sebagai Konsul Jenderal. Namun semenjak tahun 2005, Ramadhan KH menderita sakit kanker prostat. Akhir 2005 lalu ia dirawat di sebuah rumah sakit di Cape Town dan kesehatannya tidak membaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salfrida merupakan isteri kedua almarhum setelah pernikahannya yang pertama dengan Pruistin Atmadjasaputra (meninggal akibat penyakit kanker). Dengan alm. Pruistin Atmadjasaputra, Ramadhan KH dikarunia anak Gumilang dan Gilang Ramadhan, yang terakhir dikenal sebagai seorang musisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-4736149094868991059?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/4736149094868991059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=4736149094868991059' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/4736149094868991059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/4736149094868991059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/08/ramadhan-kh.html' title='Ramadhan KH'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-8887164612675171721</id><published>2008-07-19T17:58:00.002+07:00</published><updated>2008-07-19T18:09:06.348+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="txtartikelcetak"&gt;       &lt;!--zoom image--&gt;  &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;            &lt;div id="boximartikelcetak1"&gt;   &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" height="200" width="300"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2008/07/18/2901380p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" height="224" width="300" /&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;    &lt;td&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;          &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="txfotocetak"&gt;    EPA/STR / &lt;a href="http://www.kompasimages.com/" target="_blank"&gt;Kompas Images&lt;/a&gt;    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="txfotocetak"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="txfotocetak"&gt;    Mandela   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;    &lt;/div&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;          &lt;span class="tglct"&gt;Jumat, 18 Juli 2008 | 03:00 WIB&lt;/span&gt;  &lt;div id="article_body"&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;Oleh &lt;strong&gt;DIAH MARSIDI&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan, Nelson Mandela—yang memang hanya mencalonkan diri satu kali—membawa masuk sebuah masyarakat multirasial, demokratis, yang masih tetap damai dan kuat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, bukan hanya masanya memerintah itu yang membuat dia begitu dikagumi, begitu dicintai, begitu dihormati, dan begitu didengar sebagai pemimpin. Karyanya merentang sepanjang hidup dan itu bukan masa yang singkat. Hari Jumat (18/7) ini, dia berulang tahun ke-90.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya merasa Madiba adalah salah satu hal terbaik yang bisa terjadi bagi negara,” kata Faith van de Heever, seorang perempuan kulit putih Afrika Selatan yang melatih olahraga rugby pada anak-anak muda kulit hitam negara itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Madiba adalah nama klan Mandela, yang menjadi panggilan kesayangan rakyat Afrika Selatan bagi Rolihlahla Dalibhunga yang mendapat nama Inggris, Nelson, dari guru sekolahnya itu. Pendapat pelatih rugby itu mewakili perasaan banyak anak bangsa yang disebut bangsa pelangi tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ikon anti-apartheid itu sudah jarang muncul di muka umum. Mandela dengan bergurau mengatakan, dia telah ”pensiun dari masa pensiun”. Dia juga tidak banyak memberi komentar mengenai berbagai isu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada ulang tahunnya yang ke-89, Mandela memang merayakannya dengan mengumumkan pembentukan sebuah ”dewan para tetua”. Itu adalah tempat para sesama pemenang Hadiah Nobel, politisi dan tokoh pembangunan mengumpulkan kebijaksanaan dan pengaruh mereka untuk menangani krisis global. Sejak itu, para tetua tersebut sudah mendatangi Darfur dan Timur Tengah, tetapi Mandela tidak ikut pergi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah mengubah negaranya dengan begitu mendalam selama pemerintahannya, Mandela meninggalkan panggung itu, memberi kesempatan bagi pemimpin-pemimpin yang lebih muda. Namun, Afrika Selatan dan dunia tampaknya enggan membiarkannya memudar dalam masa pensiun. Tiap kali krisis terjadi, rakyat Afrika Selatan ingin mendengar apa kata Mandela.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya ingin pemimpin besar ini untuk kembali,” kata Stephen Miller, seorang komponis. ”Itu nostalgia yang luar biasa.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selama bertahun-tahun, Mandela tidak memberikan wawancara. Pendapat mengenai peristiwa dunia semakin dia serahkan kepada pejabat-pejabat yayasan yang dibentuknya saat pensiun. Bulan lalu, ketika dia berkomentar mengenai Presiden Zimbabwe Robert Mugabe, dia melakukannya pada sebuah jamuan makan malam pribadi di London. Komentarnya itu lalu disampaikan ke dunia luar oleh para pembantunya, dan tampak lunak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Delapan pelajaran&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Madiba yang dipenjara selama 27 tahun karena menentang rezim apartheid itu telah menetapkan tempatnya dalam sejarah sebagai seorang negarawan besar dunia. Karena itu, dunia seperti tidak mau membiarkannya menghilang dalam masa pensiun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia muncul pada sebuah konser musik rock di London untuk menyambut ulang tahunnya, Juli ini. Tokoh berbadan tinggi yang tampil dengan penuh wibawa ketika keluar dari penjara 18 tahun lalu, kini tampil ringkih, berjalan perlahan digandeng istrinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dunia diingatkan bahwa dia berusia 90 tahun. Masa pengabdian yang begitu lama dari pemimpin moral ini memberikan berbagai pelajaran bagi dunia. Bagi yang ingin belajar, Richard Stengel, editor pelaksana majalah Time, yang pada tahun 1990-an selama dua tahun bekerja dengan Mandela untuk mempersiapkan otobiografi Bapak Bangsa Afrika Selatan itu, Long Walk to Freedom, merangkum delapan pelajaran kepemimpinan dari Mandela. Beberapa dari pelajaran itu disebutkan di sini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Keberanian bukannya ketiadaan rasa takut—tetapi mengilhami orang-orang lain untuk bergerak melewati (rasa takut) itu.” Stengel menyebutkan, Mandela kerap takut semasa perjuangan bawah tanahnya, semasa pengadilan yang membuatnya dipenjara, dan selama ditahan di Pulau Robben.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Tentu saja saya takut!” katanya kepada Stengel kemudian. Tetapi seorang pemimpin, menurut dia, tidak bisa memperlihatkan rasa takut itu. Dengan tampil tanpa takut, dia menginspirasi orang-orang lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Pimpinlah dari depan—tetapi jangan tinggalkan basis Anda.” Menurut Cyril Ramaphosa yang pernah menjadi Sekjen African National Congress, partai Mandela, pemimpin itu membawa basis dukungannya bersama, dan begitu sampai di tempat tujuan membiarkan mereka untuk terus maju.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mandela, katanya, bukanlah jenis pemimpin ”permen karet”, yang ”habis manis sepah dibuang”. Pelajaran ini mengingatkan kita pada pelajaran Ki Hajar Dewantara, ”Ing Ngarso sung Tulodo”. ”Pimpin dari belakang —dan biarkan orang-orang lain percaya mereka berada di depan.” Mandela, menurut Stengel, sering mengenang masa kanak-kanaknya ketika dia menggembala ternak. ”Anda tahu,” katanya, ”Anda hanya bisa memimpin mereka dari belakang.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Menetapkan arah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam sejarah Afrika, hanya sedikit pemimpin terpilih secara demokratis yang mau mundur dari jabatan. Mandela bertekad membuat contoh yang akan diikuti pemimpin selanjutnya. Dia adalah kebalikan dari Mugabe, dengan menjadi orang yang membawa kelahiran negaranya dan menolak untuk menyanderanya. Dia hanya mau memegang satu kali masa jabatan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Tugasnya adalah menetapkan arah,” kata Ramaphosa, ”bukan mengemudikan kapalnya”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Konon, kunci untuk mengerti Mandela adalah 27 tahun masanya dipenjara. Ketika masuk ke Pulau Robben tahun 1962, dia adalah seorang pria emosional, keras kepala, dan mudah tersinggung. Ketika keluar dari penjara itu, dia muncul sebagai lelaki yang imbang dan berdisiplin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Stengel kerap menanyakan bagaimana pria yang keluar dari penjara itu begitu berbeda. Mandela, katanya, membenci pertanyaan itu. Akhirnya suatu hari dia menjawab, ”Saya keluar sebagai orang dewasa.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mandela akan merayakan ulang tahunnya hari Jumat ini secara pribadi dengan keluarga di Qunu, desa masa kecilnya, 1.000 kilometer selatan Johannesburg. Di tempat ini, dia membangun sebuah replika dari rumah di mana dia ditahan sebentar, setelah dipindahkan dari penjara Pulau Robben.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jumat ini dia juga akan merayakan 10 tahun pernikahannya dengan Gracia Machel. Orang-orang yang dekat dengan Mandela mengatakan, pasangan itu sangat saling mencintai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam sebuah wawancara dengan CNN menyambut ulang tahun Mandela, sang istri mengatakan, satu-satunya penyesalan yang dimiliki Mandela adalah tidak sempat memberi masukan bagi perkembangan anak-anak karena dia dipenjara semasa anak-anaknya tumbuh besar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika ditanyakan apakah usia tua membuat Mandela yang pejuang itu frustrasi, istrinya mengatakan, satu-satunya hal yang membuat Mandela frustrasi adalah berjalan. ”Kala dia berusaha, dia merasa, seperti menurutnya, seakan-akan lututnya tidak mau bekerja sama.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Gracia, Mandela adalah orang yang sangat nyaman dengan dirinya, sangat bahagia dengan dirinya. Pada ujung hidupnya, kata Gracia, Mandela menyadari, walau tidak mengungkapkannya, dia mencapai hal-hal yang dulu ditetapkannya sebagai tujuan hidupnya.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-8887164612675171721?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/8887164612675171721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=8887164612675171721' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/8887164612675171721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/8887164612675171721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/07/mandela-berjuang-hingga-usia-90-tahun.html' title=''/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-2980611851726460883</id><published>2008-07-16T12:46:00.001+07:00</published><updated>2008-07-16T12:46:57.572+07:00</updated><title type='text'>Bill Gates</title><content type='html'>&lt;table border="0" width="453"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;th class="style1" scope="col" width="335"&gt;&lt;div align="left"&gt;Selasa, 03 Juni 2008&lt;br /&gt;                      &lt;span class="style4"&gt;Bill  Gates:&lt;br /&gt;Rahasia  Garis Tangan  dan Batik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                    &lt;em&gt;Percaya atau tidak, garis tangan orang-orang  kaya, pemimpin, memang beda&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/th&gt;                   &lt;/tr&gt;                   &lt;tr&gt;                     &lt;th scope="col"&gt; &lt;/th&gt;                     &lt;th colspan="2" scope="col"&gt;&lt;div class="style1" align="left"&gt;                       &lt;p&gt;&lt;strong&gt;USAI  &lt;/strong&gt;krisis 1998  lalu,  jika Anda perhatikan sebuah iklan sehalaman di majalah-majalah utama, ada jasa yang  menawarkan membuat rajah  atau garis di telapak tangan. Reporter &lt;strong&gt;&lt;em&gt;REPORTASE Investigasi (RI)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; pernah mencoba  memverifikasinya.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;Sosok pengusaha pembuat garis tangan itu, tidak banyak memberikan rumusan. Jika Anda datang kepadanya, tangan  tidak digores apa-apa. Ia hanya menjelaskan foto-foto garis tangan tokoh dan orang kaya dunia.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;Setelah membayar Rp 2,5 juta, pengusaha jasa garis tangan itu memberikan sebuah tas berisi obat kutil (membuat kutil rontok), dua buah buku motivasi dan sebuah kawat penjepit - - tepatnya pengganjal jari  tengah  - - agar dipakai rutin. Malam hari sebelum tidur jari tangan diganjal, lalu dioles obat kutil di bagian yang diinginkan, khususnya garis untuk jari manis, sehingga  dalam sebulan dapat terbentuk  sebuah garis lurus.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;Garis lurus yang tegas di telapak tangan, terutama tangan kiri ke arah jari manis, konon menjadi petunjuk bahwa seseorang punya peruntungan kaya.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;Percaya atau tidak Anda, perhatikan foto jepretan Sekretariat Presiden yang menampilkan sosok  Bill Gates, dan terjepret telapak tangannya sebagaimana tampak di foto.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;                        Kendati &lt;strong&gt;&lt;em&gt;RI&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  berada di  baris kursi ke empat, di belakang deretan kursi yang ditempati rombongan Menteri di saat Bill Gates memberikan kuliah di Balai Sidang Senayan, Jakarta,   pada 9 Mei 2008 lalu, garis tangan itu tidak tidak terperhatikan. Namun ketika melihat  foto Bill Gates ini, tak terbantahkan sebuah garis tangan ke arah jari manisnya tajam menggaris.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;                        “Pada  ulang tahun ke tujuh belas, orang tua saya sudah memberi hadiah personal &lt;em&gt;computer&lt;/em&gt;,”  ujar Gates di &lt;em&gt;event&lt;/em&gt; itu. Ia memberi kuliah bertema:  &lt;em&gt;Second Digital Decade.&lt;br /&gt;                        &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dua ribu lima ratus orang mengikuti kuliahnya.  Belum pula  jutaan pemirsa  menyimak lewat televise.. Tepukan tangan berkali-kali dalam acara yang dihadiri Presiden SBY itu.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;Di luar isi presentasi  serius,  selain ihwal garis tangan itu, ada hal menarik yang membuat orang terpesona melihat Bill Gates: baju batik yang dikenakannya. Gara-gara baju batik Bill Gates ini, Presiden SBY pun mengganti kostumnya, dari jas lengkap berdasi ketika pertama datang,  menjadi berbatik lengan panjang ungu.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;Menurut panitia seharusnya Gates mengenakan pakaian resmi: jas dan berdasi. Tapi, perubahan mendadak  terjadi.  Ternyata ada tawaran lain yang membuat Bill Gates tertarik mengubah kostumnya dan memilih mengenakan baju batik.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;                        Adalah  Rachmat Gobel, pimpinan  &lt;em&gt;Panasonic&lt;/em&gt;, yang mempunyai inisiatif menawarkan baju batik kepada Bill Gates. Ia menerima tawaran Rachmat. Setelah menghubungi desainer batik kondang, Iwan Tirta, tanpa basa-basi, desainer batik itu pun memilihkan baju batik untuk Bill Gates.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;                        Batik  warna keemasan dengan motif  &lt;em&gt;pisang  bali manggar&lt;/em&gt; dirasa sangat cocok untuk Gates. Motif itu  sering dipakai oleh para anggota kerajaan  Mangkunegaran, Solo.&lt;br /&gt;                         &lt;br /&gt;Oleh Iwan Tirta, baju batik itu lantas diberikan kepada Rachmat Gobel untuk selanjutnya diserahkan kepada Bill Gates. Dan  Bill Gates benar-benar mengenakannya. Ia pun mempesona. Banyak pejabat dan politisi, serta jajaran pengurus anggota Kadin Indonesia yang hadir mengenakan pakaian jas.&lt;br /&gt;                         &lt;br /&gt;                          Dan  mereka yang berjas itu, bisa dipastikan garis tangannya berbeda dengan Gates. &lt;strong&gt;(NP)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;                       &lt;/div&gt;&lt;/th&gt;                     &lt;/tr&gt;                 &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-2980611851726460883?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/2980611851726460883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=2980611851726460883' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/2980611851726460883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/2980611851726460883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/07/bill-gates.html' title='Bill Gates'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-6497872719734778156</id><published>2008-07-16T12:45:00.001+07:00</published><updated>2008-07-16T12:45:47.524+07:00</updated><title type='text'>Anwar Nasution</title><content type='html'>&lt;table border="0" width="453"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;th scope="col" width="10"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/th&gt;                     &lt;th scope="col" width="92"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;img src="http://www.reportaseinvestigasi.com/images/img_anwar-nasution.gif" height="62" width="91" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/th&gt;                     &lt;th class="style1" scope="col" width="0"&gt;&lt;div align="left"&gt;Jumat, 06 Juni 2008&lt;br /&gt;                        &lt;span class="style7"&gt;Aliran Dana BI:                            Bermula dari BPK, Mengapa Anwar  Nasution Tidak Disentuh?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                    &lt;/div&gt;&lt;/th&gt;                   &lt;/tr&gt;                   &lt;tr&gt;                     &lt;th scope="col"&gt; &lt;/th&gt;                     &lt;th colspan="2" scope="col"&gt;&lt;div class="style1" align="left"&gt;                       &lt;p&gt;&lt;strong&gt;ALIRAN&lt;/strong&gt; dana Bank Indonesia Rp100 miliar berawal dari laporan BPK yang ditandatangani oleh Ketua BPK Anwar Nasution. Laporan dengan nomor 115/S/I-IV/11/2006 itu dikirim ke KPK pada 14 November 2006. Yang dia laporkan adalah kasus di mana dirinya menjadi bagian sebagai Deputi Senior Gubernur BI.&lt;br /&gt;Dalam laporan itu disebutkan, melalui rapat Dewan Gubernur BI pada 3 Juni 2003 diputuskan meminta YPPI menyediakan dana sebesar Rp100 miliar untuk dua keperluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keperluan pertama, pencairan dana Rp 68,5 miliar untuk membantu proses hukum kasus Bantuan Lilkuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang melibatkan lima mantan dewan gubernur dan mantan direksi BI, juga melalui sejumlah cek berdasarkan keputusan rapat Dewan Gubernur BI pada 22 Juli 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana bantuan hukum itu diberikan kepada Soedrajad Djiwandono (mantan Gubernur BI), Iwan R Prawiranata (mantan Deputi Gubernur BI), Heru Soepratomo (mantan Deputi Gubernur BI), Hendrobudiyanto (mantan direksi BI), dan Paul Sutopo (mantan direksi BI).&lt;br /&gt;Mereka terjerat hukum dalam kasus BLBI, kredit ekspor, dan kasus lainnya sehubungan dengan penanganan krisis ekonomi 1997-1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dana sebesar Rp31,5 miliar diserahkan kepada Komisi IX DPR periode 1999-2004 untuk pembahasan dan diseminasi sejumlah UU tentang BI. Hasil audit menyebutkan dana untuk Komisi IX DPR periode 1999-2004 dicairkan melalui tujuh cek yang dikeluarkan bertahap mulai 30 Juni hingga 8 Desember 2003.&lt;br /&gt;Pencairan melalui tim sosialisasi yang terdiri atas tiga pejabat BI, yakni Oey Hoey Tiong yang saat itu menjabat deputi direktur direktorat hukum, Rusli Simanjuntak (kepala biro gubernur), dan Asnar Ashari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cek dari YPPI No EB 033262 senilai Rp2 miliar diterima Oey Hoey Tiong dan Asnar Ashari pada 27 Juni 2003 dan dicairkan pada 30 Juni 2003.&lt;br /&gt;Cek No EB 033263 senilai Rp5 miliar diterima Oey Hoey Tiong dan Asnar Ashari pada 2 Juli 2003 dan dicairkan pada hari yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cek No EB 033264 senilai Rp0,5 miliar diterima Oey Hoey Tiong dan Asnar Ashari pada 2 Juli 2003 juga dicairkan pada hari itu juga.&lt;br /&gt;Selanjutnya, cek No EB 033270 senilai Rp7,5 miliar diterima Rusli Simanjuntak dan Asnar Ashari 23 Juli 2003 langsung dicairkan pada hari yang sama.&lt;br /&gt;Setelah itu cek No EB 033570 senilai Rp3 miliar dan cek No EB 033508 senilai Rp7,5 miliar diterima Rusli Simanjuntak dan Asnar Ashari pada 17 September 2003 dan dicairkan pada 18 September 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah itu, cek No EB 033515 senilai Rp6 miliar diterima Rusli Simanjuntak dan Asnar Ashari pada 4 Desember 2003 dan dicairkan pada 8 Desember 2003.&lt;br /&gt;Menurut pengakuan Oey Hoey Tiong dan Rusli Simanjuntak, setelah tujuh cek senilai Rp31,5 miliar itu dicairkan, langsung diserahkan ke DPR. Pencairan tersebut merupakan realisasi hasil keputusan rapat Dewan Gubernur BI pada 3 Juni 2003.&lt;br /&gt;Dewan Gubernur BI saat itu adalah Burhanuddin Abdullah (Gubernur BI), Anwar Nasution (deputi gubernur senior), dan Deputi Gubernur BI Aulia Pohan, R Maulana Ibrahim, Maman H Somantri, Bun Bunan EJ Hutapea, dan Aslim Tadjuddin.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;Setelah setahun menerima surat temuan BPK tersebut, KPK baru mengeluarkan surat pemberitahuan dimulainya penyelidikan (SPDP) pada September 2007. Diikuti pemeriksaan sejumlah pejabat dan mantan pejabat BI yang diduga mengetahui aliran dana tersebut.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;Hasil audit BPK itu menunjukkan secara nyata bahwa telah terjadi gratifikasi dalam kasus aliran dana BI. Karena, sudah ditemukan pihak pemberi dan tujuan atau motivasi pemberian itu kepada para anggota DPR yang sedang melakukan revisi UU BI.&lt;br /&gt;Menurut Ihsanudin Noorsy, saat berbicara dalam forum “Pertaruhan Kredibilitas Bank Indonesia”  dengan dilakukannya audit forensik  maka akuntabilitas aliran dana dapat diketahui secara jelas.&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt;“Duduk permasalahannya juga jadi proporsional, tidak jadi fitnah dan tidak ada tudingan ini dipakai untuk kepentingan pribadi dan sebagainya,” katanya. Belum meratanya pihak-pihak yang ditahan KPK kini juga menjadi tanya, ke mana bola&lt;br /&gt;hendak digelindingkan KPK? Tersangka dari DPR baru Anthony Z. Abidin dan Hamka Yandhu. Sedang dari pihak Bank Indonesia, sudah ditahan Burhanudin Abdullah, Mantan Gubernur BI; Oey Hong Tiong, Mantan Direktur Hukum; dan Rusli Simanjuntak, Kepala Biro Komunikasi.Lebih ajaib, keputusan mengalirkan dana ternyata adalah sebuah keputusan kolektif Gubernur BI. Bahkan Anwar Nasution, saat itu, menjabat sebagai deputi gubernur senior. Sehingga kasus ini bagai “berendamnya  &lt;em&gt;bareng&lt;/em&gt;, tetapi ada  saja yang bermandikan air seakan  tidak  kuyup badannya”.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;Sikap Komisi XI DPR yang memilih Hartadi sebagai sosok berintegritas, tentu membuat publik bertanya. Ketua Komisi Keuangan dan Perbankan (Komisi XI) Awal Kusumah, Selasa (13/5) malam di Jakarta, menjelaskan, 35 anggota Komisi XI yang hadir sepakat memilih kembali Hartadi untuk memangku jabatannya dalam lima tahun ke depan.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;Hartadi, lelaki kelahiran tahun 1952, sebelumnya memegang jabatan tersebut untuk periode 2003-2008. Hartadi bersama Direktur Eksekutif IMF Perry Warjiyo dicalonkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengikuti uji kelayakan dan kepatutan di DPR. Langkah mengusulkan figur IMF ini pun mengeraskan dugaan bahwa pemerintah SBY memang mendapatkan tekanan kencang dari  IMF, dalam mendudukkan figur-figur di Bank Indonesia - - termasuk sebagai strategi mengharapkan dukungan bagi pemerintahannya  di periode mendatang.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;Sayang sekali, bila dari kasus BI ini, publik kebanyakan hanya diberi tontonan bahwa dunia seakan panggung sandiwara. Bukan dunia riil penegakan hukum secara utuh; bahwa  mereka yang bersalah secara kolektif  secara keseluruhan  mempertanggung jawabkan kesalahan.• &lt;/p&gt;                       &lt;/div&gt;&lt;/th&gt;                     &lt;/tr&gt;                 &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-6497872719734778156?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/6497872719734778156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=6497872719734778156' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/6497872719734778156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/6497872719734778156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/07/anwar-nasution.html' title='Anwar Nasution'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-1263548907760275995</id><published>2008-07-16T12:33:00.001+07:00</published><updated>2008-07-16T12:33:52.498+07:00</updated><title type='text'>Paskah Suzetta</title><content type='html'>&lt;table border="0" width="453"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;th scope="col" width="94"&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;img src="http://www.reportaseinvestigasi.com/images/img_paskah.gif" height="61" width="91" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/th&gt;                     &lt;th class="style1" scope="col" width="335"&gt;&lt;div align="left"&gt;Selasa, 03 Juni 2008&lt;br /&gt;                            &lt;span class="style7"&gt;"Puasa Bicara" Ala                              Paskah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                      &lt;em&gt;Adalah hak sumber berita tak bicara. Namun aliran dana BI, terindikasi mengalir  ke hampir semua anggota Komisi IX DPR (1999-2004), langkah mengkonfirmasi menjadi penting sekali.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/th&gt;                   &lt;/tr&gt;                   &lt;tr&gt;                     &lt;th scope="col"&gt; &lt;/th&gt;                     &lt;th colspan="2" scope="col"&gt;&lt;div class="style1" align="left"&gt;                       &lt;p&gt;Saya ke Bappenas untuk mengkonfirmasi Paskah Suzetta,  terkait bergulirnya Rp 31,5 miliar dana Bank Indonesia. Konfirmasi dibutuhkan karena Paskah - - kala dana digelontorkan BI bagi desiminasi dan  kalangan anggota DPR - -  menjabat sebagai Ketua Komisi IX DPR (sebelum akhirnya diangkat sebagai Kepala Bappenas, menggantikan Sri Mulyani yang “hijrah” menjadi Menteri Keuangan sejak 2005).&lt;br /&gt;Begitu pintu dibuka, terlihat ruang tunggu bagi tamu yang ingin menemui Paskah. Tiga lelaki tampak duduk di ruang tunggu tersebut. Seorang berkacamata, bertubuh jangkung, dan bertampang klimis bertanya, “Cari siapa?”&lt;br /&gt;                        Saya  menunjukkan kartu identitas seraya menjelaskan ringkas keinginan  mengkonfirmasi  Paskah.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;  “Oh…  silakan. Saya juga tamu di sini, ” ujar   pria itu.&lt;br /&gt;Seorang perempuan langsing berkacamata tampak duduk di meja dekat pintu masuk. Ia tampak menatap heran. Tetapi setelah  memperlihatkan kartu identitas, perempuan - - yang ternyata sekretaris Ketua Bappenas - - menjelaskan dengan santun bahwa Paskah sedang rapat. Usai rapat, Paskah juga langsung bertolak ke Bandara Soekarno-Hatta mengikuti rombongan Presiden Yudhoyono.&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt;Saya menjelaskan kepada sekretarisnya, Paskah sudah dihubungi via telepon genggamnya, tetapi ia tidak mengangkat. Mungkin karena rapat. Saya lantas mengirim sms dua kali ke Paskah.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;                        Bunyi  sms pertama: &lt;em&gt;Slamat siang, Pak Paskah Suzetta. Sy didik dr tabloid Reportase  investigasi mau konfirm soal UU BI. Sy di kantor Bapak. Kapan Bapak ada waktu wawancara? Tabik.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;                        Bunyi  sms kedua: &lt;em&gt;Jika ada waktu Pak Paskah, 2-3 menit pun memadai. Tabik&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Di ruang tunggu, lelaki klimis berkacamata tampak duduk. Melihat saya, ia mengangguk tersenyum. Ia  mengisap sebatang rokok. Abunya ia buang begitu saja di rimbunan bunga plastik yang dipajang di meja kaca.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;Kemudian ia  mematikan api rokoknya ke rimbunan bunga plastik. Lantas ia memasuki ruang kerja Paskah. Dari cara berjalannya yang tegas dan mantap, tampaknya ia sudah terbiasa memasuki ruang kerja tersebut.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;Saya mencoba keluar ruang menunggu di pelataran parkir. Lantas seorang lelaki bertubuh tambun; berkacamata, dan berkemeja putih tampak ke luar dengan langkah cepat dari gedung utama. Ia melambaikan tangan ke arah saya.&lt;br /&gt;  ”Pak  Didik? Dari Investigasi?”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  “Ya,”  saya mengiyakan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Saya Direktur Humas Bappenas,” ujarnya memperkenalkan diri. Kartu nama yang tergantung di dadanya memperlihatkan lelaki itu bernama “DR Maruhum”.&lt;br /&gt;Saya lantas menjelaskan, ingin mengonfirmasi Paskah dalam kasus kucuran dana (gratifikasi) dari Bank Indonesia kepada Komisi Keuangan dan Perbankan DPR (Komisi IX) periode 1999-2004. Komisi inilah membahas amandemen UU BI dan penyelesaian masalah Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;Kasus di atas telah membuat Antony Zeidra Abidin (mantan anggota DPRKomisi IX) dan Hamka Yandhu (anggota DPR kini di komisi XI) ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), setelah ditetapkan sebagai tersangka. Pada saat kejadian Antony dan Hamka masih menjadi anggota Komisi IX DPR. . Konfirmasi pada Paskah dibutuhkan karena ia adalah Ketua Komisi IX periode 1999-2004.&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt;Saya menghubungi  Ariady Achmad via telepon. Ia mantan anggota DPR yang kini menjadi staf khusus Paskah. Saya katakan pada Ariady, saya ingin mengonfirmasi Paskah. Saya minta bantuannya agar konfirmasi  bisa dilakukan.&lt;br /&gt;                        Pagi  keesokan hari, sekitar pukul 07.00, saya kembali mengirim sms ke Paskah.  Bunyinya:  &lt;br /&gt;  &lt;em&gt;Selamat pagi, Pak Paskah. Peliputan kami mengindikasi Bapak (sbg Ketua Komisi IX DPR) terima dana dr BI. Mhn konfirm Bapak utk cover both sides. Tabik&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;   Petangnya saya menemui Paskah untuk &lt;em&gt;cover  both sides&lt;/em&gt;. Sekitar pukul 16.00, saya tiba di kantor Bappenas. Saya langsung melapor kepada dua satpam yang berjaga. Saya tunjukkan kartu pers pada keduanya. Mereka lantas mempersilahkan saya duduk di ruang tunggu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;                        Setiba  di ruang tunggu saya lantas mengirim sms: &lt;em&gt;Selamat sore, Pak Paskah. Mhn konfirm soal UU BI utk cover both sides. Sy sdh di kantor Bapak. Tabik (didik, tabloid reportase investigasi).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;Lantaran sms tidak kunjung dijawab. Saya pun menelepon Paskah. Meskipun nada panggil terdengar, tetapi Paskah tidak juga mengangkat telepon. Saat itu di ruang tunggu ada lima tamu yang antri bertemu Paskah. Empat lelaki, satu perempuan. &lt;br /&gt;                        Di  ruang tunggu, lima  tamu tadi masih terlihat sabar bertemu Paskah. &lt;/p&gt;                       &lt;p&gt;Dari  yang perempuan, saya akhirnya mengetahui, mereka adalah anggota PWI.&lt;br /&gt;Kedatangan mereka terkait Kongres PWI mendatang. Ketua PWI Tarman Azzam saat itu belum terlihat. Tetapi mereka menyatakan, Tarman berencana datang.&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian, sekretaris Paskah, mempersilakan mereka masuk. Hampir setengah jam kemudian pintu ruang tunggu terbuka, Tarman nampak bergegas masuk. Ia pun membuka pintu menuju kantor Paskah.&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt;Beda beberapa menit dengan kedatangan Tarman, muncul empat pengurus Lumbung Informasi Rakyat (Lira) dengan memakai kemeja seragam merah putih. Tak lama muncul pula, Ariady Achmad.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;                        Jika  Ariady langsung menuju ruang pertemuan maka empat pengurus Lira harus menunggu  di ruang tunggu.&lt;br /&gt;Mengingat padatnya kegiatan Paskah, saya kemudian menuliskan pertanyaan di selembar kertas yang kemudian saya berikan pada sekretaris Paskah. Saya berpesan agar pertanyaan itu diberikan kepada Paskah.&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;                        Isi  pertanyaan itu:&lt;br /&gt;                       &lt;br /&gt;                        &lt;em&gt;Yth,  Bapak Paskah Suzetta. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;                          &lt;em&gt;Mohon  Bapak memberi konfirmasi dan verifikasi soal: &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;                          &lt;em&gt;1.  Aliran dana BI yang diberikan ke DPR; mengingat 2 anggota DPR Komisi IX (th  2004) telah ditahan, se&lt;/em&gt;&lt;em&gt;dangkan Bapak, sesuai info yang  akmi terima (saat itu) menjadi Ketua Komisi IX DPR, menangani perbankan.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;                          &lt;em&gt;2. Penukaran uang kecil yang menerima penunjukan langsung dari BI. Sesuai info, di Jabar yang mendapat “proyek” adalah perusahaan Bapak. Benarkah demikian? Mohon Konfirmasi Bapak. Tabik. Didik Pambudi. Reportase Investigasi. Manggala Wanabhakti, R 212 Wing B, Senayan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;                         &lt;br /&gt;                          Ketika  rombongan PWI keluar dari ruangan Paskah, saya melihat Ariady turut mengantar  ke luar.&lt;br /&gt;                           &lt;br /&gt;Saya pun meminta Ariady menjelaskan pada Paskah bahwa saya sangat butuh konfirmasi langsung dari Paskah.&lt;br /&gt;Satu atau dua menit, tidak jadi masalah.  Tetapi Ariady menyatakan, Paskah tidak mau berbicara soal itu.&lt;br /&gt;                        Saya  katakan, saya harus menunggu Paskah hingga ia bersedia berbicara. Sepatah kata  pun jadi.&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt;Ketika Ariady kembali menemui Paskah bersama rombongan Lira, saya duduk sendiri di ruang tunggu. Para Pengurus Lira kemudian pulang. Maghrib tiba. Usai Maghrib, Deputi Ketua Bappenas kemudian masuk menemui Paskah.&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt;Sekitar seperempat jam ia berada di dalam. Ketika akhirnya ia keluar, saya lega. Tamu terakhir Paskah adalah saya. Namun ia tetap tak kunjung menerima.&lt;br /&gt;Di perjalanan pulang menuju sekretariat redaksi, saya teringat kisah Nabi Zulkifli yang puasa bicara ketika istrinya hamil; sebagai tanda syukur pada Tuhan.  Apakah Paskah juga puasa bicara dan bersyukur kepada Tuhan?&lt;br /&gt;                        &lt;br /&gt;Melalui Ariady Ahmad di kesempatan lain, menyampaikan bahwa Paskah menyangkal; dua pokok masalah, “Soal aliran dana BI, menyerahkan ke proses hukum, sedangkan penunjukan langsung perusahaan jasa penukaran uang kecil BI, untuk Jawa Barat, sama sekali tidak berkait kepada  Paskah Suzetta.” • &lt;/p&gt;                       &lt;/div&gt;&lt;/th&gt;                     &lt;/tr&gt;                 &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-1263548907760275995?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/1263548907760275995/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=1263548907760275995' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/1263548907760275995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/1263548907760275995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/07/paskah-suzetta.html' title='Paskah Suzetta'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-231333692326329863</id><published>2008-07-16T09:38:00.000+07:00</published><updated>2008-07-16T09:40:31.398+07:00</updated><title type='text'>Theo Syafii dan Transkip Pidato Anti Islam</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TENTANG HABIBIE,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;REPUBLIK AGAMA,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DAN ISLAM DI BALIK KERUSUHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengantar Redaksi&lt;br /&gt;Berikut ini adalah transkip lengkap pidato Mayjen (Pur) Theo Sjafei di hadapan aktivis gereja, yang kasetnya beredar luas di Kupang menjelang Tragedi 30 November 1998. Redaksi memperoleh kaset pidato ini dari seorang aktivis gereja Kupang. Redaksi sengaja menurunkan lengkap transkrip pidato tersebut untuk memberi gambaran utuh tentang apa saja yang telah disampaikan Theo Sjafei. Karena itu tidak ada editing redaksional yang cukup berarti dalam tulisan ini. Redasi menambahkan anak judul untuk setiap persoalan guna memudahkan pembaca mengikuti pidato yang cukup panjang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Penyebaran Agama Kristen di Indonesia&lt;br /&gt;Saudara-saudara yang saya kasihi dalam Kristus. Saya akan coba menyampaikan peta politik Indonesia sekarang ini dan menuju ke tahun depan, tahun pemilu, apabila pemerintah itu siap untuk melaksanakan pemilu. Tetapi sebelum saya sampai pada peta politik hari ini, kita kembali dulu di tahun 1511.&lt;br /&gt;Tahun 1511 Portugis mendarat di Ambon. Portugis yang mendarat di Ambon itu mendapat dua mandat, satu mandat dari Raja di Portugis, dan satu mandat dari Paus di Roma. Mandat dari Raja Portugis untuk mengambil dan memonopoli rempah-rempah. Mandat dari Paus di Roma, untuk membawa terang ke bumi wilayah yang masih gelap ini. Dan dalam membawa terang itu, manusia-manusia yang ada di Nusantara ini, apabila tidak takluk, dia dapat dibunuh. Itu adalah teologia di abad ke-15 dan ke-16.&lt;br /&gt;Karena itu, ketika Portugis datang ke sini, dia lalu melihat, bahwa di pesisir-pesisir Nusantara sudah banyak sekali terbentuk kerajaan-kerajaan kecil Islam. Kristen sampai ke Indonesia secara fisik itu di tahun 1511, ketika Portugis datang. Kita tidak tahu, mengapa Rasul Tomas itu bisa berhenti sampai 14 abad lamanya. Rasul Tomas itu sudah bergerak sampai di India. Tetapi kemudian, kekristenan itu berhenti di sana, tidak dapat menembusnya. Sedangkan Islam yang baru muncul beberapa abad kemudian, mendahului masuk ke Nusantara melalui pedagang-pedagang dari Gujarat. Malah, kekristenan itu tidak datangnya dari India, tetapi malah datangnya dari Eropa, melalui Portugis, Inggris, dan Belanda.&lt;br /&gt;Jadi, ketika Portugis tiba di sini atau kekristenan itu tiba di Indonesia, mereka menemukan raja-raja kerajaan Islam, dan kerajaan-kerajaan Islam itu yang menguasai Nusantara, lalu terjadilah pertempuran-pertempuran. Perang ini oleh Portugis dianggap sebagai pertempuran suci, perang Suci, kecuali untuk merebut rempah-rempah, juga untuk menyebarkan agama Kristen. Dulu agama Kristen disebarkan dengan perang.&lt;br /&gt;Tahun 1512 Malaka ditaklukkan oleh Portugis. Ahir tahun 1590-an Belanda datang. Belanda yang datang adalah yang sudah Protestan. Kekuatan Protestan waktu itu sedang dikejar-kejar di Eropa. Karena itu mereka lari ke Amerika. Kekuatan Protestan itu, Jerman menjadi Protestan, Belanda menjadi Protestan, negara-negara Eropa bagian Utara menjadi Protestan. Ketika mereka bertemu dengan Katolik Portugis di sini, lalu yang Protestan itu menganggap Portugis yang Katolik itu adalah musuhnya, kemudian mereka bantai Portugis itu. 15.000 orang Katolik, orang asli pribumi Katolik di Ambon, mereka habiskan dalam 1 malam. Jadi sebetulnya sejarah kekristenan itu juga bukan sejarah yang bersih dari darah.&lt;br /&gt;Amerika itu terjadi seperti sekarang ini, karena juga orang-orang Katolik. Kerajaan Katolik mengejar pengikut-pengikut Protestan Martin Luther dan Calvin. Mereka lalu lari ke Amerika. Karena itu ketika sampai di sana, ketika mereka mendirikan negara Amerika, ingatan orang-orang Amerika yang pertama, bahwa kita sampai di sini karena masalah agama.&lt;br /&gt;Karena itu negara yang kita dirikan, adalah negara yang tidak boleh mencampuri masalah-masalah agama. Negara yang tidak boleh mencampuri masalah agama ini kita kenal dengan sekuler. Amerika adalah negara yang sekular. Dia tidak mau mencampuri masalah agama. Tapi bukan anti agama.&lt;br /&gt;Jadi ada negara yang non-sekuler, dan ada negara yang sekuler.&lt;br /&gt;Saya kembali ke Belanda yang masuk ke sini. Belanda yang masuk ke sini kemudian mengalahkan Portugis, dan untuk mengalahkan Portugis, ia bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan kecil Islam. Lalu setelah Portugis bisa dia hancurkan, kemudian kerajaan-kerajaan kecil ini diadu sesama mereka, lalu kemudian jadilah mereka kekuatan yang menguasai seluruh Nusantara, karena berhasil melakukan divide et impera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Islam yang Galau dan Selalu Berontak&lt;br /&gt;Ini artinya, bahwa ketika abad ke-7, Sriwijaya menguasai Nusantara sampai ke daerah Muangthai, maka Sriwijaya menguasai Nusantara dengan filosofi dasarnya itu adalah Budha. Ketika Sriwijaya turun, naik kerajaan Majapahit yang berpusat di Singosari Jatim. Filosofi dasarnya, mereka menguasai Nusantara itu, dengan filosofi Hindu. Setelah Majapahit turun, maka yang menggantikan kekuatan Majapahit di Nusantara, filosofi berikutnya itu bukan filosofi Islam, tetapi filosofi Kristen yang dibawa oleh kolonial Belanda.&lt;br /&gt;Jadi, kaum mayoritas Islam, atau Islam itu tidak pernah memegang peran sentral di Nusantara, di Indonesia ini. Tidak pernah UU diberlakukan menurut pikiran-pikiran Islam, tetapi menurut pikiran-pikiran Kristen. KUHAP yang kita punyai, KUHP yang kita punyai, dimasa lalu, itu landasannya adalah landasan kekristenan. HAM yang kita punya, itu adalah filosofi Kristen.&lt;br /&gt;Jadi yang menggantikan Budha, Hindu, itu bukan Islam tetapi Kristen. Dan ini membuat orang Islam galau. Mengapa kami yang bagian terbesar yang hidup di Nusantara ini tidak bisa mengatur Indonesia ini dengan filosofi Islam. Kenapa Kristen yang harus menjadi. Ketika Belanda dan Jepang turun, maka yang mengganti kemudian di Indonesia itu bukan Islam, tetapi Pancasila. Sekarang ini filosofi yang kita pakai adalah filosofi Pancasila, dan ini menambah galaunya orang Islam. Kenapa bukan Islam yang dipakai. Ketika BPUPKI dibentuk oleh Jepang, ketuanya adalah RM Widijodiningrat. BPUPKI anggotanya 60 orang. Wakil ketuanya orang Jepang 2 orang. Di dalam 60 orang itu ada 5 orang Cina dan 2 keturunan Arab. Di dalamnya ada 14 atau 15 orang yang beragama Kristen Katolik dan Protestan. Ketua BPUPKI bersidang tanggal 29, 30, 31 Mei dan 1 Juni 1945 ada 46 anggota yang bicara. Prof. Dr. Soepono, pembicara yang ke-41 mengatakan: Saudara-saudara, negara Indonesia yang akan kita bangun itu haruslah negara yang mengatasi semua perorangan dan semua golongan. Negara yang akan kita bangun ini tidak boleh berdasarkan pada kekuatan golongan atau pada kekuatan kita yang terbesar. Negara ini haruslah negara yang mengatasi semua golongan dan semua perorangan. Negara ini disebut negara persatuan, negara integralistik, negara kekeluargaan. Itu salah satu bagian pidatonya Soepomo.&lt;br /&gt;Kemudian Soepomo melanjutkan, kepada yang terhormat Saudara-saudara yang menginginkan negara ini dibangun di atas dasar Islam, walaupun Islam itu bisa mengatur sebaik-baiknya kehidupan warga negaranya, tetapi tentulah, kata Soepomo, mereka agama yang kecil-kecil itu tidak pernah merasakan bahwa negara ini adalah negaranya, karena negara ini dibuat dan didasarkan atas dasar Islam. Artinya itu saudara-saudara, walaupun Islam merupakan bagian yang terbesar daripada negara kita ini, kita tidak boleh mendirikan negara ini berdasarkan Islam, tetapi kita harus membuat satu negara yang mengatasi semua golongan dan mengatasi semua perorangan, negara itu adalah negara persatuan, negara integralistik, negara kekeluargaan.&lt;br /&gt;Ini pidato yang ke-41 Prof Dr Soepomo. Bayangkan di tahun 1945 sudah ada profesor doktor dalam bidang hukum. Kemudian, pidato yang ke-46 tanggal 1 Juni adalah pidatonya Bung Karno. Karena itu, kata Bung Karno, dasar negara yang akan kita buat itu saya sebut Pancasila. Yang pertama, silanya adalah sila kebangsaan. Yang keduanya, sila mufakat. Yang ketiga, silanya adalah sila internasionalisme, kemanusiaan. Yang keempat silanya adalah keadilan sosial. Dan yang kelima silanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;Kebangsaan oleh Bung Karno ditempatkkan yang pertama, karena melihat bahwa bangsa ini perlu bersatu. Kemudian dibentuklah Panitia 5, yang dipimpin Bung Hatta. Untuk merumuskan kembali Pancasila. Di dalamnya ada dua yang Kristen, satu Maramis, satunya tokoh dari Jawa. Kemudian oleh Bung Hatta, disusunlah itu (menjadi) Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat dalam Permusyawaratan Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;Jadi dimulai Tuhan Yang Besar sekali. Kemudian, sesudah ketuhanan yang begitu besar dan tidak dapat dijangkau oleh pikiran oleh perasaan, oleh panca indera kita, diturunkan itu menjadi kemanusiaan, kemanusiaan di seluruh muka bumi, manusia sebagi satu spesies makhluk tertinggi martabatnya. Baru setelah manusia seluruh dunia itu, baru turun menjadi persatuan Indonesia. Baru kemudian dalam persatuan itu harus kita lakukan dalam kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan. Dan kemudian ada keadilan sosial. Inilah yang membuat kenapa umat Islam itu begitu galau. Mereka yang bagian terbesar dari republik ini tetapi tidak pernah meletakkan dasarnya untuk republik ini. Tidak pernah berhasil. Ketidakberhasilan mereka di 17 Agustus 1945, yang kemudian tanggal 18 UUD-nya disahkan digabungkan dengan Pancasila, lalu membuat mereka memberontak.&lt;br /&gt;Pemberontakannya itu adalah pemberontakan DI/TII, Darul Islam/Tentara Islam Indonesia. Mereka berkehendak mendirikan negara Islam Indonesia dengan imam besarnya adalah Kartosoewirjo, pimpinan DI/TII di sini. PM dan Menhannya adalah Kahar Muzakar, pimpinan DI/TII di Sulsel. Ibnu Hajar adalah Mendagrinya pimpinan DI/TII di Kalimantan Selatan, dan Daoed Beureueh pimpinan DI/TII di Aceh. Ini adalah pemberontakan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Islam yang Membuat Berbagai Kerusuhan&lt;br /&gt;Kemudian di tahun 1955 diadakan pemilu di Indonesia. Pemilu ini kecuali memilih DPR juga memilih Konstituante. Tapi Dewan Konstituante yang diwajibkan untuk membentuk konstitusi negara, menggantikan UUD 1945. Konstituante ini kemudian bersidang selama 4 tahun dari tahun 1955 sampai tahun 1959, dan tidak pernah bisa bersepakat membentuk dasar negara, apakah dasar negara itu nasional, Pancasila, ataukah Islam. Selalu kalau dalam pemilihan suara, tidak pernah dicapai kata sepakat untuk mendapatkan dasar negara.&lt;br /&gt;Kemudian Abdul Haris Nasution, Pangab waktu itu, mengusulkan, supaya kita tidak usah lagi bicarakan tentang ini, kita kembali saja ke UUD 1945, tanggal 5 Juli 1959. Kalah lagi Islam. Tiga kali Islam kalah berturut-turut. Dan kekalahannya ini, baik secara pemberontakan bersenjata maupun secara konstitusional dalam dewan-dewan yang sah, itu tidak membuat Islam itu selesai. Mereka masih ada Warsidi, mereka masih ada Tanjung Priok, mereka masih ada pemboman BCA, mereka masih melaksanakan pemboman Borobudur, masih membunuh pendetanya gereja Anglikan; Situbondo, Tasikmalaya segala macam itu masih dibuat oleh Islam, untuk memperlihatkan kekecewaan-kekecewaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetang Strategi HMI: Pembusukan dari Dalam&lt;br /&gt;Makin-makin Islam itu kecewa, ketika di tahun 1978 di dalam GBHN dikatakan, bahwa seluruh Ormas dan Orsospol dalam negara RI, harus asasnya tunggal, Pancasila. HMI ketika itu menolak asas tunggal, lama sekali. Himpunan Mahasiswa Islam, HMI itu tidak pernah berkehendak ia dinamakan Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia. HMI selalu mengatakan, kami adalah HMI, tidak pakai Indonesia di belakangnya. Karena dia adalah bagian Pan-Islamic, satu perjuangan Islam di seluruh dunia. Ini adalah penolakan HMI.&lt;br /&gt;Lalu HMI yang menolak ini, melaksanakan tiga kali muktamarnya. Dan pada muktamar yang ketiga, kemudian Akbar Tanjung, yang mantan ketua HMI, tapi waktu itu adalah ketua KAHMI - KAHMI itu adalah kesatuan alumnus HMI - berpidato di Medan. Dia mengatakan begini, "Kalau HMI tidak menerima asas tunggal, maka kalian sebagai ormas itu menjadi tidak sah. Kalau kamu tidak sah sebagai Ormas, maka perjuangan Islam itu harus dilaksanakan di luar sana, di perimeter-perimeter yang paling tepi, yang paling pinggir. Kapan kalian bisa di sentral power, di sentral kekuasaan. Mari kita terima asas tunggal Pancasila ini sebagai taktik, agar kita bisa masuk ke dalam Golkar, masuk ke dalam pemerintahan, dan kemudian melakukan pembusukan-pembusukan dari dalam." Dan itulah yang dilaksanakan oleh KAHMI, oleh unsur-unsur HMI.&lt;br /&gt;Kemudian mereka membuat ICMI, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, dengan alasan bahwa Kristen membuat PIKI, Persekutuan Intelegensia Kristen Indonesia. Dan Katolik membuat ISKI, Ikatan Sarjana Katolik Indonesia. Kenapa kita tidak bisa membuat ICMI. Jadi kitalah sebetulnya yang salah langkah membuat PIKI, membuat ISKI. Sehingga ketika mereka membuat ICMI tidak ada yang bisa mencegah. ICMI didapuri selama 2 tahun. Tokoh yang mendapurinya adalah Prof Dr Imadudin. Imadudin ini ketika tahun 1980 sekian, ketika ICMI itu terbentuk, ditanya kenapa bukan kalian-kalian yang mendapuri ICMI yang duduk sebagai ketua ICMI, kenapa kalian relakan kepada Habibie. Habibie kan kita tidak kenal keislamannya dengan betul. Jawab mereka, karena Habibie adalah orang atau figur yang paling bisa kita manfaatkan. Karena dia sudah dekat dengan sentral power. Dan dari Habibie ke-Islam di bawah itu harus melalui ICMI. Sebab ICMI itu punya mekanisme tersendiri.&lt;br /&gt;Habibie itu cuma simbol, lambang di atas. Kemudian ICMI itu makin lama makin banyak. Dalam Golkar, dalam pemerintahan, dalam kabinet yang lalu. Lalu Soeharto merasa bahwa dia punya kepemimpinan sebagai presiden itu harus diletakkan dalam tiga kaki. Satu kaki Golkar, karena ABRI sudah ada dalam Golkar. Oleh Hartono dikatakan bahwa ABRI adalah kader-kader Golkar, Hartono sudah memakai pakaian kuning sebagai KSAD, sebagai kader Golkar. Yang kedua Pak Harto merasa bahwa dia sudah bisa mengatur RI dengan kaki yang kedua adalah konglomerat. Dan dia sendiri merasa sebagai pribadi sudah punya yayasan-yayasan yang cukup besar, dan yayasan-yayasan itulah yang membiayai Golkar. Jadi itu bukan uang yang ada di dalam Golkar sendiri, tetapi uang dari luar Golkar. Yayasan Dakab itu, berapa keinginannya Golkar, Pak Harto membiayainya.&lt;br /&gt;Dengan demikian, kalau Golkar itu programnya tidak sesuai dengan yang diinginkan Pak Harto, uangnya tidak diberikan. Pak Harto merasa bahwa ia sudah memegang segala macam itu. Dia sudah memegang sembilan bahan pokok, ia sudah memegang industri-industri strategis, pesawat terbang, kapal, kereta api dan besi. Tinggal satu lagi kekuatan, dan kekuatan yang ketiga itu adalah kekuatan Islam.&lt;br /&gt;Di awal Orba, Pak Harto dengan tiga kakinya adalah teknokrat, ABRI dan pemerintahan sipil. Teknokratnya, Ali Wardana cs, Radius Prawiro cs, Frans Seda cs, Itu adalah teknokrat yang dipakai oleh Pak Harto. Hampir semua rektor dan dekan ditarik ke dalamnya. Itu pada awal Orba. Tetapi di akhir Orba, teknokrat-teknokrat itu, rektor-rektor itu sudah tidak lagi dianggap, karena seluruh profesor sudah ada dalam kabinet. Nah Islam yang dipakai oleh Pak Harto ini adalah Islam yang tadi dikatakan oleh Akbar Tanjung, adalah Islam yang melaksanakan pembusukan dari dalam. Islam ini kemudian mengatakan begini, "Mari kita dorong Soeharto itu, presiden ini, sebagai Bapak Pembangunan, satu-satunya yang paling mampu membangun di Indonesia adalah Soeharto. Mari kita dorong dia supaya dia menjadi bapak yang paling benar di seluruh Indonesia. Supaya nanti kalau ada kesalahan di republik ini, maka satu-satunya yang&lt;br /&gt;paling salah adalah Soeharto." Dan itu terjadi hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang "Brutus" Habibie&lt;br /&gt;Sekarang ini, itu sudah terjadi. Dan kita melihat, ketika Pak Harto akan mundur tanggal 20 Mei malam. Ini ceritanya Sudharmono kepada saya. Malam itu sehabis maghrib, saya dari Imam Bonjol dari rumah, saya dipaggil ke Cendana. Lalu Pak Harto mengatakan, tanggal 20 Mei itu, nanti hari Sabtu akan saya umumkan Komite Reformasi Nasional. Di dalam Komite itu duduk antara lain Megawati, Gus Dur, Amien Rais, ketua KWI, ketua PGI, empat puluhlima orang banyaknya. Lalu Pak Dharmono mengatakan," Pak, nanti kalau itu akan diumumkan, harus dicek betul-betul bahwa dari 45 orang ini tidak ada yang menolak untuk duduk." (Kata Pak Harto) "Ya, ya, sudah saya katakan itu pada Saadilah Mursyid, supaya dicek di telepon satu-satu. Kemudian, hari Sabtu itu juga akan saya umumkan reshufle kabinet," kata Pak Hato kepada Sudharmono. "Dalam reshuffle kabinet ini, semua orang yang disorot dengan keras oleh masyarakat akan saya keluarkan. Bob Hasan saya keluarkan. Hartono saya keluarkan, Tutut saya keluarkan, Alawiyah saya keluarkan. Semua yang disorot dengan keras akan saya keluarkan." Dan pembicaran itu selesai sesudah maghrib sampai kira-kira jam 8 malam.&lt;br /&gt;Ketika Pak Dharmono keluar, dia masih bertemu dengan wakil presiden Habibie, di ruang tunggu. Mereka salaman, Habibie membawa map. Kemudian map itu dibawa oleh Habibie ke dalam. Kemudian kira-kira jam 10 malam, Pak Dharmono ditelepon oleh Saadilah Mursyid, "Pak! Pak Harto sudah memutuskan, besok akan mengundurkan diri." Kata Pak Dharmono, "Kenapa? Tadi itu masih bicara tentang Komite Reformasi Nasional, masih bicara tentang reshuffle kabinet yang akan dilaksanakan hari Sabtu."&lt;br /&gt;Habibie membawa map yang isinya 14 orang menteri menarik diri, berkeberatan untuk duduk, baik di kabinet sekarang maupun di kabinet yang akan datang, kalau dipimpin oleh Pak Harto. Lalu, Pak Harto yang gundah ini, lalu mengatakan, "Baik kalau begitu. Kalau Brutus-Brutus..." Brutus adalah yang menusuk Julius Cesar. Padahal, Habibie itu seperti Brutus, dia dibesarkan oleh Julius Cesar, dari anak pinggiran dijadikan panglima, dialah yang menusuk Julius Cesar.&lt;br /&gt;Saya jam 10 ditelepon Pak Dharmono. Jam 10 lewat 10 menit, Saadilah Mursyid menelepon Pak Try Sutrisno. Saya waktu itu berada di rumahnya Pak Try Sutrisno, karena saya adalah sekretaris politiknya. Malam itu, kita baru mengirimkan surat kepada Presiden, memberitahukan bahwa "Keadaan sudah begini - begini di luar. Kami sarankan Bapak mengambil langkah ini - ini." Malam itu suratnya dibawa kurir. Sebelum jam 7 sudah sampai di tempatnya Pak Saadilah Mursyid, untuk diteruskan kepada Presiden. Kira-kira jam setengah delapan, Saadilah menelepon Pak Try Sutrisno, "Suratnya sudah sampai kepada Bapak dan sudah dibaca oleh Presiden Soeharto." Tetapi ketika Brutus (Habibie) itu datang, besoknya kemudian terjadilah penyerahan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Muhammadiyah Fundamentalis&lt;br /&gt;Jadi, kita lihat di sini, bahwa memang Islam itu sangat galau kenapa negara ini tidak berdasarkan Islam. Islam yang sangat galau ini bukan Islam keseluruhannya. Islam yang sangat galau ini adalah Islam yang fundamental. Islam itu ada dua. Satu Islam yang fungsional, yang memperjuangkan supaya fungsi-fungsi Islam itu dilaksanakan di dalam keadilan sosial, di dalam kesejahteraan, di dalam kesehatan, di dalam makanan. Islam yang fungsional itu tecermin dari mereka yang ada di NU. Sedangkan Islam yang politik, yang ingin benderanya berkibar sebagai kekuatan, itu Islam yang berada di ICMI, dan Islam yang berada di setengah dari Islam Muhammadiyah.&lt;br /&gt;Amien Rais adalah ketua Muhammadiyah, tetapi dia masuk sebagai ketua Muhammadiyah dalam Muktamar di Aceh dengan pembiayaan yang sangat besar dari ICMI untuk mengalahkan Lukman Harun cs. Kemudian ia menjadi ketua Muhammadiyah, agar supaya kelihatan bahwa ICMI didukung oleh aliran Muhammadiyah.&lt;br /&gt;Bedanya dengan NU, apabila ada persoalan di luar, tentang haram atau halal, tentang sah atau tidak sah, aliran Muhammadiyah mencari pembenaran dalam Al Quran dan hadits. Al Quran itu adalah buku yang begitu tipis, hanya 30 juz isinya. Hadits itu adalah perbuatan-perbuatan Nabi dan sahabat-sahabat Nabi ketika mereka masih hidup, yang kemudian diingat-ingat, bahwa perbuatan itulah yang harus dicontoh apabila kita tidak menemukan jawabannya di Quran. Tidak seperti Alkitab kita. Semua kita bisa cari jawabannya di Alkitab. Di Quran tidak.&lt;br /&gt;Jadi kalau Muhammadiyah mencari pembenarannya itu di Quran dan di hadits. Kalau NU, Islam yang tradisional, mencari pembenarannya itu dari kyai-kyai mereka yang tua, yang lama, yang mereka katakan, kita kembali kepada khittah tahun 1926. Ada mereka buat buku tentang perbuatan-perbuatan kyai-kyai di Indonesia dan sebelumnya. Jadi kalau ada persoalan di masyarakat, mereka cari ke dalam buku kuning. Buku Khittah tahun 1926. Artinya NU mencari jawabannya itu di dalam tradisi Indonesia, di dalam akar rakyat Indonesia. Muhammadiyah mencari pembenarannya itu di dalam tradisi dan akar di negeri Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Jilbab Kelakuan Orang Arab&lt;br /&gt;Karena itu bagi Muhammadiyah, memakai pakaian yang menutup seluruh tubuh, itu diperlukan, karena ini adalah kelakuan orang Arab di sana. Kenapa kelakuan ini dilakukan di sana? Itu bukan dilaksanakan oleh Islam saja di sana, tetapi juga dilaksanakan oleh orang kafir di sana, pakaian yang seperti itu.&lt;br /&gt;Mengapa pakaian itu harus dipakai? Satu karena sengatan matahari yang terlalu besar. Dua, di malam hari, terjadi penurunan temperatur yang begitu dingin sehingga memang diperlukan pakaian yang sampai ke bawah. Yang ketiga, debu yang terbang itu adalah butir-butir pasir, yang sangat membahayakan terhadap kulit dan terhadap mata seseorang, sehingga pakaiannya memang harus demikian. Di Indonesia kan tidak perlu begitu. Panasnya tidak menyengat, malamnya tidak terlalu dingin, dan tidak ada debu pasir, tidak ada badai pasir yang sewaktu-waktu bisa terbang. Ada lagi alasan yang lain dari kelompok Islam ini. Bahwa pakaian yang seperti itu, untuk melindungi dari kaum kafirin. Memang di zaman Islam mulai bertumbuh, di sekitarnya itu adalah kaum kafirin. Yang kalau melihat wanita, merebut dan memperkosanya. Lalu, kata mantan Menteri Agama Munawir Sjadzali, istri saya ini tidak pakai jilbab, dia cuma pakai rok yang panjang, dia tidak perlu disembunyikan wajahnya dan kecantikannya dari masyarakat, karena masyarakat ini bukan masyarakat kafir, masyarakat ini adalah masyarakat beradab, masyarakat Islam.&lt;br /&gt;Tetangga saya itu Islam, karena itu saya tidak usah menutup kecantian istri saya. Dulu itu dilaksanakan di Arab, karena masyarakat di sekitarnya adalah masyarakat kafir, yang kecantikan itu bisa berbahaya bagi keluarga itu. Karena saya tidak menganggap kalian ini kafir, maka istri saya tidak perlu pakai jilbab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENTANG REPUBLIKA (Republik Agama)&lt;br /&gt;Tetapi karena mereka hanya melihat pada hadits dan Quran maka itu harus dilaksanakan. Di dalam hadits itu dikatakan, sebaik-baiknya kalian, pilihlah pemimpin di antara kamu sendiri. Itu kata hadits. Jadi kalau harus ada pemimpin di antara kamu, Islam, maka pemimpinnya mesti Islam. Jadi kalau camatnya harus Islam, bupatinya harus Islam. Kalau bupatinya harus Islam, maka gubernurnya harus Islam, presidennya Islam. Siapa nanti di atasnya Presiden, ada MPR, ada GBHN, GBHN-nya harus Islam. Dan GBHN Islam ini, itulah yang mereka akan buat, apabila mereka menang dalam pemilu tahun 1999. Golkar, PBB, Partai Bulan Sabit kecil, PUI, PNU, kalau itu semua menang, dan mereka akan menguasai MPR, maka MPR yang di tahun 2000 nanti - kan 1999 menang dalam pemilu, tahun 2000 mereka bikin MPR, MPR membuat GBHN, GBHN kemudian akan memilih juga presiden - maka presidennya pasti Islam, dan GBHN-nya adalah GBHN yang menuju yang memberikan instruksi-instruksi tertentu, yang akan menuju kepada Republika.&lt;br /&gt;Republika, koran yang kita kenal itu, itu adalah "Republik Agama".&lt;br /&gt;Seperti Kompas, adalah Komando Pastur. Republika adalah Republik Agama.&lt;br /&gt;Jadi GBHN-nya itu akan menuju kepada Republika di tahun 2005. Jadi sebagian perintah GBHN adalah membuat UU yang menetapkan filosofi-filosofi Islam sebagai dasarnya. Di tahun 2005, mereka berharap pemilu akan dimenangkan lagi, karena mereka sudah menang besok tahun depan, 2005 akan terjadi lagi MPR yang akan makin mengentalkan terjadinya republik Islam, republik yang berdasarkan Islam di tahun 2010.&lt;br /&gt;Itu adalah skenarionya. Skenario yang mereka susun. Golkar pasti tidak akan menang, sebab siapa saja yang nanti akan kampanye untuk Golkar, nanti akan diteriakin dari bawah "Bohong lu!" Tidak ada satupun kekuatan yang bisa mengelak. Karena itu Akbar Tanjung, karena itu ICMI, mereka-mereka itu membentuk partai-partai Islam yang banyak, supaya Golkar yang turun prosentasenya dari 74 %, yang mungkin menjadi 12 %, itu bisa ditambah prosentasenya oleh PBB, Partai Bulan Bintang, oleh PAN Amien Rais, oleh PBSK, oleh PUI, oleh partai SUNI, oleh Masyumi Baru. Karena kalau didapatkan 51 %, 52 %, 55 %, maka mereka akan menguasai MPR, mereka bikin GBHN, mereka menunjuk presiden. Dan presiden yang berikutnya itu bukan Habibie. Habibie mereka anggap terlalu pendek menjadi presiden, terlalu banyak geraknya, terlalu bayak geraknya. Seharusnya Habibie ini dikasih mikropon untuk mainan, untuk nyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Dwifungsi ABRI&lt;br /&gt;Presiden akan datang itu terletak pada dua atau tiga: Akbar Tanjung, Ahmad Tirtosudiro dan Sayidiman. Sayidiman dan Tirtosudiro inilah sebenarnya desainer yang berada pada semua pemikiran-pemikiran itu. Sekarang dengan sistematis mereka mengatakan bahwa ABRI itu busuk, ABRI itu buruk, ABRI itu pembunuh, ABRI itu pelanggar HAM, semua dikembalikan dengan secara demikian, mereka berharap nanti akan sampai kepada pembentukan opini, di mana opini itu akan mengatakan bahwa ABRI itu salah.&lt;br /&gt;Kalau ABRI salah, maka Aceh Merdeka akan menjadi benar. Aceh Merdeka itu adalah pemberontakan Islam. Kalau ABRI dituduh, diperlihatkan kesalahan-kesalahannya kemudian, ABRI itu lalu kehilangan kemampuan moral dan morilnya, yaitu mundur ke belakang. Kemudian ABRI itu dihakimi, diadili oleh masyarakat, oleh opini masyarakat, maka nanti yang benar, itu adalah pemberontakan-pemberontakan Islam. Warsidi di Lampung, Amir Biki di Tanjung Priok, Aceh Merdeka di Aceh. Kalau ABRI menyerah secara moril dan moral, maka ABRI ini lalu tidak berani mempertahankan dwifungsinya. Dua fungsi ABRI, satu kekuatan Hankam dan satu kekuatan sosial politik. Jadi ABRI punya sikap politik.&lt;br /&gt;Sikap politik ABRI itu terletak pada sumpahnya, ABRI itu kan bersumpah, sumpahnya ABRI itu namanya Sapta Marga. Tujuh Marga. Di Marga kesatu, ABRI itu mengatakan: Kami warga negara kesatuan Republik Indonesia, yang sendinya Pancasila. Di Marga kedua, ABRI mengatakan: Kami patriot Indonesia yang mempertahankan ideologi negara dan UUD. Jadi sikap politik ABRI itu, satu, negara ini harus negara kesatuan RI. Kedua, negara ini harus negara Pancasila. Itu sikap politik ABRI, sumpahnya ABRI. Jadi fungsi keduanya ABRI, fungsi sospolnya ABRI adalah itu, negara kesatuan RI. Pancasila, ideologi negara harus Pancasila. Jadi kalau ABRI sekarang ini dengan sistematis sudah makin didorong untuk kalah secara moril dan moral, kemudian ABRI melepaskan dwifungsinya, maka artinya ABRI melepaskan dirinya untuk mempertahankan negara kesatuan, mempertahankan Pancasila, mempertahankan ideologi negara Pancasila.&lt;br /&gt;Kalau negara ini tidak punya ideologi, tidak punya dasar, karena Pancasila tidak ada yang mempertahankan - negara itu kan harus ada dasarnya - lalu ditawarkan siapa yang bisa memberikan kepada kita dasar negara yang baru, karena Pancasila sudah tidak dapat diterima sebagai asas tunggal dan sebagai dasar negara? Ideologi mana yang ada sekarang ini kecuali Pancasila, yang ada sekarang ini cuma ideologi Islam. Kita tidak berani, dan tidak bisa, dan tidak mungkin, kita mengatakan kita pakai ideologi Marx, mari kita pakai ideologi sosial komunis, tidak mungkin. Sesuatu yang sudah kita kutuk. Jadi kalau Pancasila itu berhasil dijatuhkan, dengan menjatuhkan ABRI supaya tidak punya lagi dwifungsi, maka tidak ada lagi kekuatan yang bisa mempertahankan negara kesatuan dan negara Pancasila ini. Dan secara sistematis, ABRI disudutkan ke sana, karena ekses-ekses politiknya, karena ekses-eksesnya di bidang pendekatan keamanan. Padahal yang melaksanakan penculikan (adalah) Prabowo betul, Sjafrie betul. Tetapi pelaksana di bawah, pem-"back up" di belakang … Karena itu dalam dua terbitan Tabloid ADIL hari ini, bahwa di belakang Prabowo yang masih muda itu, ada Benny Moerdani, supaya tuduhan itu tidak jatuh kepada KISDI yang Islam, tetapi kepada Benny Moerdani yang Katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Pertanggungjawaban Soeharto&lt;br /&gt;Ini yang kita hadapi hari-hari ini. Ini yang kita hadapi bahwa SI MPR nanti, itu SI yang mencabut Tap No. III yang mencabut Tap tentang pengangkatan Presiden Soeharto, dan kemudian mengangkat Habibie, kemudian mencabut Tap tentang Pemilu tahun 2002, dan menggantikannya dengan Tap Pemilu 1999. Kenapa cuma dua ini. Kenapa kita tidak boleh meminta Soeharto bertanggung jawab di depan MPR. Ketua jemaat saja kalau meminta pengunduran diri, itu ditanya, kenapa you mengundurkan diri, apa gajimu kurang.&lt;br /&gt;Ini seorang Presiden Soeharto. Sekarang ini sedang diopinikan, agar dia memberikan pertanggungjawaban di MPR. Kalau pak Harto memberikan pertanggungjawaban, ada dua kemungkinan pertanggungjawabannya itu. Satu, dia berbicara sejujur-jujurnya. Kalau dia bicara sejujur-jujurnya, Habibie segala macam di dalam kabinetnya sekarang, itu juga adalah rezimnya Soeharto. Ini juga bisa jatuh. Kalau dia bicara sebohong-bohongnya, sekuat-kuatnya berbohong Soeharto untuk melindungi Habibie, itu sekarang ini tidak lagi mungkin bisa. Karena sudah begitu banyak file, sudah begitu banyak arsip yang terbuka, sudah begitu banyak rekayasa yang kelihatan.&lt;br /&gt;Karena itu, rezim Habibie ini sangat kuatir, kalau Soeharto oleh opini rakyat, diminta untuk memberikan pertanggungjawaban. Pertanggungjawaban macam apa yang bisa dia berikan. Barangkali pertanggungjawaban yang bisa diberikan adalah seperti pertanggungjawaban Bung Karno. Bung Karno memberikan pertanggungjawaban itu cuma di dalam sembilan aksara (Nawaksara).&lt;br /&gt;Inilah yang harus kita buat. Supaya opini rakyat begitu kuat mendorong dan mendesak, Soeharto harus memberikan pertanggungjawaban. Kalau Soeharto tidak memberikan pertanggungjawaban, akan menjadi preseden. Artinya di kemudian hari, seorang presiden yang sudah capek, terus ingin pulang ke Jerman, dia lalu bisa mengatakan, "Capek, capek, saya mau pulang ke Jerman, ambillah ini, saya mau pergi."&lt;br /&gt;Kalau begitu negara ini kan jadi lebih kacau daripada PT, daripada perusahaan. Perusahaan saja, Dirut mau mengundurkan diri harus dipanggil dulu itu RUPS. RUPS kita itu adalah MPR. Kalau diiyakan pada presiden kedua, presiden ketiga, keempat, kelima, bisa saja meletakkan jabatan kepresidenan itu kapan saja dia kehendaki. Dan ini tidak boleh menjadi preseden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Negara Islam Tahun 2005&lt;br /&gt;Jadi negara ini menjadi negara Islam atau tidak menjadi negara Islam, itu SI MPR 10 November nanti, mulai digulirkan. Di Pemilu nanti, Golkar akan berkoalisi dengan partai-partai ini. Kalau partai ini menang, mereka akan memegang MPR. Dan MPR yang mereka buat, mereka pegang, akan membuat GBHN yang menuju kepada "Republika".&lt;br /&gt;Kenapa mereka berkeras tahun 2000 ini harus dibentuk, agar 20005 itu "Republika" bisa dipegang. Karena ditahun 2003, begitu bunyi kesepakatan ASEAN, sudah terjadi semi globalisasi Indonesia. Di tahun 2010, sudah terjadi globalisasi untuk Pasifik, kecuali untuk beberapa komoditi. Di tahun 2020, itu seluruhnya sudah global, dalam bidang ekonomi. Tidak ada investasi yang akan masuk ke sini, kalau pemerintahan ini adalah primordial.&lt;br /&gt;Atau dibalik perkataan lain, apabila sudah tiba saatnya untuk globalisasi, dan pemerintahan Islam, pemerintahan primordial ini belum terbentuk, maka pemerintahan primordial ini tidak akan pernah terbentuk.&lt;br /&gt;Jadi mereka dikejar oleh waktu. Bahwa di tahun 2005 itu, Republika, Republik Agama itu sudah harus sangat kuat pancangan-pancangan kakinya. Kalau tidak, di dalam globalisasi tidak ada investasi yang mengijinkan berdirinya suatu pemerintahan primordial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Zaky (Anwar) Makarim&lt;br /&gt;Jadi bulan-bulan depan ini, adalah bulan-bulan perebutan, apakah ini akan menjadi negara Islam atau tidak, apakah dwifungsi ABRI akan jatuh ataukah bisa bertahan. Kalau Wiranto terlampau keras mempertahankan dwifungsinya, dia bisa diganti oleh perwira Islam yang lain. Fachrul Razi misalnya. Zaki Anwar Makarim misalnya.&lt;br /&gt;Zaky Anwar Makarim itu adalah Kepala BIA. Atase Pertahanan AS, Kolonel William, pernah mengatakan sama saya, kalau saya ingin bertemu dengan Prabowo, selalu ikut Zaky, Sjafrie, dan Kahirupan. Kalau saya ingin ketemu dengan Zaky Anwar, selalu ikut Sjafrie, Prabowo, dan Kahirupan. Jadi empat ini selalu ada. Mereka bersahabat, mereka sekawan, empat sekawan.&lt;br /&gt;Lalu pertanyaannya, pada hari-hari terakhir kepada saya adalah begini: Kahirupan sudah di-out oleh Hartono karena dia Kristen. Prabowo sudah di DKP-kan. Sjafrie sudah mulai ditanya-tanya. Kenapa tinggal Zaky Anwar, kenapa dia tidak bisa dikutak-kutik, padahal dia adalah Kepala BIA? Karena Zaky Anwar ini adalah Zaky Anwar Makarim, kakaknya Anwar Makarim itu adalah salah satu ketua ICMI.&lt;br /&gt;Jadi begitulah yang melingkupi ABRI hari-hari ini. Kalau ABRI melepaskan atau terpaksa melepaskan dwifungsinya, maka ABRI tidak lagi harus bertekad untuk mempertahankan Pancasila, dan negara yang ideologinya Pancasila. Dan kalau tidak ada lagi yang mempertahankan Pancasila itu, apa bisa kita serahkan pada PDI? Tidak bisa. Apa bisa itu kita serahkan kepada Gus Dur? Tidak bisa. Apa bisa kita serahkan pada partai-partai yang baru tumbuh? Tidak bisa. Dan inilah sistematika mereka (Islam-Red), memperburuk-buruk ABRI. Padahal ABRI yang diperburuk ini adalah ABRI yang sudah mereka susupi. Prabowo, Sjafrie, Hartono, Feisal Tanjung, Syarwan Hamid. Inilah situasi yang kita hadapi di hari-hari yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebarluaskan Informasi ini!&lt;br /&gt;Saudara-saudara, memang informasi ini harus diopinikan menjadi informasi yang makin lama makin meluas. Supaya terbentuk opini yang mengetahui skenario mereka. Tetapi tentunya, semua ini dengan resiko-resiko pada diri kalian. Resiko yang kalian hadapi untuk membicarakan ini keluar, itu tidak sama besarnya. Lebih berat kalian. Kamu tidak punya nama. Kalian tidak punya prestise di tingkat tertentu. Kalian bisa diciduk diambil sewaktu-waktu. Kalian bisa disenggol oleh orang Madura, terus terjadi perkelahian, kemudian diclurit, mati. Alasannya bisa begitu. Jadi resiko yang kalian hadapi untuk menyebarluaskan dan menjadikan ini opini masyarakat, itu besar. Itu berbahaya. Tidak seberbahaya saya. Saya bicara seperti ini di depan 1.000, 2.000, 3.000 orang, karena saya dikenal mantan panglima yang menangkap Xanana, yang begini, yang begitu, mantan anggota DPR, kalau saya hilang tiba-tiba, itu gemanya lebih besar dari Pius hilang. Tapi kalau kalian hilang sekarang ini, mungkin cuma kerabat, teman-teman gereja saja yang mempersoalkannya.&lt;br /&gt;Jadi walaupun ini harus diopinikan, tetapi ketahuilah bahwa ini ada resikonya. Demikian saudara-saudara, terima kasih atas perhatian kalian.&lt;br /&gt;Moderator: Tentunya ada banyak hal yang sudah kita terima, fokusnya adalah apa yang akan kita bisa siapkan terhadap pemilu yang akan sama-sama kita hadapi tahun depan. Saudaraku, saya kira semua gambarannya secara sistematik sudah jelas, dan kita bersyukur, bahwa Tuhan memberikan kepada kita orang semacam Pak Theo untuk menjadi Bapak buat kita, dan kita juga bisa nanti saya kasih kesempatan untuk memberikan beberapa pertanyaan.&lt;br /&gt;Tetapi supaya lebih hangat lagi pembicaraan kita, boleh nggak saya minta, para gembala untuk berdiri sebentar, barangkali Pak Theo bisa melihat, termasuk gembala area, silakan berdiri sebentar, supaya dikenal Pak Theo. Kira-kira kita ini dari berapa gereja? Mungkin yang datang tidak dicatat nama gerejanya. Tapi lebih dari 10 gereja saya kira. Langsung saja kalau yang akan mengajukan pertanyaan, tiga pertanyaan. Lalu nanti disambung termin berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T a n y a:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rudi : Perjuangan mahasiswa, khususnya Jabotabek, yang saya tahu ada Forum Kota, ada Front Nasional, perjuangan mahasiswa itu murni atau sudah disusupi oleh yang bapak sebut HMI? Bisa kami lakukan nggak sebagai mahasiswa sebagai satu universitas, beberapa universitas, atau forum nasional? Yang kedua, kalau Pemilu nanti kita mesti pilih siapa?&lt;br /&gt;Budi : Saya mau tanya Pak ya, kita sebagai anak Tuhan, dalam kondisi Indonesia, memang kita akan dapat tinggal di Indonesia dan membela Indonesia. Cuman, dari penjelasan Bapak, secara logika, sebagai manusia normal, apa masih ada gunanya orang yang bisa keluar untuk tinggal di Indonesia? Bukankah lebih baik, kalau kita keluar. Apalagi dengan melihat kondisi politik yang ada, di mana kekuatan itu sebagian besar sudah dikuasai oleh orang Islam. Bukannya kita takut mati, tapi kan tida ada gunanya mati konyol?&lt;br /&gt;Yusuf : Mengapa sampai sekarang pemerintah seolah menutupi untuk kasus perkosaan yang Mei lalu, bahkan perkosaan yang di Aceh itu ditonjolkan. Apakah ada kaitannya kasus insiden perkosaan Mei itu dengan gerakan ICMI, atau gerakan yang Bapak bilang sebagai gerakan untuk menuju negara Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab (Theo) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian mestinya baca Majalah Tajuk terbitan terakhir. Dari (majalah) Tajuk itu kalian akan mengetahui, bahwa penjarahan, perkosaan, pembunuhan itu diorganisir, dari kekuatan-kekuatan yang Wiranto tidak diberi tahu. Kapolri Widodo tidak diberi tahu. Pada waktu buka puasa bersama di Cijantung, waktu Prabowo masih Komandan Kopassus, dia berbuka puasa dengan perwira-perwira, dan mengundang ulama se-Jabotabek. Hadir juga Ketua MUI.&lt;br /&gt;Di dalam pidatonya, Prabowo mengatakan, bahwa sudah tiga kali presiden yang Bapak mertua saya itu mau dibunuh. Dan yang membunuh itu adalah mereka yang anti-Islam. Siapa yang anti-Islam itu adalah Kristen dan Cina. Apabila Cina itu Kristen, maka dia sudah menanggung dua dosa itu. Jadi Cina dan Kristen itulah mereka yang digolongkan anti-Islam. Apalagi kalau Cinanya itu Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Do'a Ketua MUI&lt;br /&gt;Kemudian Ketua MUI itu, lalu berpidato, inilah kita punya pemimpin masa depan, Prabowo. Dia akan kita jadikan, kita do'akan untuk menjadi presiden tahun 2003, paling tidak wakil presiden. Itu doanya Ketua MUI. Kelihatan doanya tidak terakbul. Padahal itu do'anya Ketua MUI, yang mestinya terkabul - terkabullah 5 %, tidak 2003 ya 2008. Jadi betul-betul itu do'a yang tidak didengar oleh Tuhan, sama sekali tidak didengar. Padahal dia itu Ketua MUI.&lt;br /&gt;Ketua pemuda saja kalau berdo'a "Mudah-mudahan dia jatuh cinta sama saya," itu bisa didengar oleh Tuhan. Memang dengan pesaing saya, saya kalah, dia naik mobil, saya cuma naik sepeda motor, tapi do'a saya "Ya Tuhan", itu saja bisa didengar. Ini ketua MUI (tidak didengar do'anya).&lt;br /&gt;Jadi kasus perkosaan itu, kalian baca Tajuk, yang ada gambarnya Sjafrie. Di sana ada berlembar-lembar cerita tentang ini. O, kalian puasa di sini sudah lima ya. Tajuk itu terbitnya empat hari yang lalu. Tajuk itu terbitnya empat hari yang lalu. Kalau ada yang sambil puasa, sambil diutus ke Cilegon, cari. Di situ kalian akan lihat bahwa itu diorganisir, termasuk pembunuhan dan penembakan manusia yang tidak dikenal… Manusia diteriakin supaya tiarap. Bertiaraplah sekian orang, yang lain lari. Yang tiarap itu kemudian disuruh berdiri dan disuruh masuk ke dalam Mall Karawaci, ditutup pintunya, dimasukkan tabung gas, ditembak, terbakar bersama dengan kira-kira 50-100 orang. Dan itu sudah ditulis di Tajuk.&lt;br /&gt;Jadi perkosaan itu diorganisir. Malah pelaku-pelakunya itu diambil dari Indonesia Timur. Mereka diangkut, dijemput dengan pesawat terbang, supaya perkosaan yang terjadi itu tidak dikenal atau tidak diketahui sebagai orang-orang Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Pemusnahan Cina&lt;br /&gt;Tetapi itu ditujukan kepada Cina. Kenapa Cina ini menjadi ancaman? Kita di Indonesia punya 68.000 desa, kita punya 8.000 kecamatan, 330 kabupaten, 27 propinsi. Di 68.000 kecamatan, paling tidak ada 40 persen yang ada orang Cina. Jadi kira-kira ada 30.000 desa ada orang Cina. Di kecamatan yang 8.000 itu, kira-kira 90 persennya ada orang Cina, jadi&lt;br /&gt;kira-kira 7.000-an kecamatan ada orang Cina. Semua kabupaten ada orang Cina. Di propinsi semua ada orang Cina.&lt;br /&gt;Hebatnya orang Cina ini, di desa, ia teman baiknya kepala desa, teman baiknya babinsa. Di kecamatan, ia sahabat karibnya camat. Mana istrinya camat itu sering dikirimi bakpao, apa begitu ha-ha-ha Di kabupaten juga begitu. kepala polisi, polres, kodim, dandim, bupati, itu teman dan sahabatnya orang Cina. Dia main golf sama-sama, dia karaoke sama-sama, dia ke diskotik sama-sama.&lt;br /&gt;Padahal orang Cina ini dianggap, dialah yang tidak bisa dilangkahi, kalau ingin dilakskanakan Islamisasi. Jadi Islamisasi itu kan masyarakat di bawah tidak boleh heterogen, harus homogen. Ancaman paling besar untuk Islamisasi itu adalah Kristen dan Cina. Dan yang paling mudah dimusuhi, itu adalah Cina, karena mereka dianggap kaya, mereka dianggap manipulator, mereka dianggap penyelundup, mereka dianggap korupsi, kolusi, bisa dibuat banyak cerita.&lt;br /&gt;Jadi untuk membuat masyarakat homogen, Cina ini harus ditarik keluar dari desa, dari kecamatan, dari kabupaten. Dan untuk menarik Cina supaya keluar dari kabupaten, dari kecamatan, dari desa, itu tidak bisa dengan jalan yuridis formal, dengan membuat Undang-Undang. UU kan harus berlaku kepada semua warga negara, sama. Dan Cina ini kan warga negara. Jadi bagaimana mau ditarik keluar dari desa.&lt;br /&gt;Mengambil dari pengalaman Iran, ketika Syah Iran dijatuhkan oleh kaum mullah, oleh Khomeini, maka feodal yang ada di Iran itu, yang punya hak-hak tertentu, atas tanah, atas pajak, atas air, itu dimusuhi, dibuat dimusuhi oleh mullah, oleh rakyat. Ketika Syah Iran itu jatuh, feodalisme itu, bangsawan-bangsawan itu, kemudian dikejar dan dibunuh. Nah, mengejar dan membunuh feodal itu, mau dibuat di Indonesia ini. Kalau Cina berhasil dikejar dan dibunuh, kemudian mereka takut, mereka lari, maka ini adalah tata cara satu mekanisme membuat masyarakat menjadi homogen secara murah dan cepat. Ya karena Cinanya lari sendiri dengan kekuatannya, tidak usah dibayar. Dan ia bergegas lari, ia tinggalkan mobilnya, rumahnya dan segala macam. Jadi Cinalah sasarannya itu, kalau mau menjadikan Nusantara ini dasarnya Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Kalian Bukan Kristen, Silakan Lari!&lt;br /&gt;Nanti kekristenan yang berikutnya, kristen yang lain, itu akan sangat terpukul secara moril dan moral, kemudian tidak berani keluar dari kungkungannya. Jadi Cina yang pertama. Kenapa bukan Arab? Karena Arab itu Islam, padahal kan Arab rentenir juga. Jadi pada Cina inilah.&lt;br /&gt;Sekarang kalau kalian punya uang dan mau lari keluar negeri, kalau kalian bukan Kristen, itu oke. Kalau Hindu atau Budha itu oke. Tetapi kalau kamu adalah Kristen, harus ada yang diingat, bahwa tidak ada negara yang tidak dibentuk oleh Tuhan. Tidak ada pemerintah yang datangnya tidak dari Tuhan. Dan kalian itu apakah Cina, apakah Arab, apakah Batak, itu bukan kamu yang memilih dirimu jadi Cina. Saya Bugis, saya Makassar, bukan saya yang memilih. Jadi Kristen barangkali bisa saya yang memilih. Jadi tentara, saya sendiri yang memilih. Tetapi menjadi orang Makasar itu menjadi pilihan Tuhan bagi saya. Jadi mestinya, menjadi Cina, menjadi Batak, menjadi Bugis, itu tidak berdosa, karena itu dipilih oleh Tuhan bagi kita. Menjadi Yahudi, menjadi Israel, itu tidak boleh dilihat dalam kaca mata dosa. Dia dipilih oleh Tuhan untuk menjadi itu. Kemudian, kalau kita sebagai orang Kristen, mengingkari itu, lalu melarikan diri, dan tidak mempertahankan berkat, nikmat, tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada kita di sini, kita di tempat lain juga akan lari dan lari. Dan sebetulnya, kita tidak lari dari Indonesia, tetapi lari dari keimanan dan kepercayaan kita kepada Tuhan. Kita tidak lari dari Indonesia, kita lari dari diri sendiri. Dari Kristus yang ada di dalam hati.&lt;br /&gt;Dilihat secara rasional, secara matematis, apalagi dilihat secara materiil, seyogyanya kalau kita punya 2 juta dolar, sekarang ini alangkah baiknya kita pindah saja, dan membiarkan bangsa ini dengan masalahnya. Tetapi dilihat dari kacamata keimanan, itu tidak boleh. Itu memperlihatkan ketidakyakinan kita bahwa Tuhan beserta dengan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Sektarian vs Nasionalis&lt;br /&gt;Mahasiswa itu disusupi? Jadi saya ingin memberikan sama kalian, organisasi-organisasi pemutus, penentu dan pengkaji. Di pihak Islam, organisasi pemutus dan pengkaji itu adalah Dewan Dakwah Islam, Mega Elektra di Kebon Jeruk. ICMI kalian tahu, di dalamnya ada CIDES, CPDS, ada Dewan Pakar yang diketuai oleh Amien Rais, ada YPI, Yayasan Pembangunan Islam, yang markasnya di Al Azhar. Ini adalah pemutus, ormas dan pusat studi, yang memutuskan, apakah dia bentrokan fisik atau tidak bentrokan fisik, dia pakai spanduk atau pakai selebaran gelap. Di pihak sini, pihak nasionalis, di pihak yang tidak sektarian, yang tidak ke kanan, ke Islam ini, badan-badan ormas pusat studi itu adalah seperti NU, CSIS, PCPP, SBSI, SPSI. Ini adalah badan-badan yang memutuskan. Ini adalah Ormas atau pusat studi yang mengkaji, memikir, menentukan dan memutuskan.&lt;br /&gt;Siapa yang bertarung di bawah? Yang bertarung di bawah? Yang bertarung di bawah, di tempat sektarian itu adalah Satria Muda Indonesia (SMI), pencak silat, itu. Itu ada di bagian Islam. (Yang lain adalah) KISDI, KAMMI, Gemuis (Gerakan Muda Islam), HMI. Ini yang ada di sebelah sana. Baitul Mal itu sama dengan Koppas, Koperasi Pasar, itu dibentuk oleh Adi Sasono, bersama dengan Baitul Mal, untuk menyalurkan sembako. Sembako yang disalurkan, akan mereka kutip beberapa puluh rupiah dari dalamnya, dengan harapan, di bulan Mei, kutipannya akan sampai kira-kira Rp 500 milyar. Ini untuk membiayai pemilu agar berpihak kepada mereka. Karena Koppas ini nanti makin lama main banyak orang datang ke Koppas dan Baitul Mal, maka orang-orang ini sambil diberi beras, sambil nanti akan dikatakan, "Nanti kamu milih PBB ya, partai Bulan Bintang ya. Kamu memilih partai ini, ya!" Jadi itu sudah membuat network ke bawah.&lt;br /&gt;Jadi kenapa Cina punya distributor itu harus digunting? Inilah jawabannya. Karena Koppas itu mesti membagi-bagikan sembako, mengutip keuntungannya untuk membiayai dan membeli suara untuk pemilu 1999. Siapa nanti yang akan benturan fisik?&lt;br /&gt;Benturan fisik itu dilaksanakan, kalau dari pihak mereka, itu oleh -tadi kami sebut KAMMI, KISDI, HMI, YBMI, Humanika, Fosko 66, KB Lasykar Arif Rahman Hakim, Koppas dan Baitul Mal.&lt;br /&gt;Sedangkan dari sebelah sini yang akan benturan dengan mereka, yang nasionalis, itu bansernya NU, Ansornya NU, GMNI, GMI, GAMKI, Forkot, PMII, IPNU, IPPNU, FPI. Ini yang benturan. Apakah mahasiswa dan Forkot itu benturannya murni? Tidak murni, karena ada tadi organisasi pengkaji, yang mengatakan, ini uang, Kau benturan, ini uang kau berkelahi. Cuma mereka lebih banyak uangnya sekarang. Di pihak sini, GMI, PMKRI, GAMKI, itu yang banyak do'anya, uangnya sedikit. Jadi kalau dia datang dengan do'a, jam 10, jam 11 dia pulang. HMI ini datang dengan doa, dengan uang.&lt;br /&gt;Jam 11 dia lapar, dia beli makanan, dia masih ada di situ sebagai demonstran, berkelahi, berkelahi. Tapi ada organisasi bawah tanahnya, atau klendestin. Nah organisasi klendestin itu diambilkan dari para desertir, yag melarikan diri dari ABRI, itu kemudian dikumpulkan oleh Prabowo. Inilah yang melaksanakan pekerjaan-pekerjaan kemarin itu, penjarahan, pembunuhan, penganiayaan, harus Cina (sasarannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Bolanya Ada Pada Kristen dan Cina&lt;br /&gt;Dan untuk melaksanakan pekerjaan itu, ICMI itu kira-kira hampir 10 tahun mengopinikan kemarahan massa, kemarahan rakyat, supaya bisa membunuh Cina, membunuh Kristen. Itu sudah dilaksanakan 10 tahun. Jadi kalau gunung berapi, itu magmanya meledak, kemarin, tetapi hasilnya tidak sampai 1 persen dari harapan mereka. Kan tida ada 5 persen orang Cina yang melarikan diri ke luar negeri. Tidak ada. Padahal, mereka sudah mempersiapkan semua itu selama 10 tahun, membikin kemarahan-kemarahan, mengangkat Prabowo dari letkol didorong-didorong sehingga naik jadi Letjen. Padahal itu dulu jauh di bawah saya. Dan itu sudah mereka buat dan mereka ledakkan di 13-15 Mei. Harapannya bahwa akan terjadi kepanikan nasional yang begitu besar, lalu Cina-Cina itu berlari ke sana ke sini, meninggalkan desa kecamatan segala macem.&lt;br /&gt;Tetapi ternyata hasil yang mereka capai itu mungkin cuma 1 persen, kemampuan yang mereka gunakan sudah 85 persen. Apa kita ini tidak kuat? (Dijawab oleh yang hadir: "Kuaaat!").&lt;br /&gt;Karena di 13 Agustus ketika Egi Sujana mengiriman pamflet kepada semua masjid-masjid, tanggal 14 Agustus Hari Jumat, seluruhnya kumpul di Al Azhar Kebayoran, sehabis salat Jum'at. Kita akan pergi demonstrasi ke Setneg, ke Akbar Tanjung, meminta supaya pidato Presiden Habibie tanggal 15 Agustus itu memasukkan di sana, Pancasila ditarik sebagai dasar negara.&lt;br /&gt;Apakah ada yang mau datang di Al Azhar? Tidak. Padahal itu sudah Egi Sujana, anggota ICMI, salah satu bagian yang tertinggi dari elitnya ICMI. Jadi ini gunung berapi, magmanya itu sudah jauh menurun ke bawah. Sekarang ini bolanya ada sama kita yang Kristen, bolanya ada sama kita yang Chinese ini. Sekarang ini kita Prancisnya, mereka Brasilnya (disambut gelak tawa dan tepuk tangan meriah para hadirin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan Sudah Di Depan Kita&lt;br /&gt;Pertanyaannya, apakah kita sudah pulih dari ketakutan itu. Apakah kita lalu sekarang ini kita sudah percaya, bahwa momen ini diberikan Tuhan untuk kita, supaya kita memang, bukan supaya kita kalah. Dan kemenangan itu sudah di depan kita. Saya berkali-kali dalam pembicaraan yang lebih besar, begitu saya bilang, "Kalau saya lihat Habibie yang begitu lincah, syaraf retoriknya begitu bagus, saya pikir lebih bagus dia jadi penari Bali (lagi-lagi tawa yang hadir terdengar nyaring). Saya harap, besoknya saya akan dipanggil Koramil atau Kodim begitu, ditangkap apa, kok tidak juga.&lt;br /&gt;Saya bilang, Habibie yang sekarang dengan Habibie yang tahun lalu ketika menjadi menteri teknologi, kemudian jadi wapres, saya tidak melihat ada bedanya, kecuali bedanya bahwa sekarang topinya makin miring. Saya harapkan, besoknya saya ditangkap, dipanggil Denpom atau apa, tidak juga.&lt;br /&gt;Jadi sebenarnya kita ini di dalam momen menang. Akbar Tanjung ini sekarang sedang ketakutan, panik, lalu membentuk begitu banyak partai. Nanti kalau partai itu menang, Golkar kalah, belum tentu partai yang menang ini mau mengikut Akbar Tanjung punya keinginan. Sekarang ini diterima uangnya. Tapi kalau dia menang, belum tentu (dia nurut). Dia bilang, "Ah, giliran saya sekarang ini presiden". Itu ada pada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihlah PDI atau PKB&lt;br /&gt;Siapa partai yang mesti kalian pilih. Ada PDI, atau PB, ada Partai Kebangsaan Merdeka yang ada 9 pilar itu, salah satu pilarnya adalah pilar kekerabatan atau pilar keturunan. Ada partai Parti, ada Partai Katolik Demokrat. Pokoknya kalian pilih saja, partai yang bukan sektarian, yang di nasionalis saja. Kalau serumit-rumit, barangkali kalau PDI Mega masih ada partainya, kalau masih ada, PDI Mega saja dipilih. Kalau tidak, partainya NU saja, Gus Dur, juga tidak apa-apa.&lt;br /&gt;Tapi jangan pilih PAN. Karena Amien Rais itu berbicara saja kelihatannya melawan Habibie, kelihatannya saja. Tapi dia sebenarnya adalah Dewan Pakar ICMI. Dia akan kembali ke kandangnya kalau dia memang. Ada partai Siswono dan Sarwono yang akan dibentuk bulan Oktober tahun depan, ada partainya Megawati yang dibentuk Oktober tahun ini.&lt;br /&gt;Oktober tahun ini Megawati akan bikin kongres, kemudian setelah kongres mungkin mereka akan mengubah namanya menjadi apa, menjadi partai baru. Tetapi, jangan bikin partai Kristen, seperti Partai Katolik Demokrat. Saya pikir ini langkah yang salah. Sebab, kalau nanti pemilihannya dengan sistem distrik, kalau kita semuanya ini kompak, Kristen dan Katolik menjadi satu, kita cuma merebut paling banyak itu 38 kabupaten dari 330 kabupaten. Paling banyak. Padahal, di Kristen itu kan lebih banyak Yudasnya daripada Petrusnya. Itu pun kalau kita kompak sekompak-kompaknya, 38 kabupaten yang kita rebut.&lt;br /&gt;Jadi kalau kita bikin partai Kristen, kalau kalah? Jadi kalau kita bikin negara Islam, maka kita akan punya persatuan sepak bola negara Islam. Iya kalau menang, kalau kalah, kan Islam yang kalah main sepak bola. Kalau main voli kalah kan Islam yang kalah. Jadi jangan bikin partai Kristen. Kalau kita kalah kan Kristen yang kalah. Kalah lagi itu salib. Dan Gus Dur mengatakan begini, di dalam Quran itu, ada kalimat "kun fayakun", "Jadi, maka jadilah".&lt;br /&gt;Kata Gus Dur, kalau Allah sejak awalnya sudah mau menjadikan seluruhnya bumi ini Islam, kan Dia tidak usah susah-susah, Dia cuma mengatakan "Kun fayakun", Islam. Jadilah, maka akan jadi Islam. Semuanya akan jadi Islam, tidak ada Katolik, Hindu, Budha, segala macam, monyet juga akan jadi Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T a m a t&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-231333692326329863?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/231333692326329863/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=231333692326329863' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/231333692326329863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/231333692326329863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/07/theo-syafii-dan-transkip-pidato-anti.html' title='Theo Syafii dan Transkip Pidato Anti Islam'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-357750998842791425</id><published>2008-07-16T09:21:00.000+07:00</published><updated>2008-07-16T09:22:06.574+07:00</updated><title type='text'>Abdul Hakim Garuda Nusantara</title><content type='html'>Abdul Hakim Garuda Nusantara sudah menjadi aktivis sejak dini. Ia telah mengenal kegiatan ini sejak SMA, dengan terjun dalam kegiatan Pelajar Islam Indonesia (PII) cabang Pekalongan, kota kelahirannya. Berasal dari keluarga pedagang batik yang taat beragama, ayahnya anggota Muhammadiyah yang menaruh perhatian pada masalah sosial. “Dari kecil kita dididik dengan nilai keagamaan secara keras,” tuturnya. Sejak belia Hakim sudah akrab dengan informasi politik dan pemerintahan, karena ayahnya berlangganan lima sampai tujuh surat kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakim kecil punya tekad besar belajar sampai ke jenjang tinggi. Padahal anak dari keluarga besar ini harus menjalaninya dengan prihatin. Saat sekolah dasar, karena uang saku pas-pasan, ia harus berjalan kaki sejauh delapan kilometer pulang-pergi. Lulus SMA, Hakim sempat setahun menganggur. Akhirnya, 1978, dengan dukungan ayahbundanya, anak ketujuh dari 14 bersaudara itu masuk Fakultas Hukum UI. “Pertimbangannya sederhana saja, karena bisa cepat selesai dan ilmunya mudah untuk mencari kerjaan,” kata Abdul Hakim. Masih di tingkat empat, ia sudah terjun sebagai relawan di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Divisi Hak Asasi Manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menggondol gelar sarjana hukum, 1978, Hakim mengambil spesialisasi hukum perdata internasional di University of Washington, AS. Pulang ke Tanah Air, ia kembali ke LBH, dan bertahan di sana sampai ia menjabat Direktur LBH Jakarta. “Pekerjaan di LBH itu menantang sekali dan membuat kita pintar, karena memaksa kita melakukan penelitian, membaca buku, bertemu banyak orang,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir 20 tahun lebih ia berkarir di bidang advokasi dan hak asasi manusia. Selain menjadi ketua YLBHI, ia dua periode menjabat Ketua Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Mantan ketua pengarah Internasional NGO Forum on Indonesia Development ini pernah pula menjadi dosen luar biasa bidang hukum ekonomi di Fakultas Ekonomi UI. “Kemudian berhenti karena kita tidak punya waktu dengan banyaknya kegiatan,” paparnya. Sebagai pengacara, kasus-kasus besar pernah ia tangani, termasuk kasus Tanjungpriok, 1985, dan Peristiwa 27 Juli 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendiri dan Ketua Yayasan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) ini semula agak keberatan ketika pada 2001 dicalonkan sebagai anggota Komnas HAM oleh PP Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia dan LSM. “Saya jelaskan bahwa saya sekarang jadi advokat dan tidak punya waktu,” katanya. Setelah ia diyakinkan bahwa kegiatan di Komnas itu tidak full time ia pun menyediakan dirinya. Pada pemilihan Ketua Komnas HAM, September 2002, Abdul Hakim terpilih sebagai ketua periode 2002-2006, menggantikan Djoko Soegianto. Ia meraih 12 suara dari 23 anggota Komnas HAM. “Ini merupakan tantangan sekaligus amanat. Jadi saya berusaha akan menjalankan tugas dengan baik,” janjinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakim melihat Indonesia sebenarnya sudah memiliki perangkat hukum baik tentang HAM maupun peraturan perundangan lain yang cukup. Hanya yang menjadi masalah adalah bagaimana mengimplementasikan perangkat hukum dan peraturan perundangan tersebut. Karena itu, pada masa transisi ini, menurut Hakim, kemajuan di tataran normatif ini tidak diikuti dengan kesediaaan semua pihak siap untuk melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakim menikah dengan Isjana Karna Kinasih—adik kandung mantan direktur LBH Nursjahbani Katjasungkana—pada 1984. Tujuh tahun belum dikaruniai anak, pasangan ini ikut program inseminasi, tapi gagal. Ikut program bayi tabung, juga tidak berhasil. Kemudian tiga bulan lamanya mereka menggunakan jamu tradisional Jawa. “Dengan kehendak Yang di Atas, tidak lama setelah saya mengikuti program ini, istri saya hamil,” tutur ayah tiga anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya mengedepankan pentingnya pendidikan, kebersihan, tertib, omong jujur, dan jangan mengambil milik orang lain,” katanya tentang caranya mendidik anak. Sebagai seorang ayah, Hakim juga mementingkan komunikasi dengan anak-anaknya. Termasuk, berperan sebagai kamus berjalan bagi anak-anaknya yang memang suka bertanya. Dan setiap pagi, ia menyempatkan untuk bertemu dengan mereka sebelum ketiganya berangkat ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2002 ia menargetkan menyelesaikan penulisan satu buku tentang berbagai permasalahan hukum di masa transisi. “Saya harus berjuang keras mewujudkan usaha itu,” kata pengagum Yap Thiam Hien dan Mohammad Hatta ini. Keseimbangan dan menjalani hidup dengan wajar dan seimbang adalah moto hidupnya. Hakim hobi nonton film. “Terutama film yang berhubungan dengan masalah kemanusiaan,” katanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-357750998842791425?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/357750998842791425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=357750998842791425' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/357750998842791425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/357750998842791425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/07/abdul-hakim-garuda-nusantara.html' title='Abdul Hakim Garuda Nusantara'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-4483663454294305762</id><published>2008-07-16T06:44:00.000+07:00</published><updated>2008-07-16T06:45:53.057+07:00</updated><title type='text'>Sutrisno Bachir</title><content type='html'>Berusaha Menjadi yang Terbaik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indosiar.com - Kali ini dia tidak berdiri sendirian. Bersama Sekertaris Jenderal partainya Zulkifil Hasan dan seluruh kader di 470 DPD PAN yang dipimpinnya, berusaha membantu masyarakat dengan mendirikan koperasi bantuan modal. Tujuannya tentu saja bukan saja untuk konstituen partainya saja, tapi juga untuk masyarakat yang ada di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya kerja sosial itu tidak perlu di lakukan dengan 'menggembar-gemborkan' di media atau pada setiap kesempatan. Cukup banyak bekerja ada hasilnya tapi sedikit bicara orang memahaminya itu moto yang selalu dipegangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya ketika ada kabar yang menyebut Soetrisno Bachir adalah tokoh partai yang tidak pernah berbuat apa apa bagi rakyat dibantahnya dengan keras. Sebagai Ketua Umum DPP PAN Soetrisno Bachir berkewajiban untuk membesarkan partai yang dipimpinnya. Kesejahteraan dan kepentingan organisasi dan kadernya tetap menjadi perhatian khusus.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hak orang lain kalau yang baik itu dibilang jahat atau yang jahat dibilang baik. Kita kembalikan saja kepada Tuhan. Yang pasti saat ini saya sedang melakukan Safari Kebangsaan,” kata Soetrisno yang sedang berada di sebuah daerah di Jawa Barat ketika berkomunikasi melalui telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam program sosialnya itu pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah 51 tahun lalu ini telah menyambangi wilayah Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Barat, menyusul Jawa Timur. Tidak sekedar kunjung, “Setiap mengunjungi pasar saya berikan modal Rp50 juta untuk buat koperasi. Sekarang sudah sekitar 20 pasar yang saya kunjungi, yang penting ekonomi rakyat berjalan terus. Tapi, masa setiap saya buat seperti itu harus ngomong-ngomong,” cetus Soetrisno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria kelahiran Pekalongan 10 April 1957, ini berasal dari keluarga Muhammadiyah yang cukup dekat dengan kalangan nahdliyin. Dari ayahnya, dia mewarisi  nilai keagamaan dan naluri kewirausahaan. Ayahnya seorang pedagang yang taat beragama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia banyak menghabiskan waktunya di sekitar Pekalongan. Ia menamatkan pendidikan Sekolah Dasar (SD) 1969, SLTP 1972 dan SLTA 1975 semuanya di Pekalongan. Sempat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, namun tak sampai selesai. Dia kembali ke Pekalongan untuk menyelesaikan pendidikan S-1 di Fakultas Ekonomi Universitas Pekalongan (Unika), Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah suami bagi Anita Rosana Dewi, dinikahi tahun 1989, dan ayah bagi empat orang anak maisng-masing Meisa Prasati, Layaliya Nadia Putri, Maisara Putri, dan Muhammad Izzam. Tiga diantara mereka study di Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penuturan Ali Akbar dalam bukunya tentang Soetrisno Bachir, SB merupakan sosok yang sangat dekat dengan anak-anaknya, hal ini digambarkannya ketika Ali Akbar sedang melakukan pengambilan gambar SB dan keluarga untuk bukunya, SB seperti tidak ada jarak, kecuali soal usia semata, dengan Izzan putranya ketika berdialog, mereka bisa berdialog tentang apa saja, dan sang ayah berusaha menyelaraskan obrolannya dengan nalar sang putra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutrisno Bachir dan PAN (Bertekad Jadikan PAN Terdepan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendiri Grup Sabira ini terpilih menjadi Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) periode 2005-2010 menggantikan Amien Rais. Dia terpilih melalaui voting yang alot dalam Kongres PAN ke-2 di Semarang, 10 April 2005, bertepatan hari ulang tahun kelahirannya yang ke-48. Pria berjiwa ‘keumatan-kebangsaan’ ini bertekad menjadikan PAN terdepan, ikhlas dan amanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengusaha ini terbilang masih hijau dalam dunia politik. Dia mengaku bukan ‘orang politik’ melainkan seorang profesional. Namun bila profesionalitas memang diperlukan untuk mengembangkan PAN menjadi partai berpengaruh, ia menyatakan siap menjalankan amanah itu dengan seluruh kemampuan dan keterbatasannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutrisno yang akrab disebut sebagai “SB” ini menjanjikan akan berusaha meraih 100 kursi DPR untuk Pemilu 2009, dan memenangi 10 persen pemilihan kepala daerah.&lt;br /&gt;“Pilihlah saya bukan karena dekat dengan Amien Rais, tapi karena saya ingin meneruskan perjuangannya,” ujar Bachir, lalu disambut tepuk tangan ramai para pendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengusaha dan Aktivis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kecil hngga tumbuh besar Soetrisno Bachir berada di lingkungan keluarga usaha, mendidiknya membentuk karakter sebagai sebagai pengusaha.Sepanjang tahun 1976 hingga 1980 ia aktif menggeluti usaha batik. Lalu, ia bersama kakaknya Kamaluddin Bachir sejak 1981 mulai mengibarkan bendera bisnis Grup Ika Muda, kini menaungi tak kurang 14 badan usaha perseroan terbatas. Grup itu bergerak di bidang budidaya udang, properti (realestat), ekspor-impor, rotan, peternakan dan media massa.&lt;br /&gt;Sutrisno kemudian mengembangkan bisnis sendiri melalui Grup Sabira, induk bagi 10 perusahaan yang bergerak di bidang keuangan atau investasi, perdagangan, konstruksi, properti, ekspor impor, pelabuhan, dan agrobisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soetrisno memang lahir dan besar di tengah-tengah keluarga pedagang di Pekalongan, Jawa Tengah. Ia adalah pedagang sekaligus aktivis organisasi. Anggota Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah ini adalah aktivis organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga aktivis di sejumlah organisasi profesi bisnis, misalnya sebagai tokoh dan pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Kadin, hingga Real Estate Indonesia (REI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbiose citra sebagai pedagang dan aktivis selalu melekat dalam diri Sutrisno Bachir. Ia banyak menyumbangkan materi hasil berdagang ke berbagai organisasi sosial keagamaan. Ketika Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) lahir ia memberikan banyak dukungan. Demikian pula di lingkungan HMI, Muhammadiyah, serta PII dalam 25 tahun terakhir sangat mengenal Sutrisno sebagai penyumbang yang dermawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap organisasi sosial keagamaan, kalau memerlukan dukungan finansial, dan lalu menemui ayah empat orang anak ini, sepanjang rencana kegiatannya bermanfaat jelas maka dijamin pasti tidak akan pulang dengan tangan hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keringanan tangan menyumbang itulah yang ‘memperkenalkan’ Sutrisno Bachir dengan sosok Amien Rais. Apalagi, ia mendapat amanah dari ibunya Latifah Djahrie yang berpesan untuk bantu Pak Amien. “Ibu saya berpesan agar saya selalu membantu Pak Amien,” ujar Sutrisno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1998 kendati bisnisnya sedang dihantam badai krisis ia tetap komit menuruti perintah ibunya. Ia sangat percaya, bila kita sering membantu yang lain Allah akan membalas berlipat-lipat. “Saya sering membuktikan hal itu,” kata Sutrisno Bachir yang sangat hormat kepada ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia yakin kesuksesannya sebagai pengusaha tidak lepas dari restu ibu. Ia ingat persis hadits Nabi, bahwa ridho Allah adalah ridho orangtua. Ia juga mengamini hadits lain, yang telah menjadi semacam ungkapan klasik keagamaan, bahwa ‘surga berada di bawah telapak kaki ibu’. Sabda Rasul Muhammad SAW di atas bukanlah sekadar rangkaian kata-kata namun nyata terbukti dalam kehidupan Sutrisno sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Romantisme’ politik antara Amien Rais dan Sutrisno Bachir sudah berlangsung lama. Amien Rais menyebutkan Sutrisno selalu berada di sampingnya untuk memberikan dukungan. Sejak PAN lahir 1998 termasuk selama kampanye Pemilu 1999, walau bukan sebagai pengurus Sutrisno aktif memberikan bantuan financial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin bergerak lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggilan hati Sutrisno terjun ke politik praktis dengan sasaran sebagai ketua umum PAN, selain karena ingat pesan Ibu juga karena nalurinya sebagai pengusaha tak ingin hanya bergerak pada tataran wacana semata. Dia yakin partai modern tidak bisa ditegakkan hanya dengan wacana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukses partai pada masa depan tidak cukup ditopang popularitas pemimpinnya, maupun banyaknya pernyataan yang dikutip media. Partai modern memerlukan kerja nyata yang sistematis, yang mampu memahami secara detail kebutuhan masyarakat. Karena itu PAN harus mampu menempatkan kader-kader terbaiknya dalam jumlah memadai, baik dalam legislatif maupun eksekutif. Dan, hal itu tidak bisa dibangun hanya dengan popularitas tapi harus dengan kerja keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memasuki gelanggang politik bukan sebagai orang politik atau politisi, namun murni profesional yang kemudian berpolitik. Ia melihat profesionalitas memang diperlukan untuk mengembangkan PAN menjadi partai berpengaruh, dan ia sudah siap untuk menjalankan amanah itu dengan seluruh kemampuan dan keterbatasannya.&lt;br /&gt;Sutrisno lalu menerjemahkan keinginannya membesarkan dan memodernkan PAN pada empat pokok garis perjuangan. Yakni, partai dan pemenangan pemilu, pengaderan yang andal, partai yang dicintai rakyat, serta membangun organisasi PAN yang modern. Garis perjuangan itu dia operasionalkan lagi ke dalam sejumlah program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program-program itu, penataan sistem kerja partai, pengembangan sistem informasi kepartaian, pelatihan-pelatihan kader dan pengurus, pengembangan kapasitas DPP, DPC, DPD sebagai ujung tombak partai, serta membangun dan mengukuhkan citra sebagai (satu-satunya) partai modern di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuatnya visi Sutrisno Bachir membangun PAN menjadi partai modern membuatnya tetap menolak anggapan seolah-olah kader partai haruslah dari kalangan pebisnis. Ia hanya berprinsip, bila partai ingin bisa membiayai sendiri maka PAN harus mau membesarkan pengusaha. Bila ada sepuluh persen saja dari pengurus partai pengusaha, maka jumlah itu sudah cukup untuk membiayai suatu partai. Dengan konsep yang dimiliki, Sutrisno Bachir sudah siap melaksanakan target untuk meraih 100 kursi DPR pada Pemilu 2009, dan memenangkan 10 persen Pilkada.(Her/Berbagai&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-4483663454294305762?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/4483663454294305762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=4483663454294305762' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/4483663454294305762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/4483663454294305762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/07/sutrisno-bachir.html' title='Sutrisno Bachir'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-5993330943004358178</id><published>2008-07-02T15:53:00.001+07:00</published><updated>2008-07-02T15:53:52.415+07:00</updated><title type='text'>Fernando Torres, "El Nino" Penentu Mahkota Spanyol</title><content type='html'>&lt;div id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;   &lt;div class="txtartikelcetak"&gt;       &lt;!--zoom image--&gt;  &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;            &lt;div id="boximartikelcetak1"&gt;   &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" height="200" width="300"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2008/07/01/2873027p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" height="224" width="300" /&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;    &lt;td&gt;          &lt;div align="right"&gt;&lt;span class="txfotocetak"&gt;    GETTY IMAGES/JASPER JUINEN / &lt;a href="http://www.kompasimages.com/" target="_blank"&gt;Kompas Images&lt;/a&gt;    &lt;br /&gt;   Fernando Torres   &lt;/span&gt;    &lt;/div&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;          &lt;span class="tglct"&gt;Selasa, 1 Juli 2008 | 03:00 WIB&lt;/span&gt;  &lt;div id="article_body"&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Mh Samsul Hadi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Ini bukan hanya pesta kemenangan Spanyol. Ini juga pesta untuk dunia sepak bola. Ini kemenangan berkat kesatuan tim (Spanyol). Musim ini fantastis bagi saya, di Liverpool maupun tim nasional. Saya masih menginginkan banyak gelar lagi. Saya ingin menjadi yang terbaik di Eropa.” (Fernando Torres, Vienna, 29 Juni 2008)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kata-kata itu mengalir lancar dari bibir striker Spanyol, Fernando Torres, di hadapan lebih dari 100 wartawan dalam jumpa pers seusai kemenangan Spanyol atas Jerman, 1-0, pada final Piala Eropa 2008 di Stadion Ernst Happel, Vienna, Austria, Minggu (29/6) atau Senin dini hari WIB. Torres, yang dijuluki ”El Nino” (Si Bocah) berkat wajahnya yang kekanak-kanakan dan innocent, penentu kemenangan Spanyol lewat golnya di menit ke-33.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berkat gol itu, Spanyol menjadi juara Eropa dan mengakhiri paceklik gelar yang merajam sepak bola negeri itu selama 44 tahun. Kegembiraan dan kebanggaan Torres tak terwakili oleh kata-kata yang dia ucapkan dalam bahasa Spanyol dan Inggris malam itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia mengaku, masuk skuad timnas sudah hal yang istimewa baginya, apalagi mencetak gol penentu gelar bersejarah bagi negaranya. Di saat semua pemain Spanyol lain meluapkan pesta kegembiraan dengan trofi Henri Delaunay yang mereka peluk dan cium secara bergantian, Torres tak pernah melepaskan diri dari balutan bendera Spanyol.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seorang relawan berusaha meminta bendera itu, tetapi Torres tak mau melepas bendera tersebut hingga ia menerima trofi pemain terbaik final di ruang jumpa pers. Trofi itu ia terima dan ia balut dengan bendera Spanyol.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Sungguh sebuah kehormatan bisa memperkuat timnas. Ini momentum paling indah dalam hidup saya. Begitu banyak orang yang ikut bergembira dalam momentum ini,” papar Torres. ”Ini bukan hanya pesta kemenangan Spanyol. Ini juga pesta dunia sepak bola.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Awal yang sulit&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gol Torres di partai final— yang disebut-sebut sebagai salah satu gol terbaik sepanjang Piala Eropa 2008—dari segi artistik dan keindahannya menjadi klimaks dari seluruh penampilannya di turnamen ini. Melihat rekannya, Xavi Hernandez, akan menyodorkan umpan terobosan, ia melesat berlari kencang setengah zig-zag untuk melampaui bek Jerman, Philipp Lahm.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hanya dalam hitungan detik sebelum bola digapai kiper Jens Lehmann, Torres lebih cepat menyontek bola yang kemudian bergulir pelan ke gawang Jerman. Sebuah gol yang diciptakan hanya oleh pemain bola dengan insting gol dan kecepatan tinggi. Sebuah gol tipikal striker-striker kelas dunia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelum tampil di final, Torres dinilai kurang meyakinkan. Sebelum final, ia hanya mengoleksi satu gol. Namanya tenggelam dan tertutup oleh bomber-bomber lainnya, seperti rekan setimnya, David Villa (top scorer dengan empat gol), Roman Pavlyuchenko (Rusia, tiga gol), Lukas Podolski (Jerman, tiga gol), Andrei Arshavin (Rusia, dua gol), dan bahkan Semih Senturk (Turki, tiga gol).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat Spanyol melibas Rusia 4-1 di penyisihan grup, ia ditarik keluar dan diberitakan frustrasi sehingga menolak bersalaman dengan pelatihnya, Luis Aragones.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Dia (Aragones) figur seperti ayah. Dia sosok yang sangat penting bagi sukses kami. Berkat dia, tim ini bermain bagus. Dia pria yang fantastis dalam sejarah sepak bola Spanyol,” tutur Torres saat ditanya peran Aragones.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia dinilai banyak kalangan tampil kurang meyakinkan di Euro 2008, berbeda jauh dengan kehebatannya di Liverpool musim ini (33 gol pada musim pertamanya di klub itu). Beberapa kali ia gagal menuntaskan peluang yang dalam standar permainan dia seharusnya membuahkan gol.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada awal penampilannya di turnamen ini, Torres lebih berperan sebagai pengumpan ketimbang penuntas serangan. Ini diakui David Villa, rekannya yang mencetak hat trick melawan Rusia di penyisihan. Ketika namanya melambung berkat hat trick itu, Villa menyebut itu berkat jasa Torres yang memberi dua umpan matang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di tengah penampilannya yang tak stabil itu, Torres tetap dianggap pemain berbahaya yang selalu menebar teror di kotak penalti lawan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Torres sangat berbahaya, terutama jika membawa bola. Dia memiliki kecepatan yang luar biasa,” ujar Joachim Loew, Pelatih Jerman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Kecepatan adalah kelebihannya. Dia juga sangat bertenaga, berani dalam duel, dan sempurna,” tambah Andy Roxburgh, Direktur Teknik UEFA, yang bersama delapan pengamat bola lainnya memasukkan Torres dalam Tim Bintang Piala Eropa 2008.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam bentuk permainan yang di bawah standarnya pun, Torres masih dianggap berbahaya. Apalagi jika ia tampil dalam penampilan terbaik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sehari menjelang partai final yang tidak akan dihadiri David Villa yang cedera, Torres berjanji kepada wartawan untuk mencetak gol. Dia menepati janji itu. Gol tersebut adalah gol ke-17 yang dicetak Torres dari 54 penampilan timnas senior.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya gembira bisa mencetak gol. Tugas striker adalah mencetak gol. Saya gembira bisa melaksanakan tugas itu,” ujar pemain berusia 24 tahun itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Mimpi ke depan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi Torres, gelar juara Eropa saat ini adalah gelar pertamanya bersama timnas senior di turnamen besar, walaupun itu bukan hal baru baginya pada level yunior. Ia, misalnya, mencetak gol penalti yang memenangkan Spanyol 1-0 atas Perancis di final Kejuaraan Eropa di Bawah Usia 16 Tahun (U-16) pada 2001.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dua belas bulan kemudian ia kembali mencetak gol tunggal kemenangan Spanyol 1-0 atas Jerman pada final Kejuaraan Eropa di Bawah Usia 19 Tahun (U-19).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Namun, (Piala Eropa) ini gelar terpenting setelah Piala Dunia. Saya akan menikmati kemenangan ini. Mimpi itu telah menjadi kenyataan. Ini gelar pertama kami. Saya masih menginginkan banyak gelar lagi. Kami kini ambisius untuk menghadapi Piala Dunia,” papar Torres.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penampilan cemerlang Torres di partai pamungkas Piala Eropa 2008 itu dipastikan semakin menguatkan tekad klubnya, Liverpool, untuk mempertahankan posisi dia di Anfield. Torres diboyong Liverpool dari Atletico Madrid musim 2007-2008 dengan transfer 20 juta poundsterling (sekitar Rp 340 miliar), angka transfer termahal dalam sejarah Liverpool.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia membayar lunas harga mahal itu dengan memberi Liverpool 24 gol di ajang Liga Primer musim ini. Sebuah rekor gol bagi pemain asing dalam musim pertamanya di kompetisi Liga Inggris. Dengan koleksi gol itu, dia menjadi pemain Liverpool pertama yang mengoleksi lebih dari 20 gol setelah Robbie Fowler pada musim 1995-1996.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Total gol yang diberikan Torres untuk Liverpool dalam semua kompetisi musim ini adalah 33 gol, melebihi prestasi mantan ikon klub itu, Michael Owen, dalam mengoleksi gol satu musim. Chelsea dikabarkan ngebet untuk memiliki Torres dengan tawaran harga yang berlipat ganda, 50 juta poundsterling (sekitar Rp 850 miliar).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, dengan penampilan cemerlangnya dalam final Piala Eropa 2008, hanya klub bodoh yang mau menjual Torres.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Ini musim fantastis bagi saya, di Liverpool maupun tim nasional. Saya masih menginginkan banyak gelar lagi. Saya ingin menjadi yang terbaik di Eropa,” demikian tekad Torres.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(Mh Samsul Hadi, dari Vienna, Austria)&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-5993330943004358178?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/5993330943004358178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=5993330943004358178' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5993330943004358178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5993330943004358178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/07/fernando-torres-el-nino-penentu-mahkota.html' title='Fernando Torres, &quot;El Nino&quot; Penentu Mahkota Spanyol'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-7248468009783196268</id><published>2008-07-02T15:44:00.000+07:00</published><updated>2008-07-02T15:45:08.133+07:00</updated><title type='text'>Aragones Membuat Sepak Bola Indah</title><content type='html'>&lt;div id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;!--&lt;div id="subjudulartikelcetak"&gt;Satuan Keamanan PBB Diterjunkan&lt;/div&gt; --&gt;  &lt;div class="txtartikelcetak"&gt; &lt;!--zoom image--&gt;  &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;    &lt;div id="boximartikelcetak1"&gt;  &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2008/07/02/2874370p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" align="left" height="300" width="250" /&gt;         &lt;div align="right"&gt;&lt;span class="txfotocetak"&gt;   &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;!--  &lt;table width="250" height="300" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;      &lt;tr&gt;    &lt;td&gt;    &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2008/07/02/2874370p.jpg" width="250" height="300" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" align="left" /&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;div align="right"&gt;&lt;span class="txfotocetak"&gt;     / &lt;a href="http://www.kompasimages.com" target="_blank"&gt;Kompas Images&lt;/a&gt;    &lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;    &lt;/div&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt; --&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;span class="tglct"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;Gatot Widakdo&lt;/strong&gt;&lt;p&gt;Pada usianya yang sudah hampir tiga perempat abad, Jose Luis Aragones Suarez justru membuat prestasi emas. Pada saat banyak pihak meragukan kemampuannya untuk membawa tim nasional Spanyol ke prestasi puncak, Aragones tetap menanggapi tenang gunjingan itu. Semua akhirnya berbalik memuji saat Spanyol juara Euro 2008.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penantian rakyat Spanyol selama 44 tahun pun tertuntaskan. Rakyat Spanyol bersukacita menyambut juara Euro 2008. Pria-wanita, tua-muda, bahkan anak-anak larut dalam kegembiraan. Peristiwa ini tak akan pernah bisa dilupakan karena sejarah sepak bola kembali mencatat sukses. Ini merupakan sukses kedua Spanyol di ajang Euro. Sukses pertama mereka buat di tahun 1964 dengan mengalahkan Uni Soviet 2-1 pada partai final di Stadion Bernabeu, Madrid.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aragones telah menjadi pahlawan sejati Spanyol. Saat merebut gelar Euro pertama, Aragones juga menjadi bagian dari tim tersebut, sebagai pemain. ”Sesaat setelah menang, saya langsung teringat pertandingan 1964 karena saya merupakan bagian dari tim di penyisihan. Kendati saya tidak main karena mereka ketika itu tidak menggunakan pemain cadangan. Saya merasakan hal itu seperti yang dirasakan pemain cadangan saat kami memenangi gelar pada hari ini,” kata Aragones.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aragones menambahkan, kemenangan 1-0 atas Jerman di final Euro 2008, Senin (30/6) dini hari, merupakan awal kebangkitan para pemain muda berbakat Spanyol. Dia begitu yakin tim itu akan dapat menjuarai Piala Dunia 2010, turnamen yang belum pernah dimenangi Spanyol.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di bawah kendalinya, Spanyol memang telah membuktikan diri sebagai tim terbaik. Spanyol merupakan satu-satunya tim yang tak terkalahkan di turnamen Euro 2008. Keperkasaan Spanyol sudah langsung terlihat pada awal babak penyisihan saat mengalahkan Rusia, 4-1, pada pertandingan pertama. Selanjutnya giliran Swedia yang dipukul 2-1. Meskipun sudah memastikan ke perempat final, Spanyol tetap memperlihatkan kualitasnya dengan mengalahkan juara bertahan Yunani, 2-1.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Walau meraih hasil sempurna, Spanyol tetap diragukan. Pasalnya, Spanyol sudah telanjur terkenal dengan julukan tim yang hanya jago pada babak penyisihan dan tersingkir pada babak hidup-mati. Apalagi, lawan yang dihadapi di perempat final adalah Italia yang datang ke Euro 2008 dengan gelar juara dunia. Di dalam negeri, Aragones juga dikecam karena keputusannya yang tidak membawa pemain kesayangan publik Spanyol, Raul Gonzalez.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akan tetapi, nasib Aragones memang sedang baik. Spanyol lolos dari hadangan Italia lewat adu tendangan penalti. Mereka pun melaju ke semifinal untuk menghadapi Rusia yang sudah pernah mereka kalahkan di laga pertama. Sampai di sini, sebagian besar orang belum yakin Spanyol bisa lolos ke final. Rusia yang mereka hadapi adalah tim kuda hitam yang baru saja menjungkalkan tim favorit Belanda, 3-1, yang bermain trengginas pada babak penyisihan dengan mengalahkan Perancis dengan skor 4-1, Italia (3-0), dan Romania (2-0).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kejutan memang terjadi. Spanyol bermain gemilang dengan menaklukkan Rusia, 3-0. Semua keraguan seakan sirna ketika pemain-pemain Spanyol memperlihatkan permainan sepak bola indah, yaitu permainan yang bebas mengalir. Rusia, yang bermain perkasa dengan mengalahkan Belanda, dibuat tak berdaya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Mereka yang mencintai sepak bola pasti ingin menyaksikan permainan seperti itu. Penonton ingin melihat pemain yang bisa mengumpan bola dengan baik, menyerbu ke daerah penalti, dan kemudian mencetak gol. Mereka pasti melihat Spanyol sebagai model bagaimana seharusnya bermain bola,” kata Aragones.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menjelang final melawan Jerman, legenda sepak bola Jerman, Frans Beckenbauer, meramalkan Spanyol akan merepotkan tim Jerman, bahkan bisa mengalahkan mereka. Menurut Beckenbauer, Spanyol telah menunjukkan permainan terbaik dalam dekade terakhir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa yang diramalkan Beckenbauer menjadi kenyataan. Spanyol mengalahkan Jerman, 1-0. ”Pada menit-menit pertama pertandingan, kami sempat khawatir karena Jerman mulai menguasai pertandingan, tetapi pada menit ke-15, ketika usaha kami menerpa tiang gawang, saya mulai yakin kalau kami bisa menang dan kami pun mulai tampil lebih baik,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan formasi 4-1-4-1, pasukan Aragones sanggup meladeni tekanan pemain Jerman. Empat pemain tengah Spanyol, yaitu Cesch Fabregas, Andres Iniesta, Xavi Hernandez, dan David Silva, tidak hanya mematikan aliran bola lawan, tetapi menyuplai umpan terobosan matang bagi striker Fernando Torres yang akhirnya mencetak gol kemenangan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Lihai memotivasi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain piawai dalam membuat strategi, Aragones sangat lihai memotivasi pemain. Dia bekerja dengan cara membuat setiap orang yang berada dalam tim merasa penting. Itu sebabnya ketika salah seorang pemain absen, perannya bisa segera tergantikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya juga selalu bilang kepada pemain bahwa tidak seorang pun yang akan mengingat juara kedua. Karena itu, ketika sudah sampai di final, pastikan bahwa kalian yang menang,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meskipun sukses, Aragones justru memilih meninggalkan tim nasional Spanyol dan memutuskan menangani klub Turki, Fenerbahce.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepergiannya sebagai bentuk kekecewaan terhadap Federasi Sepak Bola Spanyol yang tidak menawarinya perpanjangan kontrak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa yang terjadi dengan Aragones memang ironis. Pelatih yang memasuki usia 70 tahun—merupakan pelatih tertua di Euro 2008—telah mengakhiri penantian Spanyol selama 44 tahun. Namun, kepergiannya akan dikenang dengan warisan sepak bola indahnya.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-7248468009783196268?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/7248468009783196268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=7248468009783196268' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/7248468009783196268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/7248468009783196268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/07/aragones-membuat-sepak-bola-indah.html' title='Aragones Membuat Sepak Bola Indah'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-4507342570427638977</id><published>2008-06-04T12:54:00.001+07:00</published><updated>2008-06-04T12:54:41.501+07:00</updated><title type='text'>FPI</title><content type='html'>&lt;div style="width: 300px; float: left; margin-right: 10px;"&gt;         &lt;div style="padding: 0px 0px 5px; width: 298px;"&gt;        &lt;div id="loadarea" style="margin-bottom: 5px; width: 298px;"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2008/06/03/160800p.jpg" border="0" width="298" /&gt;     &lt;/div&gt;                    &lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/04/1024579/profil.singkat.fpi.dan.habib.rizieq#" style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none;"&gt;KRISTIANTO PURNOMO&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;        &lt;div id="boxtitle" style="margin-bottom: 0px; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 11px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Habib Rizieq Shihab&lt;/div&gt;       &lt;/div&gt;                                            &lt;!--- video --&gt;                                             &lt;div id="boxterkait" style="width: 300px; background-color: rgb(255, 255, 255); margin-bottom: 20px;"&gt;      &lt;b class="judulnolead"&gt;Artikel Terkait:&lt;/b&gt;      &lt;ul id="navlist"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/04/0826052/anggota.fpi.yang.diamankan.menjadi.56.orang"&gt;Anggota FPI yang Diamankan Menjadi 56 Orang&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/04/0812044/teriakan.takbir.iringi.kepergian.habib.rizieq.ke.polda"&gt;Teriakan Takbir Iringi Kepergian Habib Rizieq ke Polda&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/04/07291734/penggeledahan.di.markas.fpi.tanpa.perlawanan"&gt;Penggeledahan di Markas FPI Tanpa Perlawanan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;     &lt;/div&gt;       &lt;div style="padding: 0pt;"&gt;        &lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;  &lt;div class="tanggal"&gt;Rabu, 4 Juni 2008 | 10:24 WIB&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA, RABU-&lt;/strong&gt; Dalam dua hari terakhir ini pemberitaan media sangat terfokus pada tuntutan pembubaran dan penangkapan anggota Front Pembela Islam (FPI). Ini terutama terjadi setelah aksi kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang beratribut FPI terhadap massa peserta aksi AKKBB yang berunjuk rasa di Monas, Minggu (1/6) lalu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berikut disampaikan profil singkat FPI dan ketuanya, Habib Rizieq Shihab, yang dikumpulkan Litbang &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt; dari berbagai sumber:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;FRONT PEMBELA ISLAM (FPI)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Deklarasi              : 17 Agustus 1998&lt;br /&gt;Deklarator            : - Al Habib Muhammad Rizieq bin Hussein Shihab&lt;br /&gt;                              - Almarhum KH Cecep Bustomi&lt;br /&gt;                              - KH Idrus Jamalulil&lt;br /&gt;Tempat deklarasi  : Pesantren Al Ul-Um, Kampung Utan, Ciputat&lt;br /&gt;Alamat markas     : Jalan Petamburan III No 83, Jakarta Pusat&lt;br /&gt;Syarat keanggotaan : Ahlul Sunnah Wal Jamaah&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Catatan:&lt;br /&gt;6 November 2002, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Front Pembela Islam (FPI) membekukan aktivitas kelaskaran FPI di seluruh Indonesia untuk waktu yang tidak ditentukan. Alasan pembekuan ini untuk membersihkan dan membenahi laskar  FPI  dari  penyusupan  yang memperburuk citra organisasi tersebut. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;AL HABIB MUHAMMAD RIZIEQ bin HUSSEIN SHIHAB&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tempat Tanggal Lahir  : Jakarta, 24 Agustus 1965&lt;br /&gt;Orang tua                    : Hussein Shihab dan Sidah Alatas&lt;br /&gt;Anak ke                      : ke 5 dari lima bersaudara&lt;br /&gt;Istri                             : Syarifah&lt;br /&gt;Anak                           : 4 orang&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pendidikan   :&lt;br /&gt;- Sekolah Islamic Village, Tangerang&lt;br /&gt;- Diploma Bahasa Arab, Arab Saudi&lt;br /&gt;- Sarjana Pendidikan Hukum Islam King of Saud University, Riyadh, Arab Saudi&lt;br /&gt;- S2 Universitas Islam Internasional Antar Bangsa, Malaysia (Belum Selesai)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Latar belakang organisasi : Anggota Jami’at Kheir, organisasi tradisional di kalangan Arab  Indonesia&lt;/p&gt;&lt;p&gt;SUMBER:&lt;br /&gt;Diolah dari berbagai sumber oleh SUSANTI&lt;em&gt;/LITBANG KOMPAS&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-4507342570427638977?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/4507342570427638977/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=4507342570427638977' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/4507342570427638977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/4507342570427638977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/06/fpi.html' title='FPI'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-5957429421304761824</id><published>2008-05-15T11:21:00.000+07:00</published><updated>2008-05-15T11:22:26.797+07:00</updated><title type='text'>Ali Abd Al-Raziq (1888-1966)</title><content type='html'>By Luthfi Assyaukanie     &lt;p&gt;Sebagian ulama tradisional Mesir menyamakan Ali Abd al-Raziq dengan Mustafa Kamal Ataturk, bahkan menganggapnya lebih buruk dan lebih berbahaya dari tokoh sekularisme Turki itu. Kedua tokoh ini memang hidup sejaman dan memiliki ideologi politik yang kurang lebih sama. Jika pada tahun 1924 Ataturk mengumumkan penghapusan lembaga khilafah dan menyatakan pemisahan urusan agama dari negara, pada tahun 1925, Abd al-Raziq menerbitkan sebuah buku yang intinya mendukung langkah yang dilakukan Ataturk, bahwa Islam tidak memiliki sistem politik tertentu yang harus dilaksanakan oleh kaum Muslim. Persoalan politik adalah persoalan duniawi yang tidak ada campur tangan agama di dalamnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kedua tokoh Islam itu mendapat hujatan luar biasa dari mayoritas kaum Muslim. Beruntunglah Ataturk, karena ia seorang kepala negara, ia bisa leluasa menerapkan ideologinya di Turki. Sementara Abd al-Raziq mendapatkan kecaman dan hinaan dari rakyat Mesir. Sejak ia menerbitkan buku kontroversialnya itu, satu persatu jabatan pentingnya dicopot, diasingkan dari komunitas al-Azhar, dan mendapat perlakuan kasar dari masyarakat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ali Abd al-Raziq dilahirkan di sebuah desa kecil di provinsi Minya, Mesir tengah, pada tahun 1888. Ia adalah adik kandung dari Mustafa Abd al-Raziq, intelektual Mesir yang terkenal dengan teori filsafat Islam-nya. Sama seperti Mustafa, Ali Abd al-Raziq melewati masa kecilnya dengan mempelajari ilmu-ilmu agama. Dalam usia sepuluh tahun, ia masuk al-Azhar dan menghadiri beberapa kuliah umum yang disampaikan oleh Muhammad Abduh. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pemikiran-pemikiran progresifnya, tak pelak lagi, dipengaruhi oleh sang Imam. Pada tahun 1910, ia masuk ke Universitas Mesir dan berkesempatan mendengarkan ceramah ilmiah yang disampaikan oleh dua orientalis terkenal, Nallino tentang literatur dan Santillana tentang filsafat. Ia mendapat ijazah al-Azhar pada tahun 1911 dan dua tahun kemudian mendapat kesempatan beasiswa belajar di Oxford, Inggris. Ia mengambil jurusan Ekonomi dan Ilmu Politik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kembali dari Oxford, ia diangkat menjadi hakim di Alexandria dan wilayah sekitarnya. Disamping itu, ia mengajar Sejarah Peradaban Arab Islam di sebuah perguruan tinggi al-Azhar cabang Alexandria. Di kota inilah ia mulai menyiapkan bahan-bahan untuk bukunya yang terkenal, al-Islam wa Ushul al-Hukm: Ba’ts fi al-Khilafah wa al-Hukumah fi al-Islam (Islam dan dasar-dasar pemerintahan: Kajian tentang khilafah dan pemerintahan dalam Islam) yang diterbitkan beberapa tahun kemudian. Selain buku ini, Abd al-Raziq menulis beberapa buku lain, di antaranya, al-Ijma’ fi al-Syari’ah al-Islamiyyah (konsesnsus dalam hukum Islam) yang diterbitkan pada tahun 1947.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tak Ada Negara Islam&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Abd al-Raziq meyakini bahwa Islam adalah agama moral, sebelum menjadi agama lainnya. Nabi Muhammad diutus kepada bangsa Arab untuk memperbaiki moralitas mereka. Tugas utama Nabi adalah menyampaikan risalah kenabian yang mengandung ajaran-ajaran moral. Ketika Nabi membangun sebuah komunitas di Madinah, dia tidak pernah menyatakan satu bentuk pemerintahan yang harus diterapkan, tidak juga memerintahkan penerusnya (khulafa al-rasyidun) untuk membuat satu sistem politik tertentu. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apa yang diasumsikan oleh sebagian orang bahwa Islam menganjurkan umatnya mendirikan negara dengan sistem politik, aturan perundangan, serta pemerintahan “islami” adalah asumsi keliru yang ditarik dari kenyataan sejarah. Padahal fakta sejarah membuktikan bahwa apa yang dianggap sistem “islami” tak lain merupakan ijtihad politik dari para tokoh-tokoh Islam sepeninggal Nabi. Bukankah pemilihan kepala negara dan sistem pemerintahan yang dijalankan Abu Bakar berbeda dengan yang diterapkan Umar ibn Khattab. Begitu juga, apa yang dijalankan Umar berbeda dengan Utsman dan Ali. Dan bukankah sistem khilafah model Umayyah dan Abbasiyyah tak lebih dari ijtihad politik sebagian orang-orang dari klan itu. Khilafah, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai suatu keharusan mutlak, ternyata merupakan bentukan sejarah yang dimulai oleh Abu Bakar dan Umar dan dimatangkan oleh Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berdasarkan fakta sejarah itu, Abd al-Raziq menyimpulkan bahwa sistem khilafah bukanlah sebuah keharusan bagi kaum Muslim untuk mendirikannya, dan bahkan ia bukan sama sekali bagian dari Islam. Ia menulis:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Agama Islam terbebas dari khilafah yang dikenal kaum Muslim selama ini, dan juga terbebas dari apa yang mereka bangun dalam bentuk kejayaan dan kekuatan. Khilafah bukanlah bagian dari rencana atau takdir agama tentang urusan kenegaraan. Tapi ia semata-mata hanyalah rancangan politik murni yang tak ada urusan sama sekali dengan agama. Agama tidak pernah mengenalnya, menolaknya, memerintahkannya, ataupun melarangnya. Tapi, ia adalah sesuatu yang ditinggalkan kepada kita agar kita menentukannya berdasarkan kaedah rasional, pengalaman, dan aturan-aturan politik. Begitu juga, pendirian lembaga militer, pembangunan kota, dan pengaturan administrasii negara tak ada kaitannya dengan agama. Tapi, semua itu diserahkan kepada akal dan pengalaman manusia untuk memutuskannya yang terbaik.&lt;/em&gt; (Ali Abd al-Raziq, al-Islam wa Ushul al-Hukm. Cetakan pertama, Cairo, 1342/1925. Hal. 103).&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Abd al-Raziq sangat percaya dengan sejarah. Ia meyakini bahwa beberapa doktrin dan konsep Islam atau yang diyakini sebagai bagian dari Islam adalah ciptaan dari sejarah. Sebagian dari rekaan sejarah itu ada yang sesuai dengan ajaran aseli Islam dan sebagian lainnya keliru atau bahkan sesat. Sistem politik adalah salah satu ciptaan sejarah yang tak memiliki rujukan dalam ajaran aseli Islam. Menurutnya, Islam seolah-olah sengaja tidak memberikan satu standar baku sistem pemerintahan, demi memudahkan kaum Muslim agar menentukan sistem politik yang terbaik bagi mereka. Ini tak lain merupakan hikmah tersembunyi dari Islam yang tak banyak dipahami orang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pandangan historis Abd al-Raziq tak pelak memancing kontroversi, bukan hanya dari ulama tradisional yang secara turun temurun meyakini secara taken for granted bahwa khilafah merupakan bagian dari doktrin Islam, tapi juga dari kalangan intelektual Muslim yang masih menaruh harapan pada lembaga khilafah. Rasyid Ridha dan murid-muridnya, seperti Hassan al-Banna, pendiri gerakan ikhwan al-muslimin, menganggap pandangan Abd al-Raziq itu sebagai gagasan berbahaya yang harus diluruskan. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagi mereka, penolakan terhadap khilafah atau sistem pemerintahan Islam hanya akan menjauhkan agama ini dari urusan dunia dan akan membuka peluang sekularisme dengan memisah-misahkan urusan dunia dari agama, satu pengalaman yang pernah terjadi dalam agama Kristen. Bagi Ridha, penolakan terhadap sistem khilafah dianggap sangat berbahaya karena itu akan memperlemah posisi umat Islam yang memang sudah tercabik-cabik oleh kolonialisme. Patut diingat, ketika Abd al-Raziq mengumumkan gagasannya itu, hampir semua negara Muslim berada di bawah kekuasaan penjajah dan satu-satunya benteng pertahanan terakhir –yakni khilafah Utsmaniyyah di Turki—juga telah dibubarkan oleh Ataturk.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Abd al-Raziq bukan tidak memiliki perasaan persatuan dan bukan seperti yang dituduhkan sebagian orang bahwa ia ingin menerapkan gagasan sekularisme Barat terhadap Islam. Sebagai seorang ‘alim al-Azhar yang luas pengetahuan agamanya dan sebagai seorang intelektual yang pernah mengecap pendidikan Barat serta berpengalaman melihat negara-negara lain selain Mesir, Abd al-Raziq tentunya memiliki wawasan dan pertimbangan yang matang hingga ia mengeluarkan ijtihad kontroversial itu. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pengetahuan sejarahnya yang mendalam membuatnya merasa sangat yakin bahwa sistem politik yang berlaku sepanjang sejarah Islam bukan cuma satu. Ia sangat bergantung dan dipengaruhi oleh penguasa yang memegang pemerintahan. Apa yang disebut khilafah oleh setiap penguasa memiliki makna dan implikasi politisnya masing-masing yang berbeda antara satu khalifah dengan lainnya. Perbedaan ini hanya bisa dipahami bahwa penerapan sistem pemerintahan yang disebut khilafah itu berasal dari ijtihad dan pendapat yang terbaik dari para pemegang kekuasaan dalam sistem tersebut. Karenanya, sistem itu tidak bisa disebut sebagai sistem “islami” dengan pengertian bahwa model politik dan segala implikasinya yang diterapkan dalam kelembagaan khilafaah berasal dari Islam. Bahkan pernyataan seperti ini, menurut Abd al-Raziq, bisa sangat berbahaya. Khususnya jika sebuah khilafah berjalan tidak sesuai dengan nilai-nilai dasar Islam, seperti despotisme dan kesewenang-wenangan yang terjadi pada sebagian pemerintahan dinasti Umayyah, Abbasiyyah, dan Utsmaniyyah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karenanya, pernyataan bahwa Islam tidak memiliki sistem politik tertentu bagi kaum Muslim, dalam pandangan Abd al-Raziq, menjadi positif, karena hal itu berarti menyelamatkan Islam dari pengalaman-pengalaman politik negatif yang terjadi sepanjang sejarah Islam. Pendapat itu sekaligus menempatkan Islam sebagai agama agung yang memberikan ruang bagi manusia untuk berkreasi bagi urusan dunia mereka. Abd al-Raziq mengkritik sebagian ulama yang mengagung-agungkan khalifah sebagai penguasa tunggal yang memiliki kekuasaan mutlak, suci, dan dianggap sebagai wakil Tuhan, dan karenanya, menolak khalifah berarti menolak kesucian dan perintah Tuhan. Padahal, perintah Islam sesungguhnya, pemimpin haruslah dipilih dari rakyat (ummah), dibay’at oleh rakyat dan diturunkan oleh rakyat. Tak ada seorang pun yang mengatakan bahwa pemimpin ditunjuk oleh ayat atau hadits Nabi. Jadi, pemberian kepercayaan dan pengagung-agungan secara berlebihan kepada khalifah seperti yang dilakukan oleh kaum Muslim masa silam sama sekali bukanlah sikap yang berasal dari ajaran murni Islam. Tapi berasal dari tradisi Romawi, Persia, atau dinasti-dinasti besar sebelum Islam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selain menggunakan argumen historis, Abd al-Raziq juga mengutip sumber-sumber agama, termasuk Alquran dan hadits yang memperkuat pendapatnya bahwa khilafah dan sistem politik bukanlah bagian dari doktrin Islam. Ia menjawab para pengkritiknya yang mengatakan bahwa Alquran menyebut soal “khalifah” dan “ulil amri” yang keduanya merupakan konsep politik yang ditawarkan Islam. Menurutnya, para ulama dan mufasir telah memanipulasi ayat-ayat Alquran sehingga dua istilah itu menjadi bermakna politik. Padahal sesungguhnya ayat-ayat yang menyinggung tentang dua konsep itu tak ada kaitannya dengan urusan politik. Konsep “ulil amri” misalnya, yang dianggap oleh kalangan Sunni sebagai konsep paling kuat dalam mendukung adanya “teori politik Islam,” menurut Abd al-Raziq tidaklah seperti yang mereka duga. Dengan mengutip beberapa karya tafsir tradisional seperti al-Baydhawi dan al-Zamakhsyari, mantan syaikh al-Azhar itu menjelaskan bahwa “ulil amri” bermakna sahabat-sahabat Nabi (al-Baydhawi) atau para ulama (al-Zamakhsyari), dan bukan “khalifah” atau “pemimpin negara” seperti yang selama ini dipahami oleh sebagian ulama. Abd al-Raziq juga sangat berhati-hati dengan hadist-hadist tentang “politik” yang sering dijadikan rujukan oleh sebagian orang. Dengan metodologi kritik hadits, ia membuktikan bahwa hadits-hadits semacam itu sangat lemah atau jika silsilah periwayatannya baik, maknanya bertentangan dengan akal sehat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Demikianlah pandangan Abd al-Raziq tentang khilafah dan sistem politik yang menyebabkannya dihujat oleh sebagian besar ulama dan sekaligus menjadikannya sebagai tokoh paling terkenal dalam wacana politik Islam. Kendati penolakan terhadap sistem khilafah dan negara Islam merupakan ide sentral Abd al-Raziq, pendapat itu bukanlah gagasan orisinil satu-satunya. Beberapa pandangannya yang lain juga dianggap kontroversial, karena tidak sesuai dengan mainstream penafsiran yang dianut mayoritas ulama. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gagasan tentang jihad misalnya. Menurutnya, jihad dalam artian perang untuk menyebarkan agama Islam adalah konsep yang keliru. Bahkan konsep jihad dalam artian perang sama sekali tidak bisa dikatakan sebagai bagian dari risalah kenabian. Tapi merupakan strategi Nabi Muhammad semata-mata untuk memperluas wilayah kekuasaan Islam yang saat itu memang menuntut demikian. Dengan kata lain, jihad bersifat politis duniawi semata yang sangat terbatas pada konteks zaman di mana Nabi hidup. Keberatan Abd al-Raziq terhadap konsep jihad yang berarti perang karena ia bertentangan dengan ajaran dasar Islam yang menganjurkan perdamaian dan keadilan. Bagaimana mungkin agama yang membawa risalah damai menganjurkan umatnya memerangi agama dan bangsa lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karenanya, Abd al-Raziq membedakan peran Muhammad sebagai seorang Nabi pembawa risalah dan Muhammad sebagai kepala negara. Muhammad sebagai Nabi adalah Muhammad yang semua ucapan dan tindakannya menjadi panutan bagi kita semua, sedangkan Muhammad sebagai kepala negara adalah Muhammad yang keputusan-keputusan serta tindakan-tindakannya dibatasi oleh konteks kesejarahan ruang dan tempat di mana ia hidup.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan pandangan-pandangan kontroversialnya itu, Abd al-Raziq ingin mengatakan dua hal. Pertama, bahwa Islam adalah agama moral-spiritual par-excellence. Ia bebas dari campur tangan manusia yang cenderung mengejar kepentingan-kepentingan duniawi jangka pendek, termasuk kepentingan-kepentingan politik. Kedua, Islam adalah agama yang fleksibel yang selalu memberikan kemudahan kepada umatnya. Dalam masalah politik, ia tidak menentukan satu standar sistem, tapi menyerahkannya kepada keputusan terbaik manusia. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-5957429421304761824?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/5957429421304761824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=5957429421304761824' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5957429421304761824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5957429421304761824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/05/ali-abd-al-raziq-1888-1966.html' title='Ali Abd Al-Raziq (1888-1966)'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-1861190096582336685</id><published>2008-05-14T10:23:00.000+07:00</published><updated>2008-05-14T10:25:01.646+07:00</updated><title type='text'>SOSOK DAN PEMIKIRAN</title><content type='html'>&lt;div class="judulisiberitaatas" style="margin: 0px; font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="judulisiberita" style="margin: 5px 0px;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seperti Kita Ini Bukan Indonesia&lt;/span&gt;...&lt;/div&gt;           &lt;div style="width: 300px; float: left; margin-right: 10px;"&gt;         &lt;div style="padding: 0px 0px 5px; width: 298px;"&gt;        &lt;div id="loadarea" style="margin-bottom: 5px; width: 298px;"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2008/04/26/2760316p.jpg" border="0" width="298" /&gt;     &lt;/div&gt;                    &lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: left; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/26/00524118/#" style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none;"&gt;KOMPAS/IMAM PRIHADIYOKO&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;        &lt;div id="boxtitle" style="margin-bottom: 0px; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 11px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Bambang Shergi Laksmono&lt;/div&gt;       &lt;/div&gt;                                            &lt;!--- video --&gt;                                            &lt;div style="padding: 0pt;"&gt;        &lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;  &lt;div class="tanggal"&gt;Sabtu, 26 April 2008 | 00:52 WIB&lt;/div&gt;  &lt;p align="center"&gt;Oleh &lt;strong&gt;Imam Prihadiyoko&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mei ini, Indonesia memperingati seabad kebangkitannya. Sebuah pelajaran sejarah yang mengingatkan kepada anak bangsa agar saling peduli dengan sesama anak bangsa. Apalagi, problem kebangsaan, kesejahteraan yang dihadapi masyarakat saat ini, memang menakutkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada rakyat yang tidak diurus negara, bahkan meninggal karena kelaparan, saat saudara sebangsanya yang lain sedang berpesta demokrasi dalam pemilihan kepala daerah (pilkada). Ada ketidakpedulian yang meluas di antara masyarakat pascakeruntuhan rezim Orde Baru. Lebih menakutkan lagi, ketika negara seperti tidak berbuat apa pun untuk mengatasi problem kerakyatan saat ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cerita lama rakyat antre minyak semasa era Orde Lama sekarang terjadi lagi. Bahkan, saat sebagian rakyat kesulitan menghadapi harga beras yang naik, dan bangsa ini mulai surplus beras, malah ada ide untuk mengekspornya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Sepertinya, keindonesiaan kita ini bukan Indonesia,” ujar guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) Bambang Shergi Laksmono di Kampus UI Depok, Senin (21/4).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bambang, sosiolog yang masa kecilnya di berbagai negara, menuturkan, menyejahterakan rakyat adalah bagian dari cita-cita kehidupan bernegara yang diamanatkan konstitusi. Tetapi, bentuk kesejahteraan seperti apa yang dilakukan negara, tampaknya tidak kunjung terwujud. Tak heran kalau di antara rakyat mulai muncul apatisme dan keraguan tentang untuk apa bernegara jika fakir miskin dan anak telantar yang seharusnya dipelihara negara dibiarkan hidup tanpa bantuan negara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa mungkin karena banyak orang Indonesia yang tidak mengenal lagi keindonesiaan sehingga tidak muncul kepedulian sosial terhadap sesama warga bangsa? Berikut perbincangan itu:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Apa ingatan masa kecil Anda tentang kebangsaan Indonesia?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sewaktu kecil, rasanya saya bangga sekali dengan Indonesia. Saya tidak pernah merasa minder mengaku berasal dari Indonesia. Tak heran kalau saya merasa sama dan sejajar dengan bangsa lain. Sewaktu kecil, saya tinggal di beberapa negara karena mengikuti tugas orangtua.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya juga sedih, kok kita dengan Malaysia saja rasanya sudah tidak dihargai lagi. Padahal, dulu orang Malaysia sangat menghormati orang Indonesia. Bahkan, banyak guru dari Indonesia yang ikut mendidik warga Malaysia. Sekarang tampaknya kita yang harus belajar dari berbagai kemajuan yang diraih Malaysia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bambang adalah sosok yang tak banyak berbicara. Kalau berbicara, gayanya tenang, hampir tak ada ledakan emosi yang terlontar. Sempat gundah dengan kondisi rakyat Indonesia yang saat ini seperti tak punya pegangan, ia juga sedih melihat di negara tetangga pun tidak sedikit warga negara Indonesia yang dihina dan dikejar-kejar, seperti penjahat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bambang juga gundah dengan lulusan perguruan tinggi yang menurut dia juga lemah tentang pengetahuan kewilayahan Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lulusan perguruan tinggi banyak yang tidak mengenal lagi wilayah Indonesia, apalagi tentang keindonesiaan. Bisa dibayangkan bagaimana menyedihkannya masyarakat kita kalau kaum cendekiawannya saja tak mengenal wilayah Indonesia. Bagaimana mungkin mereka bangga dengan Indonesia? Mungkin karena mahasiswa hanya dibekali pemahaman konseptual yang sering kali tidak menjejakkan kakinya di bumi. Mereka lebih ngawang-awang dan sering kali tidak melihat kenyataan. Ini mungkin disebabkan perspektif ilmu yang dikembangkan kita selama ini tidak cukup menuntun mahasiswa kita untuk mengenal kondisi Indonesia yang sangat luas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Komposisi mahasiswa dan sarjana juga tak mencerminkan perwakilan daerah dan budaya yang memungkinkan saling mengenal daerah di negeri ini. Kita tidak seperti orang Singapura yang konsisten mengembangkan pengetahuan regional ASEAN- Asia dan lintas lingkaran yang menjangkau kawasan dunia, di mana negaranya menjadi sentral kekuatan keuangan dunia. Saya kira mestinya, dimensi kewilayahan, khususnya yang strategik, harus masuk dalam perhatian seluruh anak bangsa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Daerah perbatasan, daerah pertambangan utama, daerah isolasi, dan daerah pusat pertumbuhan harusnya lebih sering dibicarakan secara holistik dan menjadi salah satu kompetensi lulusan pendidikan di Indonesia, apalagi jika dari FISIP. Syukur wawasan kewilayahan ini minimal bisa mencakup wawasan geopolitik Indonesia, Malaysia, Singapura, ASEAN, dan seterusnya Asia-Australia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada tahun 1992, Bambang sudah menjadi Ketua Jurusan (sekarang disebut Departemen) Ilmu Kesejahteraan Sosial. Ia juga merintis pengembangan jurusan kesejahteraan dengan mendirikan program Pascasarjana Bidang Ilmu Kesejahteraan Sosial yang pertama di Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Terkait dengan kondisi bangsa, apa yang diharapkan rakyat?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rakyat saat ini sebenarnya berharap proses demokratisasi berjalan dengan cepat. Bukan demokrasinya yang dinantikan, tetapi hasil dari pelaksanaan demokrasi itu, yaitu meningkatnya kesejahteraan rakyat. Sayangnya, proses demokrasi yang melewati masa pemilihan presiden langsung pun tidak menawarkan solusi yang diharapkan. Rakyat yang sudah disodori pilkada pun belum merasakan keuntungan dari proses demokrasi itu. Proses demokrasi baru dinikmati elite. Tidak heran kalau rakyat saat ini banyak yang menanti dengan tidak sabar atas hasil demokrasi yang dilaksanakan sekarang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rakyat saat ini cenderung tak peduli dengan proses demokrasi yang ada. Ini secara langsung bisa dilihat dari jumlah rakyat yang apatis pada pilkada terus bertambah. Ini semua karena rakyat tidak merasakan buah demokrasi, yaitu kesejahteraan. Banyak rakyat yang merasakan hidupnya seperti tikus yang mati di lumbung padi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Mengapa demokrasi kita belum menyejahterakan rakyat?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam sistem demokrasi yang dibangun dengan dasar kepartaian saat ini, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, partai harus bisa menjadikan kesejahteraan rakyat sebagai agenda berbangsa dan bernegara. Jika partai tidak peduli, bukan saja kehidupan rakyat kian terpuruk, tetapi kelangsungan kehidupan bangsa ini juga akan terancam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Secara ideal, konsolidasi demokrasi harus berjalan seiring dengan konsolidasi ekonomi sehingga kesejahteraan terwujud.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Imam Prihadiyoko&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-1861190096582336685?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/1861190096582336685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=1861190096582336685' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/1861190096582336685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/1861190096582336685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/05/sosok-dan-pemikiran.html' title='SOSOK DAN PEMIKIRAN'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-1654497456098640782</id><published>2008-05-06T16:18:00.000+07:00</published><updated>2008-05-06T16:19:30.533+07:00</updated><title type='text'>Irsyad Manji</title><content type='html'>&lt;div style="font-weight: bold;" id="judulartikelcetak"&gt;Diusir, Diancam, Dipuji&lt;/div&gt;   &lt;div class="txtartikelcetak"&gt;       &lt;span class="tglct"&gt;Minggu, 4 Mei 2008 | 01:24 WIB&lt;/span&gt;  &lt;p&gt; Terima kasih, Idi Amin. Justru akibat diusir diktator Uganda itu, saya bisa memperoleh kesempatan hidup di dunia yang relatif bebas untuk menggunakan pikiran dan memberdayakan potensi sebagai perempuan muda Muslim.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitu Irshad Manji memandang positif sejarah pengusiran yang jadi titik balik perjalanan hidupnya itu. Perempuan ini lahir di Uganda, Afrika Timur. Dia anak kedua dari tiga bersaudara. Keluarga ayahnya berasal dari Gujarat, India, sedangkan ibunya dari Mesir selatan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahun 1972, Idi Amin mengusir ribuan pendatang nonkulit hitam yang dianggap menguasai ekonomi negeri itu. Saat berusia empat tahun, keluarganya mengungsi ke Vancouver, Kanada. Meski sudah pindah ke tempat baru, gadis kecil itu masih harus menghadapi perlakuan kasar ayahnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saat saya berusia sembilan tahun, Ayah mengejar saya keliling rumah dengan pisau, mengancam akan memotong telinga saya. Saya lari ke atap rumah,” kenang Irshad.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ayah dan ibu Irshad akhirnya berpisah saat perempuan ini berusia sekitar 16 tahun. Sang Ibu membesarkan Irshad bersama dua saudarinya dengan bekerja sebagai pembersih rumah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Setiap bangun tidur, saya bersyukur dapat memperoleh kemerdekaan,” ujar dia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Irshad keluar dari pendidikan madrasah saat usia 14 tahun setelah memprotes posisi perempuan yang inferior dalam Islam tradisional dan mengajukan berbagai pertanyaan kritis yang tidak direspons baik oleh guru madrasahnya. Selama 20 tahun berikutnya, gadis ini membenamkan diri di perpustakaan untuk mempelajari Islam dari Al Quran dan berbagai literatur lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahun 1990, setelah lulus S-1 dengan penghargaan untuk bidang sejarah pemikiran dari University of British Columbia, Irshad yang secara terbuka mengatakan dirinya lesbian lebih banyak berkecimpung dalam dunia jurnalistik. Dia jadi pembawa acara (host) di Vision TV, lantas jadi produser dan host di City TV, Toronto. Pada usia 24 tahun, dia jadi editor di koran terbesar di Kanada, Ottawa Citizen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sambil menekuni jurnalistik, Irshad semakin mematangkan gagasan reformasi Islam. Dia menyebut dirinya sebagai ”Muslim refusenik”: berpikiran independen, liberal, dan anti-fundamentalis. Pemikirannya banyak dipublikasikan lewat surat kabar, wawancara, dan situs internetnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mulai Januari 2008 Irshad bergabung dengan New York University dan mendirikan serta memimpin The Moral Courage Project yang membantu generasi muda memperjuangkan kebenaran dan memberdayakan diri. Pemikirannya yang kritis terhadap Islam ortodoks dan perjuangannya membela hak-hak asasi manusia—terutama di kalangan perempuan Muslim—membuat aktivis ini memperoleh banyak dukungan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Mei ini saya memperoleh gelar doktor honoris causa dari Universtity of Washington,” kata Irshad.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di sisi lain, sikap kritis itu harus ditebus dengan munculnya berbagai ancaman dari kalangan Muslim radikal. Sebagian besar ancaman berasal dari Pakistan, Mesir, dan kelompok Muslim di Eropa, seperti Inggris, Perancis, dan Jerman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Di Kanada, jendela rumah saya antipeluru. Saya harus berhati-hati menggunakan telepon. Kehidupan saya sering ada dalam situasi bahaya sehingga saya memilih tidak menikah dan punya anak,” kata dia. (iam/nmp)&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-1654497456098640782?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/1654497456098640782/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=1654497456098640782' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/1654497456098640782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/1654497456098640782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/05/irsyad-manji.html' title='Irsyad Manji'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-6673243551283213640</id><published>2008-05-06T16:15:00.000+07:00</published><updated>2008-05-06T16:17:06.337+07:00</updated><title type='text'>Berpikir Kritis Irshad Manji</title><content type='html'>&lt;div class="txtartikelcetak"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;       &lt;!--zoom image--&gt;  &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;            &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;" id="boximartikelcetak1"&gt;   &lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: auto;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" height="200" width="300"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2008/05/04/2768966p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" height="224" width="300" /&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;    &lt;td&gt;          &lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span class="txfotocetak"&gt;    KOMPAS/ILHAM KHOIRI / &lt;a href="http://www.kompasimages.com/" target="_blank"&gt;Kompas Images&lt;/a&gt;    &lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;    &lt;/div&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;          &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span class="tglct"&gt;Minggu, 4 Mei 2008 | 01:19 WIB&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;Ninuk Mardiana Pambudy &amp;amp; Ilham Khoiri&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nama Irshad Manji (40) mungkin belum dikenal luas di Indonesia, meskipun bukunya yang berjudul asli ”The Trouble with Islam Today: A Wake-Up Call for Honesty and Change” (2003) telah diterjemahkan di 30 negara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Buku dalam terjemahan bahasa Indonesia, Beriman Tanpa Rasa Takut, Tantangan Umat Islam Saat Ini yang diterbitkan Koalisi Perempuan Indonesia dan Nun Publisher diluncurkan di Perpustakaan Nasional Jakarta, Selasa (22/4).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Ini kunjungan pertama saya ke Indonesia dan insya Allah bukan yang terakhir,” kata Irshad ketika ditemui hari Senin (21/4) di Jakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain untuk peluncuran buku, Irshad juga ingin mengenal lebih jauh toleransi beragama bangsa Indonesia yang menurut dia dapat menjadi contoh bagi dunia. Dia melakukan diskusi dengan kalangan akademisi, organisasi kemasyarakatan, dan mahasiswa Universitas Gadjah Mada, bertemu dengan ormas perempuan di Pesantren Krapyak, dan seniman di Yogyakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Sebelum terbang ke Jakarta, saya memberi wawancara tentang Proyek Keberanian Moral di New York University yang saya ketuai. Saya katakan, saya akan ke Indonesia untuk peluncuran buku. Saya sampaikan, seharusnya dunia melihat ke Indonesia, bukan hanya ke Timur Tengah, untuk mencari tanda Islam yang lebih progresif—kadang tidak terlalu progresif, tetapi kerap progresif—mencari tanda bagaimana kaya dan kompleksnya Islam,” kata Irshad.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah diterbitkan tahun 2003, terjemahan buku tersebut dalam bahasa Urdu, Arab, Farsi, Malaysia, dan sekarang juga bahasa Indonesia, dapat diunduh cuma-cuma dari situs Irshad, www.irshadmanji.com. ”Dalam waktu 1,5 tahun setelah terbit terjemahannya, ada 500.000 pengunduh dalam bahasa Arab, Urdu, dan Farsi,” kata Irshad.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Irshad menulis bukunya ini seperti surat terbuka. Dia mengajak umat Muslim berpikir kritis dan selalu mempertanyakan informasi yang mereka terima dan mengecek dengan fakta dan menyuarakan pertanyaan itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu yang dia tekankan adalah pentingnya umat Islam terus melakukan ijtihad untuk menjawab tantangan yang dihadapi umat Islam saat ini. Dalam tradisi Islam, ijtihad selama ini dimaknai sebagai upaya ulama mencari gagasan baru dari Al Quran dan hadis demi menjawab persoalan di masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berpikir kritis&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Anda, apa itu ijtihad?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ijtihad memiliki arti berbeda-beda untuk beragam orang. Ada yang mengatakan hanya ulama dengan pengetahuan tertentu dapat melakukan ijtihad. Tetapi, menurut saya bukan hanya tradisi fikih (legal tradition) yang dapat melakukannya, tetapi juga semangat menggunakan akal kita, hal yang diizinkan Allah setiap orang menggunakannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Al Quran mengandung tiga kali lebih banyak ayat yang memerintahkan kita untuk berpikir, menganalisis, daripada ayat yang mengatakan ”ikuti”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, hanya atas dasar itu saja, saya rasa benar bila saya katakan, berpikir bukan hanya hak kita sebagai manusia, tetapi tanggung jawab. Di dalam situs (internet) saya, saya membuat tulisan akademis bahwa dalam berabad sejarah Islam, ijtihad menjadi semangat utama kaum Muslim.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Misalnya, ada hadis yang mengatakan, jika kamu melakukan ijtihad dan kesimpulan yang didapat secara teknis salah karena kebajikanmu berpikir kamu akan mendapat satu pahala dari Allah. Dan, jika kesimpulanmu benar, kamu akan mendapat pahala dua kali. Intinya, terus berpikir, menganalisis, terus menginterpretasi dan reinterpretasi tempat-tempat baru, kebudayaan baru, lingkungan baru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tragisnya, banyak umat Islam saat ini yang hanya menelan tanpa berpikir kritis pendapat pemuka agama seakan-akan mereka Tuhan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena itu menjadi tujuan hidup saya meyakinkan umat Islam, terutama kaum muda, kita bisa menjadi umat yang berpikir sekaligus beriman. Kita tidak harus memilih salah satunya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada prinsip yang tidak bisa dan ada yang bisa ditawar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada sejumlah prinsip dalam Islam yang tidak bisa ditawar-tawar, seperti konsep tauhid. Ada prinsip dalam Islam yang harus dilakukan semua umat Islam, yaitu prinsip tentang keadilan, kasih sayang, dan memaafkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengenai isu sosial, sangat tergantung dari konteks, situasi, tempat, dan waktu. Karena itu, saya sampai pada satu hal yang sering dilupakan banyak orang, yaitu justru karena Tuhan hanya satu maka hanya Tuhan yang Maha Tahu yang mana sepenuhnya benar tentang segala hal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena itu, kita orang Muslim, karena kita adalah hamba-Nya, tidak boleh bertindak seolah-olah tahu segalanya. Itu sebabnya kita harus mau melibatkan diri dalam perdebatan dan berdiskusi secara damai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika kita berdebat dan berdiskusi, sesungguhnya kita sedang menjalani keyakinan agama kita karena dengan itu kita, manusia, memperlihatkan hanya Tuhan yang maha mengetahui segala kebenaran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengapa orang Muslim membutuhkan ijtihad?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena saat ini banyak orang Muslim hidup dalam ketakutan, takut menyuarakan terbuka pikiran mereka. Ini bukan hanya pada masyarakat yang tradisional, tetapi juga kepada masyarakat Muslim modern seperti di Kanada dan Amerika Serikat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika berbicara di universitas di Kanada dan AS, saya mendapat banyak kemarahan dan celaan dari pendengar. Tetapi, saat penandatanganan buku setelah ceramah, anak-anak muda Muslim berbaris dan berbisik, terima kasih untuk yang saya katakan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya tanyakan mengapa tidak mengatakannya terbuka. Jawaban yang mereka berikan dan sudah sering saya dengar, mereka tidak memiliki kesempatan dan kemewahan seperti yang saya miliki, yaitu berjalan keluar ruangan dengan bebas. Mereka tahu mereka akan diawasi dan tahu siapa yang mengawasi, mereka tidak ingin dimonitor karena mendukung gagasan saya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bukan hanya kekerasan yang membuat mereka takut. Mereka juga mengatakan, bila mendukung pikiran saya mengenai berpikir kritis, debat, dan melakukan reinterpretasi, keluarga mereka akan menuduh mereka mencoreng kehormatan keluarga dan mereka bilang, tidak sanggup membuat keluarga mereka tercoreng kehormatannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ini terjadi pada generasi ketiga Muslim Amerika yang masih hidup dalam mentalitas budaya kesukuan Arab tentang kehormatan keluarga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Itu sebabnya saya memberi penekanan pada buku saya tentang imperialisme yang jauh lebih besar yang menjajah pikiran banyak Muslim di dunia, termasuk juga di Indonesia saya berani berdebat mengenai ini, yaitu imperialisme kebudayaan Arab.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika kita menentang imperialisme, tanya diri kita sendiri, mengapa kita selalu menganggap imperialisme datang dari Barat? Kita orang Muslim juga menghadapi imperialisme kebudayaan Arab.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Memilih Islam&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Irshad menuturkan, cara pengajaran di madrasah yang dia hadiri setiap Sabtu ketika di Kanada tidak mampu memberi jawaban atas pertanyaan kritis seorang anak perempuan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Guru madrasah saya mengatakan, perempuan inferior dibandingkan laki-laki, tetapi pengalaman saya memperlihatkan hal lain. Ibu saya membesarkan tiga putrinya dengan baik dengan bekerja sebagai pembersih rumah orang lain. Bukankah itu membutuhkan keberanian dan kecerdasan? Tidak mungkin seorang yang inferior dari laki-laki dapat melakukan hal itu,” kata Irshad.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia memilih keluar dari madrasah ketika gurunya mengultimatum menerima saja ajaran dia atau keluar dari madrasah karena pertanyaan kritisnya kepada gurunya. Pengalaman pada usia 14 tahun itu sempat membuat Irshad berpikir apakah akan tetap menjadi Muslim.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Tetapi, saya ingin adil, mungkin guru agama saya bukan guru yang baik, lalu mengapa keyakinan saya harus dihukum untuk kesalahan guru saya,” kata dia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya sepenuhnya yakin umat Muslim dapat berubah. Ini sebabnya saya tetap menjadi Muslim dan menjalani ajaran (practicing) Islam,” papar Irshad.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Irshad kemudian belajar sendiri dengan membandingkan berbagai buku mengenai Al Quran dan Islam di perpustakaan umum. Dia juga kerja paruh waktu untuk dapat membayar guru bahasa Arab yang membantu dia memahami Al Quran dalam bahasa aslinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Hal paling menakjubkan dengan belajar tanpa guru agama adalah kebebasan informasi yang ditakuti guru madrasah saya akan membuat saya menjadi tidak Muslim, ternyata malah menyelamatkan keyakinan saya,” kata Irshad.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan belajar sendiri itu pula Irshad mengetahui mengenai Siti Khadijah, istri Nabi Muhammad, pebisnis kaya yang mempekerjakan Nabi Muhammad. Artinya, perempuan Muslim dapat bekerja di ruang publik dan punya penghasilan sendiri. Dia juga mengetahui tentang perempuan sufi, Rabiah Adawiyah, yang sangat dihormati dan memilih tidak menikah sepanjang hidupnya, pilihan yang menurut Irshad dibolehkan di dalam Al Quran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa saran Anda untuk perempuan di negara Muslim?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kenali apa yang diajarkan tentang interpretasi yang sempit dan dogmatis, belajar membaca sendiri dan memahami Al Quran dan Anda akan menemukan semua ayat yang berisi penghargaan pada perempuan. Anda juga akan menyadari hak setiap manusia untuk berpikir dan menggunakan akal adalah pemberian Allah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bila Anda menjadi pemimpin di kelompok, bebaskan bakat perempuan lain di kelompok Anda sehingga kelompok Anda tumbuh dari bakat-bakat itu seperti pada masa keemasan Islam ketika ijtihad tumbuh subur. Orang Muslim melahirkan apa yang di Barat sekarang diterima sebagai yang terberi, mulai dari gitar, kopi moka, hingga universitas pertama di Baghdad pada abad ke-9.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seorang filsuf Arab, Ibn Rusyd, pada 1.000 tahun lalu mengatakan, mengapa kemampuan perempuan belum dimanfaatkan adalah karena kemampuan perempuan direduksi menjadi makhluk prokreasi dan membesarkan anak. Hal itu penting, tetapi bila perempuan diberi kesempatan mereka dapat melakukan lebih dari itu. Yang lebih penting, Ibn Rusyd mengatakan, mengapa kebudayaan-kebudayaan besar runtuh adalah karena mereka memperlakukan perempuan seolah-olah beban daripada sebagai ciptaan Tuhan yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan kemanusiaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bayangkan, 1.000 tahun lalu, seorang Muslim mengakui hal itu. Di mana kita saat ini? Itu sebabnya bukan Islam yang harus berubah, tetapi umat Islam harus memiliki keberanian untuk bangkit ke semangat terbaik Islam, ijtihad, yang sudah ada dalam tradisi Islam.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-6673243551283213640?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/6673243551283213640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=6673243551283213640' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/6673243551283213640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/6673243551283213640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/05/berpikir-kritis-irshad-manji.html' title='Berpikir Kritis Irshad Manji'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-3271519308392138881</id><published>2008-04-19T11:49:00.001+07:00</published><updated>2008-04-19T11:49:55.745+07:00</updated><title type='text'>RESENSI</title><content type='html'>&lt;div id="judulartikelcetak"&gt;Biografi Terbesar dalam Sejarah Indonesia&lt;/div&gt;  &lt;!--&lt;div id="subjudulartikelcetak"&gt;Satuan Keamanan PBB Diterjunkan&lt;/div&gt; --&gt; &lt;!--zoom image--&gt;    &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;    &lt;div id="boximartikelcetak1"&gt;   &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" height="200" width="300"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2008/03/03/2670571p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" height="220" width="300" /&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr align="left"&gt;    &lt;td&gt;          &lt;span class="txfotocetak"&gt;    KOMPAS/RIZA FATHONI / &lt;a href="http://www.kompasimages.com/" target="_blank"&gt;Kompas Images&lt;/a&gt;    &lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;        &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;span class="tglct"&gt;Senin, 3 Maret 2008 | 04:36 WIB&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;ASVI WARMAN ADAM&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karya Harry Poeze yang judulnya berarti Dihujat dan Dilupakan: Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949 sungguh luar biasa dari segi kuantitas dan kualitas. Terdiri atas tiga jilid setebal 2.194 halaman, buku ini bukan saja menggunakan dokumen Indonesia dan Belanda, tetapi juga arsip Rusia. Ini merupakan biografi terbesar dalam sejarah modern Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Buku ini merupakan kelanjutan dari disertasi Harry A Poeze mengenai Tan Malaka tahun 1976 yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi dua jilid. Jilid pertama berjudul Pergulatan Menuju Republik 1897-1925 yang terbit tahun 1988, tetapi dilarang beredar setahun kemudian. Sepuluh tahun kemudian terbit jilid kedua berjudul Pergulatan Menuju Republik 1925-1945.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masing-masing buku memiliki ketebalan lebih dari 400 halaman. Kalau dihitung total halaman, tulisan Poeze mengenai Tan Malaka menjadi lebih dari 3.000 halaman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pejuang antikolonialisme&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka lahir di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, tahun 1896. Ia menempuh pendidikan Kweekschool di Bukittinggi sebelum melanjutkan pendidikan ke Belanda. Pulang ke Indonesia tahun 1919 ia bekerja di perkebunan Tanjung Morawa, Deli.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penindasan terhadap buruh menyebabkan ia berhenti dan pindah ke Jawa tahun 1921. Ia mendirikan sekolah di Semarang dan kemudian di Bandung. Aktivitasnya menyebabkan ia diasingkan ke negeri Belanda. Ia malah pergi ke Moskwa dan bergerak sebagai agen komunis internasional (Komintern) untuk wilayah Asia Timur. Namun, ia berselisih paham karena tidak setuju dengan sikap Komintern yang menentang pan-Islamisme.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia berjuang menentang kolonialisme ”tanpa henti selama 30 tahun” dari Pandan Gadang (Suliki), Bukittinggi, Batavia, Semarang, Yogya, Bandung, Kediri, Surabaya, sampai Amsterdam, Berlin, Moskwa, Amoy, Shanghai, Kanton, Manila, Saigon, Bangkok, Hongkong, Singapura, Rangon, dan Penang. Ia sesungguhnya pejuang Asia sekaliber Jose Rizal (Filipina) dan Ho Chi Minh ( Vietnam).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tan Malaka adalah tokoh pemikir sekaligus eksekutor gagasannya. Ide-ide cemerlangnya lahir di dalam penjara atau di tengah kekejaman pendudukan Jepang. Buku Madilog, misalnya, disusun dengan membaca literatur di perpustakaan nasional Jakarta dan membandingkan dengan pengalamannya sendiri berpuluh tahun di mancanegara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia tidak setuju dengan rencana pemberontakan PKI yang kemudian meletus tahun 1926/1927 sebagaimana ditulisnya dalam buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia, Kanton, April 1925 dan dicetak ulang di Tokyo, Desember 1925). Perpecahan dengan Komintern mendorong Tan Malaka mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok, Juni 1927.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Walaupun bukan partai massa, organisasi ini dapat bertahan sepuluh tahun; pada saat yang sama partai-partai nasionalis di Tanah Air lahir dan mati. PARI dianggap berbahaya oleh intel Belanda dan aktivisnya diburu. Selama satu dekade PARI mengembangkan sel mereka di kota-kota penting dan di daerah seperti Cepu, Wonogiri, Kediri, Sungai Gerong, Palembang, Medan, Banjarmasin, dan Riau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perjuangan Tan Malaka yang bersifat lintas bangsa dan lintas benua telah diuraikan secara rinci dalam dua jilid biografi yang ditulis Poeze. Setelah Indonesia merdeka, perjuangan Tan Malaka mengalami pasang naik dan pasang surut. Ia memperoleh testamen dari Bung Karno untuk menggantikan apabila yang bersangkutan tidak dapat menjalankan tugasnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, tahun 1948, Tan Malaka dikenal sebagai penentang diplomasi dengan Belanda yang dilakukan dalam posisi merugikan Indonesia. Ia memimpin Persatuan Perjuangan yang menghimpun 141 partai/organisasi masyarakat dan laskar, menuntut agar perundingan baru dilakukan jika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia seratus persen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahun 1949 Tan Malaka ditembak. Tanggal 28 Maret 1963 Presiden Soekarno mengangkat Tan Malaka sebagai pahlawan nasional. Namun, sejak era Orde Baru, namanya dihapus dalam pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah walau gelar pahlawan nasional itu tidak pernah dicabut. Adalah kebodohan rezim Orde Baru menganggap Tan Malaka sebagai tokoh partai yang dituduh terlibat pemberontakan beberapa kali. Tan Malaka justru menolak pemberontakan PKI tahun 1926/1927. Ia sama sekali tidak terlibat dalam peristiwa Madiun 1948. Bahkan, partai yang didirikan tanggal 7 November 1948, Murba, dalam berbagai peristiwa berseberangan dengan PKI.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur berdasarkan serangkaian wawancara yang dilakukan pada periode 1986 sampai dengan 2005 dengan para pelaku sejarah yang berada bersama-sama dengan Tan Malaka tahun 1949. Dengan dukungan dari keluarga dan lembaga pendukung Tan Malaka, sedang dijajaki kerja sama dengan Departemen Sosial Republik Indonesia untuk memindahkan kuburannya ke Taman Makam Pahlawan Kalibata.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tentu untuk ini perlu tes DNA, misalnya. Tetapi, Depsos dan Pemerintah Provinsi Jatim harus segera melakukannya sebelum masyarakat setempat secara sporadis menggali dan mungkin menemukan tulang belulang kambing yang bisa diklaim sebagai kerangka jenazah sang pahlawan nasional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Temuan baru&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Banyak penemuan baru yang terdapat dalam buku Tan Malaka yang terakhir ini. Sejarah revolusi Indonesia tahun 1945-1949 seperti diguncang untuk ditinjau ulang. Peristiwa Madiun 1948 dibahas sebanyak 300 halaman. Poeze menggunakan arsip Komintern yang terdapat di Moskwa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia menolak tulisan Efimova, ”Who Gave Instructions to The Indonesian Communitst Leader Musso in 1948”, yang cenderung menganggap Moeso bergerak sendiri tanpa arahan Rusia. Selama ini dikesankan bahwa itu adalah gerakan lokal yang diangkat Soekarno-Hatta sebagai peristiwa nasional agar RI mendapatkan dukungan internasional, terutama dari Amerika Serikat. Menurut Poeze, pada masa itu hierarki dalam partai komunis masih sangat kuat sehingga mustahil kegiatan lokal di Madiun tanpa restu politbiro PKI.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelum peristiwa itu meletus, Setiadjid dan Wikana diutus menemui Soemarsono. Ini berbeda dengan situasi tahun 1965, di mana manuver biro khusus PKI tidak diketahui oleh semua pucuk pimpinan partai tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Poeze juga mengulas long march orang-orang kiri pascaperistiwa Madiun yang jarang disinggung dalam sejarah Indonesia. Tidak kurang dari 500 kilometer jarak ditempuh ribuan orang selama dua bulan dari Madiun ke arah Pacitan, lalu ke Utara, sebelum akhirnya mereka, antara lain Amir Sjarifuddin, ditangkap di wilayah perbatasan yang dikuasai tentara Belanda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia juga menemukan arsip menarik tentang Soeharto. Selama ini sudah diketahui bahwa Soeharto datang ke Madiun sebelum meletus pemberontakan. Soemarsono berpesan kepadanya bahwa kota itu aman dan agar pesan itu disampaikan kepada pemerintah. Poeze menemukan sebuah arsip menarik di Arsip Nasional RI bahwa Soeharto pernah menulis kepada ”Paduka Tuan” Kolonel Djokosoejono, komandan tentara kiri, agar beliau datang ke Yogya dan menyelesaikan persoalan ini. Soeharto menulis ”saya menjamin keselamatan Pak Djoko”. Dokumen ini menarik karena ternyata Soeharto mengambil inisiatif sendiri sebagai penengah dalam peristiwa Madiun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur. Lokasi tempat Tan Malaka disergap dan kemudian ditembak adalah Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, di kaki Gunung Wilis. Penembakan itu dilakukan oleh Suradi Tekebek atas perintah Letnan Dua Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya. Pada masa selanjutnya, Soekotjo pernah menjadi Wali Kota Surabaya dan terakhir berpangkat brigjen, meninggal tahun 1980-an.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam penelitiannya Poeze juga memanfaatkan foto-foto sejarah. Rapat raksasa di lapangan Ikada (sekarang lapangan Monas) Jakarta, 19 September 1945, yang dihadiri 15.000 orang dari seputar Jakarta merupakan momen historis penting. Walau Indonesia sudah merdeka, peralihan kekuasaan belum terlaksana. Tentara Jepang masih memegang senjata dan mengancam jika rakyat mengadakan rapat lebih dari lima orang. Rapat raksasa di lapangan Ikada itu dirancang pemuda untuk memperlihatkan dukungan rakyat kepada proklamasi. Soekarno ragu untuk menghadiri rapat tersebut karena khawatir tentara Jepang melakukan penembakan massal terhadap penduduk. Rapat itu akhirnya berlangsung dan Soekarno berpidato beberapa menit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Poeze sempat memeriksa foto-foto tentang peristiwa itu. Ia menemukan seseorang yang memakai helm di dekat Bung Karno ketika berpidato. Bahkan, pada salah satu foto, Soekarno dan orang itu berjalan berdampingan. Setelah membandingkan berbagai foto itu, Poeze berkesimpulan bahwa lelaki berhelm itu adalah Tan Malaka. Lelaki itu lebih pendek dari Soekarno dan ukurannya di foto ternyata cocok karena tinggi Soekarno adalah 1,72 meter dan Tan Malaka 1,65 meter.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Asvi Warman Adam &lt;em&gt;Ahli Peneliti Utama LIPI&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-3271519308392138881?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/3271519308392138881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=3271519308392138881' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/3271519308392138881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/3271519308392138881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/04/resensi.html' title='RESENSI'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-6609576319069101463</id><published>2008-04-14T06:18:00.000+07:00</published><updated>2008-04-14T06:19:04.413+07:00</updated><title type='text'>CERUTU</title><content type='html'>&lt;strong&gt;"Nyigar", Gaya Itu Nikmat, "Cuy"...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;KOMPAS/ALIF ICHWAN / Kompas Images&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerutu dari berbagai merek dan jenis dapat dijumpai di rumah cerutu Havana di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Jumat (11/4). Pemilik rumah cerutu Havana, Lydia Tamboto, menyediakan cerutu dengan harga yang bervariasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 12 April 2008 | 02:27 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis gaya-gaya-an atau sebutlah gaya hidup selalu cerdik menggelitik hasrat calon ”korban”-nya. Pasar senantiasa dipancing untuk tiru-meniru. Suatu gaya hidup yang awalnya mungkin hanya bisa dijangkau pasar teratas, biasanya lama-kelamaan diiming-imingkan pula ke pasar kebanyakan. Kali ini jualannya adalah cerutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, cigar lounge atau bilik untuk membeli dan menikmati cerutu umumnya hanya bertempat di hotel-hotel berbintang lima. Hanya kalangan yang sangat terbatas saja yang boleh jadi cukup pede untuk mendekati dan memasuki tempat semacam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penempatan lounge seperti itu saja sudah secara implisit menciptakan jarak psikologis yang kentara antara pasar kebanyakan yang ngepop dan pasar yang sangat eksklusif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun belakangan, jarak itu mulai dikikis seiring itikad pelaku bisnis gaya hidup untuk merengkuh pasar yang lebih luas. Cigar lounge mulai muncul di tempat-tempat yang lebih ngepop untuk juga menyasar pasar kelas menengah. Tengok saja di Cilandak Town Square alias Citos di Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat favorit anak muda nongkrong itu ada Connoisseur Wine and Cigar Lounge yang tampil lebih akrab. Dalam lounge yang berdinding muka dari kaca itu, para penikmat cerutu seolah seperti pajangan hidup dalam etalase gaya hidup yang efektif memancing pengunjung yang berseliweran di Citos untuk ikut-ikutan nyigar (mengisap cigar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah itu—seperti halnya ngewine—terbentuk begitu saja. Istilah semacam itu mulai lazim terdengar di antara celotehan kaum urban di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanny Permadi dari Connoisseur mengakui, lokasi lounge-nya itu cukup strategis dan efektif untuk menularkan gaya hidup nyigar. Sebab, tempat seperti Citos merupakan tempat yang pas bagi orang-orang untuk melihat-lihat dan dilihat. Tentunya akan beda jika nyigar di cigar lounge di hotel berbintang lima yang kecil kemungkinannya jadi tontonan lebih massal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendra (21), misalnya, mengaku awalnya tertarik nyigar setelah berjalan-jalan di Citos dan melihat orang-orang yang nongkrong di Connoisseur tengah asyik nyigar. Menyaksikan itu, mahasiswa di Universitas Bina Nusantara ini pun tertarik. Dia pun lantas teringat tokoh-tokoh mafia di film-film Hollywood yang tampil perlente ngemut cerutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kelihatannya keren gitu.... Mengisap cerutu itu pembawaannya beda, kelihatan lebih berkelas,” ungkap Hendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irfan (24), seorang disc jockey alias DJ, juga berpendapat serupa. Kesan berkelas pada cerutu yang membuatnya juga tertarik untuk mulai menikmati cerutu sejak dua tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya yakin bakal jadi tren deh di Jakarta pada tahun-tahun mendatang. Sudah kelihatan sejak tahun lalu, kok. Apa-apa yang gaya kan cepat diserap anak muda biasanya,” kata Irfan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Irfan, tren nyigar merupakan dampak ikutan dari tren minum anggur (wine) di kalangan muda sejak beberapa tahun lalu. Sebab, wine lounge yang marak muncul di berbagai sudut Ibu Kota juga menyertakan cerutu dalam dagangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala pasar dari kalangan muda kelas menengah, yang mudah dipengaruhi itu, juga diakui Lanny. ”Kelas menengah cenderung mudah dan cepat menyerap gaya hidup. Terutama seperti eksekutif muda yang mulai ingin eksis. Karena itu, kami serius menggarap pasar muda untuk cigar ini,” kata Lanny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cigar lounge lainnya yang tampil di lokasi ngepop ada di Plaza Senayan, yaitu Mojito Cocktails, Wine, and Cigar Lounge. Lokasinya yang tepat berdampingan dengan arena bermain boling tentu efektif menjerat pasar kalangan muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Mojito itu sendiri merupakan jenis cocktail khas Kuba, negeri yang teramat identik dengan cerutu dan asal cerutu berkualitas. Mojito standar biasanya campuran dari rum, lime juice, daun mint, air soda, dan potongan jeruk limau. Di kelab ini, mojito dalam berbagai variasi menjadi minuman andalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggun, staf di Mojito, mengatakan, lokasi Mojito tersebut memang menjadi lebih mudah diakses kalangan muda, bahkan abege usia belasan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sering juga kalau siang, anak-anak SMA pulang sekolah nyigar di sini,” tutur Anggun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, kadang kala anak-anak abege itu membeli satu cerutu untuk diisap bareng bergiliran. Ketika satu cerutu tak habis diisap, cerutu itu malah dibelah dan diburaikan isinya untuk sekadar diremas-remas. Untungnya cerutu yang dibeli harganya hanya puluhan ribu rupiah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tetapi kadang mereka minta cerutu Kuba juga lho, biar kayak mafia katanya. Mereka sebenarnya enggak dapat nikmatnya nyigar, kan yang penting gaya cuy,” celoteh Dinie, staf Mojito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga terjangkau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain faktor lokasi, memancing pasar muda kelas menengah juga ditentukan oleh ketersediaan cerutu-cerutu yang harganya relatif terjangkau kantong mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, cerutu diulas habis seperti halnya benda itu ingin diulas, yaitu dalam atmosfer yang serba berkelas. Cerutu senantiasa diidentikkan dengan kemapanan, yang lazimnya dicapai dalam proses waktu yang tak sekejap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum, satu batang cerutu saja seharga ratusan sampai jutaan rupiah. Tak heran, penikmat cerutu didominasi oleh kalangan berumur dan tentunya berkelebihan materi. Kebiasaan itu disikapi sebagai bagian dari ritual penghargaan terhadap pencapaian duniawi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kesan berkelas dari cerutu itu sah-sah saja dibuat lebih ngepop dalam dunia konsumsi. Toh, hal itu bermanfaat pada tingkat pemasaran. Selain itu, dalam dunia konsumsi, mengader konsumen baru menjadi penting. Dengan demikian, pada saat konsumen itu telah pada tahap lebih mapan, dia telah terdidik seleranya. Selanjutnya, selera itu menggiringnya pada pilihan produk premium yang lebih mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itulah yang diharapkan pelaku bisnis gaya hidup. Lanny menuturkan, jika seseorang sejak muda sudah mengenal cerutu—meskipun belum yang berkualitas premium—pada akhirnya ketika di usia tua dan mapan, dia akan mengonsumsi cerutu yang berkualitas premium dan mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah di Connoisseur tersedia pula cerutu-cerutu dengan harga yang lebih terjangkau. Andre, staf di Connoisseur, menyebutkan, cerutu yang tersedia mulai seharga empat puluhan ribu sampai sekitar tiga ratus ribu rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stroberi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemula umumnya mencoba cerutu-cerutu yang berkategori ringan. Mereka pun pada awalnya meminta arahan dari staf di kafe, mulai dari cara menyalakan cerutu sampai cara mengisap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi, karyawan kami juga harus pandai-pandai memberi semacam kursus nyigar singkat untuk pemula,” imbuh Lanny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik Connoisseur maupun Mojito menyediakan cerutu asal Kuba dengan harga Rp 200.000 sampai Rp 300.000 per batangnya. Tersedia pula cerutu dari negara-negara lain seperti Belanda, Dominika, sampai Swiss.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerutu buatan Indonesia pun turut dijual, seperti keluaran Wismilak dan Djarum yang memakai merek Dos Hermanos. Namun, cerutu asal Indonesia ini justru kurang disambut kalangan muda yang mulai doyan nyigar meski harganya cukup terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mereka maunya tetap yang impor, tetapi murah. Mungkin kesannya lebih gaya barangkali,” ujar Dinie yang kerap mengamati perilaku anak-anak muda yang tengah nyigar di Mojito.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di Connoisseur, cerutu buatan Indonesia bikinan Djarum digemari penikmat cerutu dari kalangan ekspatriat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Mojito bahkan tersedia pula cerutu berukuran langsing yang diperuntukkan untuk pasar perempuan. Merek Tatiana, misalnya, ukurannya sedikit lebih gemuk dan lebih panjang dibandingkan rokok. Harganya pun cukup Rp 22.500 per batang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serupa Tatiana, di Connoisseur tersedia cerutu langsing bermerek Tycoon. Bahkan, cerutu ini juga berfilter. ”Ini buat perempuan yang baru mulai nyigar,” kata Andre.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri khas lain penikmat cerutu yang ngepop adalah menggemari cerutu yang beraneka rasa serupa permen. Mulai dari stroberi, peach, vanila, cokelat, sampai kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau bertanya pada pasar ngepop ini soal apa sih nikmatnya mengisap cerutu, jawabannya kira-kira: gaya itu nikmat, cuy! (Sarie Febriane)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-6609576319069101463?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/6609576319069101463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=6609576319069101463' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/6609576319069101463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/6609576319069101463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/04/cerutu.html' title='CERUTU'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-6461046778942610349</id><published>2008-04-08T16:05:00.000+07:00</published><updated>2008-04-08T16:06:11.812+07:00</updated><title type='text'>Keuletan Antar Nawi Hinggap di Jepang</title><content type='html'>&lt;div id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;!--&lt;div id="subjudulartikelcetak"&gt;Satuan Keamanan PBB Diterjunkan&lt;/div&gt; --&gt;  &lt;div class="txtartikelcetak"&gt; &lt;span class="tglct"&gt;Selasa, 8 April 2008 | 01:29 WIB&lt;/span&gt;  &lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;Buyung Wijaya Kusuma&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Laox, sebuah toko elektronik bebas pajak di kawasan Akihabara, Tokyo, bisa jadi surga dunia bagi orang Indonesia yang suka berburu barang elektronik keluaran terkini. Namun, yang juga menarik perhatian karena salah satu manajernya berwajah melayu. Dia adalah Agus Nawi Rahmat Shagir, perantau asal Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nawi, panggilan akrab untuk laki-laki kelahiran Palopo, Sulawesi Selatan, itu tidak mudah untuk mencapai posisi jabatan tersebut di Jepang. Apalagi bagi orang asing di Jepang karena di negara sakura persaingan bagi karyawan lokal saja sudah sangat ketat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nawi sadar betul mengadu nasib di negeri orang, apalagi di Jepang, tidak bisa cuma dengan bermodalkan keberuntungan. Untuk itu, dia sadar harus belajar banyak dan bekerja keras, terutama dalam beradaptasi pada etos kerja orang negeri matahari terbit, yang bekerja tanpa henti.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada bulan-bulan pertama hidup di Jepang dia nyaris tidak tidur, hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk kerja mencari uang untuk makan dan menutupi biaya kursus. Selain itu, selepas kerja harus ikut kursus bahasa dan budaya Jepang, bahkan terus belajar di rumah saat orang-orang sudah terlelap.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat berbincang di salah satu gerai Starbucks Coffee di kawasan UENO, Tokyo, Nawi bercerita mengenai impiannya untuk bekerja di Jepang sudah tumbuh sejak masih duduk di bangku SMP. Kala itu, orangtuanya yang baru pulang sekolah pertanian di Jepang menceritakan banyak hal yang menarik mengenai budaya negara tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Impian itu ternyata tertanam terus hingga menyelesaikan kuliah di Jurusan Sastra Arab, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, pada tahun 1992. Setelah menggondol ijazah S-1, Nawi justru terbang ke Cairo, Mesir, untuk memperdalam bahasa Arab.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sepulang dari Cairo, dia tidak berniat kembali bekerja di Tanah Air. Apalagi dia menyadari waktu itu negara Indonesia masih mengalami krisis ekonomi sehingga berinisiatif untuk tidak menambah jumlah pengangguran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berbekal kemampuan bahasa Arab, dia kemudian mencari pekerjaan di Riyadh, Arab Saudi. Selama dua tahun dia menjadi karyawan di salah satu perusahaan suplier produk Unilever.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meskipun sudah mapan di Arab Saudi, impian untuk ke Jepang belum sirna. Oleh karena itu, dia mengambil kursus-kursus singkat mengenai ilmu pemasaran. Ilmu tersebut sekaligus membantu pekerjaannya di Riyadh karena dipercayakan untuk memasok barang Unilever untuk daerah Riyadh.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nawi kemudian balik ke Indonesia dan bekerja di pabrik tas sebagai eksportir, lalu pindah lagi ke perusahaan importir di Jakarta. Ketika di Indonesia, dia mengaku hanya sempat menjadi asistant manager export-import pada perusahaan tempat dia bekerja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemudian pada awal Desember 2000, barulah ayah satu anak perempuan ini menginjakkan kaki di Tokyo, Jepang. Sebagai orang Indonesia yang baru datang di Jepang, Nawi harus memulai hidup seperti tenaga kerja Indonesia yang ijazah dan segala pengalaman kerja tidak dihargai karena tak memiliki kemampuan berbahasa Jepang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Awalnya, dia harus kerja di restoran cepat saji untuk menutupi biaya sehari-hari karena waktu itu kemampuan berbahasa Jepangnya masih nol besar. Sambil bekerja, Nawi masuk kursus berbahasa Jepang dengan kelas intensif selama setahun dan sorenya tetap ambil part time.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Waktu itu saya hanya kerja, dan sisa waktu lebih banyak digunakan untuk belajar bahasa Jepang. Tidak ada pilihan lain kalau mau mengubah nasib karena rencana untuk hidup di Jepang, prioritas pertama adalah harus bisa berbahasa Jepang,” ujar Nawi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tak ada istirahat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat-saat awal di Jepang, hampir tak ada waktu istirahat karena harus bekerja part time dan kursus bahasa Jepang. Sepulang kerja, kursus bahasa Jepang, setelah itu kerja lagi agar bisa menutupi biaya hidup dan kursus bahasa Jepang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setahun setelah kursus bahasa Jepang, ternyata tidak juga membuat jalan untuk menjadi karyawan perusahaan Jepang menjadi lapang. Kalaupun ada pekerjaan, masih menjadi karyawan paruh waktu yang tidak bergaji tetap.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nawi kemudian memberanikan diri melamar pekerjaan pada perusahaan trading, Orion Co Ltd, Tokyo. Setelah diterima bekerja, dia masih merasa belum puas karena sulit berkembang di perusahaan tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, Nawi sudah merasakan bagaimana menjadi orang kantoran. Pekerjaan makin banyak dan tanggung jawab terus bertambah. Ini membuat ia terlambat tiba di rumah, padahal besok paginya harus berangkat kerja lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia kemudian menyadari hambatan yang dihadapi untuk berkembang karena kemahiran berbahasa Jepang yang diperoleh di bangku kursus masih sangat kurang. Oleh karena itu, dia kembali menjadi tenaga part time di Laox Co Ltd untuk memperlancar bahasa Jepang sebagai sales karena bisa langsung berkomunikasi langsung dengan pelanggan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keuletan Nawi bekerja di Laox Co Ltd selama satu tahun kemudian berbuah positif. Dia diangkat menjadi karyawan tetap pada bulan April 2004.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menjadi karyawan tetap tidak membuat dia puas, Nawi tetap berusaha untuk berbuat yang terbaik. Kemudian setelah dua tahun lebih sebagai karyawan biasa di perusahaan ini, dia diberi tanggung jawab sebagai manajer pada bulan Agustus 2006 sampai sekarang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menyinggung soal peluang kerja untuk orang Indonesia di Jepang, Nawi mengatakan sebenarnya banyak, sama seperti di negara lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Nawi, kualitas SDM Indonesia tidak buruk, hanya saja kalau di Indonesia lingkungannya terbiasa santai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nawi bukan hanya mendapatkan posisi yang mapan dalam pekerjaannya di Jepang, tetapi juga menyunting gadis Jepang. Bahkan, saat ini, dia sudah memiliki buah hati dari perkawinannya itu. ”Hidup di tengah orang keluarga Jepang tidaklah susah karena budaya mereka dan budaya orang Indonesia tak jauh beda,” ujar Nawi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang patut dicontoh dari kehidupan keluarga Jepang, katanya, adalah kepiawaian kaum ibu membuat perencanaan rumah tangga. Mereka selalu mempertahankan rencana sampai tujuan tercapai. Dalam dunia kerja dikenal team work sekaligus selalu tetap berusaha untuk mencapai target.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meski memperoleh sukses di Jepang, Nawi mengaku tak pernah lupa kampung halaman. Selalu ada keinginan untuk pulang. Kapan? Ia tidak menjawab.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-6461046778942610349?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/6461046778942610349/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=6461046778942610349' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/6461046778942610349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/6461046778942610349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/04/keuletan-antar-nawi-hinggap-di-jepang.html' title='Keuletan Antar Nawi Hinggap di Jepang'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-6954300424091607846</id><published>2008-04-01T19:46:00.001+07:00</published><updated>2008-04-01T19:46:54.316+07:00</updated><title type='text'>TAJUK RENCANA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;!--&lt;div id="subjudulartikelcetak"&gt;Satuan Keamanan PBB Diterjunkan&lt;/div&gt; --&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="txtartikelcetak"&gt; &lt;span class="tglct"&gt;Selasa, 1 April 2008 | 00:44 WIB&lt;/span&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bangsa Butuh Solusi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pola relasi DPR dan Presiden mulai digugat. Efektivitas sistem presidensial yang dinyatakan dalam konstitusi juga mulai dipertanyakan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejumlah ahli politik dan hukum tata negara menengarai bahwa ketidakjelasan sistem presidensial dalam undang-undang dan parlementer dalam praktik ikut memicu lahirnya sistem pemerintahan oleh parlemen. Penolakan DPR terhadap calon gubernur Bank Indonesia yang diajukan Presiden menunjukkan pemerintahan presidensial, tetapi dilaksanakan oleh parlemen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perubahan UUD 1945 telah mendesain sebuah pemerintahan presidensial yang kuat. Namun, Perubahan UUD 1945 juga mencegah hadirnya seorang presiden yang bisa bertindak sewenang-wenang. Penguatan sistem presidensial itu ditunjukkan dengan pasal yang mengatur soal pemilihan presiden/wakil presiden secara langsung; masa jabatan presiden yang tetap, serta pemakzulan presiden melalui proses politik yang tidak mudah. Adapun kontrol hadirnya presiden yang bisa berkuasa begitu lama, seperti pada era Orde Baru, sudah dibatasi dengan masa jabatan yang ditetapkan selama dua periode.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kita melihat ada dua hal yang ikut membuat ketidakjelasan sistem presidensial-parlementer yang berjalan selama ini. Pertama, munculnya undang-undang di bawah konstitusi yang mereduksi sistem presidensial itu sendiri. Kedua, praktik politik politisi di DPR dan juga termasuk presiden.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lahirnya sejumlah undang-undang yang mengharuskan seleksi pejabat publik meminta persetujuan DPR, misalnya pemilihan Panglima TNI, Kepala Polri, dan Gubernur Bank Indonesia, jelas merupakan reduksi atas kekuasaan presiden dalam bidang pemerintahan. Dalam konteks untuk memurnikan sistem presidensial, keharusan seleksi pejabat publik yang melibatkan DPR sebagai pemberi kata akhir, yang keharusan itu tak tercantum dalam konstitusi, perlu dipikirkan ulang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal kedua yang kita ingin sampaikan adalah praktik politik DPR, termasuk Presiden. Sesuai konstitusi, Presiden mempunyai hak mengangkat menteri dan memberhentikan menteri. Namun, dalam praktiknya, Presiden yang mendapatkan dukungan 62 persen suara rakyat masih harus berkompromi dengan partai politik dalam pembentukan kabinet. Penunjukan menteri juga didasarkan pada keterwakilan parpol yang mewujud dalam sebuah koalisi besar. Namun, dalam praktiknya, menteri-menteri itu tidak disiplin dalam menjaga barisan koalisi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Problem legal dan praktikal memang ada dan itu harus diselesaikan. Namun, kita mau mengajak elite bangsa ini memahami sulitnya kondisi rakyat yang diterpa krisis global. Kemiskinan yang akut, merosotnya daya beli masyarakat, belum terjawabnya masalah pengangguran, adalah sebuah masalah yang patut menjadi perhatian para wakil rakyat. Sensibilitas politik diperlukan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kuasa wicara, the power of speech, yang dimiliki DPR, harus didedikasikan untuk meningkatkan martabat mereka yang memilihnya, yaitu rakyat. Solusi untuk rakyat lebih diharapkan daripada suatu kontradiksi!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;***&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-6954300424091607846?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/6954300424091607846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=6954300424091607846' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/6954300424091607846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/6954300424091607846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/04/tajuk-rencana.html' title='TAJUK RENCANA'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-4216660235783578114</id><published>2008-04-01T19:43:00.000+07:00</published><updated>2008-04-01T19:45:15.632+07:00</updated><title type='text'>Dith Pran, Sang Pejuang Kamboja</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;!--&lt;div id="subjudulartikelcetak"&gt;Satuan Keamanan PBB Diterjunkan&lt;/div&gt; --&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="txtartikelcetak"&gt; &lt;!--zoom image--&gt;  &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;    &lt;div id="boximartikelcetak1"&gt;   &lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" height="200" width="300"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2008/04/01/2714892p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" height="224" width="300" /&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;    &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;span class="tglct"&gt;Selasa, 1 April 2008 | 00:49 WIB&lt;/span&gt;  &lt;p&gt;Pantang menyerah adalah prinsip hidup Dith Pran (65), wartawan foto New York Times, saksi hidup kekejaman rezim Khmer Merah di Kamboja tahun 1975-1979. Prinsip itulah yang mengantarkan Dith bertahan dari kelaparan dan siksaan pada masa itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dith pun bertekad tidak akan menyerah pada kanker pankreas yang dideritanya sejak akhir tahun 2007. Namun, Dith akhirnya kalah dan menyerah pada penyakitnya. Dia meninggal dunia Minggu (30/3) pagi di Rumah Sakit New Brunswick, New Jersey, AS.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adalah Dith yang pertama kali mencuatkan istilah killing field atau ladang pembantaian untuk menggambarkan tumpukan tulang-belulang korban kekejaman Khmer Merah yang dilihatnya saat berusaha membebaskan diri. Pengalaman hidupnya mendasari pembuatan film layar lebar berjudul The Killing Field (1984) yang menyabet tiga penghargaan Oscar. Film ini dibintangi Sam Waterston sebagai Sydney Schanberg, wartawan New York Times, dan Haing S Ngor, salah seorang korban Khmer Merah yang selamat, sebagai Dith Pran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dith lahir di Siem Reap, 27 September 1942. Mengenyam pendidikan bahasa Inggris dan Perancis, dia bekerja sebagai penerjemah bagi para pejabat AS di Phnom Penh, ibu kota Kamboja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahun 1972, Dith bertemu Schanberg. Mereka bekerja bersama untuk meliput perang sipil Kamboja, konflik yang meluber dari Vietnam. Laporan Schanberg mengenai perang itu mendapat penghargaan Pulitzer tahun 1976.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Pran adalah saudara saya, itulah cara kami saling memanggil. Kami memiliki misi yang sama, yaitu untuk mengatakan kepada dunia apa yang terjadi dengan rakyat Kamboja,” kata Schanberg.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mereka terpisah saat Dith dibawa ke kamp di pedesaan Kamboja yang dikenal sebagai ladang pembantaian tersebut. Selama empat tahun dia menderita kelaparan dan siksaan. Dia kemudian berhasil melarikan diri ke kamp pengungsi di perbatasan Thailand tahun 1979.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitu mengetahui Dith berada di Thailand, Schanberg segera terbang ke negara itu untuk menemuinya. Dith kemudian pindah ke Amerika Serikat dan mulai bekerja untuk New York Times sebagai fotografer lepas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dith selalu menyuarakan tentang genosida Kamboja dan berkampanye untuk membawa para mantan petinggi Khmer Merah ke pengadilan. Dia memimpin organisasi Proyek Penyadaran Holocaust Dith Pran untuk memberi pengetahuan mengenai periode gelap Kamboja. Dith juga ditunjuk sebagai Duta Komisi Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semasa rezim Khmer Merah, Dith kehilangan ayah, tiga saudara laki-laki, dan seorang saudara perempuan. Keluarganya yang berhasil selamat antara lain rekannya, Bette Parslow; mantan istrinya, Meoun Ser Dith; saudara perempuannya, Samproeuth Dith Nop; tiga anak laki-laki, Titony, Titonath, Titonel; anak perempuan Hemkarey Dith Tan; enam cucu; dan dua cucu tiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Sebagian hidup saya adalah menyelamatkan kehidupan. Saya hanyalah pembawa pesan. Jika Kamboja ingin bertahan hidup, dia memerlukan banyak suara,” kata Dith suatu kali.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai wartawan foto, rekan- rekannya menilai Dith sebagai pahlawan. ”Bagi kami semua yang pernah bekerja sebagai wartawan asing di tempat-tempat mengerikan, Pran mengingatkan kita tentang heroisme jurnalistik,” kata Pemimpin Redaksi New York Times Bill Keller.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Pran adalah pejuang kebenaran dan pejuang rakyatnya,” kata Schanberg.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengenai penyakit yang merenggut jiwanya, Dith mengatakan, ”Orang Kamboja percaya kami hanya meminjam tubuh ini. Tubuh ini hanyalah rumah bagi jiwa, dan saat rumah itu sudah penuh rayap, saatnya untuk pergi.” (ap/afp/reuters/fro)&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-4216660235783578114?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/4216660235783578114/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=4216660235783578114' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/4216660235783578114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/4216660235783578114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/04/dith-pran-sang-pejuang-kamboja.html' title='Dith Pran, Sang Pejuang Kamboja'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-7740414893139823861</id><published>2008-03-31T17:02:00.000+07:00</published><updated>2008-03-31T17:03:19.177+07:00</updated><title type='text'>Taufiq Ismail</title><content type='html'>55 Tahun Kiprah Sastrawan Taufiq Ismail&lt;br /&gt;Jumat, 28 Maret 2008 | 00:56 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Kompas - Menandai 55 tahun kiprah Taufiq Ismail di panggung kesusastraan dan kebudayaan Indonesia, serangkaian kegiatan apresiasi diselenggarakan oleh majalah sastra Horison. Di antaranya lomba karya tulis bagi mahasiswa, seminar, penerbitan buku, dan pembacaan puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tak hanya di bidang sastra dan kebudayaan pada umumnya, Taufiq Ismail juga tergolong penulis lagu yang kreatif,” kata sastrawan Jamal D Rahman, Pemimpin Redaksi Horison sekaligus wakil ketua panitia kegiatan ini, Kamis (27/3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba karya tulis yang khusus diperuntukkan bagi mahasiswa mengambil tema tentang Taufiq Ismail dalam sastra dan kebudayaan Indonesia. Lomba memperebutkan total hadiah senilai Rp 25 juta ini berakhir 30 Maret 2008. Pemenang lomba akan diumumkan pada 17 Mei 2008, bersamaan seminar nasional tentang Taufiq Ismail di Jakarta. Acara seminar juga digelar di Padang pada 28 Mei 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, pada 14 Mei 2008, sejumlah buku Taufiq Ismail akan diluncurkan di Aula Gedung Mahkamah Konstitusi, ditandai pidato kebudayaan oleh Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan dan budayawan Emha Ainun Nadjib. Informasi lebih lanjut bisa diperoleh di majalah sastra Horison, telepon (021) 85903045. (ken)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-7740414893139823861?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/7740414893139823861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=7740414893139823861' title='53 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/7740414893139823861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/7740414893139823861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/03/taufiq-ismail.html' title='Taufiq Ismail'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>53</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-829910530568637602</id><published>2008-03-25T20:08:00.000+07:00</published><updated>2008-03-25T20:09:10.156+07:00</updated><title type='text'>Hamka Amat Patut Dikenang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                &lt;span class="penulis"&gt;Oleh : Ahmad Syafii Maarif &lt;/span&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         &lt;span class="deskripsi"&gt;                            &lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Sebuah panitia yang dibentuk oleh Universitas Prof Dr Hamka Jakarta akhir 2007 telah menyelenggarakan beberapa kegiatan penting dalam rangka 100 tahun Buya Hamka, dihitung sejak tanggal lahirnya, 17 Februari 1908. Hamka wafat pada 23 Juli 1981 dengan meninggalkan karya tulis yang dahsyat, lebih dari 100. Puncak karya itu adalah Tafsir Alquran Al-Azhar, lengkap 30 juz, mendekati 9.000 halaman. Draf awal disiapkan dalam penjara dalam tenggang waktu dua tahun pada 1960-an. Pada 8 April 2008 akan ada seminar internasional mengenang tokoh ini dan sumbangan pemikirannya terhadap kemanusiaan. Hamka telah mulai menulis pada 1925 dalam usia 17 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Untuk seminar April, saya juga diminta untuk turut mengisi. Kalimat pertama makalah saya untuk seminar itu berbunyi: ''Semakin jauh Hamka berpisah secara fisikal dengan kita, semakin dalam dan mencekam kerinduan kita kepadanya.'' Mengapa tidak akan rindu? Hamka adalah pribadi dengan wajah 1.000 dimensi. Jauh sebelum muncul sebagai seorang alim kaliber dunia, Hamka adalah novelis dengan beberapa karya sastra yang masih dicetak sampai hari ini. Tiga tahun sebelum wafat, menurut catatan alm Iwan Simatupang, dalam orasi kebudayaan tanpa teks di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 11 Maret 1970, Hamka bertutur: ''Saya adalah pengarang! Pada mulanya, dan pada akhirnya.'' Merangkai dan menganyam kata adalah pilihan hidup Hamka sepanjang hayat. Tidak tanggung-tanggung, ranah sastra dijelajahnya, sejarah ditelitinya, filsafat dan tasawuf dikajinya, ushul fikih dan manthiq dipelajarinya di bawah bimbingan sang ayah, Dr Haji Abdul Karim Amrullah, seorang alim berwatak keras, dan puncaknya adalah Tafsir Al-Azhar telah dipersembahkannya kepada bangsa Indonesia yang sangat dicintainya. Hamka telah menjadi milik semua orang, hampir tanpa kecuali.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Universitas Prof Hamka telah merintis sebuah langkah besar: Menyiapkan pusat kajian Hamka, sebuah upaya akademik yang bernilai strategis untuk bangsa ini, untuk Islam, dan untuk kemanusiaan. Sebagai seorang yang dilahirkan di sekitar Danau Maninjau, Ranah Minang, Hamka telah lama bergumul dengan kultur kearifan kata melalui pepatah, petitih, gurindam, bidal, pantun, syair, dan mamang, yang memang menjadi kebanggaan anak suku bangsa itu, di samping juga terkenal sebagai pusat cemeeh di muka bumi. Dua pengarang Minang yang lain: Rosihan Anwar dan alm AA Navis sangat mahir dalam perkara cemeeh ini, tetapi justru dengan cara itu semakin menghidupkan suasana percakapan, sekalipun mungkin saja ada yang tersinggung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Hamka adalah fenomenal dalam sejarah Indonesia modern. Karyanya dibaca tidak saja di Indonesia, tetapi juga di mancanegara. Saya tidak tahu pasti sudah berapa tesis dan disertasi yang ditulis orang tentang buah pemikiran si alim ini, sementara dia sendiri berkarya tanpa ijazah, tidak SD, tidak sekolah menengah, apalagi perguruan tinggi. Ajaibnya, mahasiswa S3 perguruan tinggi telah mengkaji Hamka utnuk meraih gelar doktor. Maka, dengan ungkapan: ''Saya adalah pengarang! Pada mulanya, dan pada akhirnya,'' Hamka telah meneruka kawasan kebudayaan yang sangat luas untuk diteruskan oleh anak-anak bangsa ini, demi peradaban Indonesia yang berkualitas tinggi di masa depan. Pilar-pilar moral dan kearifan yang telah dipancangkan Hamka tidak boleh dibiarkan melapuk, sebab itu merupakan pengkhianatan kultural yang tidak dapat dimaafkan, jika memang kita ingin melihat bangsa ini punya harga diri, sehingga dihormati bangsa-bangsa lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Sebagai manusia biasa, tentu di sana-sini Hamka punya kekurangan dan kelemahan, tetapi semuanya itu telah ditebusnya dengan karier hidup yang penuh makna dan karya tulis yang terus saja dikaji dan diminati orang, entah sampai kapan. Karya yang berjibun itu telah lama menjadi sumber inspirasi dan sumber kearifan bagi berbagai kalangan. Nilai profetiknya justru terasa semakin mendesak pada saat bangsa ini sedang berada pada posisi papa inspirasi dan tunakearifan. Di samping tokoh-tokoh moralis yang lain, Hamka adalah salah seorang yang berada di garis depan. Selamat memperingati 100 tahun Buya Hamka! &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-829910530568637602?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/829910530568637602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=829910530568637602' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/829910530568637602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/829910530568637602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/03/hamka-amat-patut-dikenang.html' title='Hamka Amat Patut Dikenang'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-5388884316074977762</id><published>2008-03-24T07:08:00.000+07:00</published><updated>2008-03-24T07:09:20.850+07:00</updated><title type='text'>Kepuasan dari Ayat-ayat Cinta</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;b&gt;Salman Aristo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kepuasan dari &lt;i&gt;Ayat-ayat Cinta&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Laskar Pelangi&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Telepon gengang Salman Aristo berdering. Dari seberang, terdengar suara sutradara film Hanung Bramantyo. Sejatinya, bagi Salman dan Hanung, &lt;i&gt;telpon-telponan&lt;/i&gt; bukan hal yang tak lazim. Keduanya memang sudah saling kenal, kerap bekerja sama dalam menggarap film. Hanung menjadi sutradara, Salman menulis skenario. Film &lt;i&gt;Brownies&lt;/i&gt;, salah satu di antaranya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Tapi, telepon dari Hanung kali ini membuat Salman sempat tersentak. Sutradara film itu mengajaknya untuk menuliskan skenario film &lt;i&gt;Ayat-ayat Cinta&lt;/i&gt; yang diadaptasi dari novel laris karya Habiburrahman El Shirazy terbitan &lt;i&gt;Republika&lt;/i&gt; dengan judul yang sama. Bagi Salman, ini tantangan sekaligus peluang. Tapi, saat bersamaan, ia mengakui kala itu belum membaca novel dengan latar belakang kota Mesir dan Timur Tengah tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;''Saya tidak pernah membayangkan ditawari,'' ucap pemenang Kompetisi Pengembangan Naskah untuk kategori &lt;i&gt;Feature Film&lt;/i&gt; di Jiffest 2006 itu. Tapi, ia merasa beruntung. Istrinya, Ginatri S Noer, sudah membaca novel itu. Penjelasan Ginatri ihwal cerita dalam novel ini mengesankan hati Salman. Semangatnya kian besar menggarap skenario film ini. Ia pun membacanya. Benar. ''Kami melihat, ini novel yang berhasil membawa pesan. Sayang sekali kalau dibiarkan,'' kata pria kelahiran Jakarta, 13 April 1976 itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Pasangan muda ini lalu menulis skenario film, mengadaptasi dari novel &lt;i&gt;Ayat-ayat Cinta&lt;/i&gt;. Ginatri banyak membantu membuat &lt;i&gt;story line&lt;/i&gt;. Tak sekadar membaca novel laris itu, keduanya pun melakukan riset, baik yang berkaitan dengan masalah fikih maupun tentang keislaman. Ini dilakukan untuk memperkaya wawasan dalam penulisan skenario.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Di balik itu, diam-diam ada keinginan lain yang tersimpan di lubuk hati Salman. Ia ingin berkarya sebaik mungkin dan mengajak orang-orang yang selama ini segan ke bioskop untuk mau menyisihkan waktu, datang di gedung pertunjukan film. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;b&gt;Adaptasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mengadaptasi sebuah novel ke dalam skenario film, tentu bukan perkara sepele. Apalagi bila novel yang akan diadaptasi itu tergolong laris, sudah dibaca banyak orang. Salman menyadari itu. ''Jelas ada beban,'' ucapnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Beban itu, dirasakannya bukan dalam soal teknis. Tapi, ''Apakah skenario punya sistematika yang sama dengan pemahaman orang yang sudah membaca novelnya?''&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Bagaimanapun, media tontonan tidak sama persis dengan media baca. Salman 'terpaksa menyimpang' dari novel yang diadaptasinya itu. Tokoh Fahri, misalnya. Di dalam novel, pria ini dikesankan sebagai sosok yang cerdas dan teladan bagi teman-temannya, tapi dalam film menjadi terkesan sebaliknya: Lugu, sehingga dinasihati temannya soal &lt;i&gt;ta'aruf&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Salman tidak sekadar mengubah cerita. Nomine &lt;i&gt;The Best Adaptation Screeplay of Jomblo&lt;/i&gt; dalam Festival Film Indonesia 2006 ini punya alasan untuk itu. Dia bilang, ''Kalau seperti novel, akan membuat penonton berjarak.'' Syukurlah, menurut mantan redaktur pelaksana majalah &lt;i&gt;Fourfour Two&lt;/i&gt; Indonesia ini, Habiburrahman  sang penulis cerita  bisa memahaminya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;i&gt;Toh&lt;/i&gt;, proses penulisan tidak semulus jalan tol Jagorawi. Berulang kali Salman menulis ulang draf skenario film ini. Setidaknya, 12 kali ia menulis draf skenario hingga sampai dinyatakan &lt;i&gt;oke&lt;/i&gt;. Tapi, bagi lulusan Jurusan Ilmu Jurnalistik Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung ini, penulisan ulang draf skenario sudah menjadi sebuah kewajaran. ''Saya percaya, film yang bagus adalah yang ditulis ulang,'' tutur mantan wartawan &lt;i&gt;Trax Magazine&lt;/i&gt; ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;b&gt;Laskar Pelangi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tak lama merampungkan skenario &lt;i&gt;Ayat-ayat Cinta&lt;/i&gt;, tawaran lain menghampirinya. Ia diminta menulis skenario film &lt;i&gt;Laskar Pelangi&lt;/i&gt;, mengadaptasi novel laris karya Andrea Hirata. Berbeda dengan &lt;i&gt;Ayat-ayat Cinta&lt;/i&gt;, ia mengaku sudah membaca novel &lt;i&gt;Laskar Pelangi&lt;/i&gt; sebelum tawaran menulis skenario menghampirinya. Dari bacaan itu ia mengaku sempat terbetik dalam hati, ''Wah, ini bagus &lt;i&gt;banget&lt;/i&gt; dibuat film.'' &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Keinginan itu lalu ia beritahukan ke sutradara film Riri Reza melalui pesan pendek (SMS). Tak ia nyana, tiba-tiba telepon genggamnya kembali berdering. Dari seberang, suara Mira Lesmana, produser Miles Film, membuka pembicaraan dengan basa-basi. ''Dia tanya jadwal (saya),'' ucap Salman. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Pembicaraan pun berlangsung. Salman diajak bekerja sama memproduksi film dengan mengadaptasi novel &lt;i&gt;Laskar Pelangi&lt;/i&gt;. Salman setuju. Bersama Andrea Hirata, mereka langsung ke Belitung, melakukan observasi ke lokasi &lt;i&gt;setting&lt;/i&gt; cerita dalam novel tersebut. Mereka menemui tokoh-tokoh dalam novel. Di perjalanan, diam-diam dia menggali informasi lebih banyak dari sang penulis. ''Dibandingkan dengan &lt;i&gt;Ayat-ayat Cinta&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Laskar Pelangi&lt;/i&gt; lebih mudah. &lt;i&gt;Ayat-ayat Cinta&lt;/i&gt; lebih rumit karena kompleksitas ceritanya harus direnungkan. &lt;i&gt;Laskar Pelangi&lt;/i&gt; cenderung lebih linier,'' ucapnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Kini, penulisan skenario &lt;i&gt;Laskar Pelangi&lt;/i&gt; tengah dalam proses akhir. Sebagaimana &lt;i&gt;Ayat-ayat Cinta&lt;/i&gt; yang tengah diputar di bioskop-bioskop, Salman juga berharap &lt;i&gt;Laskar Pelangi&lt;/i&gt; versi layar lebar mendapat sambutan dari penonton film di Indonesia. Film &lt;i&gt;Ayat-ayat Cinta&lt;/i&gt;, menurut dia, telah memberi kepuasaan batin. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; Mengutip ucapan penonton film &lt;i&gt;Ayat-ayat Cinta&lt;/i&gt; yang pernah ia dengar, pria yang mengawali kariernya sebagai penulis skenario melalui film &lt;i&gt;Brownies&lt;/i&gt; (2004) ini bilang, ''Dulu &lt;i&gt;gue&lt;/i&gt; diajak &lt;i&gt;ortu&lt;/i&gt; ke bioskop. Kini &lt;i&gt;gue&lt;/i&gt; ajak ibu &lt;i&gt;gue&lt;/i&gt; ke bioskop.'' Agaknya, ajakan penulis skenario film &lt;i&gt;Alexandria&lt;/i&gt; (2005) itu untuk menarik orang-orang yang segan ke bioskop mulai menunjukkan tanda-tanda menggembirakan.bur&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;           ( )         &lt;/span&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-5388884316074977762?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/5388884316074977762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=5388884316074977762' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5388884316074977762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5388884316074977762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/03/kepuasan-dari-ayat-ayat-cinta.html' title='Kepuasan dari Ayat-ayat Cinta'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-8154321285020619096</id><published>2008-03-22T07:46:00.001+07:00</published><updated>2008-03-22T07:51:16.823+07:00</updated><title type='text'>Paterson, Gubernur Buta yang Pantang Menyerah</title><content type='html'>&lt;div class="judulisiberita" style="margin: 5px 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;div style="width: 300px; float: left; margin-right: 10px; text-align: justify;"&gt;    &lt;div style="padding: 0px 0px 5px; width: 298px;"&gt;      &lt;div id="loadarea" style="margin-bottom: 5px; width: 298px;"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2008/03/22/050710p.jpg" border="0" width="300" /&gt;  &lt;/div&gt;                 &lt;div id="boxtitle" class="boximgartikeldepan" style="margin-bottom: 0px; height: 80px;"&gt;David Alexander Paterson &lt;/div&gt;    &lt;/div&gt; &lt;div id="boxterkait" style="width: 300px; background-color: rgb(255, 255, 255); margin-bottom: 20px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="tanggal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sabtu, 22 Maret 2008 | 05:04 WIB&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;”Perkenankan saya memperkenalkan diri lagi. Saya David Paterson dan saya Gubernur Negara Bagian New York,” ujar Paterson dalam pidato pelantikan pada 17 Maret 2008. Dia adalah orang kulit hitam pertama yang menjabat sebagai Gubernur New York. Dia juga orang buta pertama yang menduduki jabatan itu di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;David Alexander Paterson (58) diangkat menggantikan Eliot Spitzer, Gubernur New York sebelumnya, yang mengundurkan diri setelah terjerat skandal seks. Paterson, yang menjabat wakil gubernur, otomatis menjadi gubernur sesuai dengan konstitusi New York. Paterson, gubernur ke-55 New York, akan meneruskan masa jabatan Spitzer hingga tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paterson kehilangan penglihatan saat berusia tiga bulan akibat infeksi telinga yang menjalar ke saraf optik. Mata kirinya buta, mata kanannya bisa melihat tetapi sangat terbatas. Namun, sepanjang karier politiknya selama 20 tahun, kebutaannya tidak pernah dipersoalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan dan kepribadiannya yang menyenangkan mengalahkan cacat yang disandangnya. Dia sangat dihormati baik oleh kalangan Partai Demokrat maupun Partai Republik di New York. Mantan Wali Kota New York Edward Koch menilai Paterson sebagai orang yang sangat pandai. ”Kekurangan dalam hal penglihatan tidak menghalangi aktivitas publik atau pribadinya. Dia bisa mengatasi kekurangannya dengan cara yang luar biasa,” kata Koch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang buta, Paterson tidak mau menggunakan tongkat atau anjing pemandu. Paterson masih suka mengenang ketika dulu dia pernah kehilangan kepercayaan diri semasa remaja akibat kebutaannya. Dia ingat tidak diundang ke berbagai pesta karena orang takut dia jatuh atau melukai dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantang menyerah dengan kekurangan, Paterson membuktikan dia sama dengan orang normal. Dia mendapatkan gelar sarjana muda sejarah dari Universitas Columbia tahun 1977 dan sarjana hukum dari Sekolah Hukum Hofstra tahun 1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulus dari Sekolah Hukum Hofstra, Paterson kemudian bekerja untuk Kantor Jaksa Distrik Queens. Sayang, dia gagal dalam ujian pengacara. Kegagalan itu, menurut Paterson, disebabkan akomodasi yang tidak memadai bagi kebutaannya. Sejak saat itu dia aktif memperjuangkan hak-hak orang cacat, baik cacat visual maupun fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia dipilih sebagai anggota Yayasan Amerika untuk Orang Buta dan anggota dewan direksi Achilles Track Club, sebuah organisasi yang mensponsori atlet dan veteran cacat untuk berlomba maraton. Paterson berhasil menyelesaikan lomba maraton Kota New York tahun 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Selera humor&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karier politik Paterson dimulai tahun 1985 saat dia bergabung dengan tim kampanye David Dinkins untuk jabatan Presiden Manhattan Borough. Pada Oktober tahun yang sama, Paterson memenangi ”kursi panas” dalam pemilu senat khusus di distrik ke-30 setelah senator sebelumnya, Leon Bogues, meninggal. Dia membawahkan Distrik Harlem, Manhattan Valley, dan Upper West Side, distrik yang pernah diwakili ayahnya, Basil Paterson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2002, Paterson terpilih sebagai Ketua Minoritas Senat melalui Konvensi Nasional Partai Demokrat. Pemilihan itu membuat Paterson menjadi orang nonkulit putih pertama yang menjabat pemimpin legislatif di negara bagian sekaligus jabatan tertinggi yang pernah diduduki seorang Afrika-Amerika di New York. Dia dikenal karena gayanya yang mengutamakan pencapaian konsensus dan keterampilan politik yang tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paterson mengejutkan banyak pihak saat menerima ”pinangan” Spitzer untuk menjadi wakilnya pada pemilu gubernur New York tahun 2006. Sebelumnya, dia digadang-gadang sebagai pemimpin mayoritas Senat saat Partai Demokrat diperkirakan bakal mengambil alih parlemen negara bagian. Bahkan, nama Paterson disebut-sebut sebagai pengganti Senator Hillary Rodham Clinton jika berhasil memenangi nomine Partai Demokrat atau pemilu presiden AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasangan Spitzer-Paterson meraih kemenangan mutlak dengan 69 persen suara, tertinggi dalam sejarah pemilihan Gubernur New York. Paterson memiliki pribadi yang kontras dengan Spitzer, dan beberapa kali mereka terlibat perdebatan sengit dalam pengambilan keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dia (Paterson) memiliki selera humor. Dia adalah kebalikan Eliot,” kata Betsy Gotbaum, anggota ombudsman kota New York kepada The New York Times. Dengan latar belakang keanggotaan di Senat, Paterson diperkirakan bisa menjalin hubungan yang lebih lunak dengan anggota legislatif New York dibandingkan dengan Spitzer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, anggota legislatif New York kubu Partai Republik menghormati Paterson. ”Saya kira tak ada isu yang saya sepakati dengan David Paterson, tetapi dia adalah orang yang paling terhormat yang pernah saya kenal,” ujar Peter King, wakil Long Island. Paterson juga menjalin hubungan baik dengan ketua mayoritas di Senat, Joseph Bruno, yang sementara akan mengisi jabatan Wakil Gubernur New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Progresif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuh dalam lingkungan keluarga politisi besar di New York, Paterson seperti dipersiapkan untuk menjadi pemimpin progresif yang berpengalaman dan berkemampuan. Dia memiliki riwayat kuat dalam posisinya membela hak-hak rakyat sipil, terutama hak kaum gay. Dia juga pernah mengajukan rancangan undang-undang tentang inisiatif penelitian stem cell senilai 1 miliar dollar AS yang hingga kini masih kontroversial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pembela hak-hak sipil, Paterson, ayahnya, bersama mantan Presiden Manhattan Borough Percy Sutton, dan 55 aktivis lainnya pernah ditahan oleh Kepolisian New York tahun 1999 dengan tuduhan perilaku menyimpang. Mereka ambil bagian dalam protes menyusul tewasnya seorang imigran asal Afrika, Amadou Diallo, yang ditembak empat polisi kulit putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2006, dia mengajukan rancangan undang-undang untuk membatasi penggunaan kekuatan mematikan oleh polisi. Dia juga mendukung hak memilih bagi bukan penduduk New York dalam pemilu lokal. Oleh New York Post, Paterson dikatakan ”menorehkan catatan sangat liberal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari pertamanya sebagai gubernur, Paterson sudah dihadapkan pada tugas mengajukan anggaran selambat-lambatnya 1 April. Dia hanya memiliki waktu dua pekan untuk berunding dengan para pengambil keputusan untuk menutup defisit sebesar 4,7 miliar dollar AS dan meloloskan anggaran sebesar 124 miliar dollar AS peninggalan pemerintahan Spitzer. Terkait kesulitan ekonomi yang kini melanda rakyat AS, Paterson mengatakan akan menyesuaikan anggaran dengan hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dilantiknya Paterson, Newsday menuliskan, ”banyak kelompok yang memperjuangkan pemerintahan yang baik berharap upaya membersihkan Albany terus berjalan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paterson tinggal di Harlem bersama keluarganya. Istrinya, Michelle Paige Paterson, adalah pejabat pelayanan kesehatan yang dinikahinya tahun 1992. Paterson memiliki dua anak, Ashley (19), putri Michelle dari pernikahan sebelumnya, dan Alex (13), putra mereka ber- dua yang bersekolah di New York. &lt;strong&gt;(Fransisca Romana Ninik)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-8154321285020619096?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/8154321285020619096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=8154321285020619096' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/8154321285020619096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/8154321285020619096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/03/paterson-gubernur-buta-yang-pantang.html' title='Paterson, Gubernur Buta yang Pantang Menyerah'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-2091561827543661418</id><published>2008-03-17T20:41:00.000+07:00</published><updated>2008-03-17T20:42:31.943+07:00</updated><title type='text'>"Surga" Yon Koeswoyo</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;!--&lt;div id="subjudulartikelcetak"&gt;Satuan Keamanan PBB Diterjunkan&lt;/div&gt; --&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="txtartikelcetak"&gt; &lt;!--zoom image--&gt;  &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;    &lt;div id="boximartikelcetak1"&gt;   &lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" height="200" width="300"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2008/03/16/2692775p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" height="224" width="300" /&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;    &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="tglct"&gt;&lt;/span&gt;Budi Suwarna&lt;p&gt;Siapa tak kenal Yon Koeswoyo. Pemilik nama asli Koesyono Koeswoyo inilah vokalis utama Koes Plus, grup musik tahun 1970-an yang melegenda di Indonesia dan lagunya masih dinyanyikan orang di mana-mana. Kini Yon berusia 68 tahun. Sebagian masa tuanya dia habiskan dengan ”ngamen” dan memotong rumput.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yon tinggal di sebuah perkampungan di Pamulang, Tangerang, Banten. Jalan masuk ke rumahnya berlubang-lubang dan becek. Rumahnya tidak besar dan mewah untuk ukuran penyanyi yang namanya melegenda. Namun, halamannya luas, yakni sekitar 2.500 meter persegi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di halaman itu Yon menanam berbagai jenis pohon, seperti durian, ketapang jati, mangga, rambutan, dan palem. ”Semua saya tanam sendiri. Rumput di halaman ini juga saya beli dan tanam sendiri,” ujarnya sambil menunjuk hamparan rumput hijau yang terpelihara baik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yon mengatakan, semua tanamannya dia rawat dengan tangannya sendiri. Setiap tiga atau empat hari sekali dia memotong rumput, menyapu halaman, dan memangkas batang-batang pohon yang tidak beraturan. Dengan kegiatan itu, Yon merasa sehat lahir batin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Setiap kali manggung saya teriak kepada penonton, ’Saya ini sudah berumur 68 tahun. Tapi, lihat saya masih sehat kan’,” katanya sambil berdiri dan mengangkat kedua tangan, berpose seperti binaraga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yon menambahkan, kegiatan memotong rumput dan menyapu halaman membuatnya tenang. ”Saya memotong rumput untuk melupakan segala penderitaan,” ujar Yon ketika melayani wawancara pada Kamis (13/3) pagi yang cerah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Kalau lagi susah (tidak punya duit), saya berpikir bahwa daun-daun yang saya pungut dari halaman adalah duit yang bertebaran. Ternyata beberapa hari kemudian saya benar-benar dapat order dan uang, ha-ha...,” kata Yon tertawa keras.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena rumah itu memberikannya kedamaian dan membuatnya bisa melupakan penderitaan, Yon menganggap rumahnya ”surga”. ”Meski jelek, ini surgaku,” tambahnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pedesaan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rumah yang dibangun tahun 1990 itu dia beli dari jerih payahnya bermusik selama bertahun-tahun. Di rumah ini dia tinggal bersama istrinya, Bonita Angelia, dan dua dari empat anaknya, yakni Bela Aron (12) dan Kenas Berton (6). Selain itu, ada Agus (sopir) dan Ika (pembantu rumah tangga).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yon menyebut rumahnya berkonsep rumah pedesaan. ”Tapi yo embuh, kok malah berantakan, ha-ha-ha,” ujar Yon sambil tertawa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rumah itu terdiri dari tiga bangunan terpisah. Yon dan keluarga tinggal di bangunan utama. Di sampingnya ada sebuah bangunan terpisah yang difungsikan sebagai ruang tamu. Di seberang bangunan utama ada sebuah galeri tempat Yon menyimpan puluhan lukisan karyanya. Dia juga biasa bermain gitar di sana.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semua bangunan yang ada memiliki ciri hampir serupa, yakni dibangun dengan batako dan bata merah yang dibiarkan polos tanpa plesteran. Semua bangunan juga memiliki jendela-jendela besar sehingga kita bisa melongok langsung ke halaman luas, asri, dan hijau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak ada yang tampak mewah dan berlebihan dari setiap sudut rumah Yon dan keluarga. Pintu kamar mandi di ruang keluarga bahkan hanya terbuat dari plastik PVC yang banyak dijual di toko material. Di ruangan itu ada beberapa perabot yang biasa-biasa saja: seperangkat sofa, meja, televisi, dan kulkas. Hiasannya beberapa foto keluarga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di ruang galeri yang memuat 50-an lukisan Yon hanya ada sebuah sofa, meja, dan dua gitar. Di dinding tidak ada hiasan, kecuali beberapa lembar piagam dan foto-foto tua Yon bersama personel Koes Plus.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di ruang tamu hanya ada sebuah sofa yang sudah kusam, tumpukan bingkai foto, dan sebuah piano. Tidak ada hiasan mewah seperti lampu kristal atau guci-guci mahal. Di ruang ini Yon biasa bernyanyi dan main piano. Pagi itu dia memainkan beberapa lagu Koes Plus, seperti Telaga Sunyi, Manis dan Sayang, serta Hidup yang Sepi. Dia juga memainkan beberapa lagu Beatles untuk kami.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Suaranya masih jernih dan khas, sama seperti Yon yang dulu. Tak terasa kami mengenang kembali kejayaan Koes Plus dan mengingat lagu-lagunya yang abadi, seperti Bujangan, Cubit-cubitan, Pelangi, Kapan-kapan, Bunga di Tepi Jalan, Terlambat, dan masih banyak lagi. Ketika diingatkan bahwa lagu-lagu Koes Plus masih digemari bahkan oleh anak-anak muda yang lahir tahun 1980-an, dengan mimik tidak percaya, Yon berkata, ”Opo iyo?”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami juga mengingatkan bahwa banyak anak muda yang membuat komunitas penggemar lagu Koes Plus. ”Jadi, kalau begitu, Koes Plus masih terkenal sampai sekarang,” ujarnya setengah tak percaya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di antara anggota Koes Plus yang lain, bisa dikatakan hanya Yon yang masih aktif bernyanyi. Pengiringnya bukan lagi Tonny Koeswoyo (almarhum), Yok Koeswoyo, Nomo Koeswoyo, atau Muri, melainkan Danang, Sony, dan Seno. Mereka, kata Yon, adalah anak-anak muda usia 20-an dan 30-an yang sangat piawai memainkan lagu-lagu Koes Plus. ”Mungkin mereka main lebih bagus dari kami dulu,” kata Yon, yang mengaku bertemu dengan mereka secara tidak sengaja di sebuah studio.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hingga sekarang Yon masih mendapat tawaran manggung di mana-mana. Rabu lalu dia baru pulang manggung dari Samarinda, Kalimantan Timur. ”Sabtu (15/3) saya akan berangkat ke Blora (Jatim) untuk manggung,” kata Yon.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yon mengaku dalam satu bulan dia setidaknya manggung di tiga atau empat tempat. ”Yah, kami sekarang hidup dari ngamen sebab kami tidak dapat royalti seperti artis-artis sekarang. Kalau tidak ngamen, ya tidak hidup,” kata Yon.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitulah kehidupan Yon sekarang. Nama dan karya-karya besar, tetapi zaman yang glamor dan instan sekarang meninggalkannya.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-2091561827543661418?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/2091561827543661418/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=2091561827543661418' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/2091561827543661418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/2091561827543661418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/03/surga-yon-koeswoyo.html' title='&quot;Surga&quot; Yon Koeswoyo'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-5327763186868563846</id><published>2008-03-17T20:21:00.000+07:00</published><updated>2008-03-17T20:22:17.658+07:00</updated><title type='text'>Buffett, Kaya karena Sabar dan Telaten</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;!--&lt;div id="subjudulartikelcetak"&gt;Satuan Keamanan PBB Diterjunkan&lt;/div&gt; --&gt; &lt;!--zoom image--&gt;    &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" id="boximartikelcetak1"&gt;   &lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" height="200" width="300"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2008/03/17/2693874p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" height="225" width="300" /&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;    &lt;td&gt;          &lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span class="txfotocetak"&gt;    GETTY IMAGES/DAVID SILVERMAN / &lt;a href="http://www.kompasimages.com/" target="_blank"&gt;Kompas Images&lt;/a&gt;    &lt;br /&gt;   Warren Buffett   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;    &lt;/div&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;  &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span class="tglct"&gt;Senin, 17 Maret 2008 | 00:42 WIB&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;JOICE TAURIS SANTI&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Majalah Forbes menobatkan investor kawakan Wall Street, Warren Buffett, menjadi orang terkaya di jagat ini, menggantikan posisi Bill Gates yang sudah 13 tahun terakhir mendominasi daftar orang terkaya. Gates kini ada di posisi ketiga dengan kekayaan 58 miliar dollar AS. Posisi kedua ditempati jutawan telekomunikasi dari Meksiko, Carlos Slim Helú, yang memiliki 60 miliar dollar AS.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kekayaan Buffett tahun 2007 naik dari 52 miliar dollar AS menjadi 62 miliar dollar AS, setara dengan Rp 570 triliun. Kekayaan Buffett, yang sering disebut ”Oracle from Omaha” ini, dihitung berdasarkan nilai sahamnya di perusahaan Berkshire Hathaway dan aset lain yang dia miliki.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saham kelas A Berkshire naik 25 persen selama periode Juli 2006-Februari 2008. Harga saham itu sempat mencapai 150.000 dollar per lembar. Buffett membeli saham Berkshire 46 tahun lalu seharga 8 dollar per lembar, pada saat perusahaan itu merupakan perusahaan tekstil.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kekayaannya tak datang dalam satu-dua tahun. Sejak muda Buffett memutar otak untuk mencari uang dan mengembangkan aset. Kemampuan finansialnya terasah sejak muda, pada saat anak seusianya senang bermain sepak bola.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Langkahnya dalam berinvestasi selalu menjadi perhatian investor perorangan. Tahun lalu muncul rumor dalam milis investor perorangan bursa Jakarta, sang investor fundamental Warren Buffett ”berbelanja” saham di Bursa Efek Indonesia. Segera para anggota milis ramai menebak saham apa yang kira-kira diborong investor kawakan ini. Tak hanya itu, di toko-toko buku tidak sedikit buku panduan investasi yang mengupas cara-cara sukses berinvestasi ala Buffett.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dia bukan investor ”ji-go-bur”, investor yang mendapat kentungan ala jigo-gocap, beli saham pada harga Rp 25 lalu kabur saat harga Rp 50. Ia tak mengambil untung dari aksi beli saham pagi hari, lalu menjualnya pada sore hari.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Investasinya didasarkan pada nilai intrinsik perusahaan, bukan pada kenaikan harga saham yang didongkrak alias ”digoreng”. Dia memegang saham dalam jangka panjang dan tak melakukan perdagangan saham dalam tempo singkat.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ada satu hal yang dilakukan Buffett dan banyak orang tak tahu. Saat membeli saham perusahaan, hal yang dia lihat adalah apakah cerobong asap perusahaan masih mengepul. Ini adalah salah satu indikator baginya, perusahaan itu benar-benar eksis dan operasional.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Sabar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Anak kedua dari tiga bersaudara ini pada usia enam tahun membeli enam Coca-Cola dari toko kakeknya seharga 24 sen. Dia menjual kembali kaleng-kaleng bekas minuman itu dengan harga nikel dan mendapatkan untung sebesar 5 sen.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada usia 11 tahun, Buffett membeli tiga unit saham Cities Service Preferred seharga 38 dollar per saham untuk dia dan kakaknya, Doris. Tak lama setelah dia membeli saham itu, harganya melorot menjadi 27 dollar per saham. Dengan sabar Buffett menunggu hingga harga saham naik menjadi 40 dollar, lalu menjualnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Buffett menyesal karena akhirnya saham Cities Service Preferred menjadi 200 dollar per saham. Peristiwa ini membawa pesan penting bagi dia dalam berinvestasi: bersabarlah!&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tak lama setelah membeli saham Berkshire tahun 1962, dia lalu menjadi pemegang saham pengendali pada 1965. Dia lalu membeli perusahaan asuransi dan dengan cerdik menginvestasikan cadangan kas perusahaan itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kemudian, Berkshire menginvestasikan uangnya pada perusahaan asuransi seperti GEICO dan General Re, perhiasan Borsheim, perusahaan makanan Diary Queen, dan perusahaan permen See’s Candies. Perusahaan itu juga menjadi pemegang saham bukan pengendali pada Anheuser-Busch, Coca-Cola, dan Wells Fargo.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Strategi investasinya sederhana. Dia tak dipusingkan oleh rumor yang setiap hari berseliweran di kalangan para investor saham. Buffett fokus pada perusahaan dengan saham berharga murah, tetapi punya kesempatan berkembang.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Buffett hanya mau berinvestasi pada saham-saham perusahaan yang bisnisnya dia kenal dengan baik. Ia memiliki saham Coca-Cola dan tak pernah menjualnya. Pada saat bisnis internet meledak, semua orang di pasar saham seakan terlanda eforia dan beramai-ramai membeli saham-saham dotcom. Ia tak tergoda. Saham perusahaan berbasis internet seperti Global Crossing dan Etoys.com pernah seharga 80 dollar per unit, tetapi kini saham-saham tersebut tak berharga. Dia tidak pernah membeli saham perusahaan dotcom. Tentu penilaian Buffett tidak pas untuk saham Google.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lepas dari itu, saat membeli saham, Buffett tak pusing dengan tabel, rumus, grafis, dan analisis teknikal. Dia lebih menganalisis secara fundamental perusahaan yang hendak dibeli. Buku favoritnya adalah The Intelligent Investor karya Ben Graham, gurunya. Graham menulis, berinvestasi adalah mengenai kemampuan untuk memahami gambaran besar, bukan terpaku pada detail-detail teknis.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi, strategi Buffett berlandaskan kesabaran dan ketelatenan itu hanya bisa diterapkan di negara dengan bursa yang memiliki sistem kuat. Artinya, dalam bursa itu pengawas harus kuat dan emiten (perusahaan penerbit saham) mesti jujur. Masalahnya, ada juga bursa di dunia yang berisi perusahaan tak kredibel dan pengawas bursa yang bisa disuap.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Sederhana dan murah hati&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Buffett tetap sederhana dan tinggal di kawasan Dundee, Omaha, yang dia beli tahun 1958. Ia bersahabat baik dengan pasangan Bill dan Melinda Gates.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Buffett memberikan 10 juta saham Berkshire untuk Yayasan Bill &amp;amp; Melinda Gates senilai 30,7 miliar dollar. Jumlah itu merupakan sumbangan terbesar sepanjang sejarah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dia juga menyumbangkan saham Berkshire senilai 6,7 miliar kepada Yayasan Susan Thompson Buffett. Orang kaya ini juga merupakan penyumbang untuk calon presiden Hillary Clinton ataupun Barack Obama.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kehidupan rumah tangganya agak membingungkan. Istrinya, Susan, yang dinikahi tahun 1952, meninggalkan dia pada 1977, pindah ke San Francisco. Tetapi, secara hukum mereka tidak pernah bercerai hingga Susan meninggal pada 2004. Hubungan keduanya tetap baik walaupun tidak tinggal satu atap.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Susan, penyanyi kabaret, pun masih sering mendampingi Buffett. Susan pula yang memperkenalkan Buffett kepada Astrid Menks, pelayan restoran di sebuah kafe di Omaha. Satu tahun setelah Susan meninggalkan Buffett, Astrid hidup bersama Buffett atas restu Susan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam banyak kesempatan, mereka bertiga tampil bersama. Dua tahun setelah Susan meninggal, barulah Buffett secara resmi meminang Astrid sebagai istrinya. (Forbes/Berkshire)&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7360135729579795307-5327763186868563846?l=kliksosok.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kliksosok.blogspot.com/feeds/5327763186868563846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7360135729579795307&amp;postID=5327763186868563846' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5327763186868563846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7360135729579795307/posts/default/5327763186868563846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kliksosok.blogspot.com/2008/03/buffett-kaya-karena-sabar-dan-telaten.html' title='Buffett, Kaya karena Sabar dan Telaten'/><author><name>F 1 ( FWan)</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_7idO8kNqB5I/SNUf98e-jfI/AAAAAAAAAZU/QgNo1VhGF7E/S220/fotodiri.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7360135729579795307.post-8926729664399155642</id><published>2008-03-17T18:28:00.001+07:00</published><updated>2008-03-17T18:29:54.791+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                  &lt;span style="font-weight: bold;" class="judul"&gt;'Persaingan itu Justru Menguntungkan Konsumen' &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                 &lt;span class="deskripsi"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; Berbicara dengan 'orang buku' memang terasa berbeda. Waktu seolah berjalan lebih cepat seiring menariknya obrolan. Banyak hal bernas juga terkuak dalam obrolan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Itu pula yang terasa saat &lt;i&gt;Republika&lt;/i&gt; berbincang dengan Putut Widjanarko, &lt;i&gt;vice president operation&lt;/i&gt; Mizan Publika. Ayah tiga putera ini bercerita tentang pengalamannya bergelut dan membesarkan Mizan, serta alasan yang membuatnya tetap merasa harus berkiprah di salah satu penerbit terbesar di Indonesia tersebut. Berikut petikan wawancara &lt;i&gt;Rima Ria Lestari&lt;/i&gt; dan pewarta foto &lt;i&gt;Nurhayati&lt;/i&gt; dengan Putut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;b&gt;Sejak kapan Anda bergerak di bidang penerbitan buku?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sejak saya bergabung dengan Mizan. Waktu itu Mizan sudah berkiprah 10 tahun, tahun 1993. Saya diajak bergabung menjadi GM produksi. Saya bertanggung jawab pada produksi buku, baik isi maupun pencetakannya. Sebelumnya saya bekerja di Survei Riset Indonesia (SRI) di &lt;i&gt;market research&lt;/i&gt;, yang sekarang menjadi AC Nielsen Indonesia selama dua tahun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;b&gt;Mengapa Anda meninggalkan SRI dan lebih memilih Mizan?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Begini, banyak orang tumbuh bersama Mizan. Mizan bisa dianggap penerbit paling berpengaruh di era 1980-an, yang memberikan semacam agenda bagi kaum muda Muslim saat itu, serta umat Islam tentang apa-apa yang perlu didiskusikan. Mizan mengemasnya dalam buku yang merupakan wilayah intelektual. Sebagai aktivis kampus, saya melihat tahun 1980-an itu tahun di mana dinamika kampus luar biasa ramai. Mereka (penerbit) mendapat momentum adanya aktivitas dari kaum muda kampus. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Itu pula yang membuat sebagian penerbit menyediakan bacaan yang relatif agak berbeda dari yang ada sebelumnya. Diantaranya Mizan, yang saat itu menjadi penerbit utama dan &lt;i&gt;Insya Allah&lt;/i&gt; sampai sekarang. Jadi memang itu awal ketertarikan saya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;b&gt;Kalau dengan dunia buku, sejak kapan Anda mulai tertarik?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Begini, walaupun saya bersekolah di Teknik Fisika ITB, tapi sudah lama saya tidak berminat untuk bergerak di bidang industri. Saya lebih aktif di Masjid Salman ITB, ketimbang kuliah. Saya menghabiskan waktu di Salman Komunikasi Aspirasi Umat (SKAU), dan itu praktis memakan waktu. Saya merasa di sanalah saya membentuk pengalaman intelektual saya. Saya merasa tidak akan cocok untuk terjun ke pabrik. Saya lebih cocok di bidang sosial. Saya bercanda dengan teman-teman kalau saya sekolah di Salman dan ekstrakurikulernya di Teknik Fisika ITB. Ha ha ha...(Putut tertawa).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Waktu saya menjadi mahasiswa, saya aktif di media Salman. Di situ kita membahas berbagai macam hal seputar Islam, modernitas, kerusakan lingkungan. Seperti itulah. Itu membuat saya enak bergabung dengan Mizan. Pasalnya, itu juga yang menjadi perhatian Mizan. Semacam pucuk dicinta ulam tiba juga, bahwa ternyata saya kemudian diajak bergabung dengan Mizan meski SRI memberi saya lebih banyak pemahaman mengenai &lt;i&gt;market&lt;/i&gt;, konsumen, promosi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Sampai sekarang saya kerasan di sini. Mizan adalah tempat mengamalkan ilmu, mendapatkan pahala, sekaligus mendapat penghidupan. Sampai saat ini saya pikir Mizan tempat paling tepat untuk saya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;b&gt;Anda menduduki posisi yang bertolak belakang, dari penikmat buku menjadi penerbit buku. Apakah ada hambatannya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak merasakan hambatan. Praktis saya bisa bergaul dengan teman-teman, berinteraksi, kemudian ikut serta dalam mengambil keputusan penting. Saya tidak merasakan hambatan bekerja di Mizan, bahkan dari awal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Mizan selalu tumbuh dengan baik. Tahun lalu kita naik 60 persen lebih, mungkin sampai 70 persen. Waktu krisis kita memang kurang tumbuh, tapi itu dialami semua orang. Saat krisis ekonomi, kita tidak mengalami penurunan &lt;i&gt;sales&lt;/i&gt;, hanya pengurangan profit karena naiknya ongkos produksi. Itu yang terjadi. Selama ini Mizan selalu berkembang memberikan penawaran baru untuk melayani konsumen.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Kalau dulu saya hanya menikmati buku, sekarang menjadi produsen. Itu menjadi tantangan tersendiri. Kita harus bisa memahami konsumen dan mencoba memenuhi kebutuhan mereka. Bukan tidak mungkin kesenangan saya membaca buku itu justru menjadikan saya lebih peka memenuhi kebutuhan. Itu menjadi bekal saya karena suka membaca produk Mizan dan penerbit lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;&lt;b&gt;Saat ini muncul penerbit-penerbit baru yang mendompleng nama Mizan. Bagaimana Mizan menghadapi persaingan yang semakin ketat?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dari dulu begitu. Ada yang datang, lalu menghilang. Datang yang lain dan menerbitkan buku bagus, lalu hilang. Itu fenomena. Namanya bisnis, ada yang berkembang, ada juga yang mengikuti. Itu sudah biasa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Malah makin bagus buat Mizan. Begini, persaingan sehat itu sangat bagus karena kita bersaing. Artinya, kita harus menampilkan sebaik mungkin untuk konsumen. Jadi yang untung konsumen. Dan yang diuntungkan dari persaingan yang sehat itu adalah entitas bisnis yang siap kualitas, konsistensi kualitas, kemampuan komunikasi yang baik, produksi yang lebih baik. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Mizan bisa melakukan itu. Artinya, kalau kita sendirian atau mendominasi, mungkin kita tidak bisa menghasilkan produk yang bagus karena tidak ada pembandingnya. Tapi kalau ada penerbit yang memproduksi buku bagus, kita jadi berpikir, bagaimana supaya bisa lebih bagus lagi. Layanan apa yang bisa diberikan kepada konsumen yang tidak diberikan pihak lain supaya lebih bagus? Mizan selalu bilang, kita siap untuk bersaing.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="deskripsi"&gt;Persaingan yang baik juga akan menurunkan ''ongkos produksi'' karena membuat orang &lt;i&gt;aware&lt;/i&gt; adanya persaingan. Sebagai contoh, Coca Cola dan Pepsi Cola bersaing mengeluarkan produk dan iklan baru. Akhirnya mereka membuat program yang dilihat masyarakat. Kalau sendirian, mungkin harga iklannya luar biasa besar untuk me
